
Elia pergi ke club malam di temani sepasang suami-istri, Tara dan Ricard. Richard tidak mungkin membiarkan istrinya dan sahabat terbaiknya pergi tanpa pengawasan dari seorang pria. Akhirnya Ricard mengalah meninggalkan pekerjaan nya di bengkel yang sudah direncanakan malam ini akan lembur.
Elia yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di tempat itu, sedikit terkejut melihat banyak orang sedang menari dengan pakaian yang sangat minim.
Elia membulatkan matanya saat mendapati pemandangan begitu menggelikan di matanya, sepasang kekasih yang tanpa malu bercumbu di tempat terbuka.
" Disini memang sudah biasa.. " ucap Ricard yang menepuk pundak Elia.
Mereka pun menuju salah satu tempat yang masih kosong.
" Kau mau minum apa? " tanya Ricard pada Elia.
" Orange jus. " jawab Elia.
Terdengar gelak tawa, hingga pandangan Elia teralihkan ke arah suara tersebut.
" Kau! " seru Elia yang melihat Bruno dan Saren duduk di bangku tidak jauh dari Elia.
Tara dan Ricard pun terkejut melihat keberadaan sepasang kekasih itu.
" Kalau kau ingin minum orange jus, pergilah ke cafe.. jangan ke tempat seperti ini. " suara Saren terdengar sangat mengejek Elia.
" Sayang.. biarkan saja, dia kan memang wanita cupu... " ledek Bruno.
Elia terlihat geram dengan ucapan Bruno dan Saren yang menghinanya.
" Sudahlah Ara, kau jangan dengarkan ocehan mereka. " ucap Tara mencegah Elia yang akan membalas perkataan Bruno dan Saren.
" Iya benar, tidak usah pedulikan mereka " Ricard.
" Aku tantang kau untuk meminum ini. " Saren mendekat dan menyodorkan sebuah minuman yang kadar alkoholnya sangat tinggi.
" Tidak usah hiraukan dia, ayo kita pergi.. " Tara menarik lengan Elia agar pergi dari tempat itu. Bertemu dengan Bruno dan Saren sepertinya tidak bagus untuk suasana hati Elia yang sedang kacau.
" Ayo.. " ajak Ricard.
Namun Elia mematungkan kedua kakinya. Tara dan Ricard menoleh ke arah Elia.
" Ara.. " panggil Tara dan Ricard bersamaan.
" Siapa takut! " seru Elia menatap tajam pada Saren. Elia tidak mendengarkan peringatan dari Tara dan Ricard yang memintanya untuk tidak meladeni ulah Saren. Namun Elia masih kekeh dalam keinginannya.
Tanpa pikir panjang, Elia meraih gelas yang di berikan oleh Saren dan meminumnya sampai habis tak tersisa. Elia menjulurkan lidahnya setelah meminum minuman itu, ada rasa terbakar di lidahnya. Sungguh tidak enak sekali minuman itu! Elia tidak akan pernah meminumnya lagi!
Gelak tawa Bruno dan Saren terdengar saat melihat ekspresi wajah Elia, " Bagaimana rasanya? enak kan? " tanya Saren.
Elia mengusap mulutnya dengan punggung tangannya. Elia tak berniat menjawab pertanyaan Saren, dia lebih memilih meninggalkan tempat itu di ikuti oleh Tara dan Ricard.
__ADS_1
" Ara apa kau tidak apa? " tanya Ricard yang melihat Elia berjalan sempoyongan.
Elia hanya menggelengkan kepalanya untuk memperjelas penglihatan nya yang mulai kabur. Dengan sigap, Tara memapah Elia.
" Kau ini, sudah tau tidak bisa meminumnya, tetap saja nekat! " gerutu Tara.
Elia mulai tertawa cekikikan sendiri, kesadarannya sudah hilang akibat minuman yang mempunyai kadar alkohol 40%.
" Aku harus hamil.. harus hamil.. " rancau Elia.
Ricard dan Tara hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Elia.
" Mike.. hamili aku.. "
" Hahaha.. aku harus hamil.. "
" Diamlah Ara! " seru Tara.
" Tara.. aku harus hamil agar terbebas dari si tua bangka Nino.. haha..." ucap Elia yang hilang kesadaran, jika sedang tidak mabuk, mana berani Elia mengatai Nino seperti itu.
" Tua bangka itu.. akan menyita si Merah lagi... bagaimana ini??... aku.. aku.. harus hamil... "
Sepanjang perjalanan pulang, Elia terus saja mengoceh seperti itu. Tara hanya membiarkan Elia meluapkan isi hatinya. Mereka berdua sangat tau jika ayah dari Elia selalu menentang kegemaran Elia yang satu itu.
Sedangkan di rumah, Mike menunggu kepulangan Elia. Sebenarnya saat mendapat laporan dari anak buahnya yang melaporkan keberadaan Elia, Mike ingin segera menyusulnya, namun tak lama kemudian anak buahnya mengabari lagi jika Elia di perjalanan pulang di antar oleh kedua temannya.
Mike langsung membuka pintu saat terdengar bunyi bel. Mike melihat Elia dengan penampilan yang sudah kacau, bau alkohol tercium di tubuh Elia.
" Terimakasih. " ucap Mike pada Ricard dan Tara.
Mike menutup pintu apartemen setelah sepasang suami-istri itu pamit pulang.
" Merepotkan saja! " gerutu Mike.
Elia yang mendengar suara Mike tersadar kembali, setelah beberapa saat lalu telah pingsan.
" Mike. " Elia berjinjit dan mengapit kedua pipi Mike dengan telapak tangannya. Mendekati wajah Mike, " Apa kau benar Mike. "
Mike tidak menjawab, lengannya dengan sigap menopang pinggang Elia agar tidak terjatuh.
" Hei.. gorila!! kenapa kau diam saja! " ucap Elia yang masih hilang kesadaran.
" Tutup mulut mu! " Mike membawa tubuh mungil itu kedalam gendongannya dan membawa Elia ke kamar.
" Mike... " Elia terus mengelus pipi Mike. " Kau terlihat sangat tampan.. " Elia tanpa malu mengatakan itu, tentu saja karena tidak sadar. Jika sadar, sudah di pastikan Elia tidak akan mengatakan hal konyol itu.
" Ck, dari dulu aku memang sudah tampan. " ucap Mike. Mike dengan tidak tau malu menyombongkan dirinya di depan wanita yang sedang mabuk.
__ADS_1
Saat Mike akan menurunkan Elia ke ranjang, Elia menahan lengan Mike untuk tidak pergi meninggalkannya.
" Mike.. ayo hamili aku... " pinta wanita yang sedang mabuk itu.
Mike membulatkan kedua matanya mendengar permintaan Elia.
" Ayo Mike. " Elia menarik Mike hingga jarak mereka terkikis.
" Kau sedang mabuk! jangan membuat ku hilang kendali. " Mike.
Tanpa menghiraukan ucapan Mike. Elia menyambar bibir Mike, lalu melummatnya dengan lembut. Mike pun tidak menyiakan kesempatan ini, dirinya yang sudah lama tidak tersentuh, membuat Mike tidak memperdulikan keadaan Elia yang sedang mabuk.
Mike menyambut lummatan itu dengan sangat rakus, perlahan tubuhnya meninndih tubuh mungil Elia. Ciuman itu pun berpindah menyusuri ceruk leher Elia.
" Mike.. kau benar seperti gorila! aku seperti tertimpa sebuah beton besar.. " gelak tawa Elia.
Mike tidak peduli, pria itu sedang asik memainkan permainan nya yang sudah masuk ke arae favorit nya.
" Oh.. Mike.. ini sangat geli.. " rancau Elia.
" Astaga Mike.. aku kehabisan nafas... menjauhlah sedikit.. " ucap Elia sedikit mendorong tubuh kekar itu agar tidak menghimpit tubuh mungilnya.
" Cerewet sekali! " gerutu Mike. Mike merubah posisinya agar Elia nyaman.
" Mike.. apa benar kau keturunan gorila? kenapa tubuh mu besar sekali.. " Lagi-lagi Elia merancau.
Rancauan Elia di selingi dengan desahan, karena Mike sudah menguasai tubuh polos Elia dan bermain di inti tubuh Elia.
" Mike.. ayo.. ha... mi...li... aku.. " ucap Elia dengan perlahan.
Mike mendongakkan kepalanya saat suara Elia tidak terdengar lagi.
" Shit!!! " umpat Mike yang melihat Elia sudah tertidur dengan pulas.
Mike meremmas rambutnya dengan perasaan kesal, hasrat yang sudah di ujung tidak dapat tersalurkan. Dengan cepat Mike masuk kedalam kamar mandi untuk menuntaskan nya sendiri. Mike menendang pintu kamar mandi, melampiaskan kekesalannya, bagaimana pun juga Mike tidak mau bercinta dengan mayat hidup.
*
*
*
...Jangan lupa berikan dukungan kalian...
...Like. komen. vote. ...
...Bye.. bye.. ...
__ADS_1