Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
65 HASRAT SUCI


__ADS_3

"A-Aku..."


"Aku memintanya sekarang, Al..."


Dimas berdiri lalu membopong tubuh Alila dan membawanya naik menuju kamar mereka.


Tanpa mempedulikan beban di kedua tangannya, Dimas menapaki satu per satu anak tangga dengan tenang dan terus menatap mata indah Alila yang kian sayu.


Alila yang tak kuasa membalas tatapan mata suaminya hanya bisa membenamkan wajahnya di dada bidang Dimas yang membuatnya merasa lebih tenang dan sejenak melupakan kegugupannya atas permintaan sang suami.


Sesampainya di kamar, pelan-pelan Dimas menurunkan Alila dari gendongannya. Mereka berdiri berhadapan di tepi tempat tidur dengan mata yang saling beradu pandang juga tangan yang saling memeluk erat tubuh pasangannya.


"Aku menunggumu, Al..." Dimas terus menatap mata indah istrinya.


Tak ada lagi yang bisa Alila lakukan selain menuruti kemauan suaminya, memberikan hadiah yang Dimas minta. Dia menyiapkan hatinya dan membuang jauh rasa malunya. Toh, dia akan melakukan itu untuk suaminya sendiri, orang yang sangat dicintainya.


Matanya memejam sejenak, lalu terbuka kembali dengan sinar cinta yang terpancar indah. Bibirnya melengkung sempurna membentuk seulas senyuman semanis madu.


Kedua tangannya mulai berpindah dari pinggang sang suami, merayap pelan ke atas melewati bagian dada Dimas yang seketika membuat tubuh lelaki itu bereaksi. Alila melanjutkan gerakan tangannya semakin ke atas, hingga akhirnya melingkar erat di leher kokoh suaminya.


Alila menatap mata Dimas dengan wajah penuh senyuman, membuat debaran di dada suaminya semakin keras dan cepat. Dia pun merasakan hal yang sama, bahkan lebih dari itu, jantungnya berdegup kencang tak terkendali.


"Dim..."


Dia berhenti sejenak lalu melanjutkan kalimatnya.


"Aku mencintaimu, sayang..."


Alila memangkas jarak wajah mereka dan dengan berjinjit dia mencium lembut kening Dimas, lalu turun ke pipi kanannya dan berakhir di pipi kirinya. Selesai melakukannya, dia menunduk menahan rasa malu bercampur bahagia.


Dimas tertegun dengan tubuh menegang sedari tadi. Dia yang meminta hadiah itu dari Alila, tapi sekarang dialah yang tak kuasa menahan dirinya sendiri.


Dia hanya ingin Alila memanggilnya sayang dan memberinya ciuman, tetapi dia tak menyangka akan seperti ini reaksi tubuhnya atas sentuhan Alila.


"Al..." Pandangan matanya mulai berkabut.


Alila mengangkat kepalanya, kembali menatap wajah Dimas yang telah berubah memerah menahan sesuatu yang masih coba ditepisnya.


"Ya?" Alila merasakan kedua tangan Dimas semakin erat mendekap tubuhnya.


"Aku mencintaimu..."


Dimas mencium keningnya lama. Matanya terpejam mencoba meluruhkan pikirannya. Namun saat dia membuka mata, kabut itu justru semakin jelas.


"Aku ingin kamu, Al..."


"Kita sudah bersama, Dim."


Dimas menggeleng pelan. Dia menginginkan hal yang lain. Tapi dia tidak tahu cara mengungkapkannya. Ada rasa takut jika nanti Alila masih menolaknya.


"Apa kamu lelah...?"


Alila tak mengerti maksud pertanyaan suaminya. Pikirannya masih belum tertuju ke situ. Dia baru saja selesai memenuhi permintaan Dimas yang membuatnya bersusah-payah menyiapkan diri dan hatinya untuk berani melakukannya, hingga dia tak sanggup lagi memikirkan hal selain itu.


Diamnya Alila membuat Dimas berani memulainya. Kabut gairah itu telah menguasai matanya dan mengaburkan pandangannya, memunculkan gejolak hasrat yang tak lagi bisa dibendungnya.

__ADS_1


Dia sangat mencintai Alila. Dia juga tahu mereka sama-sama baru pertama kali merasakan semua ini. Namun dia tak bisa lagi menghindar mana kala sesuatu dalam dirinya juga telah meminta.


"Al, aku tak bisa menahannya lagi..."


Tangan Alila masih melingkar di leher Dimas, sementara Dimas mulai memajukan wajahnya dan melakukan ciuman yang sama seperti yang Alila berikan padanya.


Keningnya, pipi kanan, pipi kiri, diciumnya dengan penuh cinta. Alila diam dengan wajah yang kembali memerah disertai seluruh tubuhnya yang kini telah mulai ikut memanas.


"Dim..."


Suara lirih Alila membuat Dimas melanjutkan ciumannya ke bagian yang lain. Kedua mata indahnya, hidungnya, laluu..., dia kembali diam menatap milik istrinya yang selalu menggoda hasratnya sejak dulu.


"Al..."


Mata mereka kembali beradu. Dimas menatap lekat mata indah Alila yang juga tengah menatapnya dalam-dalam. Ada cinta yang sama di dalam tatapan itu.


Hasratnya kembali meronta tatkala pandangannya beralih ke bawah, menatap benda kecil mungil nan ranum milik istrinya. Tanpa sadar tangannya sudah bergerak ke atas, meraih dagu menawan yang terpahat sempurna di ujung wajah wanita tercintanya.


Untuk sesaat dia menikmati wajah cantik di hadapannya. Wajah yang akan selalu dilihatnya setiap pagi di kala bangun tidur hingga malam hari menjelang tidur kembali. Wajah yang akan selalu dirindukannya di saat jarak pandang mereka tak terjangkau untuk saling menatap dan mengagumi.


Dimas menarik dagu Alila agar wajah itu terangkat lebih ke atas dan bertemu dengan wajahnya yang dia tundukkan agar leluasa melakukan keinginannya. Kedua tangannya kini mengusap lembut wajah istrinya yang semakin dekat dengan wajahnya.


"Al, ijinkan aku menyentuh milikmu itu dengan milikku..." Hembusan nafas Dimas membelai wajah Alila, membuatnya semakin berdebar dan tak kuasa mengendalikan dirinya lagi.


Dimas memohon dengan kilatan hasrat yang semakin terlihat di dalam matanya yang kian sayu dan mengabut. Dan saat dilihatnya satu anggukan kecil dari Alila, tanpa menunggu lagi dia mulai menyatukan miliknya dengan milik istrinya.


Diiringi desiran halus yang mengalir di seluruh tubuh keduanya, Dimas menempelkan bibirnya di atas bibir Alila dengan kedua mata mereka yang memejam dengan sendirinya. Seketika terasa kehangatan yang begitu nikmat dalam penyatuan bibir mereka.


Mereka masih diam mematung tanpa gerakan apapun, hanya ingin menikmati dan meresapi indahnya ciuman pertama di bibir yang terus menyatu itu.


"Al, ikuti saja aku..." Dimas membuka matanya.


Dimas melepaskan ciumannya sejenak untuk bicara, lalu kembali memejamkan mata dan mencium bibir Alila. Kali ini dia langsung menggerakkan bibirnya di atas bibir istrinya. Beberapa detik kemudian dia berhenti dengan bibir tetap menyentuh bibir Alila.


Tak lama kemudian, Alila mencoba mengikuti gerakan bibir Dimas sebelumnya. Bibirnya bergerak pelan membalas ciuman suaminya. Dimas segera menyambut ciuman Alila, dan akhirnya bibir mereka bergerak bersama dan saling membalas tanpa ada yang ingin melepaskannya.


Dimas memberikan gigitan kecil pada bibir bawah Alila, membuat wanita itu mendesah lirih dan sedikit membuka mulutnya. Dimas segera melanjutkan ciuman mereka dengan lebih dalam dan semakin basah satu sama lain.


Sementara Alila masih melingkarkan tangannya di leher suaminya, tangan Dimas sudah menjauh dari wajah Alila dan berpindah mengusapi punggung istrinya dan sesekali bergerak menyentuh bagian samping tubuhnya, membuat Alila menggeliat manja di tengah ciuman mereka yang kian menggelora.


Dimas membaringkan tubuh Alila di atas tempat tidur tanpa melepaskan ciuman mereka yang semakin nikmat dan memancing gejolak hasrat suci mereka. Tubuhnya mengunci di atas tubuh Alila dengan bertumpu pada satu siku tangan kirinya. Tangan kanan Dimas kembali menjelajahi tubuh Alila semakin rinci ke seluruh bagian.


Alila terpaksa melepaskan ciumannya untuk memulihkan nafasnya yang telah terengah-engah. Namun Dimas tak ingin berhenti. Bibirnya mencari kenikmatan di tempat lain di seluruh tubuh Alila hingga dress yang dikenakan Alila sudah tersingkap karena ulah Dimas yang dipenuhi gairah.


"Dim..." Alila memanggilnya lirih membuat Dimas kembali ke atas dan mencium lembut bibir manis istrinya.


"Kita lakukan sekarang, Al...?" Tanya Dimas setelah melepaskan ciumannya dan memandangi wajah istrinya yang telah memerah dan sedikit berpeluh.


Nafas mereka memburu berkejaran saling menerpa wajah satu sama lain. Mereka telah merasakan nikmatnya ciuman pertama yang tak terlupakan. Kini mereka ingin mereguk nikmatnya surga dunia yang telah halal untuk mereka raih bersama.


Alila menganggukkan kepala. Kemudian Dimas mencium lama kening Alila sebelum tubuhnya turun ke bawah untuk menyelesaikan hasrat malam pertama.


Dinginnya angin malam yang menyusup di sela-sela pintu balkon, semakin menambah gejolak gairah yang telah memuncak di tubuh sepasang pengantin baru yang tengah melakukan penyatuan tubuh mereka dengan penuh kelembutan.


Penyatuan pertama di malam pertama pernikahan. Sebuah pengalaman luar biasa yang terangkum menjadi kenangan tak terlupakan sepanjang hidup.

__ADS_1


Dan akhirnya, mereka melakukannya dengan penuh gairah. Menunaikan hak dan kewajiban batin sebagai suami-istri dengan kerelaan dan keikhlasan untuk memberikan kepuasan satu sama lain.


Tak ada lagi sekat apalagi jarak di antara mereka. Hanya ada dua tubuh yang telah menjadi satu, menuntaskan hasrat suci yang semakin membara untuk meraih puncak kenikmatan tertinggi yang tiada duanya.


"Terima kasih, Alilaku. Aku sangat mencintaimu..."


.


.


.


Dini hari beranjak fajar, Dimas terbangun dan mendapati dirinya berdua dengan Alila di bawah satu selimut dengan tubuh yang masih sama-sama tanpa pakaian.


Sebuah senyuman langsung terulas di bibirnya ketika melihat ke arah bawah, di mana tubuh Alila merapat pada tubuhnya dengan tangan memeluk erat dirinya. Kepala Alila bersandar nyaman di atas dadanya yang bidang yang membuat wanita itu terlelap dengan tenang disertai senyuman manis yang menghiasi bibir ranumnya.


Dimas ingin bangun dan ke kamar mandi, tetapi dengan posisi mereka seperti itu, dia tidak bisa bergerak kecuali harus membangunkan istrinya. Akhirnya dia memilih tetap pada posisi semula dan mempererat pelukannya yang melingkari tubuh Alila.


Tak lama kemudian, Alila terbangun dan mengerjapkan matanya. Dia sekilas melihat dirinya sendiri lalu melihat ke atas kepalanya, ke arah wajah Dimas yang sedari tadi terus tersenyum memperhatikannya.


"Selamat pagi, istriku..." Ucapnya pelan sambil mencium kening Alila.


"Selamat pagi, suamiku." Jawab Alila dengan wajah bahagia.


Dia segera bangun dan menarik kepalanya dari atas dada Dimas lalu duduk di samping Dimas yang masih berbaring. Seketika wajah Dimas berubah memerah dengan tatapan mata yang berbeda saat melihat Alila tersenyum menatapnya.


"Al..., kamu....."


.


.


.


🙏Ucapan Terima Kasih🙏


Terima kasih banyak atas dukungan dan doa dari para reader semua, akhirnya kedua novel kami, Terima Kasih Cinta Sejati dan Menanti Cinta Untukku telah lulus kontrak dan berhasil menjadi novel kontrak karya di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.


Semoga ke depannya, kami bisa menyajikan cerita yang lebih baik lagi dalam segala hal, demi kepuasan para reader tercinta.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.


💜Author💜


.

__ADS_1


__ADS_2