Mengejar Cinta CEO

Mengejar Cinta CEO
Selamat


__ADS_3

Ancaman Mario masih terngiang - ngiang di kepala Brian. Semenjak malam itu, Brian terus memikirkan solusi terbaik untuk putrinya.


" Kapten.. " Jia menghampiri Brian yang sedang termenung di teras, terlihat secangkir kopi yang sudah beberapa jam yang lalu menemaninya tidak surut sedikit pun. " Apa ada yang mengganggu pikiranmu? "


Brian hanya diam tak menyahuti pertanyaan istrinya. Brian memang tidak membicarakan tentang ancaman Mario pada siapa pun.


" Kapten... " Jia mengelus pundak suaminya. " Kau tidak mau bercerita kepada ku? "


" Sayang, kemarilah... " Brian menuntun Jia untuk duduk lebih dekat di samping nya.


Brian menghirup nafasnya dalam sebelum berbicara. " Bagaimana pendapat mu tentang Sean putra kita? "


Jia mengernyitkan keningnya, " Pendapat seperti apa yang kau tanyakan? "


" Seorang pria untuk putri kita. " Brian mengelus punggung tangan istrinya yang ada di genggamannya.


" Dia terlihat keren dan sangat maco.. " ucap Jia sekenanya.


Brian berdecak kesal, jawaban Jia bukan yang di harapkan Brian, " Berani sekali kau memuji pria lain di hadapan ku! "


" Kau sendiri yang bertanya pada ku, dan aku menjawabnya. "


" Ck, kau lupa usiamu! hem? " sergah Brian.


" Aku itu memuji putra ku sendiri, kau yang berlebihan! dasar pencemburu! " gerutu Jia.


" Apa kau sudah berubah pikiran? " tanya Jia penasaran, pasalnya Brian tidak pernah membahas hubungan Mario dan Milly dan selalu menghindar jika Jia bertanya.


" Aku ragu! "


" Apa yang kau ragukan? "


Brian diam sejenak, " Bukan yang terbaik untuk putri ku.. "


" Darimana kau tau jika Sean bukan pria baik untuk putri kita. "


" Dia pernah berada di dunia mafia dan dia menyentuh Milly kita.. "


" Ck, kau bicara seakan tidak pernah muda saja! " ucap Jia dengan nada bicara mengejek.


" Apa maksud mu? "


Jia memutar bolanya malas, " Apa perlu ku ingatkan, kelakuan mu saat itu, kau bahkan hampir merenggut kesucian ku. Kau itu sangat beruntung, aku tidak pernah menceritakan pada papa dan kak Valent, jika mereka tau habislah kau. " celoteh Jia.


" Ck, tapi nyatanya aku bisa mengendalikan diri ku, bahkan setelah menikah pun aku masih bisa menahannya. " ucap Brian, " Dan aku pria yang sangat bertanggung jawab, jangan samakan aku dengan pria lain. " Brian menyombongkan diri.


" Iya.. iya.. terserah apa katamu. "Jia malas sekali jika berdebat dengan pria yang berstatus suaminya itu.

__ADS_1


" Bagus! " Brian mencubit pipi istrinya dengan gemas.


" Kapten.. menurut ku jika Sean yang bisa membuat Milly bahagia apa salahnya kita merestui hubungi mereka. "


Brian menanggapi perkataan Jia dengan mengedikan bahunya.


" Jangan sampai kau menyesal.. "


" Tidak semudah itu jika ingin mendapatkan putri kita.. " Brian mengeratkan pelukannya di pinggang istrinya.


" Jangan mengujinya terlalu berat. "


" Percaya saja pada ku.. " Brian mulai nakal dengan memberikan kecupan di sekitar leher Jia.


" Kapten, hentikan! ini bukan di kamar, malu kalau ada yang melihat.. "


" Tidak peduli, aku merindukan mu.. "


" Kau ini sudah tua tapi semakin mesum! "


Brian terkekeh, " Tapi kau suka kan.. "


***


Setelah banyak pertimbangan, akhirnya Brian memberikan restu dengan sebuah syarat.


Brian akan menikah kan Mario dengan Milly. Setelah Milly menyelesaikan studinya.


Mario dengan percaya diri menyanggupi persyaratan dari Brian. Tetapi dia meminta waktu sehari untuk menghabiskan waktu dengan Milly.


*


Hari ini, Mario membawa Milly pergi ke suatu tempat.


Di dalam mobil.


" Mario.. kita akan kemana? " Milly yang berada di samping Mario terlihat ceria bisa pergi bersama dengan Mario.


" Ke tempat yang kau sukai. " Mario mengulas sebuah senyuman yang menambah kadar ketampanannya. " Katakan kau ingin kemana? aku akan menemanimu. "


" Emm... aku tidak ingin kemana - mana, aku hanya ingin bersama mu. " Milly berucap dengan malu malu.


" Lalu apa yang ingin kau lakukan. "


" Apa ya..? " Milly nampak berfikir terlebih dahulu, " Bagaimana jika kita bersepeda.. "


" Bersepeda? "

__ADS_1


" Iya, bersepeda di sekitar pantai, sepertinya akan sangat menyenangkan. "


" Baiklah.. kita akan bersepeda. "


Alunan musik menemani perjalanan mereka menuju pantai terdekat.


Mario mengemudi dengan fokus, satu tangannya ia gunakan untuk menggenggam tangan Milly tak lupa ia memberikan kecupan di punggung tangan Milly.


" Kau sedang mencari apa? " Mario melihat Milly mencari sesuatu dalam tasnya.


" Permen.. " Milly masih mengacak acak isi tasnya.


" Sepertinya tidak ada, " gumam Milly. " Apa kau punya? "


" Tidak.. mau berhenti dulu ke minimarket? " tawar Mario.


" Tidak usah.. " jawab Milly, " Apa di sini ada? " Milly mencoba mencari di setiap laci dashboard.


" Ah.. apa ini? " Milly menemukan sesuatu. " Ini permen kan? " tanya Milly dengan menunjukan kotak kecil berwarna merah bertulis Fiesta.


Mario membulatkan kedua matanya, dengan cepat ia merebutnya dan membuka kaca lalu membuangnya.


" Kenapa kau membuangnya.. " Milly mencebikan bibir nya.


" Sudah expired.. " ucap Mario.


" Oh.. "


" Selamat.. " batin Mario.


Untung saja Milly terlalu polos untuk mengenal benda itu, jika tidak, bisa gawat urusannya.


Mario mungkin lupa jika benda itu masih tersimpan di dalam mobilnya. Kebiasaan buruk yang dulu selalu di gelutinya telah lama ia tinggalkan semenjak mengenal Milly.


Dan sebisa mungkin Mario berusaha menutupinya dari Milly karena takut akan menyakiti hati Milly yang selembut salju dan seindah berlian.


Tidak akan membiarkan siapapun mengatakan hal buruk yang membuat Milly bersedih apalagi sampai meneteskan air matanya.


*


*


*


Maaf kan Author yang terlambat untuk up. percayalah Author pun ingin cepet2 buat up.


Jangan lupa Vote.. vote.. vote...

__ADS_1


Karena Vote kalian membuat Author semangat up.


Bye.. bye..


__ADS_2