Mengejar Cinta CEO

Mengejar Cinta CEO
Mulai Menyamar.


__ADS_3

Jihan hanya menunduk tidak berani menatap wajah yang bernama bu Melia.


Apa aku ketahuan?


Jihan masih berdiri mematung. Melia hanya menahan tertawanya.


"Han, mau sampai kapan kamu berdiri seperti itu?"


Jihan memberanikan diri untuk menatap. Setelah menatap wajah yang tiga meter ada di depannya, sontak Jihan mengambil sepatunya dan melemparkannya ke arah Melia.


"Sialan kau Mel, aku kira siapa."


Melia hanya tertawa terpingkal-pingkal, dan mendekati Jihan, kemudian memeluknya.


"Apa kabarmu Han."


"Aku baik-baik saja, kamu mengenaliku?"


"Iya, kenapa kamu berpenampilan seperti itu?"


"Jangan-jangan penyamaranku gagal."


"Kamu menyamar!"


Jihan segera menutup mulut Melia, agar tidak terdengar oleh orang lain.


"Pelankan suaramu, nanti banyak yang dengar."


"Untuk apa kamu menyamar? Apa kamu menerima peran sebagai agen rahasia?"


"Diam, nanti orang yang bernama bu Melia tahu."


"Maksudmu orang yang menangani pegawai baru?"


"Iya, jangan bilang siapa aku sebenarnya."


"Hadeh, bu Melia itu aku."


"Aku kira emak-emak."


"Ngawur kamu, aku akan merahasiakan semuanya, aku akan membantumu, sekarang katakan tujuan kamu datang kesini, apalagi pakai menyamar segala."


"Itu, (tersenyum sendiri) aku menyukai Ceo dari perusahaan ini."


"Gila kamu Han, benar-benar ngak habis pikir aku, jadi kamu vakum dari dunia hiburan hanya karena pria itu?"


"Iya, memangnya kenapa, Apa ada masalah?"


"Dia itu orang yang sangat dingin."


Jihan tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Melia, Jihan meminta tolong untuk membantunya agar dekat dengan Sam, mau tidak mau Melia terpaksa membantunya, karena Melia tahu Jihan adalah wanita yang keras kepala.


Jihan ditempatkan khusus melayani Sam, Sam yang sedang berada di ruangannya memanggil Panji.


"Pan, Buatkan kopi."


"Sebentar lagi tuan, akan ada yang mengantar kemari."


Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan.


"Permisi tuan."


"Ambil nampanya, jangan biarkan dia masuk."


"Baik tuan."


Panji membuka pintu ruangan dan mengambil nampan dari tangan Jihan.


"Lain kali suruh Melia kemari, kamu tidak tahu aturan disini?"


"Maaf, saya hanya menjalankan tugas dari Bu Melia."

__ADS_1


Panji menegur Jihan, dan menyuruhnya kembali ke dapur, Panji masuk ruangan dengan membawa nampan.


"Ini kopinya tuan."


Sam menyeruput secangkir kopi sebelum memulai bekerja, dan merasakan ada yang berbeda dengan rasa kopinya.


"Pan, siapa yang membuat kopi ini?"


"Pekerja baru tuan, apakah rasanya tidak enak?"


"Nanti siang suruh orang itu kemari."


"Baik tuan."


Panji keluar ruangan dan mencari Melia, ternyata Melia sedang pergi keluar untuk mengurus sesuatu.


"Melia kemana?"


Panji bertanya kepada Jihan, namun Jihan hanya menggeleng dan tidak memberikan jawaban, Panji semakin kesal dan akhirnya pergi meninggalkan Jihan dan tidak lupa menyampaikan pesan dari tuan mudanya.


"Tuan muda menyuruhmu ke ruangannya nanti siang, jangan sampai telat sedetikpun, karena tuan muda tidak suka menunggu."


Jihan hanya mengangguk. Setelah Panji pergi, Jihan menelpon Melia agar segera kembali, namun Melia menolaknya dengan alasan sedang ada keperluan mendesak.


Menelpon.


"Mel, dimana kamu."


"Aku sedang ada keperluan mendesak, mungkin tidak akan kembali ke kantor, sudah ya aku sedang sibuk daaaaaahh"


"Hei, Mel Mel Melia, sialan kau Mel, lihat saja saat kita ketemu lagi."


"Sialan?"


Jihan terkejut mendengar suara yang tidak asing lagi di telinganya.


"Oh my God, pangeran."


"Maaf tuan, saya tidak menyadari kalau anda ada disini."


"Kamu pegawai baru yang tadi mengantarkan kopi."


"Benar tuan, ada yang bisa saya bantu?"


Jihan tidak percaya bisa bertatap muka secara langsung dengan pujaan hatinya yaitu Sam.


"Kamu yang membuatnya?"


"Membuat? Maaf tuan maksud anda?"


"Kopi."


"Oh iya tuan, saya yang membuatnya, apakah anda tidak menyukainya?"


"Mulai sekarang setiap pagi kamu buatkan kopi untuk saya, dan satu lagi, antarkan langsung ke ruangan saya."


"Baik tuan."


Jihan sangat bahagia, akhirnya dia bisa bertemu dengan Sam setiap hari. Hari itu Jihan pulang lebih awal, sesampai di rumah Sandra, Jihan memeluk Sandra dengan wajah yang sumringah.


"Apa hari ini menyenangkan?"


"Iya nona, saya sudah mengurus semuanya yang anda minta."


"Baguslah, hari ini aku juga sangat senang, akhirnya aku bisa melihat wajah tampannya setiap hari."


"Apakah nona berhasil?"


"Tentu saja, mungkin hari ini berhasil, semoga besok lebih dari berhasil, kalaupun gagal aku akan terus mengejarnya."


"Nona memang sudah dibutakan oleh cinta."

__ADS_1


"Aku baru bertemu dengannya sekali saja langsung jatuh cinta, aku yakin dia adalah jodohku."


"Semoga yang terbaik untuk nona."


...Maaf nona, sepertinya kenyataan yang sebenarnya saya tidak sanggup mengatakan pada nona, maaf nona....


"Sandra, kamu melamun lagi?"


"Saya khawatir nona."


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, aku yakin kita tidak akan kekurangan, aku juga lelah menjadi seorang publik figur bukanlah hal yang mudah, kemanapun pergi banyak orang yang mengintai, terlebih lagi tidak bisa bebas."


"Apapun yang terjadi saya akan selalu berada di dekat nona, apapun keputusan nona saya akan mendukungnya."


"Terima kasih Sandra, kamu selalu ada di dekatku, aku jadi teringat mama di rumah, haruskah aku pergi menemuinya?"


"Apa yang akan anda katakan kepada mama anda?"


"Aku tahu ini akan sulit, aku akan menemuinya ketika aku sudah punya alasan yang tepat."


"Semoga yang terbaik untuk nona."


Jihan pergi ke kamar, dan bersiap untuk mandi, setelah mandi dan berganti pakaian Jihan teringat kenangan masa kecilnya, dalam ingatannya Jihan bertanya kepada mamanya.


"Mama, apakah jadi penyanyi itu sangat menyenangkan."


"Apakah putri mama suka menyanyi?"


"Aku sangat senang bisa mencurahkan isi hati lewat nyanyian."


"Sepertinya anak mama sudah tumbuh besar, apapun keputusan Jihan, mama akan mendukungnya, masalah apapun yang terjadi kamu harus menghadapinya dengan senyum dan tegar."


"Baik mama, Jihan sayang mama."


Seketika air mata Jihan menetes, Jihan mulai sesenggukan tidak kuasa menahan air matanya karena mengingat kenangannya bersama mamanya diwaktu kecil. Jihan menangis sambil mengucapkan minta maaf berulang kali.


"Ma, maaf, maaf, maaf."


Jihan duduk di lantai dan memeluk lututnya, kemudian membenamkan wajahnya, Jihan menangis sejadi jadinya, merasa menyesal meninggalkan mamanya.


Sandra mengetuk pintu kamar Jihan.


"Nona, apakah anda sudah selesai?"


Jihan tidak menjawab pertanyaan dari Sandra, Sandra yang sedang berada di depan pintu semakin khawatir kepada nona mudanya.


"Nona, nona, anda tidak apa-apa?"


Masih tidak ada jawaban dari Jihan, akhirnya Sandra mengambil kunci cadangan yang ada di kamarnya, setelah mengambil kunci cadangan, Sandra membuka pintu kamar Jihan, ternyata tidak berhasil karena Jihan menguncinya dari dalam.


Sandra semakin khawatir, dan mengetuk pintu kamar dengan keras.


"Nona, nona saya mohon buka pintunya."


Masih tidak ada jawaban dari dalam kamar Jihan, membuat Sandra semakin khawatir. Satu menit menunggu di depan pintu kamar, akhirnya Jihan membuka pintu kamarnya.


Dengan segera Sandra menghampiri Jihan.


"Nona, apakah terjadi sesuatu kepada anda?"


"Tidak, aku hanya merindukan mama."


Jihan menangis sesenggukan tidak kuasa menahan air matanya.


"Sandra apakah aku durhaka kepada mama?"


"Saya mohon anda jangan mengatakan seperti itu, itu bukan salah anda."


"Jadi salah siapa? Pria tua itu?"


Jihan berhenti menangis dan kini mulai merasakan amarah di sekujur tubuhnya. Jihan mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2