
Sedangkan Naura di Villa sedang memanjakan tubuhnya, wanita itu baru saja selesai melakukan berbagai treatment untuk merilekskan tubuhnya.
" Terimakasih.. " ucap Naura sembari memberikan beberapa lembar uang kertas berwarna merah sebagai tips untuk pegawai salon tersebut.
" Ini terlalu banyak nona. " ujar pegawai salon itu.
" Tidak apa, ambil saja.. " Naura.
" Baik nona terimakasih banyak. Semoga nona puas dengan pelayanan kami. "
Naura mengangguk. Lalu wanita paruh baya itu pamit undur diri kembali ke tempatnya bekerja.
Naura menyeruput teh hijau yang menemaninya sembari bermain game di ponselnya. Cukup membosankan berada di villa tidak melakukan kegiatan apapun, apalagi tidak ada yang menemaninya. Pelayan yang mengurus villa itu akan pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya, membuat Naura merasa kesepian.
Waktu menunjukkan pukul satu siang membuat udara di sana sedikit lebih panas dibandingkan di pagi hari.
" Ah.. sepertinya berenang akan lebih menyenangkan. " gumam Naura. Untuk menghabiskan waktu, Naura memilih untuk berenang saja, bermain ponsel pun mulai bosan.
Naura memilih memakai bikini yang lumayan sexy, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sangat ia banggakan, karena di villa itu hanya ada dirinya jadi Naura tidak perlu khawatir.
*
" Mom, bukannya jalan ini menuju ke villa kita? " ucap Gavin yang melihat jalanan tidak asing baginya.
" Sudah tau masih bertanya! " seru Jia. Wanita yang tidak lagi muda itu menjawab dengan acuh sembari membalas pesan dari suaminya. Sesekali tersenyum karena mendapat gombalan dari suami tercintanya.
Gavin memperhatikan mommy nya yang tersenyum geli menatap layar ponselnya. " Mom, kenapa mommy senyum-senyum sendiri? "
" Hihi.. Dad mu itu sangat romantis sekali, dia mengirim pesan pada mommy dengan rayuan gombalannya, pria tua itu semakin hari semakin merasa seperti anak remaja. " tutur Jia.
" Apa kau mau lihat? rayuan Dad mu? " Jia menyodorkan ponselnya ke arah Gavin.
Gavin mendengus kesal, malas sekali melihat kekonyolan sepasang suami-istri yang selalu melupakan umur mereka. " Tidak. "
" Pak, kita berhenti disini saja. " Jia memerintah pak supir untuk berhenti.
" Ada apa mom? " Gavin.
" Turunlah! "
Gavin terkejut. " Ini belum sampai mom! kenapa menyuruh ku turun? "
" Ini sudah dekat, kau tinggal berjalan kaki sedikit untuk sampai ke villa. " Jia.
" Memangnya mommy mau kemana? mommy tidak jadi ikut ke villa? " Gavin.
" Tidak, tiba-tiba saja mommy ingin segera menemui daddy mu.. hihi.. kau bisa jalan kan? " Jia.
" Mommy!!! " teriak Gavin yang tidak habis pikir kelakuan orang tuanya itu. " Jika tau begini, aku akan membawa mobil ku sendiri. " kesal Gavin.
" Kau itu seorang pria, jalan kaki sedikit saja sudah mengeluh! kau tau, Dad mu itu dulu selalu jalan kaki tidak mengeluh bahkan menggendong mommy juga masih kuat! " jelas Jia sembari mengingat kebersamaan dirinya dan Brian sewaktu di hutan.
" Aku dan Daddy tidak sama. " gerutu Gavin sembari membuka pintu mobil.
Jia tersenyum, " Selamat berjuang sayang... demi Naura kau jalan kaki tidak masalah bukan? "
Gavin hanya diam tidak menyauti. Dia hanya menatap jalanan menuju villa yang cukup jauh dari tempat nya berdiri sekarang.
Mobil yang di tumpangi Jia pun perlahan menjauh meninggalkan Gavin.
__ADS_1
Tiga puluh lima menit Gavin baru tiba di pintu gerbang villa, penampilan yang semula sangat rapi berubah menjadi berantakan. Keringat bercucuran di mana-mana membasahi tubuh kekar yang bersembunyi di balik kain itu.
" Hufft... " Gavin mengambil nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkan dengan pelan dan teratur.
Gavin melangkah masuk ke dalam villa.
" Dasar ceroboh! " ucap Gavin saat membuka pintu utama yang tidak terkunci.
Gavin mencari keberadaan Naura, langkahnya semakin lebar seakan tidak sabar berjumpa dengan wanita nya.
Gavin tidak menemukan Naura di kamar manapun, " Dimana dia? apa mommy membohongi ku? "
Saat Gavin ingin menuju ke dapur, samar-samar ia mendengar suara di sekitar kolam renang, ia pun melangkah mendekat.
Glegkk..
Gavin menelan salivanya dengan kasar saat melihat Naura hanya mengenakan bikini, memperlihatkan tubuhnya yang indah.
Rasa lelah Gavin menghilang begitu saja, ia tak henti menatap Naura yang belum menyadari kehadiran Gavin.
Sungguh Gavin ingin sekali menerjang wanitanya detik itu juga. Namun entah kenapa tubuhnya susah untuk di gerakkan.
" Gavin! " pekik Naura saat ia berbalik untuk mengambil minumannya. Naura sangat terkejut melihat Gavin yang berdiri menatap dirinya.
Naura dengan cepat menyambar kimononya lalu memakai nya.
" Sedang apa kau disini? " ucap Naura dengan sinis, dia merasa terganggu dengan kedatangan Gavin.
Sedangkan Gavin masih diam mematung, rangkaian kata yang telah ia siapkan menghilang begitu saja. Gavin sendiri merasa heran, kenapa dirinya jadi seperti ini, tidak berdaya di depan Naura. Padahal Gavin selalu bisa membuat berbagai macam alasan. Tapi kali ini otak brilliant nya tidak berfungsi.
" Hey.. apa kau tuli! Sedang apa kau disini! aku tidak mau bertemu dengan mu! " seru Naura.
Naura mengerutkan keningnya, baru kali ini Naura melihat Gavin seperti orang bodoh tidak seperti biasanya yang pintar sekali bersilat lidah.
Tidak mau ambil pusing, Naura pun melenggang pergi begitu saja melewati Gavin. Naura masih kesal dengan sikap Gavin pada mantan kekasihnya.
Tanpa banyak bicara, Gavin mengekori kemana Naura pergi.
Naura membalikkan badannya. " Jangan mengikuti ku! " lalu berbalik kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar. Naura berniat untuk membersihkan dirinya.
Tapi Gavin masih saja berjalan mengikuti Naura, dia tidak memperdulikan ucapan Naura yang menyuruhnya agar tidak mengikuti Naura.
Gavin terlihat sangat bodoh, pikiran nya saat ini hanya mencari cara bagaimana dia menyatakan cintanya pada Naura, lidahnya terasa kelu untuk mengatakan itu.
Naura semakin geram melihat Gavin yang terus mengikuti nya.
" Gavin! aku bilang jangan mengikuti ku! "
Lagi-lagi Gavin hanya diam tanpa Naura ketahui, Gavin tengah bersiap mengumpulkan keberaniannya untuk menyatakan cinta.
" Diam disitu! "
" Aku mencintai mu! " tiga kata itu akhirnya keluar dari mulut Gavin, tiga kata yang membuat seorang Gavin menjadi pria bodoh.
Naura membulatkan kedua matanya seakan tidak percaya Gavin telah mengatakan kalimat yang selama ini ia nantikan.
" Apa ku tidak waras! apa kau sedang sakit? " ucap Naura yang masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
" Tidak! aku benar mengatakan itu. " Gavin.
__ADS_1
Naura mempertajam matanya dan menyatukan kedua alisnya untuk menelisik wajah Gavin mencari kebohongan di sana. " Apa kau tidak sedang mabuk? " Naura mendekat lalu mengendus di sekitar wajah Gavin, memastikan tidak ada bau alkohol di sana.
" Tapi seperti nya kau tidak mabuk. " lirihnya.
Naura menjauh lalu pergi begitu saja tanpa merespon ungkapan cinta Gavin.
Gavin tetaplah Gavin, dia tidak terima jika ungkapan cintanya di abaikan begitu saja. Susah payah dia mengumpulkan keberaniannya, Naura mengabaikannya begitu saja.
Enak saja!
" Naura.. kenapa kau diam saja! " seru Gavin.
" Memang nya aku harus apa? " ucap Naura tanpa membalikkan tubuhnya dan terus berjalan menuju kamar.
" Kau harus menjawabnya! aku kan sudah mengatakan cinta padamu! tetapi kenapa kau hanya diam saja! "
" Lalu? " Naura.
" Kau harus membalas dan mengatakan cinta juga pada ku! " Gavin.
" Ck, kau itu mengatakan cinta seperti menagih hutang saja! selalu memaksa! " Naura.
Gavin dengan cepat mengikuti Naura yang sudah masuk ke dalam kamarnya.
Meraih tangan Naura, " Apa kau tuli! aku mencintai mu, kenapa kau terlihat tidak senang seperti para gadis yang lainnya. " Setau Gavin para Gavin akan terlihat senang jika ada pria yang mengatakan cinta pada mereka.
" Kau itu tidak romantis! " seru Naura.
Gavin menaikkan sebelah alisnya, lalu maju satu langkah agar lebih dekat dengan Naura. " Aku tidak romantis? apa perlu aku buktikan? " seringai Gavin.
" A-apa maksud mu? " Naura hendak menjauhkan diri dari Gavin, namun ia telat, Gavin selangkah lebih maju.
" Akan aku buktikan kalau aku itu pria yang romantis, bahkan sangat romantis! " Gavin mengangkat tubuh Naura.
" Kau mau apa Gavin! "
" Kita mandi bersama, aku akan menunjukkan nya pada mu. "
" Gavin!! bukan seperti itu -- "
Naura tidak bisa menyelesaikan kalimat nya karena Gavin lebih dulu membungkamnya dengan sebuah ciuman. Gavin pun melangkah menuju kamar mandi.
*
Cut! besok lagi yak!
*
*
*
JANGAN LUPA BERIKAN DUKUNGAN KALIAN
LIKE, KOMEN, VOTE..
VOTE YANG BANYAK!!
BYE.. BYE..
__ADS_1