
Suara riuh pikuk memenuhi sekitar arena balap, tidak lupa suara tepuk tangan juga menyumbangkan kebisingan itu. Baru saja pertandingan balap motor cross telah usai, dimana Elia menjadi bagian pesertanya. Sudah di tentukan pula deretan nama yang berhasil memenangkan pertandingan itu.
Senyum lebar menghiasi wajah cantik Elia. Ricard dan Tara berlari langsung ke arah Elia, memberikan selamat pada wanita mungil itu, meski tidak mendapatkan juara pertama namun Elia tetap merasa bahagia bisa mengantongi juara ke tiga.
Melawan para kandidat yang sudah lebih lama berkecimpung di sirkuit bukan hal yang mudah bagi Elia, apalagi Elia satu-satunya peserta wanita. Bagaimana pun mengalahkan banyak pria tangguh cukup sulit.
Mike yang duduk di barisan para pendukung tersenyum tipis, ada rasa kepuasan tersendiri mendengar nama wanita yang berstatus istrinya itu di sebut sebagai juara ke tiga.
" Kucing liar ku.. " gumam Mike.
Juara pertama di menangkan oleh Bruno. Tentu saja Bruno dengan mudah menaklukan arena sirkuit dengan mudah, karena biasanya pria itu bermain di sirkuit yang lebih extrim. Bruno memang sengaja ingin mengalahkan Elia dan tidak akan membiarkan Elia memenangkan pertandingan itu.
Disaat Elia sedang bersorak merayakan kemenangan nya, Saren yang sedang menemani Bruno tiba-tiba saja menabrakkan bahunya ke bahu Elia.
" Heiii... wanita jallang! apa maksudmu! " sarkas Elia.
Saren menoleh lalu tersenyum remeh, " Berani sekali kau mengatai ku jallang! Bukannya kau yang pantas di sebut jallang! " Saren maju selangkah.
" Ara, jangan perdulikan dia. " bisik Tara mencegah Elia yang mulai tersulut kemarahannya.
" Cih.. Bahkan kau rela naik ke atas ranjang dan menjebak pria itu agar menikahi mu! " seru Saren.
Elia semakin hilang kesabarannya, perkataan Saren benar-benar sudah kelewat batas. " Kau! " Elia menunjuk ke wajah Saren.
" Apa? " tantang Saren dengan menaikan sagunya.
Dari kejauhan Mike melihat keributan antara Elia dengan Saren, meski tidak tau jelas akan permasalahan nya. Mike tersenyum tipis. " Kucing liar ku, tunjukan bakat tersembunyi mu.. " gumam Mike.
Mike tidak sabar melihat aksi Elia, pria itu cukup antusias melihat kemampuan tersembunyi Elia. Mike yakin jika istrinya itu adalah wanita tangguh yang mempunyai ilmu bela diri untuk melawan musuhnya. Dilihat dari hobby nya yang cenderung menyukai hal yang kebanyakan di sukai oleh para lelaki.
Mike memangku salah satu lengannya dengan lengan lainnya, jari telunjuk dan jempolnya setia mengelus dagunya yang di tumbuh bulu-bulu halus, membuat pria itu terlihat semakin gagah. Tatapan Mike memperhatikan setiap gerakan Elia.
" Akan ku sobek mulut busuk mu itu! " sarkas Elia.
Plakk
Tangannya melayangkan satu tamparan di pipi Saren. Elia tidak terima dengan tuduhan dari Saren, dia sama sekali tidak menggoda Mike kala itu. Kejadian itu adalah musibah bagi Elia.
Saren yang menerima tamparan dari Elia pun tak Terima dan langsung membalas menampar Elia.
Plakk
" Kurang ajar! " Saren.
Elia mengelus pipinya yang terasa panas akibat tamparan Saren. Elia tak mau kalah dia menampar Saren kembali.
Plakk.. plak... plak.. berulang kali Elia memberikan tamparannya.
" Kau! " Saren menjambak rambut Elia dan Sebaliknya Elia pun ikut menjambak rambut Saren.
" Ara.. hentikan! " Tara melerai kedua wanita itu.
Namun kedua wanita itu tidak memperdulikan Tara dan orang yang sedang berusaha melerai mereka.
Elia dan Saren terus saja melakukan aksi jambak menjambak rambut mereka. Umpatan pun tak luput keluar dari kedua mulut mereka.
Kaki Elia pun tidak tinggal diam, Elia terus memberikan tendangan ke tubuh Saren di sela kesempatan yang ada.
__ADS_1
Mike membulatkan kedua matanya melihat Elia bertarung dengan jurus kucing, mencakar, menjambak, sungguh di luar dugaan Mike. Mike pikir Elia mempunyai ilmu bela diri yang sesungguhnya.
Dengan cepat Mike menghampiri Elia. " Hentikan! " seru Mike.
Namun Elia tak mendengarkannya, tangannya masih saja bekerja mencakar dan menjambak lawannya.
Mike menghela nafas, sebelum pria itu menarik tubuh mungil Elia dan menggendongnya di bahu lebar Mike.
" Turunkan aku... turunkan aku.... " Elia meronta meminta untuk di turunkan. " Aku akan memberikan pelajaran pada wanita sialann itu. "
" Diamlah! " seru Mike.
" Mike... turunkan aku! " Elia memukul punggung Mike.
Mike melempar tubuh Elia ke dalam mobilnya. " Diamlah Elia! kita pulang! " seru Mike. Pria itu mengitari mobilnya, sebelum masuk dan duduk di bangku kemudi.
Di dalam mobil, Elia terus saja mengumpat kekesalannya pada Saren.
" Berhentilah mengoceh! telinga ku sakit mendengarnya. " ucap Mike yang masih fokus mengemudi.
" Astaga... Mike... piala ku! " pekik Elia. Elia baru menyadari jika dia belum sempat menerima pila kemenangannya. " Semua gara gara wanita sialan itu! "
" Mike.. ayo kita kembali! " seru Elia dengan mengguncangkan bahu Mike.
" Tidak mau! nanti aku ku belikan sepuluh piala untuk mu. "
" Cih.. sombong sekali. " Elia lebih memilih diam, tidak akan berhasil meminta Mike untuk kembali menuruti keinginannya.
Mike membawa Elia untuk segera pulang ke apartemen nya, hanya keheningan yang menemani di perjalanan mereka.
Elia kembali memikirkan Nino, rasa bersalahnya muncul kembali menyelimuti hatinya. Elia akan menemui Nino esok hari untuk meminta maaf. Bagi Elia menyambangi sirkuit sudah cukup mengurangi rasa penasarannya, dia akan mulai menuruti keinginan Nino agar menjauhi dunia balap motor, tapi tidak dengan si Merah.
*
Kedatangan Mike dan Elia di sambut hangat oleh penghuni mansion, terutama Dinda sang nyonya besar.
" Sayang, kenapa kalian baru datang? sudah lama sekali bunda menunggu kalian untuk berkunjung. " ucap Dinda.
" Maaf bunda, Mike terlalu sibuk dan baru sempat mengajak ku kemari. " Elia.
" Apa putra bunda merepotkan mu sayang? " tanya Dinda pada Elia. Tidak lupa Dinda memanggil pelayan untuk membawa suguhan. " Kau mau minum apa sayang? "
" Tidak bun, Mike sama sekali tidak merepotkan ku. " padahal dalam hati ingin menjawab jika putranya itu sangat menyebalkan.
" Dan tidak perlu repot bun, Elia nanti bisa mengambilnya sendiri. " ujar Elia yang tak mau merepotkan pelayanan. Elia masih canggung, belum terbiasa dengan adanya pelayan.
" Tidak apa sayang.. " ucap Dinda. Elia pun mengatakan apa yang di inginkannya pada pelayan.
" Bunda, dimana Milly? " tanya Elia.
" Sepertinya dia ada di kamarnya..dia akhir-akhir ini sangat kelelahan, mungkin hormon saat hamil. " jawab Dinda. "alu bagaimana dengan mu? apa sudah ada tanda-tanda menyusul Milly? "
Pertanyaan Dinda membuat Elia tersedak minuman yang baru saja di sajikan oleh pelayan. " Emm... itu.. bun.. " Elia terlihat bingung menjawab pertanyaan dari Dinda.
" Bagaimana mungkin aku bisa hamil? melakukan nya saja belum! "
" Tidak apa sayang, kalian harus bersabar. " Dinda mengelus punggung tangan Elia memberikan dukungan agar bersabar menunggu.
__ADS_1
Lama mereka berbincang, Dinda menyuruh Elia untuk beristirahat menyusul Mike di kamarnya yang sedari tadi sudah beristirahat terlebih dahulu.
Ketika makan malam tiba, seluruh anggota keluarga Yamazaki berkumpul di meja makan. Elia selalu memperhatikan tingkah Mike pada Milly.
" Hubby.. aku ingin makan martabak yang ada di ujung jalan. " ujar Milly setelah selesai makan malam. Dan saat ini kedua pasangan suami istri tengah duduk bersantai di ruang keluarga. Dinda dan Morgan sudah lebih dulu kembali ke kamar mereka.
" Sayang, bukannya tadi kau sudah makan? " Mario.
" Tapi aku masih lapar dan ingin makan martabak, sepertinya lezat sekali. " Milly sampai menelan air liurnya, membayangkan lezatnya martabak manis.
Obrolan sepasang suami istri itu tak luput dari pendengaran Elia. Elia memperhatikan Mike yang masih sibuk bermain dengan ponselnya, biasanya pria itu akan antusias keinginan Milly dan akan berusaha mewujudkannya.
" Baiklah.. aku akan membelinya. " ujar Mario dengan pasrah, kehamilan Milly membuat Mario tak bisa menolak keinginan istrinya itu.
" Oh.. iya.. belikan juga martabak telor yang ada di persimpangan, dekat sekolahan XX. " tambah Milly.
" Kenapa tempatnya berbeda? beli satu tempat saja, persimpangan cukup jauh. " Mario.
" Tidak mau! martabak telurnya lebih enak yang berada di persimpangan. " Milly.
" Mike.. apa kau bisa membantu Mario? " tanya Elia.
Mike berhenti sejenak dari kegiatannya dan menoleh ke Elia. " Kenapa harus aku? Mario kan suaminya.. "
" Siapa yang meminta bantuan mu! aku bisa sendiri! " seru Mario. " Aku pergi dulu sayang.. " pamit Mario dengan mengecup sekilas bibir Milly. Milly menganggukinya.
Elia tersenyum mendengar jawaban Mike, hatinya bersorak ria, suaminya sudah tidak lagi memperhatikan Milly. Mike juga terlihat tidak lagi mencuri-curi pandang pada Milly.
Entah pria itu sadari atau tidak dengan sikapnya yang sudah mulai berubah pada Milly. Yang pasti perlahan Elia telah memasuki ke relung terdalam di hati Mike.
" Aku ke kamar dulu.. bye.. kaka ipar, bye.. Elia. " Milly berpamitan untuk kembali ke kamarnya.
Mike dan Elia mengangguk.
" Sayang.. " panggil Dinda menghampiri Mike dan Elia yang masih duduk di sofa ruang keluarga.
" Iya bun. " Elia.
" Tadi bunda lupa mengatakan pada kalian. " ucap Dinda tanpa ikut duduk di sofa. " Ayah telah menyiapkan keberangkatan kalian besok pagi untuk berbulan madu di salah satu Villa kita. " ujar Dinda.
" Villa? untuk apa bun? " tanya Elia.
" Untuk apa lagi, kalian harus berbulan madu. Bukannya kalian belum pernah pergi berbulan madu? " Dinda.
" Oke bun. Thank you. " ucap Mike tanpa berpikir. Pria itu sangat senang dengan keputusan Ayah dan bundanya. Mike pun tersenyum mesum ke arah Elia.
Elia yang melihatnya tersipu malu, terlihat jelas kedua pipinya sudah memerah karena malu. Setelah mengatakan itu, Dinda kembali lagi ke kamarnya.
" Malam ini kau aku bebaskan. Tapi tidak besok malam, aku akan membuat mu tidak bisa berjalan. " bisik Mike dengan seringainya sebelum meninggalkan Elia masuk ke kamarnya.
*
*
*
...Jangan lupa berikan dukungan kalian...
__ADS_1
...Like. komen. vote. ...
...Bye.. bye.. ...