
Awal pekan yang baru. Alila bersiap untuk kembali berkutat dengan rutinitas pekerjaannya. Seperti hari-hari sebelumnya, dia dan sang adik menyantap sarapan mereka sebelum berangkat ke kantor Alila.
"Aku tunggu di mobil, mbak." Alano lebih dulu menyelesaikan sarapannya.
"Aku berangkat, Ma, Pa." Tanpa mendekati orangtuanya, Alano pamit dengan gaya semaunya yang sudah dimaklumi oleh mama dan papanya.
Alila masih menyelesaikan sarapannya. Tanpa sengaja dia melihat ke arah kalender duduk yang ada di atas meja kerja papanya yang terletak di sudut belakang ruang tengah.
Dia tersenyum melihat deretan angka di kalender bulan ini.
(Sebentar lagi kamu pulang, Dim. Aku sudah tak sabar menunggumu.)
Setelah berpamitan, Alila bergegas menyusul Alano yang sudah menunggu di mobil yang telah menderu.
"Mas Dimas kapan balik, mbak?" Tanya Alano tiba-tiba.
Sebenarnya dia iseng saja menanyakannya untuk menggoda sang kakak.
"Untuk apa menanyakannya? Kangen?" Jawab Alila sekenanya.
Kadang-kadang dia juga bisa jail untuk mengimbangi ulah adiknya.
"Buahahaa..! Kayaknya terbalik deh, mbak. Mbak Al kan yang lagi menghitung hari. Bentar lagi bakal ada yang sibuk kangen-kangenan nih!"
Alila menyembunyikan rona di pipinya dengan kedua tangan, namun Alano terlanjur melihatnya.
"Tidak usah ditutupi mbak. Mukamu sudah seperti udang rebus, disaosin pula.." Kata Alano dengan senyum kemenangan.
"Diam, Lan. Pagi-pagi sudah membuat masalah."
"Aku tidak membuat masalah. Aku cuma bertanya. Itupun belum kamu jawab dari tadi, mbak."
"Huhh. Dasar, punya adik satu saja setiap hari menyebalkan bukan main..!"
"Jadi kapan mbak, mas Dimas pulang?"
"Besok hari Minggu." Jawab Alila singkat.
"Kangen banget ya mbak sama mas Dimas?" Pertanyaan jebakan dari Alano.
"Apaan sih, mau tahu aja kamu!" Wajah Alila mulai merona lagi.
"Eh tapi mas Dimas kangen tidak ya sama mbak Al? Aku ragu..." Alano mulai bertingkah lagi dan melirik sekilas ke arah kakaknya sambil menahan senyum gelinya.
"Aku juga ragu, adikku itu cowok apa cewek sih, punya mulut kok lemes banget, dari tadi nyerocos terus..!"
"Hahaa.., ganteng paripurna plus macho begini kok masih diragukan.."
Mobil sudah sampai di pelataran parkir gedung di sisi samping pintu utama. Alila segera turun tanpa bicara apapun pada adiknya. Alano tersenyum mengawasi kakaknya masuk ke dalam gedung, lalu dia mengemudikan mobilnya kembali.
.
.
.
Saat melewati lobby, seseorang memanggil Alila.
"Al.."
Alila mencari asal suara itu dan menemukan sahabatnya sedang duduk di sofa yang ada di samping resepsionis.
"Tama.. Kamu di sini?"
__ADS_1
Alila menghampiri Tama yang sudah berdiri menyambutnya.
"Aku diminta papaku untuk mengantarkan berkas ini ke sekretaris presdir."
Tama menunjukkan satu map tebal yang dibawanya pada Alila.
"Perusahaan papaku mengajukan kerjasama dengan Pandawa Grup."
"Oh begitu. Ilmuku belum sampai kalau urusan kerjasama antar perusahaan besar begini, Tam. Kamu yang lebih paham, secara kamu juga anak dari pemilik perusahaan."
Meskipun tidak sebesar perusahaan tempat Alila bekerja, tapi perusahaan milik keluarga Tama sudah cukup dikenal di kalangan pengusaha karena perintisan usahanya yang terbilang cepat dan kini mulai bisa menembus kerjasama dengan beberapa perusahaan besar dan ternama.
"Maaf aku tidak bisa lama-lama di sini, Tam. Aku harus segera bekerja. Aku tinggal dulu ya."
Alila pamit pada Tama yang sedari tadi terus memperhatikannya dengan tatapan yang berbeda. Mungkin itu juga yang selama ini ditangkap oleh penglihatan Dimas yang membuatnya merasa cemburu terhadap Tama.
"Ya, Al. Selamat bekerja. Semoga nanti kita bisa bertemu lagi."
Tama masih terus menatap Alila tanpa berkedip.
Alila bukan tidak mengetahuinya. Karena itulah dia dengan terburu-buru berpamitan pada Tama untuk menghindari pandangan Tama lebih lama lagi.
.
.
.
Dua hari kemudian, Tama kembali ke kantor Alila untuk melanjutkan urusan perusahaannya. Dia datang siang hari saat jam makan siang para karyawan.
Dia mencoba mencari Alila di bagian HRD, seperti yang tempo hari Alila katakan. Namun yang dicarinya tidak ada di tempat karena sedang waktunya istirahat.
Tama ingin mengajak Alila makan siang bersama, selagi dia masih berada di kantor Alila. Dia menghubungi Alila dan panggilan pun tersambung.
Alila sedang makan siang seperti biasanya bersama Olla dan Nadia.
"Oh, aku sedang makan siang, Tam."
"Di mana? Bisakah aku susul kamu?" Tama bertanya lagi.
Alila beranjak dan pergi menjauh dari meja mereka sambil memberi kode tangan kepada karibnya.
"Maaf Tam, aku makan siang di luar kantor. Ada teman yang mengajakku."
Alila terpaksa berbohong untuk menghindari pertemuan dengan Tama.
"Oh ya sudah, Al. Aku kira kamu ada di kantin. Maaf kalau aku menggangumu."
"Ya, Tam. Tidak apa-apa. Aku tutup dulu ya, tidak enak dengan teman-temanku di sini."
Alila berusaha untuk segera menyudahi percakapan mereka.
"Baiklah, Al. Selamat siang."
Panggilan terputus. Alila kembali bersama yang lainnya dan menyantap makan siang mereka. Sebenarnya dia hanya berada di kantin. Tapi setelah mengetahui keberadaan Tama di kantornya dan ingin menemuinya lagi, Alila mencoba menghindar dengan mengatakan jika dirinya tengah pergi keluar.
Setelah merasakan tatapan mata Tama yang tampak jelas berbeda kemarin, Alila merasa tidak nyaman jika harus bertemu dengan Tama hanya berdua saja.
(Sekarang aku tahu mengapa kamu cemburu padanya, Dim.)
Di dalam gedung, akhirnya Tama meninggalkan ruangan Alila dengan rasa kecewa dan memutuskan untuk kembali kepada urusannya. Dia berjalan menuju lift untuk naik menuju ruangan petinggi perusahaan di lantai teratas.
.
__ADS_1
.
.
Hari terus berganti sampailah di hari kerja terakhir di pekan ini. Alila sangat bersemangat untuk menyelesaikan seluruh pekerjaannya hari ini.
"Semangat sekali, Al." Olla melihatnya dari meja kerjanya yang terletak di seberang meja Alila.
Nadia yang mendengarnya ikut mengalihkan pandangannya ke samping, ke arah Alila yang serius menatap layar komputer dengan terus mengulas senyuman.
"Dia tersenyum terus dari tadi pagi, La. Sepertinya dia akan bertemu dengan sang kekasih."
"Besok libur akhir pekan. Apa kalian tidak menyukainya? Kenapa kalian tidak bersemangat?" Balas Alila.
"Bagiku sama saja. Setiap akhir pekan aku tetap saja di rumah sendirian. Kamu Al, pasti bersama dengan kekasihmu. Kalau Olla, sudah pasti dia akan bersama Dika sepanjang akhir pekan."
Olla tertawa mendengar perkataan Nadia.
"Emangnya aku cewek apaan, Nad. Masak sepanjang akhir pekan hanya aku habiskan bersama Dika.."
"Bahkan kalian sudah dekat sejak remaja dulu. Wajar dong jika setiap akhir pekan kalian habiskan waktu bersama. Mungkin saja kalian akan membicarakan tentang pernikahan.."
Sebenarnya Alila penasaran, bagaimana hubungan Olla dan Dika sekarang, setelah dirinya kembali dengan tegas menolak Dika dan memintanya untuk melupakannya.
"Kami belum berbicara tentang pernikahan, Nad. Tapi akhir-akhir ini Dika menjadi lebih perhatian kepadaku. Dia lebih sering menghubungiku dan juga menemuiku."
Begitu mendengar cerita Olla, Alila menghela nafas lega. Sepertinya keputusannya waktu itu tepat sasaran. Dika tidak lagi mengganggunya, meskipun tiap hari mereka bertemu di kantor.
.
.
.
Akhirnya sore hari pun tiba. Saatnya pulang dan menikmati libur akhir pekan.
Libur akhir pekan kali ini sangat dinanti oleh Alila. Karena dua hari lagi Dimas akan kembali. Dan mereka akan bertemu setelah tiga bulan lamanya terpisah jarak dan tak saling bertatap muka.
(Dua hari lagi kita akan bertemu, Dim. Aku sudah tak sabar lagi.)
Alila melangkahkan kakinya dengan hati bahagia. Dia sudah sampai di luar lobby. Pandangannya mencari-cari ke area parkir mobil dimana biasanya Alano menunggunya.
Mobil Alano telah terlihat oleh Alila sehingga Alila terus berjalan keluar gedung dan sesaat berhenti untuk berpisah dengan Olla dan Nadia yang menuju arah yang berbeda.
Alila berjalan dengan tenang menuju mobil adiknya. Dia membuka pintu dan segera masuk ke dalam. Setelah menutup pintu, dia merapikan duduknya dan menatap lurus ke arah depan.
Mobil masih belum bergerak, entah masih menunggu apa lagi. Alila mulai bingung karena biasanya Alano segera menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya.
"Ayo, Lan. Cepat pul-lang...."
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
__ADS_1
Author