
Akhir pekan, Dimas menemani Alila ke rumah sakit untuk melakukan kontrol pasca operasi. Jika kondisi kesehatan Alila semakin baik dan tidak ada komplikasi, maka awal pekan depan dia sudah diperbolehkan kembali bekerja.
"Apakah masih terasa pusing jika kamu berjalan jauh seperti ini, Al?"
Dimas menggandeng tangan istrinya dan terus memperhatikan langkah Alila. Mereka sedang berjalan kaki dari pelataran parkir rumah sakit dan hampir sampai di ruang pemeriksaan dokter yang menangani Alila kemarin.
"Tidak, Dim. Aku sudah merasa kuat. Kamu tahu sendiri, selama di rumah aku sudah membiasakan diri untuk berjalan dan beraktivitas ringan, agar badanku tidak terus menerus terasa kaku dan semakin lemas karena kurang gerak."
Mereka sampai di depan ruang pemeriksaan. Dimas membantu Alila duduk di kursi tunggu paling depan, lalu dia mengikuti duduk di samping ķanan istrinya. Mereka menunggu giliran untuk dipanggil.
"Tapi aku masih khawatir jika lusa kamu sudah mulai bekerja, Al. Aku tidak ingin kamu kelelahan dan membuat kesehatanmu menurun lagi."
Dimas mendekap bahu Alila membuat sang istri langsung merebahkan kepala di bahu kiri suaminya. Tangan kanannya bermain di pangkuan paha kiri Dimas, mengusapinya perlahan dan sesekali mengetukkan jemari tangannya membuat suatu irama abstrak.
"Percayalah padaku, Dim. Aku tidak selemah yang kamu kira. Aku pasti kuat, karena ada kamu yang selalu menguatkan aku."
Alila mengangkat kepala dan menatap suaminya, membuat Dimas tersenyum mendengar jawaban sang istri, lalu mencium sekilas puncak kepalanya.
Tak lama kemudian, nama Alila sudah dipanggil. Mereka berdua segera masuk ke ruang pemeriksaan dan bertemu dengan dokter yang sudah menunggu dengan senyum ramahnya. Beliau tengah membaca ulang laporan kesehatan pada berkas pasien atas nama Alila.
Setelah sedikit berbincang dan dokter sudah menulis beberapa catatan baru, Alila pun mulai diperiksa kondisi luka dan jahitan di perutnya, termasuk pula pemeriksaan ultrasonografi untuk mengetahui kondisi organ reproduksi Alila pasca operasi yang dijalaninya.
Hasil pemeriksaan Alila cukup baik menurut sang dokter. Luka jahitannya sudah kering di bagian luar, dan hanya butuh waktu untuk memulihkan bagian dalamnya saja. Tidak ada larangan khusus dari dokter, kecuali untuk melakukan aktivitas yang berat dan berlebihan.
"Apakah ada yang ingin ditanyakan lagi oleh Bapak atau Ibu?" Dokter memberi waktu untuk mereka bertanya hal yang mungkin masih ingin mereka ketahui.
"Kapan kami bisa memulai program kehamilan lagi, Dok?" Alila tidak sabar untuk mengetahuinya, membuat dokter tersebut tersenyum memahaminya.
"Sebaiknya kita tunggu setidaknya enam bulan ke depan dulu, dan awali saja dengan program alami, mengingat usia anda berdua masih muda. Saya rasa itu adalah waktu yang ideal dari sisi kesehatan, sekaligus untuk menambah kesiapan mental Ibu dan Bapak dalam menghadapi kehamilan berikutnya."
Alila mengangguk tanda mengerti. Dia menghela nafas panjang, entah karena lega atau justru karena masih merasakan ketakutan yang sama.
"Apa kemungkinan terburuk yang mungkin akan saya hadapi dengan kondisi saya yang sekarang ini, Dok?" Alila menanyakan satu hal lagi yang masih membuat hatinya risau beberapa hari ini.
Dokter menganggukkan kepalanya dan mencoba menjelaskan dengan hati-hati, tanpa ingin mematahkan semangat pasiennya.
"Kemungkinan anda mengalami kondisi kehamilan yang sama seperti kemarin masih ada, meskipun dalam prosentase yang kecil. Selain itu, anda bisa saja membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memperoleh kehamilan kembali."
"Tetapi sekali lagi saya sampaikan, bahwa semua itu hanya perkiraan kami secara medis. Untuk hasilnya, tentu saja keputusan dari Yang di Atas lah yang paling menentukan. Tidak ada yang tidak mungkin terjadi, jika Dia sudah berkehendak." Ucap sang dokter dengan satu tangannya yang menunjuk ke arah atas.
__ADS_1
Alila tersenyum mendengar jawaban terakhir sang dokter. Dalam hatinya dia mengamini ucapan dokter tersebut, berharap benar-benar ada keajaiban dari Yang Maha Kuasa agar dirinya bisa segera hamil kembali setelah masa pemulihannya selesai nanti.
Sebelum Dimas dan Alila beranjak pergi, dokter menuliskan beberapa resep obat untuk Alila dan menyerahkannya untuk diambil di apotik rumah sakit.
.
.
.
Dari rumah sakit, Dimas tak langsung membawa Alila pulang. Dia ingin mengajak Alila ke suatu tempat lebih dulu.
Dalam perjalanan, seperti biasanya Alila tertidur dengan wajah yang lebih tenang dari sebelumnya. Sepertinya penjelasan dari dokter memberikan efek positif dalam pikirannya, sehingga hatinya lebih bisa menerima keadaan dirinya sendiri.
Dimas mengusap sayang kepala Alila dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya tetap fokus dengan kemudinya. Dia tersenyum memperhatikan wajah istrinya yang telah terlelap. Begitu menggemaskan dalam pandangan matanya.
Tiba-tiba hatinya bergetar halus dan berdebar dengan irama yang indah. Rasa cinta itu hadir kembali dengan suasana yang berbeda. Lebih tenang dan lebih nyaman, karena dia jatuh cinta lagi dan lagi pada wanita yang telah dia miliki seutuhnya.
Sama seperti yang Alila rasakan padanya, rasa cintanya pada Alila kini selalu tumbuh dan berkembang semakin besar dan begitu dalam, hingga mampu mengikat erat hati dan jiwa mereka menjadi satu kesatuan cinta yang tak lagi bisa dipisahkan.
Hati dan jiwanya telah mencintai sedemikian dalamnya kepada Alila, wanita kesayangannya yang mampu mengubah kehidupannya yang dulu hampa dan kelabu menjadi bermakna dan dipenuhi warna-warni cinta yang sarat kebahagiaan.
.
.
.
Alila terbangun saat Dimas menghentikan mobilnya di sebuah halaman parkir yang luas dan asri. Mata indahnya mengerjap dan mulai mengedarkan pandangannya ke sekitar. Senyumnya mulai mengembang setelah dia tahu di mana mereka berada saat ini.
"Tempat ini...." Alila menatap Dimas yang sudah lebih dulu menatapnya dengan penuh cinta.
"Ya, Al. Ini tempat yang kita datangi berdua saat aku akan pergi meninggalkanmu dulu." Jawab Dimas.
"Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke pantai kita. Tetapi di sana pasti cuacanya masih sangat panas dan kita juga harus berjalan jauh, sementara kondisimu masih seperti ini. Jadi aku pindahkan tujuan kita ke tempat ini." Lanjut Dimas lagi.
"Terima kasih, Dim." Alila mendekati Dimas lalu mencium pipi kiri suaminya dengan wajah merona.
Dimas tidak membalasnya namun hatinya mendadak berbunga-bunga seperti keadaan sekitarnya yang dipenuhi banyak tanaman berbunga.
__ADS_1
"Ayo kita masuk dulu, Al."
Mereka keluar dari mobil dan menuju ke dalam. Sebuah restoran alam di tepi sungai wisata yang dikelilingi oleh taman bunga yang luas dan dipenuhi bermacam-macam bunga yang tengah bermekaran dan berwarna-warni sangat indah.
Dimas menggenggam erat tangan Alila dan berjalan menuju sebuah gazebo lesehan di mana salah satu sisinya berhadapan langsung dengan aliran anak sungai yang dangkal dan sangat jernih. Tempat yang sama yang mereka pilih saat datang kemari waktu itu.
Setelah menyerahkan pesanannya kepada seorang pramusaji, Dimas menyandarkan tubuhnya ke dinding gazebo yang terbuat dari kayu dan anyaman bambu. Lalu dia meminta Alila untuk berbaring dengan kepala berbantalkan pahanya. Tangan kirinya memeluk di atas perut Alila.
"Kamu senang, Al?" Tangan kanan Dimas terus memgusapi kepala Alila.
"Sangat. Sangat senang dan tenang, Dim. Terima kasih sudah membawaku kembali ke tempat indah ini."
Alila meraih tangan Dimas yang sedari tadi berada di atas perutnya lalu menciumi punggung tangannya dengan mata terpejam.
Dimas yang sedari tadi sudah menahan hasratnya, mulai membungkukkan tubuhnya hingga kepalanya berada tepat di atas kepala Alila. Wajah mereka berhadapan dan saling mengunci pandangan.
Dengan lembut Dimas menyatukan bibirnya dengan bibir mungil Alila hingga terciptalah ciuman yang diinginkannya. Ciuman hangat yang sangat nikmat dan saling meminta. Tangan kanannya terus mengusapi kepala Alila, sementara tangan kanan Alila terulur ke atas untuk menekan dan menahan kepala Dimas agar ciuman mereka semakin dalam dan basah.
Setelah puas dengan hasrat masing-masing, mereka melepaskan ciuman itu dengan saling melemparkan senyuman.
"I love you, my dearest wife..." Dimas mencium kening istrinya dengan penuh cinta.
"I love you too, my beloved husband..." Alila membalasnya dan menyentuh pipi suaminya dengan penuh kasih.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
💜Author💜
.
__ADS_1