
Pertemuan keluarga telah usai. Minggu depan keluarga Dimas akan datang mengunjungi keluarga Alila untuk melakukan lamaran antar kedua keluarga.
Matahari mulai condong ke arah barat, tanda hari telah beranjak sore. Darma, Indira dan baby Sekar sudah lebih dulu pulang. Dimas dan Alila bersiap hendak pamit di ruang kerja orangtuanya di restoran tersebut.
"Pa, Ma. Kami pamit dulu. Sebelum pulang aku akan mengajak Alila berjalan-jalan dulu."
Dimas segera meminta ijin pada orangtuanya, setelah mereka sampai di dalam ruangan. Papa dan mamanya membalas dengan anggukan kepala.
"Pergilah. Ajak Alia bersenang-senang di kota ini. Jangan pulang terlalu malam. Siapkan tubuh dan tenaga kalian untuk perjalanan pulang besok."
"Ya." Jawab Dimas.
Keduanya mendekati orangtua Dimas dan mencium tangan mereka bergantian.
"Kami pergi dulu, Pa, Ma." Ucap Alila sebelum meninggalkan ruangan.
Setelah berada di luar ruang kerja orangtuanya, Dimas meraih tangan Alila dan menggandengnya keluar dari restoran. Sekilas dia menoleh ke arah calon istrinya dan melemparkan sebuah senyuman manis.
"Kita akan pergi ke mana, Dim?"
"Kencan."
"Seperti anak muda saja, pakai istilah kencan."
"Apa kamu kira aku sudah tua, Al?"
"Iya, kamu sudah tua. T-U-A."
Alila mengeja kata tua dengan sangat jelas sambil masuk ke dalam mobil Dimas dan duduk menunggu Dimas yang masih memutar langkahnya menuju pintu sebelah kanan.
Di dalam mobil, Dimas melanjutkan pertanyaannya.
"Mengapa kamu sebut aku tua? Bukankah usia kita sama. Berarti kamu juga tua, Al."
"Tapi ini beda, Dim. Kamu itu tua. Terbaik Untuk Aku."
Alila berhasil membuat Dimas tersenyum lebar dengan ucapannya.
"Kalau begitu kamu juga tua. T-U-A."
"Hmm.. Apa itu, Dim?"
"Kamu memang tua. Tercipta Untuk Aku."
"Benarkah itu?"
"Tentu saja, Al. Karena kamu milikku. Hanya milikku."
Tangan Dimas terulur meraih kepala Alila dengan lembut. Dia mencium kening wanita tercintanya dengan mata terpejam.
"Terima kasih sudah menjadikan aku yang terbaik untukmu."
Alila hanya tersenyum membalas ucapan dan perlakuan Dimas. Hatinya dipenuhi hamparan bunga mawar yang bermekaran dihiasi kupu-kupu yang beterbangan kian kemari.
Dimas mulai melajukan mobilnya. Memasuki keramaian jalanan di pusat kota yang lebih ramai dari biasanya karena bertepatan dengan akhir pekan.
"Dim, apakah kamu mempunyai tempat kenangan di kota ini?"
"Ada, Al. Waktu aku tinggal di sini aku sering pergi ke sana dan menghabiskan waktu sendirian di tempat itu."
"Apakah kamu masih merindukan tempat itu?"
__ADS_1
"Ya. setiap pulang kemari aku selalu menghabiskan waktu untuk menyendiri di sana. Tapi mulai sekarang aku akan mengajakmu untuk menemaniku, Al."
Alila tersenyum dan mendekatkan tubuhnya ke arah Dimas. Dia memegang lengan kiri Dimas yang masih memegang kemudi.
"Aku akan selau menemanimu ke mana pun kamu membawaku pergi, Dim."
"Tentu saja, Al. Kita harus selalu bersama di mana pun kita berada."
Tangan kiri Dimas yang masih didekap Alila terlipat ke belakang dan menyentuh puncak kepala Alila lalu menciumnya sekilas.
Tak lama setelah melalui perjalanan, mereka sampai di sebuah tempat yang dipenuhi pohon-pohon besar yang menjulang tinggi.
Alila mencari-cari papan petunjuk untuk mengetahui tentang tempat tersebut. Lalu pandangannya berhenti pada sebuah papan nama yang berada tak jauh dari tempat mereka menghentikan mobil.
"Hutan Kota." Alila membacanya pelan.
"Ayo, Al."
Dimas turun dari mobil diikuti Alila. Mereka mengamati keadaan di sekitarnya. Hanya ada beberapa mobil dan motor yang terparkir di sana.
Dimas menggenggam tangan Alila dan membawanya menuju pintu gerbang yang di sebelahnya terdapat tempat pembelian tiket masuk.
Setelah menunjukkan tiket kepada petugas yang berjaga, mereka memasuki kawasan wisata yang tidak terlalu ramai saat itu.
Alila mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Hanya ada satu jalan yang membelah hutan yang rindang dan berhawa sejuk itu. Beberapa bangku panjang terlihat di sisi kiri dan kanan jalan utama yang mereka tapaki.
Di depan mereka terlihat beberapa cabang jalan yang lebih kecil dan hanya berupa jalan setapak untuk melintasinya menuju ke tepi hutan.
Dimas terus membawa langkah mereka lurus ke depan, hingga sampai di tepi sebuah danau yang ditumbuhi banyak tanaman teratai yang menghiasi permukaan danau, membuat danau tersebut semakin terlihat indah dan mengagumkan.
"Indah sekali danaunya, Dim."
Alila terpukau melihat danau teratai itu. Wajahnya terus menampakkan senyuman yang membuat Dimas yang melihatnya ikut tersenyum sambil terus menikmati kecantikan wanita di sampingnya.
Alila menganggukkan kepala tanpa menoleh ke arah Dimas. Dia mengeluarkan ponselnya dan mulai mengabadikan keindahan tempat itu dengan kamera ponselnya.
Setelah cukup banyak memotret pemandangan di sekelilingnya, Alila memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dimas yang melihatnya segera menarik tangan Alila untuk mendekati tepi danau.
"Berdirilah di sini. Aku akan memotretmu, Al."
Dimas mundur beberapa langkah sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Sementara Alila tampak merapikan rambutnya yang tergerai indah dan mulai bersiap untuk diambil gambarnya oleh Dimas.
Beberapa langkah darinya, Dimas sudah mulai memotret kekasihnya dengan beberapa gaya yang diperagakan oleh Alila dengan luwes dan penuh senyuman membuat Dimas turut tersenyum tanpa disadarinya.
Alila berjalan menghampiri Dimas dan mengambil ponsel dari tangan pemiliknya.
"Berdirilah di sana, Dim. Aku juga akan memotretmu."
Dimas langsung menggelengkan kepalanya. Dia memang tidak suka difoto sendirian. Apalagi sikapnya yang kaku, semakin membuatnya sulit berekspresi di depan kamera.
"Ayolah, Dim. Demi aku..."
Alila memohon sambil menarik tangan Dimas untuk mengikutinya ke tepi danau. Dimas masih terlihat enggan dan hendak berjalan menjauh lagi tetapi ditahan oleh Alila.
"Sebentar saja, Dim..."
Alila menatap mata Dimas dengan sorotan memohon yang membuat Dimas akhirnya luluh dan menuruti permintaan wanita yang sangat dicintainya itu.
Dengan gembira Alila mulai mengambil gambar Dimas meski dengan gaya yang kaku dan wajah yang datar. Setelah mengeluarkan beberapa kali bujukan disertai kalimat cinta, akhirnya Dimas mulai menampakkan senyumnya yang langsung dimanfaatkan Alila untuk memotretnya dengan segera hingga beberapa kali.
Ali yang belum merasa puas, menghampiri sepasang pengunjung yang kebetulan lewat di dekatnya. Dengan ramah dia meminta bantuan salah satu dari mereka untuk memotret dirinya berdua dengan Dimas dan menyerahkan ponsel Dimas.
__ADS_1
Alila segera berjalan cepat dan mengambil tempat di samping Dimas. Alila membujuk Dimas untuk bersikap santai dan tetap tersenyum saat dipotret dengan bermacam gaya yang dituntun oleh Alila.
Setelah dirasa cukup, Alila kembali menghampiri pengunjung yang telah membantunya. Dia menerima kembali ponsel Dimas sambil mengucapkan terima kasih kepada sepasang pengunjung tersebut.
"Sudah puas kamu mengerjaiku, Al?"
Alila tertawa mendengar ucapan Dimas yang menatapnya dengan wajah datar. Dia mengajak Alila berjalan menuju ke sisi danau yang lain.
"Jauh-jauh pergi ke kota ini, tentu aku ingin mempunyai kenangan bersamamu. Hanya sebuah foto, tidak akan mengurangi ketampananmu, Dim."
Alila tersipu sendiri saat memuji calon suaminya, sedangkan Dimas yang mendengarnya merasa sangat bahagia dan langsung menampakkan senyum menawannya untuk Alila.
"Benarkah aku tampan, Al? Kalau begitu, aku bisa saja mendapatkan wanita lain untuk aku kencani.."
Tangan Dimas memeluk pinggang Alila di sepanjang perjalanan. Alila membalasnya dengan pelukan yang sama untuk kekasihnya.
"Awas, jangan tebar pesona pada wanita lain, Dim. Atau aku akan meninggalkanmu dan mencari lelaki lain yang tidak dingin dan kaku sepertimu."
Alila mengancam dengan mendaratkan sebuah pukulan ringan di dada dan cubitan mesra di perut Dimas membuat lelaki itu membalasnya dengan terus tersenyum lalu mencium bagian samping kening calon istrinya.
"Aku hanya mencintaimu, Al. Tidak akan ada yang lain selain dirimu."
"Terima kasih, Dim. Aku selalu percaya padamu."
Dimas menghentikan langkah mereka saat sampai di depan sebuah pohon besar yang di atasnya terdapat rumah pohon sederhana yang terbuat dari kayu. Ada beberapa pohon besar dengan rumah pohon serupa di sekitar pohon yang telah dituju oleh mereka.
Dimas menuntun Alila untuk menaiki satu per satu papan tangga menuju ke rumah pohon dengan hati-hati. Sesampainya di atas, mereka duduk bersama menghadap ke arah luar di mana terlihat pemandangan indah danau teratai dan pohon-pohon di sekelilingnya yang sangat memukau.
"Di sinilah tempat kenanganku, Al."
Dimas memeluk Alila dan merapatkan tubuh mereka satu sama lain. Ada desiran-desiran halus yang terasa di hati mereka saat tatapan mata mereka bertemu dan terpaku satu sama lain. Mata bertemu mata. Berbicara dari hati ke hati.
Wajah yang saling berdekatan membuat Dimas dan Alila bisa merasakan hembusan nafas mereka yang menerpa wajah keduanya. Dimas mulai memegang pipi Alila yang telah bersemu merah menggemaskan.
"Terima kasih sudah menerimaku sebagai calon suamimu, Al."
"Aku juga berterima kasih padamu karena telah memilihku menjadi calon pendampingmu, Dim."
"Bukan aku yang memilihmu, Al. Tapi hati dan cintaku yang telah memilihmu dengan ketetapan dari yang maha kuasa."
Dimas mencium kening Alila lalu turun ke samping dan untuk pertama kalinya dia mencium pipi ranum Alila.
"Aku mencintaimu, Al."
"Aku juga sangat mencintaimu, Dim."
Kepala Alila bersandar di bahu Dimas membuat lelaki itu memalingkan wajahnya dan kembali mencium dengan lembut kening kekasihnya.
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
__ADS_1
~Author~
.