
MANA VOTE KALIAN PARA READER TERCINTA???
*
" Ehemm.. " Arnaf berdehem. " Apa kalian ada masalah? " tanya Arnaf pada Mario setelah makan malam selesai, mereka berdua kini tengah berada di ruang kerja Arnaf.
" Seperti yang kau lihat, " Mario mengedikkan kedua bahunya. " Milly hanya salah paham pada ku. " ucap Mario dengan tenang.
" Sebaiknya kalian harus cepat menyelesaikan masalah kalian, jangan membuat Milly bersedih terlalu lama. " Arnaf.
" Kau tenang saja, secepatnya aku akan mengatasinya." Mario.
" Baguslah, aku akan mendukung mu jika itu yang terbaik untuk Milly, tapi jangan pernah kau mengkhianatinya. "
" Tidak akan pernah! aku sangat mencintai nya dan akan menjaganya sebaik mungkin. "
Arnaf tersenyum mendengar ucapan Mario, " Aku mempercayai mu. "
" Baiklah Arnaf, aku harus menemui Milly. " Mario berdiri dari duduknya. " Dan terimakasih telah mengijinkan ku bermalam disini. "
" Tidak perlu sungkan, kau sudah menjadi bagian keluarga ku. " Arnaf.
Mario pun keluar dari ruang kerja Arnaf untuk menyusul Milly yang sudah ada di kamarnya, kali ini Mario harus bisa membujuk Milly dan menjelaskan kebenarannya.
" Honey.. " Sasa datang ke ruang kerja suaminya dengan membawa sebuah nampan berisi dua cangkir kopi. " Dimana Sean? maksudku ka Mario. "
" Dia sudah kembali ke kamar nya. " ucap Arnaf.
" Yah.. padahal aku sudah membuatkan kopi untuk kalian. " ucap Sasa.
Arnaf menatap lekat wajah istrinya, " Aku yang akan meminumnya. "
" Tapi aku membuatnya dua cangkir kopi. "
" Tidak masalah. " Arnaf.
" Jangan! nanti kau tidak bisa tidur. Lebih baik aku memberikan pada security yang berjaga di depan. "
" Kebetulan malam ini aku berniat begadang. Jadi aku akan meminumnya. " Arnaf.
" Apa kau memiliki pekerjaan yang sangat menumpuk? "
Arnaf menggelengkan kepalanya. " Apa Kenzo sudah tidur? " tanya Arnaf mengenai putranya yang baru berusia lima bulan.
" Sudah. setelah bermain dengan Milly, kenzo tertidur sangat pulas. "
" Jadi, kau bisa menemanimu begadang malam ini. " ucap Arnaf dengan wajah seperti biasa, menunjukkan ekspresi yang tidak mudah di baca oleh siapa pun.
" Aneh sekali, biasanya kau tidak mau di ganggu jika banyak pekerjaan. " gerutu Sasa.
Arnaf menarik Sasa hingga terduduk dalam pangkuannya. " Arnaf.. " pekik Sasa.
" Hem. " Arnaf menciumi ceruk leher istrinya.
" Sedang apa kau? "
" Mencumbu mu. " jawabnya to the poin, tanpa mengeluarkan kata-kata rayuannya.
" Iikh, kau tidak romantis sekali. selalu kaku! "
" Aku harus berbicara jujur. "
" Aku ini bukan atasan atau bawahan mu di kantor. bisakah memujiku sedikit, atau merayuku. agar terdengar romantis. " keluh Sasa.
" Kau cantik tapi sangat cerewet, tapi entah kenapa aku selalu suka berada di dekat mu. "
" Cih kau memujiku atau mencela ku! tentu saja kau suka berdekatan dengan ku, karena orang lain pasti memilih kabur dari pada berdekatan dengan manusia kaku seperti mu. " seru Sasa.
" Jujur adalah prinsip ku. " jelas Arnaf.
__ADS_1
" Iya.. iya terserah kau sajalah. " ucap Sasa kesal, Arnaf selalu menerapkan sikap jujur, tegas, disiplin di rumahnya, bahkan Sasa merasa tengah hidup di markas besar TNI yang penuh dengan peraturan. Sangat bertolak belakang dengan sifat Sasa yang selalu periang penuh canda tawa,dia hanya bisa pasrah dengan sikap Arnaf yang begitu datar.
" Jadi kau mau menemaniku begadang malam ini. " Arnaf kembali mengecupi leher Sasa dan tangannya sudah menjalar kemana - mana.
" Kau ini ya! manusia kaku yang dingin di luar tapi panas di ranjang. " ucap Sasa dengan tawa.
Kehidupan Arnaf dan Sasa berubah normal layaknya sepasang suami istri sungguhan semenjak mereka berbulan madu, Arnaf semakin menyayangi Sasa saat ia tengah mengandung darah dagingnya. Dan benih - benih cinta tumbuh begitu saja, mengalir seperti air. Sasa pun sangat bahagia karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan lagi.
*
Saat Mario hendak masuk ke dalam kamar, Mario mendapat panggilan dari Rai.
" Halo tuan. "
" Iya. " jawab Mario.
" Putri sudah ada di markas. " ucap Rai.
" Kurung dia, jangan beri makan atau minum, aku akan datang setelah masalah ku selesai. "
" Baik tuan. "
Mario menaruh kembali ponsel nya ke dalam saku celananya. Mario mengambil nafasnya dalam sebelum masuk ke dalam kamar, sungguh Mario lebih memilih bertarung dengan musuh - musuhnya dari pada mengahadapi Milly yang sedang marah padanya.
" Sayang, " Mario menghampiri Milly yang sudah berbaring di atas ranjang. " Kau masih marah pada ku? " tanya Mario.
" Sudah tau malah bertanya! menyingkirlah aku tidak mau melihatmu! " ucap Milly dengan kedua mata yang di lebarkan dengan sempurna.
Mario menelan salivanya, " Tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya. "
" Aku tidak mau mendengarnya! bisa saja kau membohongi ku. " seru Milly.
" Aku tidak membohongimu. Aku bersumpah tidak memiliki hubungan apapun dengan wanita itu. " ucap Mario yang enggan menyebutkan nama Putri.
" Kalau kau tidak mempunyai hubungan apapun dengannya kenapa dia bisa tau bentuk tato elang mu itu!!!! " Milly akhirnya melupakan emosinya yang sedari tadi ia tahan.
" Kenapa kau diam? hah! jadi benar yang di katakan Putri, kau pernah ber --- " ucapan Milly terpotong saat Mario menutup mulutnya agar tidak melanjutkannya.
" Sstt.. jangan berbicara seperti itu. Aku bersumpah tidak pernah melakukan apapun dengannya. Tentang tato itu, mungkin dia tidak sengaja pernah melihatnya. Kau tau kan wanita itu lama tinggal dengan keluarga ku, itu bisa terjadi tanpa sepengetahuan aku. " jelas Mario.
" Bohong! " Milly.
Mario menghela nafasnya berat, " Aku harus bagaimana lagi agar kau percaya pada ku. Sungguh aku tidak melakukan seperti apa yang ada di pikiran mu. "
" Benar? "
Mario mengangguk cepat.
" Tapi kenapa dia bis -- "
" Mungkin dia mengintip ku saat mandi. Kau tau sendiri wanita itu sangat tergila - gila dengan suami tampan mu ini. " canda Mario.
" Iikhh.. narsis! " Milly mendaratkan pukulan kecil di dada bidang Mario sembari tersenyum.
" Kau tidak marah lagi pada ku? " tanya Mario saat melihat Milly tersenyum padanya.
Milly kembali memasang wajah dinginnya, lalu segera membaringkan tubuhnya dengan memunggungi Mario. " Aku ngantuk mau tidur! "
Mario mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak apa yang penting kau sudah tersenyum pada ku. membuat hatiku sedikit lega. "
*
" Naura, apa kau sudah siap? " tanya Jia.
" Sudah mom, " jawab Naura.
Weekend ini, Jiandra mengajak Naura untuk bertemu dengan temannya dan berencana untuk mengenalkan Putra temannya dengan Naura.
Yah, semenjak malam pengakuan Gavin yang ingin menikahi Naura, sampai saat ini Gavin tidak pernah membahasnya lagi atau memberitahukan niatnya pada Brian dan Jia. Jadi Naura berfikir jika Gavin hanya berbicara nglantur saja, tidak bersungguh-sungguh akan niatnya.
__ADS_1
Naura akhirnya menerima usulan Jia, yang akan mengenalkan putra dari temannya. Siapa tau ini memang jalan takdir Naura untuk menemukan jodohnya.
" Mom, kenapa mommy belum bersiap? " tanya Naura pada Jia yang belum mengganti pakaiannya.
" Mommy tidak jadi ikut, kau saja yang bertemu dengan William. "
" Tapi mom, aku tidak mengenalnya. "
" Justru itu kau harus berkenalan agar lebih dekat. Dan ini no ponselnya, kau bisa menghubunginya setelah sampai di restoran itu. " Jia memberikan sebuah kartu nama.
Dengan ragu Naura menerima kartu itu. " Baik mom. "
" Yasudah pergilah, jangan membuatnya menunggu lama. "
Naura tersenyum. Lalu pergi dengan diantar oleh salah satu supir pribadi Jia.
" Mom, ada apa dengan mu, kenapa tersenyum sendirian seperti itu? " tanya Gavin yang baru saja keluar dari kamarnya dan melihat mommy nya sedang tersenyum sendiri.
" Mommy sangat bahagia, sebentar lagi mommy akan mempunyai menantu baru. " ucap Jia.
Gavin mengerutkan keningnya, " Mom, sudah ku katakan aku tidak ingin menikah. " ucap Gavin yang mengerti arah pembicaraan Jia karena hanya dia anaknya yang belum menikah.
" Terlalu percaya diri. " ucap Jia.
" Maksudnya? " ucap Gavin dengan wajah penasaran.
" Bukan kau! tapi Naura! " seru Jia.
" Naura? " Gavin berucap dengan malas. " Sudah ku bilang aku tidak mau menikah deng-- "
" Bukan kau yang akan mommy nikahan dengan Naura tapi pria lain. Saat ini mereka tengah berkencan. "
" Apa!! "
" Ada apa dengan mu Gavin, kenapa kau sangat terkejut? apa kau tidak rela jika Naura menikah dengan pria lain. " sindir Jia.
Seketika Gavin menormalkan raut wajahnya. " Tidak, justru aku sangat senang dia tidak akan menjadi perawan tua. "
" Baguslah. Mommy akan secepatnya menikahkan mereka. " ucap Jia sembari melangkah meninggalkan Gavin.
Gavin terlihat panik mendengar mommy nya akan menikahkan dengan pria lain. Sungguh dia tak rela Naura menikah dengan pria lain.
" Shitt!!! " umpat Gavin saat panggilannya tidak kunjung di jawab oleh Naura.
Ingin rasanya bertanya pada mommy nya dimana Naura berada sekarang, tapi egonya begitu tinggi mengalahkan keingintahuannya.
Jia yang melihat gerak-gerik Gavin yang terlihat gusar tertawa Cekikikan. Dirinya tau betul jika Putra keduanya itu mempunyai rasa pada Naura tapi malu untuk mengakuinya.
" Kapten.. Sepertinya makan malam di restoran XX akan lebih menyenangkan. Naura sangat beruntung bisa menikmati menu makanan yang sangat lezat. " Jia sengaja meninggikan suaranya agar Gavin bisa mendengarnya.
Dan benar saja, seperti dugaan Jia. Gavin secepat kilat menyambar kunci mobilnya dan berlalu tanpa berpamitan terlebih dahulu padanya.
" Kena kau! " ucap Jia sembari menjentikan jarinya.
*
*
*
JANGAN LUPA BERIKAN DUKUNGAN KALIAN
LIKE, KOMEN, VOTE
AYO VOTE YANG BANYAK BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT.
DAN TERIMAKASIH YANG SUDAH MEMBERIKAN DUKUNGANNYA.
Bye.. bye...
__ADS_1