
Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, Alila melanjutkan pemulihannya di rumah kedua orangtuanya. Hatinya sangat bahagia karena bisa kembali ke rumah masa kecilnya. Rumah yang ditinggalinya sejak dirinya lahir hingga dewasa dan dipersunting oleh lelaki yang sangat dicintainya.
Pertama kali dirinya kembali tidur di kamarnya semasa masih belum menjadi istri Dimas, membuatnya semalam tidur sangat pulas. Apalagi, dia bisa leluasa memeluk suaminya sepanjang malam. Kehangatan pelukan yang sangat dirindukannya selama tidur sendiri di tempat tidur rumah sakit.
Sama seperti saat dirawat di rumah sakit, pagi ini Dimas akan berangkat ke kantornya dan meninggalkan Alila di rumah bersama Mama Dian.
Meskipun tubuhnya masih lemah, Alila tetap berusaha menyiapkan semua keperluan suaminya semampunya. Pakaian kerja Dimas dan juga sarapannya, meskipun bukan dia yang memasaknya karena belum diijinkan oleh mamanya.
"Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu.."
Dimas mencium kening istrinya dengan perasaan bahagia, setelah Alila membantunya mengancingkan baju dan merapikan kerah kemejanya.
"Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu, Dim."
Cup! Cup!
Alila mencium kedua pipi Dimas lalu memeluknya. Dia memuaskan diri bermanja di dada bidang suaminya sembari menghirup wangi tubuh yang selalu dirindukannya.
Dimas tersenyum dengan hati bergetar indah dan membalas pelukan istrinya lebih erat namun hati-hati, mengingat luka di bagian perut Alila. Diciumnya puncak kepala istri kesayangannya dengan tulus diiringi sebaris doa yang diucapkannya dalam hati.
Entah mengapa, setiap hari dia selalu merasa semakin jatuh cinta pada Alila dan sangat takut kehilangannya. Bahkan hatinya masih selalu bergetar dan menghangat setiap kali berduaan dan bermesraan dengan istrinya.
Dia tidak tahu mengapa, tetapi dia sangat bahagia merasakan semua itu. Seperti yang pernah dikatakannya pada Alila, dia ingin setiap saat mereka merasakan jatuh cinta satu sama lain dan menjadikan setiap harinya sebagai masa bulan madu mereka berdua.
"Jangan terlalu sering bergerak dulu dan banyaklah beristirahat. Aku akan pulang saat istirahat siang nanti."
Dimas memejamkan mata dan mencium bibir Alila dengan lembut. Diresapinya kehangatan ciuman mereka, sebagai bekal semangat kerjanya hari ini. Alila pun turut memejamkan mata dan membalasnya dengan penuh perasaan.
"Aku tidak bisa meminta semangat kerjaku selama di rumah sakit kemarin. Dan sekarang, aku sudah bisa mendapatkannya kembali dari istri tercintaku..."
Alila merekahkan senyum bahagia dengan wajah merona malu. Walaupun terkadang merasakan nyeri pada lukanya, tapi hatinya sangat bahagia pagi ini. Perhatian dan kasih sayang dari suaminya adalah obat khusus yang membuatnya lebih kuat dan semakin bersemangat untuk sehat kembali.
"Aku akan menunggu, Dim..."
Mata indah Alila menatapnya penuh cinta membuat Dimas tak tahan lagi dan kembali mencium bibir istrinya semakin dalam. Untuk sesaat keduanya larut menikmati ciuman pagi mereka.
"Kamu selalu saja tidak puas jika hanya satu kali..." Alila menyindirnya sembari membersihkan bibir basah Dimas dengan jemari tangannya.
"Berkali-kali pun aku tidak akan pernah puas, karena aku sangat menyukainya dan selalu merindukan bibir manismu ini, Al."
Dimas membalas dengan menyentuh lembut dan membersihkan bibir Alila dengan ujung ibu jarinya, membuat wajah istrinya kembali bersemu merah.
__ADS_1
Setelah puas bermesraan, mereka segera keluar dari kamar Alila dan menuju meja makan. Hanya ada mereka berdua di sana. Papa Dewa masih menikmati kopi dan koran paginya di ruang tengah ditemani Mama Dian, sementara Alano sudah pasti melanjutkan kembali tidurnya yang terjeda subuh.
Dimas melarang Alila untuk melakukan apa-apa, dia hanya harus duduk dan menunggu Dimas yang melayaninya.
"Kamu masih menjadi pasien kesayanganku, jadi diam saja dan menurut pada dokter cintamu ini..."
Dimas berdiri dan mengusap kepala Alila lalu mengambil satu buah piring dan mengisinya dengan menu yang sudah terhidang di atas meja. Satu buah sendok tak lupa diambilnya untuk mereka gunakan berdua.
"Sudah siap..!"
Dimas meletakkan piring di atas meja di antara kursi mereka yang telah dirapatkan olehnya, agar memudahkan mereka untuk menyendok makanan secara bergantian.
Alila mengawalinya lebih dulu, memberikan suapan pertama pada suaminya. Setelah itu Dimas yang menyuapi istrinya dengan penuh perhatian. Meskipun mereka tinggal sementara di rumah orangtua Alila, namun ritual dan kebiasaan mereka saat di rumah sendiri tetap mereka lakukan, apalagi sekarang mereka hanya sarapan berdua saja.
Setelah selesai sarapan, Dimas berjalan masuk ke kamar dan kembali dengan membawa obat yang harus diminum oleh istrinya, lalu duduk kembali di samping Alila.
"Ayo, diminum obatnya, Al."
Dengan telaten lelaki itu membantu Alila menelan obatnya satu per satu dan segera memberikan air minum untuknya. Alila menghabiskan minumannya dan meletakkan gelas kosong yang baru saja dipakainya di atas meja.
"Tunggu dulu di sini, Al. Aku akan membersihkan peralatan makan kita di dapur."
Dimas berdiri lagi dan membawa semua peralatan kotor ke dapur. Dari tempat duduknya, Alila tersenyum sambil terus memperhatikan semua yang dilakukan suaminya.
(Terima kasih, Dim. Kamu benar-benar suami yang luar biasa untukku...)
Kembali dari dapur, Dimas bersiap untuk berangkat ke kantor. Setelah mengambil tas kerja dan kunci mobilnya, Dimas memeluk Alila yang sudah berdiri hendak mengantarnya ke depan.
"Jangan bilang aku tidak boleh mengantarmu sampai ke depan, Dim. Aku ingin melakukannya karena ini pertama kalinya bagiku. Biasanya kita selalu berangkat bersama sehingga aku belum pernah merasakan momen langka ini. Saat seorang istri melepaskan suaminya untuk pergi bekerja dan meninggalkannya sendiri di rumah."
Panjang lebar Alila mendahului menyampaikan keinginannya, sebelum Dimas melarang untuk melakukannya. Dan Dimas hanya tersenyum lalu kembali menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya.
"Aku hanya mengkhawatirkanmu, Al."
"Aku baik-baik saja, Dim. Ayo, kita keluar sekarang." Ajak Alila saat melepaskan pelukannya.
Berdua mereka berjalan ke arah teras, setelah Dimas berpamitan kepada kedua mertuanya. Sesampainya di ujung teras mereka berhenti.
"Setelah ini, segeralah istirahat di kamar. Ingat kata dokter, kamu belum boleh banyak bergerak." Dimas terus mengingatkan istrinya.
Alila menganggukkan kepala pelan lalu meraih tangan kanan suaminya dan menciumnya dengan sepenuh hati.
__ADS_1
"Selamat bekerja, Dim. Hati-hati di jalan." Ucap Alila dengan mata yang menatap lekat ke dalam mata suaminya, membuat hati Dimas tersentuh dan bergetar lagi.
(Mata indahmu itu yang selalu membuatku jatuh cinta padamu, Al...)
Dimas menghela nafas perlahan untuk menepis keharuannya. Dia meraih kepala istrinya lalu mencium keningnya dengan lembut dan penuh cinta.
"Aku mencintaimu, sayang..." Balasnya setelah melepaskan ciuman di kening Alila.
"Aku juga mencintaimu..." Alila tersenyum bahagia mengiringi kepergian suaminya.
Setelah Dimas masuk ke dalam mobil dan melajukannya keluar dari halaman, Alila segera berbalik dan berjalan pelan menuju ke kamarnya.
"Ma, Pa, aku istirahat dulu di kamar." Ucap Alila saat melewati kedua orangtuanya yang sudah berada di ruang makan.
Setelah menutup pintu kamar, dia segera mengistirahatkan tubuhnya dengan berbaring di atas tempat tidur dan memejamkan kedua matanya.
Di saat hening dan sendiri seperti ini, barulah Alila menumpahkan beban di hatinya yang selalu disembunyikannya dari Dimas. Dia tidak ingin membuat suaminya semakin mencemaskan keadaannya.
Air matanya mulai menetes, jatuh membasahi wajahnya yang sudah berubah sendu. Jauh di sudut hatinya yang terdalam, rasa sedih dan tertekan oleh keadaan terus mendera perasaannya.
Sejujurnya, Alila merasa sedang berada dalam titik terlemahnya sebagai seorang wanita. Bagaimana tidak, di awal pernikahan bahagianya bersama Dimas, tiba-tiba ujian datang bertubi-tubi memporak-porandakan impian dan harapannya.
Dia harus rela kehilangan satu indung telurnya yang merupakan organ berharga seorang wanita untuk bisa memperoleh keturunan. Dan itu adalah pukulan terberat sepanjang perjalanan hidupnya. Ditambah lagi, dalam waktu yang bersamaan, dia juga harus menerima kenyataan untuk mengikhlaskan kehamilan pertamanya yang harus diakhiri saat itu juga.
Kehamilan yang seharusnya bisa menjadi penawar kesedihannya setelah kehilangan satu modal terbesarnya untuk lebih mudah memperoleh keturunan. Nyatanya, dia justru harus menerima dua kenyataan pahit tersebut sekaligus dalam waktu yang mendadak dan tidak terduga.
Alila terus meluapkan tangisannya untuk menumpahkan segala beban dan kesedihan di dalam hatinya. Cukup lama dia menangis dan berusaha menenangkan diri, hingga akhirnya dia pun tertidur dengan wajah kusut dan mata yang sembab.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
💜Author💜
__ADS_1
.