
Elia terbangun dengan kepala yang terasa pusing, Elia memijit keningnya sambil mengedarkan pandangannya. Elia tersadar jika tubuh polosnya hanya tertutupi selimut. Ingatannya pun kembali pada kejadian tadi malam bersama Mike, meski tak sepenuhnya dapat Elia ingat.
" Apa aku sudah melakukan nya dengan Mike? " tanyanya pada diri sendiri. Elia beranjak untuk ke kamar mandi tanpa menutupi tubuhnya dengan selimut, karena hanya ada dirinya yang ada di dalam kamar itu.
Seusai mandi, Elia keluar dari kamar dan mendapati Mike tengah menikmati sarapan paginya. Ada rasa canggung bagi Elia untuk menyapa terlebih dahulu pada pria yang sudah berstatus kan sebagai suaminya.
" Ehem.. " dehem Elia untuk menghilangkan rasa canggung. " Pagi.. " sapa Elia.
Namun Mike tak menghiraukan nya, rasa kesal pada Elia masih menyelimuti hatinya. Ingatan tadi malam membuat Mike semakin kesal, pria itu tidak mendapatkan pelepasan yang sempurna.
" Mike. " Elia.
" Hem. "
" Apa kita semalam melakukannya? " tanya Elia dengan hati-hati, Elia masih penasaran tentang kejadian semalam yang tidak ia ingat.
Mike berhenti sejenak dengan kegiatan makannya. " Menurut mu? " tanya Mike balik.
" Aku.. aku tidak mengingatnya. " jawab Elia dengan nada lirih.
Mike menghela nafas berat. " Kau membuatku kesal! " sarkasnya.
Jawaban Mike sudah bisa menjelaskan semua dan Elia mengerti itu, " Kanapa? " tanya Elia dengan polosnya.
" Kau seperti mayat hidup! " seru Mike.
" Maaf. " lirih Elia.
Mike bangkit dari duduknya, pria itu tidak mau berlama-lama berdekatan dengan Elia, pria itu takut akan meluapkan emosinya terhadap wanita yang membuatnya gelisah sepanjang malam.
Tanpa berpamitan, Mike pergi begitu saja meninggalkan Elia yang masih termenung. Pikiran nya masih di penuhi oleh keinginannya untuk segera hamil anak dari suaminya itu. Namun ada keraguan jika ia lakukan tanpa cinta, apalagi Elia belum sanggup mendengar nama wanita lain terucap dari bibir Mike pada saat mereka bercinta.
*
*
__ADS_1
*
" Elia! " pekik Nino.
" Papah.. "
" Apa yang kau lakukan? " tanya Nino yang melihat Elia menggunakan baju balap.
Tidak sengaja Nino melihat Elia saat di perjalanan menuju rumah Brian, Nino pun mengikuti putrinya itu. Dan benar saja, dugaan Nino benar. Putrinya sudah kembali bermain dengan hobby yang di larangnya.
" Aku.. aku.. " suara Elia bergetar.
" Pulang! papa kecewa pada mu. " ucap Nino dengan tatapan tajam. Dari dulu, Nino sangat melarang Elia menggeluti hobbynya yang sangat tabu bagi Nino, jika seorang gadis melakukannya.
" Tapi pah.. aku tidak bisa ikut papa saat ini. " tolak Elia dengan suara yang bergetar, tidak lama lagi dia harus mengikuti lomba di arena sirkuit yang sesungguhnya, pertandingan yang selama ini Elia impikan. Dan batu kali ini, Elia berani mengungkapkan keinginannya.
Nino diam mendengar perkataan Elia, lalu pergi dengan rasa kecewa pada putrinya itu. Elia menatap punggung Nino yang semakin jauh dan menghilang seiring pria paruh baya itu masuk ke dalam mobilnya. Mobilnya pun berjalan menjauh. Ada rasa bersalah di hati Elia karena telah membuat sang ayah kecewa.
Perlahan helm yang ada di tangannya pun terlepas dari genggamannya seakan tak mempunyai tenaga untuk menopangnya. Kepalanya tertunduk, memikirkan tindakan nya benar atau tidak. Air mata menetes begitu saja tanpa ia pinta.
Di tepi jalan itu, Elia tertunduk dan menangis sendirian, tidak ada seorang pun yang menemaninya apalagi mengerti perasaan nya saat ini.
" Papa.. maafkan Elia... " lirih nya.
Tepukan di pundak membuyarkan Elia yang larut dalam kesedihan. Elia mendongakkan kepalanya, mencari tau siapa orang yang baru saja menghampiri nya.
" Mike.. "
Mike yang mendapatkan laporan dari anak buahnya, dengan segera menghampiri Elia.
Mike menangkup pipi yang terasa mungil di tangan pria itu. Mike menghapus air mata yang masih tersisa di pelupuk mata Elia.
" Jangan bersedih.. " ucapnya. " Kenapa kau disini? bukannya kau akan ada pertandingan? "
" Aku.. aku.. " Elia enggan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Mike.
__ADS_1
" Lakukanlah keinginan mu.. " walau Elia tidak mengatakannya, Mike sudah tau dengan sendirinya. " Untuk pertama dan terakhir, lakukan lah.. agar hatimu merasa senang. "
" Tapi... papah... " lirih Elia.
" Sssttt. " jari telunjuk Mike mengunci mulut Elia. " Jangan pikiran itu, setidaknya kau melakukan keinginan mu.. meski hanya kali ini saja. Aku yakin papa mu juga akan mengerti. " jelas Mike.
Elia berfikir sejenak. Dia tidak ingin mengecewakan papanya tapi keinginan untuk mengikuti lomba itu sangat lah besar, tidak akan tenang seumur hidup jika Elia mengubur keinginan nya itu.
" Iya. " Elia mengangguk setuju. Dia akan mencoba nya kali ini saja, setelah itu dia akan menuruti keinginan Nino.
Mike tersenyum, pria itu ikut senang dengan keputusan yang diambil Elia. " Kalau begitu.. cepatlah.. kau akan terlambat. "
" Apa kau mau menemani ku? " Elia berharap jika Mike akan menemaninya saat perlombaan.
Mike mengangguk. " Baiklah, jika itu mau mu. "
Elia tidak mau menundanya lagi karena waktu semakin mendekati acara pertandingan dimulai. Mike mengikuti laju Elia menggunakan mobil sport nya.
Elia terlihat senang, hubungannya dengan Mike semakin dekat. Tidak seperti dulu yang selalu saja bermasalah. Dan Mike memberikan dukungan nya. Elia semakin yakin jika ia harus mempertahankan pernikahan nya, tinggal satu hal yang harus Elia buktikan sendiri agar dirinya semakin yakin akan memberikan seluruh hidupnya pada pria itu.
*
Mike & Elia
*
*
*
...Jangan lupa berikan dukungan kalian...
__ADS_1
...Like. komen. vote....
...Bye.. bye.....