
" Tunggu.. " Naura memperhatikan wajah Gavin dengan seksama. " Apa kau cemburu? "
Gavin membulatkan kedua bola matanya mendengar ucapan Naura. " A-aku tidak cemburu! " ucapnya terlihat gugup.
Naura mengembungkan kedua pipinya. " Iya.. mana mungkin kau cemburu pada ku, kau kan tidak pernah mencintaiku. " lirih Naura.
Gavin melirik ke Naura dengan ekor matanya. Ada rasa sedikit tak tega jika Naura berfikir seperti itu, tapi entah kenapa lidahnya terasa kelu untuk mengakui perasaannya.
Gavin memilih bungkam sepanjang perjalanan, hingga tak terasa sudah sampai di perusahaan. Naura terlebih dahulu keluar dari mobil itu tanpa menunggu Gavin, biasanya wanita itu akan berjalan mengekori atasan sekaligus suaminya itu.
Naura pergi ke kantin untuk makan siang yang sempat tertunda. Gavin terus mengamati pergerakkan Naura yang semakin menjauh dari pandangannya.
" Gavin! " panggil Brian yang baru saja keluar dari lift, suara Brian membuyarkan lamunan Gavin.
Gavin mengalihkan pandangannya ke asal suara yang sangat ia kenali. " Iya dad, " Gavin melangkah menghampiri Brian dan Nino.
" Bagaimana laporan keuangannya? apa ada masalah sesuai data yang kita dapatkan? " tanya Brian mengenai hasil tinjauan Gavin hari ini di salah satu hotel milik Diamon Group.
" Sorry dad, aku belum sempat meninjaunya. " jawab Gavin.
Brian menyatukan kedua alisnya. " Bukan kah kau baru saja berkunjung ke hotel itu? apa kau tidak bertemu dan mendapat laporan dari manager baru di sana? " tanya Brian.
" Aku belum sempat ke sana dad, kunjungan ku di batalkan karena ada urusan lebih penting. " bohong Gavin, dia tidak mungkin berbicara yang sebenarnya jika dirinya membatalkan pertemuannya hanya karena kesal melihat kedekatan Naura dan Jero.
Brian mengangguk mengerti, " Baiklah, Daddy minta secepatnya kau melaporkan hasilnya, kenapa income hotel itu menurun drastis. Daddy dengar manager baru itu sangat berkompeten, kau harus bisa bekerjasama dengannya untuk memecahkan masalah yang sedang kita hadapi. " Brian menepuk bahu Gavin sebelum dirinya pergi.
Gavin susah payah menelan salivanya, " Dia baru saja aku pecat, bagaimana ini. "
" Dad, ada yang ingin aku bicara kan. " ucap Gavin.
" Nanti saja, Daddy sangat sibuk, mommy mu meminta Daddy segera pulang. " jelas Brian.
" Tapi ini penting dad. " ujar Gavin yang ingin berbicara jujur mengenai Jero yang baru saja di pecat olehnya.
" Tidak ada yang lebih penting dari mommy mu. " ucap Brian seraya meninggalkan Gavin.
" Huffttt.. " Gavin menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Gavin berjalan tanpa niat, langkah kakinya menuntun Gavin menuju kantin di perusahaannya, padahal dirinya berniat langsung ke ruangannya. Otak dan hatinya tak sejalan, hingga suara yang tidak asing membuyarkan pikiran nya yang entah kemana.
" Gavin.. " seru Naura terkejut melihat Gavin berada di kantin yang sangat jarang ia kunjungi.
Gavin menajamkan penglihatannya yang sedari tadi tidak fokus.
" Sedang apa kau disini? " tanya Naura.
__ADS_1
Gavin mendudukkan diri di kursi, bersebrangan dengan Naura. " Untuk apalagi aku kesini jika bukan untuk makan, Pertanyaan mu itu aneh sekali! "
" Makan? kau makan disini? " tanya Naura dan di angguki oleh Gavin.
Para karyawan lain yang sedang makan siang di sana menjadi tidak fokus, perhatian mereka terpusat pada wakil CEO tempat mereka bekerja. Tatapan kagum akan ketampanan Gavin tersirat di wajah mereka, terutama para kaum hawa. Mereka tidak perduli dengan kehadiran Naura yang notabene nya adalah istri dari Gavin. Pemandangan luar biasa itu tidak di sia - siakan oleh mereka yang sangat mengagumi ketampanan Gavin.
Naura melihat kesekitar, lalu mencibir. " Mereka sangat norak sekali! "
Gavin mengikuti arah pandang Naura dan tersenyum. " Mereka itu mengagumi ku yang sangat tampan. " ucapnya menyombongkan diri.
" Cih! narsis! " cibir Naura.
Gavin tergelak, " Harusnya kau bersyukur bisa menjadi istri ku, lihatlah banyak wanita yang ingin sekali menjadi pendamping ku. " jelasnya dengan begitu sombong.
Naura menanggapi ucapan Gavin dengan bibir di gerakkan mencibir tanpa bersuara.
Ponsel Naura bergetar, Naura mendapatkan pesan dari Jero yang menanyakan tentang pekerjaan nya yang sedang di ujung tanduk. Naura merasa iba dengan Jero, susah payah dia mendapatkan pekerjaannya tapi Gavin dengan mudah memecatnya tanpa alasan yang jelas.
Naura bertekad akan membantu Jero mendapatkan pekerjaannya kembali dengan apapun caranya.
" Vin, kau tidak memesan makanan mu? mau aku pesankan? " tawar Naura dengan suara lembutnya.
Gavin sedikit aneh mendengar suara Naura yang tiba-tiba melembut. " Apa kau sakit? "
" Tidak? memangnya kenapa? ada yang salah? "
" Ck, apa kau tidak mau aku berbicara lembut pada mu. "
" Bukan begitu, hanya saja terasa aneh bagi ku. " Gavin.
" Yasudah kalau kau tidak mau! " nada bicara Naura kembali ketus pada Gavin.
" Baru saja aku akan memuji, sekarang kembali lagi! " sesal Gavin.
" Mau aku pesan atau tidak! "
Gavin mengangguk. " Pesankan aku steak. "
Naura menghela nafas, " Disini tidak ada steak! adanya soto ayam, gado-gado, nasi goreng, mau yang mana? "
" Terserah kau saja. kau pasti tau selera ku. "
Membutuhkan 10 menit Naura memesankan makanan untuk Gavin, Naura kembali ke mejanya dengan membawa sepiring gado-gado. Dan memberikannya pada Gavin.
" Ehem.. " Naura berdehem untuk mulai berbicara pada Gavin mengenai pekerjaan Jero.
__ADS_1
" Gavin.. ada yang ingin aku bicarakan. " ucap Naura.
" Bicara saja.. bukannya kau itu selalu cerewet tanpa aku suruh bicara. " ucap Gavin sembari mencicipi makanannya.
" Emm.. ini mengenai Jero, apa kau tidak bisa membatalkan pemecatan mu padanya, aku mohon pertimbangkan kembali. "
Gavin berhenti menyuap, " Kau bicara lembut seperti itu hanya karena pria sialan itu! " cecar Gavin. " Sebenarnya apa hubunganmu dengannya. "
" Aku dan dia hanya berteman. Aku hanya tidak tega kau memecatnya begitu saja. Dia itu tulang punggung bagi ibu dan adik-adiknya. Sangat kasihan jika dia tidak memeiliki pekerjaan. "
" Keputusan ku tidak bisa di ganggu gugat. " serunya.
" Vin, aku mohon kali ini saja. ya? ya? " ucap Nama dengan wajah yang memelas.
Gavin diam sejenak, seketika dia mengingat ucapan daddy nya jika dia harus bekerjasama dengan Jero. Seringai licik tersirat di wajahnya, Gavin dengan cepat mendapat ide brilliant nya kembali.
" Baiklah aku tidak akan memecatnya, tapi dengan satu syarat. "
" Apa syarat nya? "
Gavin menaik turunkan kedua alisnya seraya menggoda, Gavin mencodongkan tubuhnya " Puaskan aku malam ini dengan cara mu sendiri. " bisiknya di telinga Naura.
" Apa!! " pekik Naura.
" Itu syarat nya, jika kau tidak mau yasudah.. " Gavin mengedikkan kedua bahunya.
Naura sangat kesal mendengar permintaan Gavin. " Aku mana bisa. "
" Maka berlatih lah agar bisa. "
" Kau benar-benar menyebalkan! "
Gavin terkekeh, " Sudah ku katakan, bukan menyebalkan tapi mengagumkan. "
Naura mengiyakan permintaan Gavin, mau bagaimana lagi.. dia harus menolong Jero agar tidak kehilangan pekerjaannya.
Gavin tersenyum puas. " Sekali dayung..dua pulau terlampaui "
*
*
*
Guys.. seharusnya ini up ke 2 untuk hari kamaren, tapi aku lg gak enak badan... sorry ya meleset janjinya.
__ADS_1
Ntar sore aku up lagi. di tunggu ya.
Bye.. bye..