
Pukul setengah lima sore, Alila sudah sampai di rumah. Dia menyapa mama dan papanya yang tengah duduk bersantai di teras depan, kemudian bergegas menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Tangan kanannya membuka dan mendorong pintu kamarnya. Setelah masuk ke dalam, dia segera menutup pintu dan hendak melangkah lagi menuju meja riasnya.
Belum juga bergerak, tiba-tiba sepasang tangan sudah merengkuh erat tubuhnya dari belakang sembari mencuri ciuman di pipinya. Seketika tas dan kunci mobil yang masih dipegang di tangan kirinya, terlepas begitu saja jatuh ke lantai.
"Aku pulang, sayang..."
Urung berteriak karena terkejut, kini tubuh Alila menghangat saat mendengar suara berat nan khas tersebut. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, melengkungkan senyuman yang tak bisa ditahannya lagi.
Dia membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan sosok rupawan yang sudah sangat dirindukannya itu. Matanya berbinar semakin indah, memancarkan kebahagiaan berselimut kerinduan yang teramat dalam.
"Dim..."
Memastikan penglihatannya kembali, bahwa sosok yang berdiri di depannya saat ini adalah benar-benar orang yang dinantinya, tanpa menunggu lagi Alila menghambur ke pelukannya dengan gerakan secepat kilat.
"Aku sangat merindukanmu, Dim..."
Alila terus tersenyum dalam pelukan suami tercintanya. Airmata mulai menggenang di sudut indra penglihatannya, namun segera disekanya dengan punggung jari telunjuknya.
"Aku lebih merindukanmu, Al..."
Masih dalam pelukannya, Dimas mencium lembut puncak kepala sang istri berkali-kali, sembari mengucap syukur dalam hati karena sudah bisa bersama wanita kesayangannya lagi.
Merasakan ciuman sang suami yang bertubi-tubi di ujung kepalanya, Alila semakin mengeratkan pelukannya. Tak ingin sedetik pun lepas dari tubuh yang sangat dirindukannya.
Berdua mereka menikmati degup jantung yang beradu, pun nafas yang saling berhembus bergantian.
Hangat, sehangat hati yang tengah berbahagia karena telah pulang pada tempat di mana seharusnya dia melepas lelah.
Hangat, sehangat jiwa yang tengah menghela lega karena telah tenang kembali dengan kehadiran sang pemilik peraduannya.
Dua pasang mata itu terpejam sempurna, meresapi nikmatnya pelukan mereka setelah hampir satu setengah bulan tak bisa saling merasakannya.
Bahkan getarannya, terasa jauh lebih indah dari saat pertama kali mereka jatuh cinta. Debarannya pun, terdengar jauh lebih meriah dari saat pertama kali pandangan mata mereka beradu tanpa sengaja.
Dimas melepaskan pelukannya, mengalihkan posisi kedua tangannya untuk menangkup wajah cantik yang selalu hadir menghiasi mimpi-mimpi malamnya. Lekat ditatapnya mata indah yang selalu membuat getaran di hatinya semakin terasa menggelenyar.
Perlahan namun pasti, wajahnya maju mendekat ke arah wajah Alila yang telah merona dan menghangat. Seraya mengangkat sedikit lagi wajah cantik itu ke arah wajahnya yang lebih tinggi, bibir lelaki balok es itu menyentuh kening wanita bermata indah kesayangannya dengan segenap perasaan yang membuncah tercurah tuntas.
__ADS_1
Selesai mencium kening sang istri, Dimas mengangkat tubuh ramping semampai itu dan membopongnya menjauh dari balik pintu. Dia mendudukkan Alila di tepi tempat tidur dengan kedua kaki menjuntai menyentuh lantai.
Bagai seorang putri yang diperlakukan begitu manis dan penuh kemanjaan oleh sang pangeran, Dimas menurunkan tubuhnya dan berlutut dengan satu kaki tepat di depan Alila, melepaskan dengan hati-hati sepatu yang dikenakan wanita terkasihnya.
"Maaf aku membuatmu berdiri terlalu lama dengan sepatu berhak tinggi ini..." Alila menggelengkan kepala tanda tak mempermasalahkannya.
"Yang pertama kali ingin aku lakukan saat kita bertemu lagi adalah memelukmu, memeluk tubuh yang aku rindukan dan aku dambakan ini..."
Alila tak menyadari, entah kapan Dimas bergerak dan memulainya, namun saat ini mereka berdua sudah sama-sama di atas tempat tidur dengan Dimas yang berada di atas, mengungkung tubuh Alila yang terbaring di bawahnya.
Menopang tubuhnya dengan tumpuan tangan kiri, kini Dimas mulai menyusuri wajah cantik nan menggemaskan itu dengan usapan tangan kanannya. Ditepikannya helaian rambut yang menutupi wajah Alila lalu menyimpannya di balik telinga.
Tangan Alila yang semula memegang kedua sisi pinggang suaminya, mulai bergerak berpindah
ke atas dan melingkarkannya di leher Dimas yang kuat dan kokoh.
Cup! Satu kecupan singkat dia berikan di bibir suaminya, membuat Dimas menginginkan yang lebih dari itu. Dia kembali menyatukan bibirnya di atas bibir istrinya lalu mulai bergerak pelan menikmati kehangatan ciuman yang sekian lama tak dirasakannya.
Merasa mendapat balasan dari Alila, Dimas semakin bersemangat untuk mencium lebih dalam dan semakin basah. Alila pun melakukan hal yang sama, mengimbangi ciuman Dimas dengan lebih lincah dan semakin cepat.
Tidak peduli nafas yang mulai terengah, mereka terus melakukannya berulang-ulang tanpa ada salah satu yang ingin mengakhirinya.
Hasrat mereka telah semakin memuncak, mendambakan penyatuan yang lain, yang lebih dari sekedar bibir dan sentuhan kulit semata. Ada kenikmatan lain yang telah menanti untuk didaki berdua dan dicapai bersama pada puncak asmara yang tertinggi dan luar biasa.
"Apa kau sudah bersih, Al?"Tanya Dimas di sela-sela jeda ciuman mereka yang tak juga usai.
"Sudah, tiga hari yang lalu, Dim." Jawab Alila sembari menghirup udara sekitar yang terasa hangat dan mulai memanas.
Mereka kembali menyatukan bibir yang telah basah itu semakin dalam, lagi dan lagi, dengan tangan Dimas yang semakin aktif bergerak menjelajahi permukaan tubuh indah yang sekian lama tak tersentuh olehnya.
"Bolehkah aku melakukannya...?" Berhenti sejenak untuk mengambil nafas, Dimas meminta persetujuan sang istri untuk sesuatu yang telah lama tak mereka tunaikan.
Alila yang sebelumnya telah berkonsultasi dengan dokter, menganggukkan kepala dengan senyum mengembang di bibirnya yang bertambah merah merekah karena ulah sang suami.
Dimas membalas senyuman manis itu lalu sekali lagi mencium lembut kening Alila dengan rasa yang membuncah, membayangkan sesuatu yang teramat indah yang akan segera mereka rengkuh berdua.
"Aku mencintaimu, sayang. Sangat mencintaimu..." Ucap Dimas seraya menatap dalam-dalam mata indah wanitanya.
"Aku juga mencintaimu, sayang. Selalu mencintaimu..." Jawab Alila dengan tatapan lekat pada sepasang mata tajam yang saat ini tengah melembutkan sorotannya.
__ADS_1
Dan di ujung sore bersuasana syahdu, dua insan yang saling mencinta dan baru saja bertemu setelah sekian waktu terpisah, mulai menyatukan raga yang telah saling mendamba, meleburkan seluruh rindu yang telah bersua penawarnya.
Berdua menyatukan nafas yang memburu, diiringi desahan yang menggoda, disertai peluh yang membasahi seluruh tubuh yang terus menarikan gerakan cinta, seiring seirama saling melengkapi dan memuaskan, hingga akhirnya mereka bersama-sama mencapai puncak nirwana yang sarat kenikmatan maha dahsyat.
Menata nafas berdua, kepala Alila telah rebah di atas dada bidang Dimas, yang memeluk tubuhnya dengan erat.
"Terima kasih, Al." Dimas mencium lembut kening istrinya dengan perasaan bahagia.
"Sama-sama, Dim." Alila memberikan ciuman balasan di bagian dada sang suami.
Setelah beberapa saat berbaring memulihkan tenaga yang terkuras habis, Dimas membawa Alila turun dari tempat tidur, menggendongnya ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersuci, karena maghrib telah menjelang.
Usai mandi dan melaksanakan kewajiban, Dimas mengambil tas Alila dan kunci mobilnya yang masih tergeletak di dekat pintu kamar. Dia meletakkannya di atas meja, lalu mengembalikan sepasang sepatu Alila ke atas raknya.
"Kita makan malam di luar, Al?" Ajak Dimas sambil memeluk dari belakang tubuh sang istri yang sedang duduk di depan meja rias, mengeringkan kembali rambutnya yang masih setengah basah. Diciuminya bahu Alila membuat pemiliknya menggeliat ringan.
"Iya. Sebentar aku siapkan baju gantimu, Dim."
Alila mematikan alat pengering rambutnya dan menyimpannya di laci, lalu berdiri dan berjalan menuju lemari pakaian. Dia memilih satu setel pakaian casual untuk Dimas dan juga dirinya.
Ada beberapa baju milik suaminya yang sudah disimpan Alila di sana, jika sewaktu-waktu Dimas membutuhkannya saat menginap di sini. Demikian juga sebaliknya, ada pakaian milik Alila yang sudah disimpan di rumah lama orangtua Dimas.
"Ini, Dim." Alila menyerahkan baju ganti suaminya, kemudian mereka segera berganti pakaian lalu merapikan diri bersama.
Setelah siap, Dimas menggandeng tangan istrinya keluar kamar. Mereka berpamitan terlebih dahulu pada orangtua Alila, baru kemudian berjalan menuju mobil yang masih terparkir di halaman rumah.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
💜Author💜
__ADS_1
.