Mengejar Cinta CEO

Mengejar Cinta CEO
Hanya milik ku!


__ADS_3

**Happy Reading..


Jangan lupa beri dukungan kalian**..


~


Dua minggu setelah kejadian itu, Mario semakin sulit untuk bertemu ataupun berhubungan dengan Milly.


Mario di buat kacau akan rasa rindunya, sering kali ia mencoba menemui Milly di kampus tapi tak menemukannya juga.


Mario siang ini sedang meeting dengan rekan bisnisnya di restoran hotel bintang lima. Tanpa sengaja Mario melihat gadis yang sangat ia rindukan sedang berjalan melewatinya.


Tapi, Milly seolah tidak mengenalinya.Tidak seperti biasanya yang akan berhambur di pelukannya tanpa memperdulikan orang sekitar.


Tatapan tajam Mario tak lepas mengikuti punggung Milly yang semakin lama hilang dari pandangannya.


Mario di buat heran dengan sikap Milly yang mengacuhkannya. Melihat sikap Milly, Mario semakin bertekad menemui Milly bagaimanapun caranya, meski harus melawan Daddy dan kedua kaka Milly.


Bukan hal yang sulit bagi Mario menemui Milly dengan caranya sendiri, meski harus dengan cara kekerasan sekalipun.


Selama ini ia tahan karena masih menghormati Brian sebagai orang tua yang ikut andil membesarkannya, Keacuhan Milly terhadapnya membuat Mario berfikir pasti ada sesuatu yang terjadi.


*


Malam ini pukul 20.30, tepat selesainya makan malam berlangsung, Mario tengah bersiap untuk menemui Milly.


Bukan dengan jalan santai yang mengetuk pintu kemudian menunggu di persilahkan masuk, Mario lebih memilih memanjat dinding yang lumayan tinggi untuk sampai ke kamar Milly, bagi Mario hal ini tidak lah sulit.


Sesampainya di balkon, benar saja Mario mendapati Milly tengah duduk di sebuah sofa berbulu lembut berwarna merah muda, seperti para gadis lainnya yang menyukai warna tersebut.


Tok.. tok...


Mario mengetuk pintu kaca yang memang terkunci, jika saja tidak terkunci sudah di pastikan Mario akan masuk tanpa permisi.


Milly yang mendengar suara ketukan dari arah balkon pun menoleh, bertapa terkejut nya Milly melihat Mario tengah berdiri di balkon kamarnya.


" Mario.. " Milly segera membukakan pintu itu, " Mario.. sedang apa kau disini? "


" Ingin menemui mu.. " Mario masih berdiri di tempatnya.


Milly tampak cemas dan mengitari pandangan di sekitar, " Bisa gawat kalo Gavin melihat mu. "


" Aku tidak peduli! " Mario masuk melewati Milly, lalu berbalik berhadapan dengan Milly, " Kenapa kau tadi mengacuhkan ku? " pertanyaan yang sedari tadi tertanam di otaknya pun keluar juga.


" Aku.. aku... " Milly terbata.


" Kenapa? jawab! " ucap Mario dengan suara tegasnya.

__ADS_1


" Aku hanya takut, jika aku masih berdekatan dengan mu Ka Gavin dan ka Arnaf akan melukai mu. "


Mario sangat lega dengan jawaban Milly, gadisnya mengacungkan nya hanya karena takut bukan tidak peduli lagi padanya.


" Aku tidak takut dengan ke dua kaka mu itu. "


" Kau belum tau kaka ku itu sangat menyeramkan jika sudah marah. " Milly mencebikan bibirnya.


Mario terkekeh, " Aku sama sekali tidak takut, jadi jangan pernah mengacuhkan ku lagi, oke! " Mario mengacak rambut Milly.


" Ck, kau akan takut jika aku mengatakannya. "


" Takut apa? "


Milly mendekat kemudian berbisik, " Ka Arnaf mempunyai pistol, bagaimana jika kau di tembak olehnya, "


Mario kembali terkekeh, " Aku tidak takut, meski Arnaf mempunyai 10 pistol. "


Pistol? benda itu sudah menemani Mario sejak lulus Senior high School, bagaimana mungkin Mario takut dengan benda itu, Mario sangat ahli memainkan benda itu, bukan itu saja dia juga ahli dalam merakit dan menjinakkan bahan peledak.


" Sombong sekali kau! " Milly.


Mario mendekati Milly, mengikis jarak antara mereka berdua. " Kau tidak merindukan ku? "


" Tentu saja aku merindukan mu. " Milly memeluk Mario dengan sangat erat, Mario membalas pelukan Milly, dirinya pun sangat merindukan Milly.


" Hem.. " Milly mengangkat wajahnya untuk menatap Mario.


" Aku mencintai mu.. sangat mencintai mu, " Mario mendaratkan ciumannya di bibir Milly setelah mengatakan cintanya.


Milly mengikuti permainan Mario, yang melummat bibirnya dengan rakus, terlihat jelas jika pria itu sangat merindukan gadisnya.


" Kau semakin pintar ya.. " Mario mencubit hidung Milly, memuji ciuman Milly yang lebih baik dari sebelumnya.


" Kau yang mengajari ku. "


" Bibir ini, ini... ini... ini... ini... dan ini.. semua hanya milik ku, jangan pernah memberikannya pada pria lain selain aku. " titah Mario sembari menunjuk bagian tubuh Milly yang di klaim hanya miliknya.


" Hem.. " Milly menganggukan kepalanya.


Mereka berdua bercengkrama melepas rindu, bercerita apa saja yang membuat mereka terjaga tanpa melakukan hal buruk.


" Mario.. aku mengantuk.. " Milly berulang kali menguap menahan rasa kantuk nya.


" Tidurlah.. aku akan menemanimu. "


Milly pun membaringkan dirinya dengan berbantal dada bidang milik sang kekasih, tidak butuh waktu lama Milly sudah tertidur dengan pulas.

__ADS_1


Pukul dua belas malam, Mario beranjak dari tempat tidur Milly, Mario mengecup kening Milly sebelum dirinya keluar dari kamar itu.


Mario meninggalkan kamar Milly dengan membuka pintu kamar Milly, bukan lewat jalan yang tadi di lewati untuk masuk.


Kali ini, Mario dengan penuh percaya diri untuk menjalankan rencananya untuk bisa menikahi Milly.


Brian yang tengah berada di ruang baca tanpa skat, sangat terkejut mendapati Mario yang baru saja keluar dari kamar Milly.


Tatapan nya berubah menjadi tajam dengan rahang yang mengeras, terlihat sekali amarah sedang mengalir di setiap tetes darahnya.


Mario dengan langkah ringan menghampiri Brian, tidak terlihat takut sedikitpun di wajahnya.


" Apa yang sedang kau lakukan di kamar putri ku! " Suara Brian menggelegar mengisi penuh setiap sudut ruangan.


Untung saja setiap kamar kedap suara, jadi suara Brian tidak mengganggu penghuni masing masing kamar.


" Aku hanya menemaninya tidur! " ucapnya dengan santai.


" Jaga batasan mu Sean! "


" Aku akan jaga batasan ku, jika kau merestui hubungan ku dengan Milly. " ucap Mario.


" Sudah ku bilang kau di Terima di keluarga ini hanya sebagai putra ku bukan menantu seperti keinginan mu. "


Mario maju satu langkah, " Aku tidak akan menyerah, sampai Daddy merestui ku. "


" Jika cara baik tidak mendapat restu dari mu, jangan salah kan aku Dad... Daddy pasti tau jelas bagaimana aku.. " lanjut Mario.


" Apa maksud mu! "


" Daddy lebih tau aku... aku akan mendapatkan Milly meski dengan cara yang salah. " Mario sedikit memberikan ancaman pada Brian, karena hanya cara inilah Mario dengan mudah menaklukan watak keras kepalanya Brian.


Brian mengerutkan keningnya, berusaha mencerna apa yang di maksud oleh pria yang sudah di anggap nya seperti putra nya sendiri.


" Aku akan memberikan cucu buat Daddy lebih cepat!! "


*


*


*


Jangan lupa Vote.. vote.. vote...


Karena Vote kalian membuat Author semangat up.


Bye.. bye..

__ADS_1


__ADS_2