
Satu minggu berlalu, dan seperti yang dikatakan Dimas pada Alila, semuanya bai-baik saja, tidak ada hal buruk yang terjadi hingga akhir pekan tiba kembali. Namun entah mengapa, Alila masih merasakan sesuatu yang tidak nyaman di hatinya.
"Bagaimana dengan pekerjaan barumu, Dim?"
Usai mandi sore sepulang kerja, mereka berdua sibuk di dapur, membuat puding dan hendak menyiapkan masakan untuk makan malam.
Alila mendidihkan air di dalam panci untuk membuat kuah puding, sementara di atas meja Dimas membantunya mengupas dan mengiris aneka buah untuk isiannya.
"Sama saja dengan sebelumnya, Al. Yang berbeda hanya tanggung jawabku yang lebih besar."
Alila memeluk suaminya dari belakang tanpa ingin mengganggu aktivitas lelaki itu yang masih sibuk dengan buah-buahan di hadapannya. Kepalanya bersandar nyaman di punggung Dimas sembari memejamkan matanya.
"Bagaimana dengan Pak Albi?" Sesekali Alila melihat ke arah kompor untuk mengecek air yang dipanaskannya.
"Masih dalam posisi tertinggi di divisi kami. Beliau adalah atasan yang sangat baik. Aku juga merasa sangat nyaman bekerja sama dengan Pak Albi selama ini."
"Mmm.., apakah semuanya baik-baik saja, Dim?" Tanya Alila hati-hati.
"Ya. Akhir-akhir kamu menanyakan itu terus. Ada apa? Apa masih ada yang mengganggu pikiranmu?"
Dimas meletakkan buah dan pisau yang dipegangnya, membersihkan tangan dengan lap bersih lalu membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan istri tercintanya.
Kedua tangannya menyentuh bahu Alila sambil mengusapinya dengan lembut. Mata tajamnya menatap lekat-lekat ke dalam mata wanita itu, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya dirasakan oleh Alila.
"Entahlah, perasaanku masih saja tidak enak. Aku masih merasakan sesuatu yang tidak baik akan terjadi, tapi aku sendiri tidak tahu apa itu..." Alila menghela nafas perlahan.
"Aku takut, Dim. Aku mengkhawatirkan dirimu..."
Alila sudah merapatkan tubuhnya memeluk Dimas dengan sangat erat, disambut dengan rengkuhan hangat kedua tangan suaminya yang mencoba menenangkan dirinya.
Melihat Alila yang terbawa suasana hatinya, dengan segera Dimas mengulurkan tangan kanannya untuk mematikan kompor, lalu kembali mempererat pelukannya disertai ciuman di puncak kepala istrinya.
"Aku tidak apa-apa, sayang. Kamu lihat sendiri, selama ini aku selalu baik-baik saja." Ucapnya sambil menangkup wajah Alila agar mereka saling menatap dalam jarak dekat.
"Bukankah setiap hari kita selalu bersama? Jadi tidak ada yang perlu kamu takutkan lagi, Al." Lama Dimas mencium kening Alila dengan segenap perasaan, hingga dadanya terasa sesak karena turut merasakan apa yang tengah dirasakan wanita kesayangannya itu.
(Sebenarnya aku juga merasakannya, Al. Tapi aku tidak mau membuatmu semakin merasa takut. Semoga saja apa kita khawatirkan ini tidak akan pernah terjadi...)
Dimas menyudahi ciumannya lalu tersenyum dan membelai kepala istrinya dengan lembut, membuat hati Alila menjadi lebih tenang dan membalas senyuman lelaki tercintanya.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan lagi! Ayo kita lanjutkan membuat pudingnya." Dimas melepaskan pelukannya lalu menyalakan lagi kompornya. Kemudian mereka bersama-sama menyelesaikan proses pembuatan puding buah kesukaan Dimas.
"Untuk makan malam, kita pesan antar saja, Al. Atau kamu mau kita makan di luar?"
Dimas membatalkan acara masak-memasak mereka agar Alila tidak kelelahan, mengingat suasana hatinya sedang tidak terlalu baik.
"Ya, Dim. Kita pesan saja."
"Baiklah, Putri Tidurku sayang! Malam ini kita akan beristirahat lebih awal agar besok pagi lebih bugar dan siap untuk pergi ke pantai."
__ADS_1
Dimas mengiyakan pilihan istrinya karena dirinya sudah berencana mengajak Alila liburan ke pantai untuk menghabiskan waktu mereka di akhir pekan kali ini.
.
.
.
Keesokan paginya sebelum fajar menyingsing, Alila terbangun dengan wajah yang masih bersandar nyaman di dada Dimas. Dia mulai bisa merasakan sentuhan kulit yang hangat antara tubuhnya dan tubuh suaminya.
Setelah beberapa kali mengerjapkan kedua matanya, kesadarannya sudah kembali sepenuhnya. Dia tersenyum melihat dirinya sendiri yang begitu erat memeluk tubuh Dimas.
Lelaki yang masih tertidur pulas itupun terus memeluknya tanpa sekat apapun karena tubuh mereka masih sama-sama terbuka tanpa sehelai benang, hanya selimut yang menutupi kedua raga yang saling berpelukan mesra itu.
Semalam sebelum tidur, tiba-tiba Dimas begitu berhasrat ingin melakukan penyatuan dengan istrinya, padahal sesaat sebelumnya dia sendiri yang mengajak Alila untuk beristirahat lebih awal.
Alila tersenyum mengingat kejadian semalam sambil terus membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami sambil memuji dalam hati, perlakuan Dimas yang begitu lembut dan selalu membuatnya turut menikmati setiap percintaan mereka.
Alila terus melengkungkan bibir tipisnya, menatap lekat wajah tenang Dimas yang memejamkan matanya dengan senyuman yang terukir di bibir manisnya.
Tak tahan, lagi-lagi Alila menyentuh bibir itu dengan bibirnya hingga sang pemiliknya terbangun karena merasakan kehangatan yang menggodanya untuk membalas tanpa memberi jeda sedikit pun.
Dengan segera, Dimas sudah memulai kembali penyatuan mereka dengan lembut dan perlahan. Secara naluriah, tubuh mereka saling bereaksi dan terpicu hasrat yang kembali merayu keduanya untuk segera melakukan lagi sesuatu yang indah di keheningan pagi.
Alila telah larut dalam permainan suaminya yang selalu memanjakannya. Dengan gerakan cinta yang lembut dan seirama, wanita itu mulai mengimbangi permainan suaminya dengan tubuh yang telah sama-sama bergejolak dan siap untuk bersama-sama terbang melayang menikmati puncak gairah yang begitu indah dan penuh kasih.
"Terima kasih, Al. Kamu memberiku pagi yang tak akan pernah terlupakan. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu..."
Meski masih terengah lelah, Alila membalasnya dengan tetap melingkarkan tangannya di atas tubuh Dimas dan menyentuh bagian dada suaminya dengan bibir ranumnya, memberikan ciuman lembut berkali-kali.
"Aku lebih mencintaimu, Dim. Sangat mencintaimu. Terima kasih atas pagi yang penuh kenangan ini..."
Setelah menuntaskan hasrat cinta hingga keduanya terpuaskan, Dimas dan Alila masih melanjutkan kemesraan mereka di dalam kamar mandi. Hampir setengah jam mereka membersihkan diri bersama dengan tetap melanjutkan ciuman demi ciuman yang tak pernah ingin mereka sudahi.
.
.
.
Sebelum berangkat sesuai rencana liburan, mereka sarapan nasi uduk yang dibeli Dimas di ujung jalan utama. Tak lupa Alila membawa puding buah buatan kemarin sore yang sudah disimpannya di dalam kulkas, juga beberapa minuman kemasan beraneka macam.
"Dim, apa tidak terlalu pagi jika kita pergi ke sana sekarang?"
Jalanan masih cukup sepi karena di setiap akhir pekan tidak ada kepadatan lalu lintas yang biasanya macet lantaran dipenuhi dengan kendaraan menuju sekolah dan perkantoran.
"Apa kau mau kita ke tempat lain dulu?"
Alila menggeleng. Dia lebih suka pergi ke pantai, dari pada ke tempat lain.
__ADS_1
"Aku lebih senang berlama-lama di pantai, Dim. Tempat paling tepat untuk menenangkan diri dan melepaskan semua beban pikiran kita..."
"Baiklah. Kita langsung menuju pantai kita."
Dimas tersenyum melihat istrinya terlihat ceria dan bersemangat menikmati liburan singkat mereka hari ini.
(Semoga kamu selalu bahagia seperti ini, Al. Kebahagiaanmu adalah hal yang akan selalu aku utamakan lebih dari apa pun...)
Dimas terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang cenderung pelan dan membuka kedua sisi jendela agar mereka bisa menikmati suasana pagi yang sejuk dan menyegarkan.
Sampai di perempatan terakhir sebelum memasuki kawasan pantai, Dimas menghentikan mobilnya karena terhalang lampu merah. Tangan kirinya menggenggam mesra tangan kanan Alila dan menciuminya dengan rasa sayang.
"Aku mencintaimu, Al. Jangan pernah tinggalkan aku apa pun yang terjadi..."
Alila tersenyum merasakan ketulusan di balik kata-kata Dimas yang penuh perasaan.
"Aku juga mencintaimu, Dim. Aku akan selalu ada di sampingmu. Apa pun yang terjadi, kita akan selalu bersama selamanya..."
Mereka berdua saling menyatukan pandangan dengan binar cinta yang begitu terlihat dalam pancaran mata keduanya.
Lampu lalu lintas mulai menyala kuning, Dimas baru bersiap untuk menunggu lampu hijau benar-benar menyala.
Tiba-tiba, entah dari arah mana datangnya, sebuah mobil besar melaju dengan kecepatan sangat tinggi menghantam bagian kanan mobil Dimas tepat di bagian kemudi yang dikendalikan oleh Dimas.
"Awas, Al......!!!"
Tanpa bisa menghindar sama sekali, Dimas sontak menggerakkan tubuhnya ke kiri untuk merengkuh tubuh Alila dan membenamkannya ke bawah demi melindungi wanita yang sangat dicintainya melebihi nyawanya sendiri.
"Dimaasss......!!!"
Kedua tubuh mereka bersatu, namun bukan penyatuan yang indah sebagaimana yang terjadi sebelumnya.
Bruukkk...!!! Sreettt...!!! Bruuukkk...!!!
Mobil besar itu dua kali menabrak mobil Dimas lalu melaju sangat kencang meninggalkan lokasi yang masih sepi dan jauh dari lalu lalang kendaraan.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
💜Author💜
__ADS_1
.