
21+ diharapkan anak di bawah umur skip part ini. Dosa di tanggung pembaca masing - masing yak, jangan bawa bawa Author.
*
Jangan pelit buat kasih Vote!!
*
" Sayang.. " suara Mario terdengar hingga membuyarkan lamunan Milly.
" Hubby.. " Milly tersenyum canggung.
" Kau kenapa? " Mario ikut duduk di samping Milly.
" Tidak apa, emm.. aku ingin ke kamar mandi! " Milly bangkit lalu menuju ke kamar mandi, sebenarnya Milly sangat gugup ketika berdekatan dengan Mario.
Mario hendak memindahkan laptop yang ada di atas kasur ke nakas, namun pandangannya teralihkan oleh notifikasi pesan dari Mora di sosial media itu, yang Mario yakini akun itu milik Milly.
Mario seketika mengeluarkan tawanya membaca chat Milly dan Mora.
" Astaga... Milly!! " Mario menggeleng - gelengkan kepalanya.
Mario susah payah menghentikan tawanya ketika melihat Milly keluar dari kamar mandi, tatapannya masih tertuju pada Milly.
" Keee.. kenapa kau melihat ku seperti itu? " tanya Milly.
" Kau sangat cantik, "
Milly menghentikan langkahnya dan mengurungkan niatnya yang hendak duduk kembali di ranjang.
" Kemarilah.. " Mario mengulurkan tangannya untuk menyambut Milly. " Jangan takut.. kemarilah. "
Milly pun mendekat dan duduk di samping Mario.
" Milly, " Mario menangkup pipi Milly dengan kedua telapak tangannya. " Kau tidak perlu cemas, aku tidak akan memaksamu jika kau belum siapa. "
" Maksudmu? " Milly.
" Kita tidak akan melakukan malam pertama sebelum kau benar - benar siap. " ucap Mario.
" Benarkah? " ucap Milly dengan wajah yang berbinar.
" Tentu, " Mario menganggukan kepalanya kemudian mencium kening Milly dengan lembut.
" Apa kau tidak marah padaku? " Milly.
" Tidak akan. "
" Terimakasih. " Milly memeluk tubuh Mario dengan sangat erat. " Aku mencintaimu. "
" Aku lebih mencintaimu. " Mario membalas pelukan Milly.
" Sepertinya aku harus mencari cara halus agar bisa mendapatkan mu secepatnya. " batin Mario.
Malam ini pun mereka lewati dengan tidur nyenyak tanpa ada kegiatan yang erotis, yang selalu Milly impikan.
***
Keesokan harinya Mario membawa Milly keluar dari markas besar itu untuk tinggal di mansion utama keluarga Yamazaki.
Mansion yang dulu menjadi tempat tinggal Dinda dan Morgan sebelum pindah ke Indonesia.
Mario membawa Milly ke mansion utama agar bisa berduaan dengan Milly, agar tidak terganggu oleh kehadiran Mike dan Putri.
" Hubby.. kenapa sepi sekali? " Milly yang baru saja tiba di mansion utama merasa aneh dengan keadaan mansion yang sangat besar namun sepi.
" Memang seperti ini. " Mario.
" Apa tidak ada pelayan sama sekali? " tanya Milly.
" Mereka akan pulang ketika mansion sudah dalam keadaan bersih. " bohong Mario.
Sebelumnya Mario telah memerintahkan seluruh pelayan yang ada di mansion ini untuk segera pergi dan meliburkan nya selama dua hari, kecuali para pengawal yang berjaga di luar mansion. Hal tersebut Mario lakukan untuk melancarkan niatnya.
__ADS_1
" Oh.. " Milly mengangguk mengerti.
Mario membawa Milly ke kamarnya yang dulu ia tempati, kamar itu sama sekali tidak berubah, masih sama seperti beberapa tahun yang lalu saat Mario tinggalkan.
" Hubby.. ini kamar mu? " tanya Milly sembari mengamati setiap sudut ruangan itu.
" Hem.. " Mario memeluk Milly dari belakang, membenamkan kepalanya di ceruk Milly, memberikan kecupan disana.
" Hubby.. " lenguh Milly.
Mario membalikan tubuh Milly agar berhadapan dengannya, " Aku mencintaimu. " ucap Mario, kemudian mencium bibir Milly dengan lembut, Milly mengalungkan tangannya ke leher Mario dan membalas ciuman itu. Sedangkan Mario merengkuh pinggang Milly agar tidak ada jarak diantara mereka.
Ciuman lembut lama kelamaan menjadi rakus, membuat Milly kehabisan nafas, karena tidak bisa mengimbangi permainan Mario.
Milly menepuk bahu Mario agar melepaskan ciuamannya. Mario yang sadar perbuatannya membuat Milly susah bernafas segera menghentikan ciuman itu.
" Maaf. " ucap Mario dengan nafas yang masih memburu.
Mario mengusap sudut bibir Milly dengan jarinya. " I love you.. "
" I love you to, Mario.. "
Mario dan Milly tertawa bahagia bersama.
" Hubby.. aku lapar. "
" Baiklah, kau mau makan apa? "
" Emm.. Pasta. "
" Oke, aku akan buatkan untuk mu. "
***
Malam harinya, Mario sudah mempersiapkan makan malam yang romantis di atas balkon kamarnya.
Lilin lilin kecil dan kelopak bunga yang bertebaran di kamar mereka membuat suasana semakin romantis.
" Tentu, " ucap Mario.
" Cantik sekali.. "
" Apa kau suka? "
" Hem. " Milly mengangguk.
" Kau senang? "
" Hem. " Milly.
" Sebaiknya kita mulai makan malam romantis kita. " Mario mengajak Milly ke meja makan yang sudah di siapkan di atas balkon.
" Silahkan. " Mario menarik kursi untuk Milly.
" Terimakasih. " ucap Milly sembari mendudukan diri.
Makan malam pun berlangsung dengan sangat romantis, Mario tak hentinya mengucapkan cinta pada Milly, memuji Milly, memberikan perhatian pada Milly.
" Mau berdansa. " Mario mengulurkan satu tangan nya untuk meraih tangan Milly.
Milly dengan senang hati berdansa dengan Mario. Telihat kebahagiaan yang tersirat di wajah dua sejoli itu.
Alunan musik mengiringi pergerakan mereka, " Aku mencintai mu. " ucap Mario sembari mengecup kening Milly.
Milly tersenyum saat Mario mengatakan cinta untuknya, entah sudah berapa kali Mario mengucap kata itu di malam ini.
Pergerakan mereka berhenti tatkala pandangan mereka saling bertemu, Mario melabuhkan ciuamnnya.
Mereka berdua saling memagut pelan tapi menuntut, Mario perlahan menggiring langkahnya ke arah ranjang, hingga keduanya terhempas di atas ranjang.
Bukan hanya di bibir, kecupan Mario berpindah ke ceruk Milly, membuat Milly tanpa sadar mendesah nikmat.
Desahan Milly membuat Mario semakin memuncak dalam hasratnya. Dengan tangan yang terampil, mini dress Milly sudah terhempas ke sembarang tempat.
__ADS_1
Mario pun membuka kemejanya, memperlihatkan tubuh kekarnya.
Mario memberikan kenikmatan pada Milly dengan mengabsen setiap inci tubuh Milly.
" Mario.. " lenguh Milly ketika Mario bermain di dua benda sintal.
Mario sangat menikmati aktivitas nya, tidak lupa meninggalkan tanda merah yang tidaklah sedikit.
Mario kembali menyusuri bagian inti Milly, bermain disana dengan lihai, membuat Milly menggeliat kesana kemari.
" Mario.. aku takut. " cegah Milly letika Mario hendak menanggalkan celana panjangnya.
" Tidak usah takut. " Mario mengelus kepala Milly.
" Bukankah kau sudah janji, tidak akan melakukan hingga aku benar - benar siap. "
" Katakan padaku apa yang membuat mu tidak siap? bukankah kau mencintai ku? "
" Aaa.. aku... takut. " jawab Milly dengan ragu.
" Apa yang kau takutkan? hem. "
" Itu, " Milly menunjuk ke arah bawah Mario.
Mario terkekeh, " Tidak usah takut, dia tidak menggigit mu. "
" Tapi, itu sangat besar. " Milly.
Mario kembali terkekeh. " Justru itu akan membuatmu nikmat. "
" Bohong, itu akan menyakiti ku! " gerutu Milly.
" Sakitnya hanya sebentar, setelah itu kau akan merasa nikmat luar biasa. " Mario mencoba meyakinkan Milly.
" Aku tidak percaya! itu mu sangat besar! pasti akan sakit! "
" Dengarkan aku, aku sangat yakin punya ku sangat lah pas buatmu. "
" Bohong sekali, kemarin aku melihatnya dan itu sangat besar! "
" Percaya padaku, dia hanya akan besar kalau kau melihatnya, " bohong Mario.
" Jadi, kalau aku tidak melihat nya dia akan kecil? "
" Anak pintar " Mario mencubit hidung Milly.
Mario pun kembali mencumbu Milly. Tangannya sangat terampil menyusuri lekuk tubuh Milly.
Mario sudah siap dengan posisinya, Milly menuruti perkataan Mario agar tidak melihat kebawah.
Dengan susah payah Mario menembus pertahanan Milly.
" Aaaaaakkkhhhh..... " pekik Milly yang merasakan sakit luar biasa di bawah sana. Tangannya meronta, mencakar tubuh Mario yang tengah menindihnya.
" Sakit sekali! kau membohongi ku! "
" Maafkan aku. "
Mario menghujani ciuman di wajah Milly sebelum melanjutkan kegiatan nya di bawah sana.
Hentakan demi hentakan Mario lakukan dengan pelan namun pasti hingga sampai pada puncaknya.
Mario tidak cukup sekali menggauli Milly, seakan tidak ada hari esok untuk menikmati nya kambali.
*
*
*
Udah yak, sekian... sampai jumpa lagi di episode berikut nya...
Bye.. bye..
__ADS_1