Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
91 AKAN BAIK-BAIK SAJA


__ADS_3

Tiga hari berikutnya bertepatan dengan akhir pekan, Dimas dan Alila baru pulang ke rumah mereka. Sepulang menjemput Alila di kantornya, Dimas langsung melajukan mobil menuju rumah yang sudah mereka tinggalkan enam minggu lamanya.


Hanya sesekali Alila pulang sebentar bersama Alano, sekedar untuk membersihkan rumah agar tetap rapi dan bersih selama tidak ditempati. Dan saat pulang sekarang, rumah mereka tetap terlihat seperti rumah yang berpenghuni seperti biasanya.


Setelah memasukkan mobil ke dalam garasi dan mengunci pagar depan, Dimas membawa dua buah koper miliknya dan milik Alila ke dalam kamar mereka. Alila mengikuti sambil membawakan tas kerja Dimas bersama tas jinjingnya.


"Akhirnya, pulang ke rumah kita..."


Dimas meletakkan koper mereka di samping lemari pakaian lalu duduk di sofa melepas sepatunya. Sementara Alila membuka pintu balkon agar udara sejuk sore hari masuk ke dalam kamar.


Setelah itu dia mengambil sepatu Dimas dan meletakkannya di rak sepatu bersamaan dirinya yang juga melepas sepatu dan menggantinya dengan sendal rumahan mereka.


Alila membuka lemari pakaian dan menyiapkan handuk dan pakaian ganti untuk dia dan suami tercintanya. Mereka tidak ada acara keluar rumah malam ini sehingga Alila memilihkan baju biasa untuk mereka pakai.


"Dim, aku mandi dulu." Setelah meletakkan pakaian ganti Dimas di atas tempat tidur, Alila masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Dimas yang sudah sibuk dengan laptopnya di meja kerja.


Sembari menunggu istrinya selesai mandi, Dimas membuka dan memeriksa rekaman cctv yang ada di rumah mereka. Dia sengaja memasang cctv untuk memantau situasi halaman depan dan jalan utama di depan rumah, juga bagian teras dan ruang tamu di dalam rumah.


Memutar dengan pandangan santai tanggal demi tanggal, seperti biasa Dimas hanya menemukan rutinitas kondisi sehari-hari. Namun tiba-tiba dia menghentikan putaran mouse di tangan kanannya tepat pada saat layar menunjukkan rekaman pada hari di mana dirinya pulang dari luar kota, tiga hari yang lalu.


Sorot matanya menajam memperhatikan dengan seksama potongan gambar di sebagian layar yang terbagi menjadi empat bagian, tepatnya pada gambar yang terambil dari cctv yang mengarah ke jalanan depan rumah.


Dimas memperbesar bagian itu untuk lebih memperjelas penglihatannya yang menangkap keberadaan mobil seseorang yang dikenalinya. Mobil itu berhenti beberapa menit di depan rumahnya.


Dia mengecek waktu perekaman yang berlangsung sore hari, tak lama setelah Dimas bersama timnya tiba di kantor kala itu. Yang dia ingat, seluruh tim segera berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing, kecuali Pak Albi yang harus menghadap pimpinan cabang lebih dulu.


"Apa yang dia lakukan di sini? Bukankah rumahnya tidak searah dengan tempat ini..." Tanpa sadar dia berbicara sendiri sambil terus memperhatikan rekaman tersebut.


Kemudian dia kembali menggerakkan mouse di tangan kanannya untuk melanjutkan memeriksa rekaman berikutnya. Dan hasilnya sama, setiap hari mobil itu selalu berhenti beberapa menit di depan rumah.


Dimas memeriksa rekaman cctv terakhir hari ini dan ternyata mobil itu baru saja melintas perlahan di depan rumah tetapi tidak berhenti seperti sebelumnya. Mungkin karena melihat mobilnya terparkir di dalam garasi yang pintunya belum dia tutup sehingga orang itu tidak berani menghentikan mobilnya.


(Apa maksudnya, mengapa setiap hari dia kemari? Apa dia sengaja memata-matai kegiatanku? Tapi untuk apa? Apa tujuannya? Dan mengapa harus aku?)


Yang Dimas tahu dia tidak pernah bermasalah dengan siapapun di kantornya. Bagaimana bisa ada masalah, sedangkan di kantor dia lebih banyak diam dan memilh untuk menyelesaikan tugas dan pekerjaannya dengan tekun dan cermat.


Terdengar suara pintu kamar mandi dibuka. Buru-buru Dimas menutup file cctv dan menggantinya dengan membuka sebuah permainan kartu.


(Alila tidak perlu tahu tentang hal ini...)


"Dim, mandi dulu."


"Ya, Al."


Dimas berdiri lalu mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi. Sejenak dia menghampiri Alila yang sudah duduk di depan meja rias dan hendak memasang alat pengering rambutnya.

__ADS_1


Membungkukkan tubuhnya, lelaki itu memeluk sang istri dari belakang. Untuk sesaat dia membenamkan wajahnya pada perpotongan leher wanita kesayangannya dan merapatkan tubuhnya dengan punggung istrinya.


"Aku sangat mencintaimu, Al. Terus cintai aku apapun yang terjadi, karena hanya kamu yang aku butuhkan untuk tetap berada di sisiku selamanya..."


Dimas memejamkan matanya rapat-rapat dan mulai memanjatkan doa keselamatan dan kebahagiaan untuk dirinya dan istri tercintanya. Setelah itu dia mencium pipi kanan Alila lalu kembali berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi.


Alila yang masih mematung di kursi karena pelukan tiba-tiba dari suaminya, memandangi pintu kamar mandi dengan perasaan yang tidak menentu.


(Ada apa denganmu, Dim? Mengapa hatiku masih sering merasa tidak enak...)


Alila telah selesai mengeringkan rambutnya bersamaan dengan Dimas yang keluar dari kamar mandi.


Wanita itu tersenyum melihat suaminya yang masih bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendeknya saja. Dia selalu saja mengagumi ketampanan suaminya yang selalu terlihat lebih maksimal dan menggoda setiap usai mandi seperti saat ini.


Alila mendahului berdiri di depan tempat tidur dan menutupi kaos yang sudah disiapkannya untuk sang suami. Terus dilebarkannya senyuman di bibir manisnya, sambil menunggu lelaki penuh pesona itu mendekati dirinya.


Setelah Dimas berdiri di hadapannya, Alila mengambil alih handuk yang melingkar di leher kokoh suaminya lalu perlahan mengeringkan rambut teracak lelaki itu, kemudian membersihkan butiran air yang masih membasahi leher dan dada bidang suaminya.


Setelah meletakkan handuk di tepi tempat tidur, Alila langsung menghambur memeluk suaminya dan menyembunyikan wajah cantiknya di dada Dimas yang bidang dan selalu membuatnya merasa tenang dan nyaman.


Dimas tersenyum dan membalas pelukan sang istri dengan lebih erat. Sama-sama menikmati kesegaran aroma tubuh masing-masing, sangat menenangkan.


"Dim..."


"Jika ada masalah atau apapun yang membebani pikiranmu, berbagilah denganku. Jangan kau simpan sendiri..." Alila mengangkat kepala, menatap wajah mempesona di hadapan matanya.


"Aku baik-baik saja, Al. Dan semuanya akan selalu baik-baik saja. Percayalah padaku!"


Lebih erat memeluk wanita miliknya, Dimas mencium lembut kening Alila. Sepasang matanya terpejam dan dia pun kembali melantunkan doa-doa terbaik untuk mereka berdua.


"Ya, semuanya pasti akan selalu baik-baik saja jika kita terus bersama dan saling menjaga, Dim."


Alila tersenyum mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dia membalas ciuman suaminya dengan memberikan ciuman hangat di bibir Dimas, membuat lelaki itu turut tersenyum di tengah ciuman mereka.


Namun sebelum suaminya menuntut lebih, perlahan Alila menarik bibirnya dan melepaskan pelukannya. Tangannya beralih meraih kaos yang sudah disiapkannya, lalu membuka lipatannya dan memasukkan bagian lehernya melalui kepala Dimas.


Lelaki itu terus tersenyum sembari menggerakkan kedua tangannya bergantian untuk masuk ke bagian lengan kaosnya. Terakhir, Alila membantunya menarik kaosnya ke bawah hingga terpakai sempurna di tubuh kekar sang suami.


"Terima kasih, sayang..."


Dimas memberikan kecupan singkat di bibir ranum yang selalu menggoda hasratnya itu. Dia ingin memeluk lagi tubuh Alila, tetapi wanita cantik itu menahannya dengan meletakkan kedua tangannya di dada suaminya.


"Aku lapar..." Ucapnya manja membuat Dimas gemas dan segera menggendong tubuh wanita kesayangannya. Tanpa diminta Alila pun segera melingkarkan tangannya di bagian leher lelaki tampan itu.


Dimas berjalan pelan ke arah meja kerjanya dengan tetap membopong tubuh Alila.

__ADS_1


"Ambil ponselku. Kita akan memesan makanan dan menunggunya di bawah." Alila menurut dan mengambil ponsel suaminya, lalu Dimas membawanya keluar kamar dan turun ke bawah.


Sepanjang menuruni tangga, mata indah Alila terus mengunci pandangannya pada sepasang mata tajam milik Dimas yang selalu melembut jika tengah menatapnya.


Sesampainya di lantai bawah, Dimas mendudukkan istrinya di sofa ruang tengah.


"Pesanlah makanan yang kamu inginkan, Al."


Lelaki itu lalu berjalan menuju dapur dan mengecek isi kulkas yang ternyata kosong, karena saat terakhir datang bersama Alano sehari sebelum kepulangan Dimas, Alila sudah membersihkannya dan hanya meninggalkan beberapa botol air mineral dan minuman kemasan di dalamnya.


Dimas mengambil dua kaleng minuman dan membawanya ke ruang tengah. Diberikannya satu kepada Alila kemudian duduk di samping istrinya.


"Sudah?"


Alila mengangguk dan menyerahkan ponsel Dimas pada pemiliknya. Dia membuka minumannya lalu meminumnya sebagian.


"Besok kita pergi ke mall. Jalan-jalan sekaligus belanja kebutuhan rumah." Ucap Dimas sambil meneguk minumannya.


Dengan senang hati Alila mengiyakan ajakan suaminya, karena selama ditinggal ke luar kota, dia tidak pernah pergi menghibur diri, kecuali makan siang bersama sahabatnya dan pergi ke salon bersama Nayla tempo hari. Sesekali dia pernah makan malam di luar rumah, itupun ditemani adiknya.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, Alila berbaring dengan kepala diletakkan di atas paha Dimas. Tubuhnya miring ke depan sambil memegang remote televisi dan memilih acara yang ingin ditontonnya.


Tangan kiri Dimas terus mengelus-elus kepala istrinya, sementara tangan kanannya mulai sibuk dengan ponselnya.


Ada beberapa pesan yang dibaca dan dibalasnya, semua dari teman sekerja di kantornya. Dilihatnya masih ada beberapa pesan lain yang belum terbaca, salah satunya dari Pak Albi.


Dimas merasa sedikit aneh karena tidak biasanya Pak Albi menghubunginya melalui pesan biasa, kecuali ada hal yang mendesak. Karena penasaran, dia segera membuka dan membaca pesan tersebut.


"Dim, buka email dari saya! Ada tembusan surat keputusan dari pimpinan tentang mutasi beberapa karyawan di divisi kita. Kamu harus lebih berhati-hati setelah ini."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.


💜Author💜


.

__ADS_1


__ADS_2