
Sejak kejadian sore itu, Mario mendiami Milly. bahkan saat malam Mario tidur membelakangi tubuh Milly. Mario sangat kecewa dengan Milly, karena telah membuatnya menunggu terlalu lama.
Mario tidak pernah di perlakukan seperti ini oleh seorang wanita manapun kecuali istrinya. Mereka dengan senang hati melemparkan tubuhnya untuk di jamah oleh Mario. Bahkan mereka sangat mengagumi keperkasaan yang di miliki Mario, tidak seperti Milly yang malah takut padanya.
Hasrat yang tak tersalurkan membuat Mario gusar dan meluapkan emosinya kepada karyawan di perusahaan nya.
Tak sedikit karyawan nya yang terkena imbasnya, hanya melakukan kesalahan sedikit saja, Mario tidak segan segan menggelegar kan suaranya yang begitu menakutkan, tatapan yang tajam dan mematikan membuat seisi kantor bergidik ngeri.
Duta sang asisten dengan mudah bisa menebak kondisi atasannya saat ini, dia memang sudah begitu hapal dengan sifat bosnya.
Dengan memberanikan diri, Duta mengusulkan sarannya. " Tuan, apa perlu saya mencarikan teman kencan untuk anda? "
Mario yang tengah duduk di kursi kebesaran nya menatap tajam ke arah Duta, yang dengan beraninya menawarkan wanita lain untuknya.
" Apa kau sudah gila! " teriaknya.
Duta memejamkan matanya mendengarkan teriakan Mario yang menakutkan itu. " Maaf, " Duta menundukkan kepalanya.
" Aku sudah beristri! jangan pernah kau mengatakan hal konyol itu lagi. " ucap Mario dengan tegas. Bagaimana pun juga dia sangat mencintai Milly, dan tidak berpikir sedikitpun untuk mengkhianati cintanya.
Susah payah dia mendapatkan Milly, tidak semudah itu dia berpaling ke wanita lain hanya karena hasratnya tak terpenuhi.
" Baik tuan, " penolakan Mario membuat Duta menjadi yakin bahwa cinta Mario sangat besar pada Milly.
*
Di tempat lain, Milly merasa sedih karena Mario tidak berbicara sepatah katapun padanya. Milly melamun semenjak Mario pergi ke kantor untuk bekerja. Tidak ada aktivitas apa pun yang ia lakukan selain duduk manis dengan pikiran yang entah kemana.
Di rumahnya dia seorang diri hanya ada para pelayanan dan pengawal yang bertugas. Dinda dan Morgan pergi ke rumah sakit untuk checkup kesehatan Morgan.
" Apa yang harus ku lakukan? " tanyanya pada diri sendiri.
Milly menghubungi Mora untuk meminta bantuannya, namun Mora cukup sibuk saat ini sehingga tidak bisa meluangkan waktu untuk Milly.
Milly dengan malas kembali ke kamar nya menghabiskan waktu dengan menonton beberapa drama kesukaannya.
Hingga sore menjelang, Milly masih saja betah di dalam kamarnya.
Tok.. tok.. suara pintu di ketuk.
" Milly, apa kau di dalam. " ucap Dinda dari balik pintu kamar.
" Iya bunda. " Milly pun membuka pintu kamar nya.
" Milly, apa kau sedang sibuk? bunda ingin mengenal kan seseorang pada mu. " Dinda.
" Tidak bunda, Milly sama sekali tidak sibuk. " Milly pun mengikuti langkah Dinda menuju ruang keluarga untuk mengenalkan seseorang padanya.
" Putri.. " pekik Milly saat melihat Putri tengah duduk di sofa.
" Milly, kau mengenal nya? " tanya Dinda.
Milly menganggukkan kepalanya. " Iya bunda, Milly sudah mengenalnya saat di Jepang. "
Milly dan Putri saling berpelukan melepas rindu, menanyakan kabarnya masing - masing.
__ADS_1
" Putri baru saja tiba, dia akan tinggal disini bersama kita. " ucap Dinda.
" Benarkah? " tanya Milly. Dinda dan Putri mengiyakannya. " Aku senang akhirnya teman ku bertambah. " ucapnya dengan wajah ceria.
" Terimakasih tan, sudah mengijinkan ku tinggal di sini. " ucap Putri.
" Sama - sama sayang, kalo bukan dengan tante, sama siapa lagi kau akan tinggal. " Dinda.
Deru mobil terdengar memasuki halaman rumah. Perhatian ketiga wanita itu pun teralihkan pada pria yang baru saja memasuki rumah.
" Hubby.. " sapa Milly pada Mario yang baru saja datang. Mario hanya diam tak menghiraukan Milly dan terus saja berjalan menuju kamarnya. Sejenak pandangan nya tertuju pada Putri yang berdiri di antara kedua wanita yang sangat ia sayangi. Dia menatap heran.
" Kenapa dia ada di sini? " batin Mario.
Dinda dan Putri pun di buat heran dengan sikap Mario pada Milly yang tidak biasanya yang selalu bermesraan dengannya.
Milly menundukkan kepalanya, ada rasa kecewa dengan sikap Mario yang mengacuhkannya.
" Kau tidak apa Milly? " Dinda meraih pundak Milly.
" Bunda, Mario marah pada ku. " ucapnya dengan wajah begitu sedih.
" Kau harus sabar, dan menyelesaikan masalahnya dengan baik. " Dinda mencoba menenangkan Milly.
Milly mengangguk mengerti.
Putri hanya menjadi pendengar yang baik tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Milly masih saja di acuhkan Mario saat Milly menghampiri di kamar. Sebenarnya Mario juga tidak tega melihat Milly bersedih karena dirinya, tapi rasa kesal pada istri kecilnya membuatnya bertindak seperti itu. Memberi sedikit pelajaran pada istri kecilnya tidak masalah bukan? pikir Mario.
" Hubby.. akan aku ambilkan, kau mau makan yang mana? " Milly bersikap seolah tidak ada masalah, dia dengan senang hati menawarkan diri untuk membantu Mario mengambilkan makanannya.
Bukannya menjawab pertanyaan Milly, " Bunda, bisa tolong ambilkan untuk ku? " ucap Mario tanpa memandang Milly yang sudah bersedih akan sikapnya.
Milly terasa lemas dengan sikap Mario yang tidak menghiraukan nya meski di depan banyak orang. Milly sangat malu pada Dinda dan Morgan juga Putri yang menyaksikan semua itu.
Dengan berat hati Milly duduk kembali, tanpa membantu Mario. Milly hanya mengaduk aduk makanannya tanpa berniat untuk memakannya, tatapannya kosong.
Makan malam berlangsung dengan keheningan, hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar.
Mario meninggalkan meja makan setelah selesai menyantap makanan nya.
Milly memandang punggung Mario yang semakin menjauh, tidak terasa air matanya mengalir begitu saja.
Dinda yang tepat ada di sampingnya segera mengelus punggung Milly untuk menenangkannya.
Milly tak kuasa menahannya kesedihannya sendiri hingga berhambur ke pelukan Dinda.
" Bunda.. hiks.. hiks.. Mario menyakiti ku. " ucapnya dengan isakan begitu manja.
Dinda mengelus puncak kepala Milly, " Milly, sebenarnya apa yang terjadi. " tanya Dinda yang merasa penasaran permasalahan apa yang terjadi pada putra dan menantunya itu.
" Hiks.. hiks.. Mario jahat.. dia mengacuhkan ku. "
" Iya.. iya.. tenang lah.. coba katakan pada bunda, apa yang terjadi sebenarnya. " Dinda.
__ADS_1
Morgan dan Putri menjadi pendengar yang baik.
Milly membenarkan posisi duduknya. Sebelum menjawab, Milly melirik ke arah Morgan. " Ayah, bisakah ayah menutup telinganya sebentar. " ucap Milly.
Morgan tersentak dengan permintaan Milly.
" Kalau begitu ayah pergi ke kamar saja. " ucapnya.
" Ayah, jangan marah pada ku, Milly hanya malu mengatakan nya. " ucap Milly dengan wajah yang begitu menggemaskan bagi siapa saja yang melihatnya.
Morgan tergelak, " Iya ayah mengerti. "
" Milly, tidak usah malu dengan ayah mu, bukannya kau sudah menganggap kami seperti orang tua mu sendiri. "
" Baiklah bun, tapi kalian jangan menertawakan ku. " ucap Milly dengan ragu.
Morgan dan Dinda menyatukan keningnya dan saling pandang.
" Iya, kami janji tidak akan menertawakan mu. " Dinda.
" Mario marah pada ku. " ucap Milly dengan ragu ragu.
" Marah kenapa? " Dinda.
" Karena... aak.. aku.. selalu menolak keinginannya. "
" Keinginan apa? " ucap Dinda yang belum mengerti. Sedangkan Morgan mendengarkan dengan antusias. Mario bisa marah seperti ini pasti ada masalah yang cukup besar, pikir Morgan.
" Itu bunda.. Mario selalu mengganggu ku setiap malam, tapi aku selalu menolaknya. Milly masih takut bunda, itu sangat sakit. " ucapnya begitu polos.
Nadia dan Morgan membelalakan kedua matanya mendengar pengakuan Milly.
" Hahaha... " tawa Morgan menggelegar, sungguh ia tak menyangka jika menantunya akan bicara seperti itu di depannya, jika tau hal itu yang akan di ucapkan Milly, dia lebih memilih kembali ke kamarnya dan tidak mendengar.
" Ayaaahhhhhh.... " pekik Milly ketika mendapati Morgan menertawainya. Wajahnya begitu malu.
Morgan dengan sekejap menghentikan tawanya. " Maaf. " ucapnya. " Tapi kasihan juga putra ayah, pasti dia sangat tersiksa. "
" Ayah! " seru Dinda.
" Iya.. iya.. ayah ke kamar saja. kalian bisa lanjutkan obrolan nya. " Morgan.
" Aku percayakan padamu, kau sangat ahli dalam hal ini. " ucap Morgan pada Dinda sembari mengerlingkan sebelah matanya.
Putri yang mendengar percakapan antara Milly dan Dinda hanya tersenyum penuh arti.
*
*
*
Jangan lupa berikan dukungan kalian.
Baca juga karya baru ku Cinta Istri Kedua.
__ADS_1
Bye.. bye..