Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
58 BAYU DAN INDAH


__ADS_3

Siang harinya, saat kedua orangtua Alila pulang untuk beristirahat, beberapa teman dan sahabat Alila datang menjenguknya. Yang pertama tiba adalah Nadia, Olla dan Dika yang sengaja berangkat bersama-sama ke rumah sakit.


"Hai, Al. Bagaimana keadaanmu sekarang?" Sapa Olla sambil memeluk pelan sahabatnya itu.


Di sampingnya ada Dika yang hanya diam dan terus menatap Alila. Jujur saja di dalam hatinya dia ingin menyapa Alila karena sejak kejadian itu dia terus memikirkan dan mengkhawatirkan wanita yang pernah dicintainya itu.


Bukan berarti sekarang rasa cinta itu telah usai begitu saja. Hanya saja, dia belajar untuk menerima kenyataan yang ada, bahwa sebentar lagi Alila akan menikah dengan Dimas. Dia pun harus belajar menerima dan mencintai Olla yang kini sudah resmi menjadi tunangannya, tanpa ada bayangan Alila lagi di antara mereka.


Di seberang Olla dan Dika, ada Nadia yang berdiri tak jauh dari Dimas yang selalu menemani Alila di sampingnya. Terlebih lagi saat ini ada Dika di depannya, dia semakin ingin menunjukkan pada lelaki tunangan Olla itu bahwa Alila adalah miliknya.


"Nad, terima kasih karena semalam kamu menemaniku sampai di sini, sampai tengah malam. Dimas yang menceritakannya padaku."


Tangan kanan Alila berusaha meraih tangan Nadia. Dimas segera mundur dan menggeser tubuhnya untuk memberi ruang bagi Nadia mendeķati Alila.


Nadia memeluk Alila lalu memegang tangan sahabatnya dengan erat.


"Kamu bicara apa, Al. Tidak perlu berterima kasih padaku. Kita ini bersahabat, tidak mungkin aku membiarkanmu sendiri. Lagipula, kalau aku tidak ikut kembali, aku takut tidur sendirian di kamar penginapan."


Mereka tersenyum berdua diikuti Olla dan Dika. Sedangkan Dimas hanya diam menatap kebersamaan Alila dan ketiga orang tamunya itu.


Hampir setengah jam Nadia, Olla dan Dika membesuk Alila. Setelah bersendau-gurau ringan untuk menghibur Alila, ketiganya pamit pulang.


Sebelum pergi, Nadia menyerahkan surat pemberitahuan dari panitia acara kemarin jika Alila mendapatkan ijin istirahat selama tiga hari ke depan, sehingga tidak perlu memikirkan pekerjaan kantor dulu.


Setelah ketiga rekan kantor Alila pulang, tak lama kemudian Tama dan Nayla datang bersama. Karena Sandy tidak bisa pulang dari tugasnya di luar kota, jadilah Nayla dijemput oleh Tama atas ijin Sandy yang sudah mengirim pesan pada Tama.


"Al, calon pengantin kok malah masuk rumah sakit sih..."


Begitu masuk ke dalam ruangan, Nayla langsung menghambur mendekati Alila dan memeluknya. Dia mengamati satu per satu bagian tubuh Alila, mencari di mana saja luka Alila.


"Jangan melihatku seperti itu, Nay. Aku tidak apa-apa."


Pandangan Alila beralih kepada Tama yang sejak datang juga menatapnya dengan khawatir. Dia berdiri di samping Dimas dan sudah bertukar pelukan dengan calon suami Alila itu.


"Bagaimana keadaanmu, Al?" Hanya itu ucapan yang keluar dari mulut Tama.


"Aku baik-baik saja, Tam. Terima kasih kalian berdua sudah datang kemari. Tadi Sandy juga sudah mengirim pesan padaku."


Bukannya membahas tentang sakitnya Alila, mereka berempat justru membicarakan persiapan pernikahan Dimas dan Alila.


"Undangannya belum jadi, Dim?" Tanya Tama.


"Belum. Mungkin minggu depan."

__ADS_1


"Beritahu aku jika sudah selesai. Aku yang akan mengurusi pembagian undangannya."


Dari awal Tama sudah menawarkan diri untuk membantu menyebarkan semua undangan pernikahan mereka. Di perusahaan papanya, ada sejumlah kurir yang bisa diandalkan untuk urusan pengiriman dokumen, baik dalam kota maupun luar kota.


"Ya, Tam. Terima kasih."


"Nay, pastikan Sandy pulang pada hari pernikahan kami." Pinta Alila dengan serius.


"Pasti, Al. Jangan khawatir, dia sudah mengatur jadwal kepulangannya demi kalian." Jawab Nayla.


Pembicaraan terus berlanjut. Tama dan Dimas bergabung dengan Alano di sofa, meninggalkan Nayla yang ingin berbagi cerita pada Alila tentang dirinya dan Sandy.


Dari dulu, Nayla memang selalu nyaman bercerita pada Alila tentang hubungannya dengan Sandy. Selain karena mereka bersahabat karib, juga karena sifat Alila yang bisa menjadi pendengar yang baik dan memberikan pendapat dan masukan yang tepat saat diminta.


Setelah satu jam lebih mereka berlima di dalam ruangan, Tama dan Nayla pun pamit pulang. Selain harus mengantarkan Nayla pulang lebih dulu, Tama juga ada janji untuk pergi bersama seseorang yang kebetulan tadi juga bertemu dengannya sesaat di lobby rumah sakit yang sama.


Setelah Tama dan Nayla pulang, Alano pamit pergi dulu karena suatu keperluan. Dimas mengupas dan memotong satu buah apel untuk Alila, lalu menyuapkannya satu per satu ke mulut kekasihnya. Sesekali Alila juga mengambil potongan apel itu dan memasukkannya ke dalam mulut Dimas.


Tanpa mereka berdua ketahui, telah ada seseorang di luar pintu yang sedang menyaksikan kemesraan Dimas dan Alila yang saling menyuapi buah apel. Senyum getir tampak di sudut bibirnya.


Lagi-lagi dia telah kalah dari lelaki di dalam ruangan itu, sekaligus tidak bisa mendapatkan hati wanita yang dikagumi dan dicintainya, yang sekarang tengah duduk bersama kekasihnya di dalam sana.


Dengan memantapkan hati dan menyiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi, seseorang itu membuka pintu ruangan setelah mengetuknya terlebih dulu.


Sepasang kekasih itu menoleh ke arah pintu dan melihat siapa yang datang.


"Bayu..." Ucap Alila pelan sambil melihat ke arah Dimas yang juga sedang melihat sosok lelaki itu.


Berjalan pelan menghampiri tempat tidur Alila, Bayu terus menampakkan senyuman di wajahnya. Setelah sampai di samping kiri Alila, dia menatap Alila dan Dimas bergantian. Dan kali ini pandangan terakhirnya tertuju pada Dimas yang berdiri di hadapannya, sambil memegang erat tangan kanan Alila.


"Apa kabar, Dim? Lama sekali kita tidak bertemu, sejak kita lulus sekolah dulu." Sapa Bayu mencoba mencairkan suasana.


"Baik." Dimas menjawab pendek dengan nada datarnya.


"Aku minta maaf padamu, Dim. Aku yang mengajak Alila berbicara di teras penginapan sehingga dia menjadi terlalu kedinginan tanpa aku tahu."


Bagaimanapun juga, meskipun tanpa sengaja, secara kronologis dialah yang terakhir kali bersama Alila sebelum wanita itu pergi meninggalkannya begitu saja dan berjalan masuk ke penginapan dalam kondisi menggigil kedinginan, lalu memaksakan diri menaiki tangga dan akhirnya jatuh terguling hingga ke lantai bawah.


Dimas diam tak ingin menjawab. Demikian juga Alila yang memilih duduk menyandarkan kepalanya dengan arah pandangan terus menatap Dimas di samping tubuhnya. Dia mempererat genggaman tangannya pada Dimas untuk menenangkan hati lelaki tercintanya.


Tiba-tiba terdengar kembali ketukan dari luar pintu ruangan Alila, bersamaan dengan bunyi ponsel Bayu. Sementara Dimas tengah merapikan rambut Alila yang terurai ke depan dan menempel di pipinya.


"Permisi, saya perawat yang berjaga siang sampai malam nanti. Saya akan mengganti cairan infus yang sudah habis."

__ADS_1


Perawat itu membawa pandangannya ke arah kantong infus yang tergantung pada tiang khusus di sebelah kiri Alila. Alila turut melihat ke atasnya, dan memang benar cairan infusnya tinggal sisa-sisa tetesan terakhir.


Alila menganggukkan kepala dan perawat itu kembali berjalan ke sisi kiri Alila. Ada Bayu yang masih berdiri di sana sedang membalas pesan yang baru saja masuk di ponselnya.


"Permisi.." Ucap perawat itu membuat Bayu mengangkat kepalanya dan melihat ke arah perawat yang membawa kantong infus yang masih baru.


Kedua pasang mata mereka bertemu dan memunculkan rasa terkejut disertai detakan jantung keduanya yang sama-sama kencang dan mengeras.


"Bayu..." Perawat itu menatap Bayu dengan


raut wajah tak percaya.


" Indah..." Bibir Bayu sempat bergetar saat menyebutkan nama wanita yang dikenalinya itu.


Kini giliran Alila dan Dimas yang dibuat kaget saat mendengar Bayu menyebutkan sebuah nama yang baru saja menjadi pembicaraan mereka pagi tadi.


Dimas mengalihkan perhatiannya ke seberang tempat tidur dan menemukan sosok wanita dengan wajah yang sedikit banyak masih cukup diingatnya.


Dimas hanya diam dan memperhatikan wanita berpakaian seragam perawat itu, hingga wanita itu merasa dan memalingkan wajahnya. Dia membuka matanya lebar-lebar saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya.


"Dimas..." Ucap wanita itu dengan wajah semakin terkejut.


Dan sepertinya, kisah cinta segi tiga masa lalu itu terulang kembali di ruangan Alila dengan dirinya sebagai saksi pertemuan tak terduga ini.


Atau justru, tengah terjadi kisah cinta segi empat dengan dirinya yang juga terlibat di dalamnya...??


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..


~Author~


.

__ADS_1


__ADS_2