Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
69 BERMANJALAH PADAKU


__ADS_3

Hari terakhir bulan madu akhirnya Dimas dan Alila dengan diantarkan oleh Agung, pergi ke beberapa pusat perbelanjaan khas Pulau Dewata. Mereka membeli banyak oleh-oleh untuk keluarga mereka.


Siang harinya mereka sudah berada di villa untuk beristirahat sejenak dan bersiap karena sore harinya sudah harus terbang kembali dan mengakhiri bulan madu singkat mereka.


Selesai mengemasi seluruh barang-barang mereka, Dimas mengajak istrinya bersantai di halaman belakang villa sambil menikmati keindahan pantai untuk terakhir kalinya.


"Kapan-kapan kita datang ke sini lagi, Al. Aku sangat menyukai villa ini. Suasananya sangat nyaman dan jauh dari keramaian sehingga kita bisa benar-benar menikmati liburan romantis berdua secara intim tanpa ada yang mengganggu."


Alila yang bermanja di dalam pelukan suaminya tersenyum dan mengiyakan ucapan Dimas.


"Dari dulu memang kamu seperti itu, Dim. Lebih suka menyendiri dan menikmati semuanya sendiri."


"Sekarang ada kamu yang selalu menemaniku, Al. Di mana pun tempatnya akan terasa nyaman selama ada kamu bersamaku." Dimas menunduk dan mencium kepala Alila yang bersandar di dadanya.


"Aku bahkan tidak pernah berpikir akan secepat ini menemukan cinta dalam hidupku dan memutuskan untuk segera menikah. Aku sungguh bersyukur, kamulah yang ditakdirkan untuk menjadi istriku. Terima kasih, sayang..."


Dimas menarik dagu Alila agar wajahnya terangkat ke atas dan bertemu dengan wajahnya yang telah menanti dengan ciuman mesra di keningnya.


"Aku yang jauh lebih bersyukur, Dim. Karena sekarang aku bisa menjadi pendampingmu, menjadi istrimu. Hal yang sebelumnya hanya bisa aku impikan dalam kesendirianku selama ini. Terima kasih, Dim. Aku sangat mencintaimu.."


Dengan kemauannya sendiri Alila meraih leher Dimas dan menariknya agar wajah mereka semakin dekat. Lalu dengan dada penuh debaran dia memberanikan diri untuk mencium suaminya. Ciuman bibir yang terasa begitu lembut dan dalam itu membuat hati Dimas bergetar hebat karena sangat bahagia.


Alila menurunkan kepalanya dan menyembunyikannya kembali di dada suaminya. Dia malu sekaligus bahagia. Sementara Dimas yang masih terpana dengan ciuman mesra yang diperolehnya, terdiam menatap wajah istrinya yang telah tenggelam di dadanya tertutupi sebagian rambut hitamnya yang tergerai.


"Kamu harus bertanggung jawab karena telah membuatku menginginkannya lagi, Al."


.


.


.


Menjelang petang sepasang pengantin baru sudah tiba di rumah mereka dengan menggunakan taksi online. Setelah mengunci pintu depan mereka segera menuju kamar untuk membersihkan diri.


Sesampainya di kamar, Alila hendak membongkar koper dan mengumpulkan pakaian kotor mereka untuk dibawa ke tempat cucian. Namun sebelum dia melakukannya, Dimas sudah lebih dulu menggendongnya dan membawa masuk ke kamar mandi.


"Temani aku dulu, Al. Kita mandi bersama."


Wajah Alila bersemu merah meski ini bukan pertama kali mereka melakukannya. Selama bulan madu, hampir setiap saat mereka mandi bersama meskipun masih diawali dengan rasa canggung dan malu.


Setengah jam kemudian, mereka sudah berpakaian rapi dan segera melaksanakan kewajiban maghrib bersama. Setelah itu Alila kembali sibuk dengan pakaian kotor yang hendak dibawanya ke tempat cucian. Lagi-lagi Dimas menahannya dan mengambil alih semuanya.


"Biar aku yang membawanya keluar, Al. Kamu bereskan saja tempat tidur kita."


Dimas mencuri ciuman di bibir istrinya dan berlalu menuju pintu, meninggalkan Alila yang tersenyum sendiri melihat tingkah suaminya yang selalu agresif padanya semenjak mereka menikah.


Dia segera mengambil satu set sprei dan satu buah selimut di lemari perlengkapan di samping lemari pakaian. Dengan wajah yang terus menampakkan senyuman, Alila merapikan tempat tidurnya sambil membayangkan kembali malam pertamanya bersama Dimas di atas tempat tidur mereka.

__ADS_1


Sampai dia menyelesaikan tugasnya, Dimas belum juga kembali ke kamar. Alila melangkahkan kakinya menyusul ke ruang belakang. Dilihatnya sang suami masih sibuk menyalakan kran air yang terhubung ke tabung mesin cuci. Ternyata dia langsung mencuci semuanya tanpa menunggu besok pagi.


(Melihatmu seperti ini membuatku semakin mencintaimu, Dim.)


Tanpa suara Alila langsung memeluk Dimas dan merapatkan tubuhnya di punggung suaminya, membuat lelaki itu terkejut namun segera menyentuh tangan istrinya yang melingkar di pinggangnya.


"Al..."


"Kenapa tidak besok saja, Dim. Besok aku yang akan mencucinya."


Dimas menarik tangan Alila dan membawa tubuh ramping itu menjadi berdiri tepat di depannya.


"Aku atau kamu sama saja, Al. Kita sudah hidup bersama jadi apapun itu bisa kita lakukan bersama-sama dan saling membantu."


Sekali lagi Alila dibuat jatuh hati dengan sikap yang ditunjukkan suaminya. Sebaik ini ternyata suaminya sampai dia mau berbagi tugas rumah tangga dengan istrinya tanpa diminta.


Alila tak bisa berkata apa-apa. Dia terharu dengan sikap suaminya yang sangat pengertian. Tak menyangka bila di balik sikap dingin dan acuhnya pada orang lain, Dimas bisa menjadi sosok yang hangat dan penuh perhatian saat bersamanya.


"Dim..."


Di saat dia ingin memeluk suaminya, Dimas sudah mendahului merengkuh tubuhnya dan mendekapnya dengan erat.


"Ayo masuk, Al. Di sini udaranya sangat dingin." Dia mengangkat tubuh Alila yang didekapnya lalu berjalan melewati pintu ruangan.


Setelah sampai di dalam, Dimas menurunkan tubuh istrinya tanpa melepaskan pelukannya. Satu tangannya menutup pintu belakang agar udara dingin tidak lagi masuk ke dalam rumah.


"Aku akan menghangatkanmu.." Satu kecupan mendarat di bibir ranum Alila.


"Dengan ini..." Dimas melanjutkan ucapannya lalu kembali menyatukan bibir mereka dan menahan kepala Alila agar tidak bisa melepaskan ciuman mereka.


Tangan Alila meremas pelan pinggang Dimas saat menerima ciuman dari suaminya. Hatinya bergetar seperti biasanya seolah dia selalu jatuh cinta dengan setiap sentuhan Dimas. Sesaat kemudian dia mulai menikmati dan membalas ciuman itu dengan hangat dan penuh hasrat.


"Dim..." Desah Alila saat berhasil melepaskan ciumannya karena hampir kehabisan nafas.


"Hmm..." Dimas melanjutkan ciumannya semakin ke bawah membuat istrinya semakin mendesah.


"Kita baru saja pulang dari bulan madu, dan kamu sudaah...."


Dimas menghentikan ciumannya dengan nafas terengah. Dilihatnya pipi Alila yang semakin merona dengan tatapan yang sayu karena mulai terbuai oleh ulahnya.


"Setiap hari akan selalu menjadi masa bulan madu untuk kita, Al. Kita harus membiasakannya. Aku tidak ingin kehilangan kehangatan dan keromantisan ini hingga kita menua bersama nanti."


"Jadi biasakanlah untuk menerima serangan dariku sewaktu-waktu...."


Tangannya masih terus memeluk pinggang Alila sementara tangan Alila sudah berpindah mengalungi lehernya. Dengan posisi Alila duduk di atas meja dan Dimas berdiri di depannya, tak ada lagi jarak yang menghalangi mereka. Dimas semakin merapatkan tubuh mereka menjadi satu.


"Al..., boleh aku minta sesuatu?" Tanyanya sambil menciumi wajah istri kesayangannya.

__ADS_1


"Apa, Dim...?" Mata Alila terpejam menikmati ciuman-ciuman kecil dari sang suami.


"Bermanjalah padaku setiap saat, sama seperti aku yang selalu ingin bermanja denganmu. Tunjukkan rasa cintamu juga semua keinginan dan hasratmu. Jangan malu untuk mengungkapkannya padaku. Aku akan sangat menyukainya, Al."


Alila membuka matanya begitu mendengar ucapan Dimas. Sepasang mata tajam itu menatapnya penuh harap, membuat Alila tak ingin mengecewakannya. Segera dia mengangguk dan mengiyakan permintaan Dimas.


"Jika suamiku yang memintanya, aku pasti akan melakukannya..." Jawabnya dengan senyum mengembang di bibirnya yang manis.


"Terima kasih, sayangku..." Dimas memberikan ciuman singkat di kening istrinya yang mana langsung dibalas Alila dengan ciuman singkat di bibir suaminya.


"Bawa aku keluar. Kita selesaikan dulu cuciannya, agar kita bisa segera tidur."


"Tidur? Atauu...?!" Dimas menggantung pertanyaannya.


"Apapun yang kamu mau..." Mata indah itu menunjukkan tatapan yang menggoda.


"Aku hanya mau kamu malam ini..."


Dimas berbisik di telinga istrinya, lalu dia mengangkat tubuh Alila dan mengendongnya dari depan. Alila menyambutnya dengan melingkarkan kedua kakinya di pinggang suaminya. Dan mereka pun tersenyum bersama dalam suasana penuh kasih.


.


.


.


🙏Ucapan Terima Kasih🙏


Terima kasih banyak atas dukungan dan doa dari para reader semua, akhirnya kedua novel kami, Terima Kasih Cinta Sejati dan Menanti Cinta Untukku telah berhasil menjadi novel kontrak karya di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.


Semoga ke depannya, kami bisa menyajikan cerita yang lebih baik lagi dalam segala hal, demi kepuasan para reader tercinta.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.


💜Author💜


.

__ADS_1


__ADS_2