
Sudah satu minggu ini Gin, asisten pribadi Mike ijin untuk pulang ke Negara nya menjenguk orang tua nya yang sakit. Satu minggu juga Elia menggantikan tugas Gin, dari menyiapkan pakaian kerjanya, mengontrol makanannya dan lain sebagainya.
" Mike.. kapan kau akan menikah? " tanya Dinda saat berada di ruang keluarga. " Sudah waktunya kau membina rumah tangga dan kau juga memerlukan istri untuk mengurusi mu. " ucap Dinda.
Dinda yang selama seminggu ini memperhatikan Elia mengurus Mike dengan cekatan, seperti layaknya seorang istri. Elia datang pagi-pagi sekali untuk mempersiapkan keperluan Mike.
Mike memang sudah dari dulu tidak bisa mempersiapkan keperluannya sendiri, selama ini Gin yang melakukan semua itu. Berbeda dengan Mario yang bisa mengurus keperluannya sendiri.
" Bun.. " sela Mike yang tak ingin Dinda membahas tentang pernikahannya.
" Kau nikahi saja sekertaris mu itu, dia terlihat sangat gesit menyiapkan keperluan mu. "
Mike terkekeh, " Bunda jangan bercanda! "
" Bunda tidak bercanda Mike, lihatlah.. di hari libur pun dia mau mengurusi mu. " Dinda melihat Elia yang sedang menyiapkan makanan untuk Mike.
" Dia bukan selera ku! bunda mau mempunyai cucu berwajah seperti anabelle? jika aku menikahinya? " Mike tergelak membayangkan anaknya jika dirinya menikahi Elia dan mempunyai seorang anak.
" Kau tidak boleh seperti itu, dia itu cantik loh.. " Dinda.
Lagi-lagi tawa Mike menggelegar saat mendengar pujian Dinda pada Elia. " Bunda aneh-aneh saja! "
Obrolan mereka terhenti saat Milly ikut bergabung duduk bersama Dinda dan Mike.
" Bunda.. " Milly merajuk pada Dinda.
" Iya sayang.. " Dinda. Sedangkan Mike terus menatap Milly, melihat kelakuan manja Milly pada Dinda.
" Menggemaskan.. "
" Mario belum juga pulang.. padahal sudah lama sekali aku menunggunya. " adunya.
" Memangnya kemana Mario pergi? " tanya Dinda.
" Aku menyuruhnya membeli pasta di restoran kesukaan ku. " Milly memanyunkan bibirnya.
" Mungkin restoran nya belum buka sayang, jadi Mario menunggunya. " ucap Dinda.
Milly melihat ke arah jam dinding yang baru menunjukkan pukul sepuluh pagi, yang kemungkinan memang benar restoran itu baru mulai buka.
Milly tertunduk lesu, dia sangat menginginkan makan pasta. Melihat Milly yang terlihat sedih, Mario memberanikan diri menyerukan suaranya.
" Kau ingin makan pasta? " tanya Mike.
Milly mengangguk.
" Bagaimana kalau aku buatkan untuk mu? " tawar Mike, meski dia tidak ahli memasak seperti Mario, tapi Mike akan berusaha membuat Milly senang.
__ADS_1
" Apa kau bisa? " tanya Milly.
" Benar Mike, apa kau bisa memasak? " tanya Dinda yang ragu, pasalnya Dinda tidak pernah melihat Mike menyentuh peralatan dapur.
" Bisa! " Mike menyanggupinya.
" Yasudah lah.. kaka ipar buat saja. siapa yang sampai duluan akan ku makan, aku sudah sangat lapar. " ucap Milly yang sudah tidak sabar memakan pasta. Tidak ada salahnya jika Mike akan membuat kan untuk nya.
Mike dengan semangat empat lima berjalan menuju dapur melawati Elia begitu saja yang membawa beberapa kudapan untuk Mike.
" Sir, ini kue brownies nya.. " ucap Elia menghentikan langkah Mike.
" Kau makan saja, aku tidak menginginkan nya lagi. " Mike berbicara tanpa menatap Elia yang sudah terlihat sedih. Susah payah dia membuat kue brownies kesukaan Mike, tapi Mike malah menolaknya.
" Bukannya tadi dia menginginkan nya. " batin Elia.
Elia terpaksa kembali lagi ke dapur untuk menaruh kembali kue brownies buatannya. Elia melihat Mike yang berada di dapur dengan serius menatap ke arah ponselnya.
Mike membuka tutorial cara membuat pasta. Setelah Mike melihatnya beberapa kali, akhirnya pria itu sedikit paham dan mulai mencari bahan-bahannya.
" Bisa saya bantu Sir? " Elia memberanikan diri untuk bertanya pada Mike, Elia melihat Mike yang mencari sesuatu tak kunjung di temukan.
Mike menoleh ke arah Elia, " Kau siapkan bahan untuk membuat pasta. "
Elia menyiapkan semua bahan untuk membuat pasta sesuai perintah Mike. " Apa perlu saya bantu untuk membuatnya? " Elia.
" Tidak! aku akan membuatnya sendiri. " seru Mike.
" Elia.. kau juga disini? " pekik Milly saat melihat Elia duduk di kursi meja makan, memperhatikan Mike yang sedang memasak.
" Iya.. " jawab Elia. Elia memang sengaja menunggu Mike, bersiap untuk membantu jika Mike meminta bantuan nya.
Milly ikut duduk di samping Elia. Kehadiran Milly tidak di sadari oleh Mike, pria itu nampak serius mengerjakan sesuatu yang baru pertama kali ia lakukan.
Milly memperhatikan Elia yang menatap Mike tanpa beralih sedikit pun, Milly juga melihat Elia yang tersenyum sendiri saat memperhatikan kegiatan Mike.
" Apa Elia menyukai Mike? "
" Sayang.. sayang... " suara Mario terdengar memanggil nama Milly.
" Iya.. hubby.. " teriak Milly menyauti Mario, membuat Mike menyadari kehadiran Milly di dekatnya.
" Elia.. kaka ipar.. aku pergi dulu ya.. " ucap Milly berpamitan pada Elia dan Milly.
Mike mendengus kesal, pasta yang di masaknya belum selesai, Mario sudah lebih dulu pulang. Sudah di pastikan Milly akan lebih memilih pasta yang di bawakan oleh Mario.
" Terimakasih hubby.. " ucap Milly yang telah selesai menghabiskan pastanya.
__ADS_1
Mario mengelus pipi Milly. " Sama-sama sayang.. apa enak? "
" Hem, enak sekali.. "
" Tidak gratis sayang.. aku susah sekali mendapatkan nya. aku sampai memaksa pemilik restoran untuk segera membuka restoran yang masih tutup. " jelas Mario, bahkan pria itu sampai mengancam akan menutup restoran pada pemiliknya jika tidak menyanggupi permintaan nya.
Milly tersenyum lalu menangkup pipi Mario, memberikan kecupan di seluruh wajah Mario. " Terimakasih hubby.. " ucapnya setelah selesai menghujani wajah Mario dengan kecupan.
Mario tidak tahan melihat bibir Milly, dia pun langsung melummat bibir Milly dengan rakus, setelah puas, Mario baru melepaskannya.
" Sayang.. aku akan mengganti bajuku dulu. " baju Mario memang terlihat sedikit basah oleh keringat.
" iya. "
Setelah Mario pergi, Milly kembali teringat pada Mike yang sedang membuatkan pasta untuk nya.
" Kaka ipar.. apa pasta nya sudah jadi? " tanya Milly pada Mike yang masih berada di dapur.
Mike menunjukan piring yang telah berisi pasta buatannya. " Ini.. "
" Em.. tapi aku sudah kenyang. " ucap Milly den mengelus perutnya. " Bagaimana kalau pastanya untuk Elia saja. "
" Terserah. " Mike.
" Elia.. ini untuk mu. " Milly mengambil piring itu lalu memberikan nya pada Elia.
" Terimakasih. " Elia sangat senang bisa menyicipi masakan pertama Mike.
Mike berlalu begitu saja meninggalkan dua wanita itu, hatinya begitu kesal tapi tidak bisa ia ungkapkan.
" Maafkan aku kaka ipar. " Milly mengekori Mike.
" Tidak masalah. " kata maaf dari Milly membuat hati Mike begitu senang.
" Kaka ipar, seperti nya Elia tertarik pada mu. " seru Milly.
" Sayangnya aku sama sekali tidak tertarik den nya. " Mike.
" Kenapa? "
" Lihat saja penampilan nya.. mana ada seseorang pria yang tertarik pada gadis seperti itu! " jelas Mike. Melihat Mario sedang berjalan menuruni anak tangga, membuat Mike berlalu dengan cepat, dia tidak mau jika Mario salah paham dengan kedekatan nya dengan Milly. Mike masih menjaga sikapnya agar Mario tidak curiga padanya yang masih memiliki rasa pada istrinya.
" Sepertinya aku harus melakukan sesuatu pada Elia, agar kaka ipar tertarik pada nya. "
*
*
__ADS_1
*
Bye.. bye..