Mengejar Cinta CEO

Mengejar Cinta CEO
Saling mencintai?


__ADS_3

Naura tidak kembali lagi ke kantor, dia memilih pulang ke mansion. Hatinya begitu sakit saat melihat Gavin dengan wanita lain. Naura merasa jika Gavin memang tidak pernah memiliki perasaan sedikit pun padanya, Gavin hanya memanfaatkan dirinya sebagai pemuas nafsu belaka.


Rasa cinta yang baru saja tumbuh, hancur seketika saat tahu jika cintanya takan pernah terbalaskan.


Naura memasuki mansion dengan langkah yang terasa amat berat, bukan menuju kamarnya bersama Gavin tapi langkahnya menuju paviliun, tempat dimana dia tinggal saat belum menikah dengan Gavin.


Naura menyenderkan tubuhnya di pintu yang baru saja ia tutup dengan rapat. Wanita itu memikirkan pernikahannya dan mulai ragu untuk mempertahankannya, mengingat awal mula terjadi pernikahan itu atas dasar keterpaksaan. Dan tidak akan pernah ada cinta di antara mereka. Untuk apa pernikahan seperti itu di lanjutkan, jika hanya untuk saling menyakiti.


" Aku harus kuat. " Lirihnya. Naura menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya, berusaha tegar menghadapi takdir hidupnya. Bagaimana pun juga semua sudah terjadi tidak mungkin kembali seperti sedia kala.


Naura perlahan menegakkan tubuhnya, langkah pertama ia harus membersihkan diri agar tubuh dan pikirannya kembali segar.


Setelah selesai mandi, Naura mencari keberadaan Jiandra yang bukan lain adalah ibu mertuanya. Jia yang sedang bersantai di ruang keluarga menyambut kedatangan Naura.


" Sayang, kau pulang cepat? " tanya Jia. " Dimana Gavin? mommy tidak melihat nya? " Jia mencari keberadaan Gavin yang selalu bersama dengan Naura.


Jia yang tidak mendapat jawaban dari Naura segera memperhatikan raut wajah Naura yang terlihat sedih. " Naura, apa ada masalah? " tebak Jia.


Naura mengangguk. " Mom, bolehkah aku pergi beberapa hari? "


" Memangnya kau mau pergi kemana? " Jia membenarkan duduknya yang kala itu tengah bersantai.


" Aku hanya ingin menenangkan hati ku mom, " Naura berkata dengan nada begitu lirih, tersirat jelas ada di kesedihan pada perempuan itu.


Jia mengelus pipi Naura, " Apa Gavin yang membuat mu bersedih? " tebak Jia.


Naura pun menceritakan kejadian saat Gavin bersama dengan wanita lain di cafe. Jia merasa bersalah pada Naura, karena kelakuan putranya membuat Naura menjadi sedih.


Akhirnya Jia mengijinkan Naura pergi ke Villa untuk menenangkan diri dan berjanji tidak akan memberi tahu tentang keberadaannya pada Gavin.


" Berhati-hatilah dan jangan lupa beri kabar pada mommy jika kau butuh sesuatu. " Jia.


" Baik mommy, sekali lagi terimakasih.. " Naura memeluk ibu mertuanya itu.


*


Gavin menyusul Naura di kantor dengan langkah yang lebar. Saat tadi di cafe, Gavin berlari mengejar Naura namun dia kalah cepat karena terhalang oleh keramaian orang yang berhambur. Gavin pikir, Naura sudah kembali ke kantor, namun di meja kerja terlihat kosong tidak ada sosok yang dia cari. Gavin semakin gusar saat panggilannya tak kunjung di terima, bahkan Naura beberapa kali me-reject panggil dari Gavin.

__ADS_1


Tidak mau ambil pusing, Gavin pun melanjutkan pekerjaannya. Gavin yakin jika nanti bisa mengatasi kesalahan pahaman Naura saat di rumah.


" Sial!! " umpatnya. Gavin semakin tidak tenang, niat ingin bersikap biasa saja dan tidak memperdulikan Naura, namun pikiran nya selalu di penuhi dengan wajah Naura yang terlihat sedih.


Susah payah mengalihkan pikiran nya dengan di sibukkan pekerjaan yang menumpuk tapi semua itu sia-sia, Gavin sama sekali tidak bisa berkonsentrasi.


Akhirnya, Gavin memilih meninggalkan pekerjaannya untuk mencari keberadaan Naura. Tempat yang ia tuju adalah mansion nya, dia yakin pasti Naura sudah pulang.


" Naura.. " panggil Gavin saat baru masuk ke mansion nya.


" Naura... " Gavin semakin kencang memanggil istrinya. Langkah Gavin tertuju pada kamar mereka.


Di Bukalah pintu kamar itu, tapi tidak ada seorang pun di sana, " Naura.. " kali ini Gavin mengarah ke kamar mandi, berharap Naura ada di sana.


Tidak mendapat keberadaan Naura di kamarnya, Gavin keluar dan mencari ke seluruh penjuru mansion. " Naura... " teriak Gavin yang tak sabar menemukan keberadaan istrinya.


" Gavin! kau itu berisik sekali! " tegur mommy Jia yang terganggu dengan teriakan Gavin.


" Mom, apa mommy melihat Naura? " tanya Gavin.


" Pergi kemana? " seru Gavin.


" Tidak tau, tapi mommy lihat dia membawa kopernya.. " jelas Jia. " Mommy pikir, kalian ada pekerjaan di luar kota. " ucap Jia dengan raut wajah tanpa dosa untuk meyakinkan Gavin jika Jia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.


" Apa!! " pekik Gavin. " Kenapa mommy diam saja melihat Naura pergi! " Gavin menggusar wajah nya dengan kasar.


" Kenapa kau menyalahkan mommy! " seru Jia. " Apa kalian sedang bertengkar? apa yang kau lakukan Gavin, membuat Naura pergi meninggalkan mu? "


" Entahlah.. aku juga tidak tahu. Dia hanya salah paham pada ku, lalu dia menangis dan berlari.. " Gavin mengingat kejadian di cafe saat melihat Naura memergokinya bersama Melisa.


" Wanita memang membingungkan! kenapa Naura jadi aneh begini, biasanya dia diam saja saat aku bersama dengan wanita ku. " gerutu Gavin.


Plakk.. Jia menepak kepala putranya itu, putra yang selalu ia puja-puja ketampanan nya karena mirip sekali dengan wajah suaminya.


" Kau itu bodoh sekali!! " seru Jia. " Naura itu cemburu pada mu saat melihat kau berdekatan dengan wanita lain. " jelas Jia.


" Cemburu? " ulang Gavin yang masih tidak percaya.

__ADS_1


Jia menggelengkan kepalanya lalu menghela nafasnya.


" Iya! sama seperti mu yang selalu marah saat Naura berdekatan dengan pria lain! kalian ini pasangan suami istri yang aneh sekali. saling mencintai tapi tidak mau mengakuinya. " gerutu Jia yang tak habis pikir dengan kisah cinta mereka.


Jia mengira setelah mereka menikah, mereka akan saling jujur dan mengerti perasaan satu sama lain. Tapi ternyata Gavin dan Naura masih sama seperti dulu.


" Saling mencintai? " Gavin menimang-nimang kalimat itu. Apa benar dirinya dan Naura itu saling mencintai.


" Lalu dimana Naura sekarang mom? " tanya Gavin.


" Mommy tidak tau, kau carilah sendiri. " Jia kemudian berlalu meninggalkan Gavin sendirian untuk berfikir.


Jia yakin, jika kali ini Gavin akan menyadari betapa pentingnya Naura dari hidup nya. Keputusannya yang mengijinkan Naura pergi memang lah tepat. Jia berharap Gavin dan Naura akan segera menyadari perasaannya masing-masing.


Malam hari Gavin yang tidur di ranjang sendirian mulai merasakan kesepian. Pria itu merasa sulit untuk memejamkan matanya, padahal waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari.


" Kenapa hanya Naura yang ada di pikiran ku! " Gavin bangkit dari tidurnya. Tanpa pikir panjang Gavin meraih kunci mobilnya. Gavin berniat untuk menemui Naura di apartemen Rafi.


" Pasti dia ada disana.. "


*


*


*


Sorry ya guys telat up-nya. Aku lagi sibuk banget.. 🙏🙏🙏🙏


*


JANGAN LUPA BERIKAN DUKUNGAN KALIAN


LIKE, KOMEN, VOTE..


VOTE YANG BANYAK!!


BYE.. BYE..

__ADS_1


__ADS_2