Mengejar Cinta CEO

Mengejar Cinta CEO
Sarapan pagi?


__ADS_3

Naura membasahi seluruh tubuhnya seiring dengan tangisannya yang ikut mengalir dengan sendirinya. Hatinya begitu ngilu saat dirinya membuka mata tidak mendapati Gavin di sampingnya setelah ia mendapatkan hal paling berharga dari hidupnya.


Naura merasa dirinya wanita yang paling bodoh terbuai begitu saja pada pria yang belum lama resmi menjadi suaminya itu. Cukup lama ia bergelut dalam pemikiran nya sendiri, hingga kulit di ujung jarinya berkerut karena terlalu lama berendam.


Diraih handuk untuk mengeringkan tubuhnya dan dililitkan sempurna menutupi tubuh yang sudah semakin segar, dengan menyeruak harum aroma strawberry.


Saat membuka pintu kamar mandi, Naura di kejutkan keberadaan Gavin yang tengah duduk di sofa dan melihat beberapa menu makanan telah tersaji di atas meja.


Entah kenapa Naura langsung menghamburkan diri memeluk Gavin dengan erat, ada rasa senang jika Gavin tidak benar-benar meninggalkannya setelah malam itu.


Gavin sangat terkejut dengan apa yang di lakukan Naura. " Kau itu kenapa? " tanyanya heran, tetapi dengan senang hati menyambut pelukan dari Naura.


" Kau masih disini? tidak meninggalkan ku? " ucapnya tanpa melepaskan pelukannya.


" Kenapa kau berfikir seperti itu, aku hanya membelikan mu sarapan. " Gavin.


Naura mengendurkan pelukannya. " Kau itu membuat ku cemas saja! aku pikir kau meninggalkanku! " gerutu Naura.


Gavin menelisik wajah Naura yang baru saja bisa di lihatnya dengan jelas setelah melepaskan pelukannya. Mata sembab yang memerah, hidungnya pun juga memerah, " Apa kau tadi menangis? " tebak Gavin.


Naura terkesiap, dirinya begitu malu jika mengatakan yang sebenarnya. " Ti--tidak. " ucapnya menundukkan kepala.

__ADS_1


Gavin tergelak melihat Naura yang tidak pandai berbohong. " Apa kau tadi menangisi ku? "


" Gavin! aku tidak menangisi mu! aku hanya... hanya.. " Naura tidak mampu berkata lagi, dia bingung akan memberi alasan apa yang tepat.


" Hanya apa? hanya tidak mau aku tinggalkan? iya kan? " Gavin terus saja menggoda Naura yang sudah memerah di pipinya. " Aku yakin kau sudah terpikat oleh ketampanan ku dan ke perkasaan ku. iya kan? akui saja. " Gavin menoel dagu Naura beberapa kali membuat wanita itu malu setengah mati.


" Iiks... " Naura menghalau tangan Gavin yang terus saja menggodanya. " Kau terlalu narsis Gavin! "


" Apa kau tidak ingat semalam kau berulang kali memanggil nama ku.. Gavin.. Gavin.. " Gavin menirukan suara desahan Naura yang memanggil-manggil Namanya.


" Gavin!! " Naura sangat kesal karena Gavin terus saja menggodanya, " Rasakan ini... " Naura memberikan pukulan-pukulan kecil ke arah Gavin.


" Aw.. aw.. sakit Naura. " Gavin terus menghindari pukulan dari Naura. Dengan cepat Gavin mencengkram kedua lengan Naura agar berhenti memukulnya.


Mereka terjatuh di atas ranjang, Gavin tidak bisa menahan keseimbangan karena Naura terus saja memberontak dari cekalan Gavin.


Tubuh Naura berhasil meninndih tubuh Gavin, pergerakannya terhenti tatkala pandang mereka saling bertemu dan larut dalam pikiran masing-masing.


Naura terkesiap saat dirinya merasakan bencolan kecil bergerak di perutnya. Dengan cepat Naura bangkit dari tubuh Gavin, tetapi sialnya Gavin dengan sengaja menarik kaitan handuk yang terselip sehingga kain yang lumayan tebal itu terlepas begitu saja dengan mudah.


Naura melebarkan kedua matanya, " Gavin! " teriaknya. lalu ingin meraih handuknya. Tidak ingin membuang kesempatan langka itu, Gavin lebih cepat meraih handuk itu dan membuangnya ke arah sembarang.

__ADS_1


Seringai licik nampak di wajah tampan itu. Naura reflek menutupi bagian tubuh terpentingnya.


" Sexy.. " ucap Gavin dengan menaik turunkan alisnya seraya menggoda sang istri.


" Kau!! " kesal Naura.


Gavin tidak peduli dengan umpatan yang di keluarkan dari mulut Naura. Dirinya lebih tertarik untuk menikmati pemandangan indah yang ada di depannya.


Tanpa pikir panjang Gavin menarik tubuh Naura hingga terjatuh di pelukannya lagi sebelum Naura melarikan diri.


Dengan mudah Gavin membalikkan posisi mereka hingga Naura sudah dalam kungkungan Gavin.


Tanpa banyak bicara, Gavin mencium Naura dengan lembut. Naura pun membiarkan Gavin melakukan apapun pada tubuhnya, karena jujur Naura sangat menikmati sentuhan Gavin.


Pergulatan di pagi hari pun terjadi lagi pada sepasang pengantin baru itu yang sedang di mabuk asmara. Tidak ada kata cinta yang keluar dari mulut mereka, namun melalui perlakuan lembutlah yang bisa mereka curahkan. Tanpa mereka sadari, cinta sudah tumbuh begitu lama di hati mereka.


*


*


*

__ADS_1


Sedikit curhat ya.. gak tau kenapa author males kalo mau ngetik,,, bolehlah minta dukungan kalian kasih like nya ke? komennya juga boleh,kalo emang gak mau kasih vote.


Bye..


__ADS_2