
" Hubby.. kau tidak bekerja? " tanya Milly yang melihat Mario masih bersantai sedangkan waktu susah menunjukkan pukul 8 pagi.
" Aku berangkat siang saja, rasanya ingin cuti lebih lama agar bisa bersamamu. " Mario mengerlingkan sebelah matanya untuk menggoda istri kecilnya yang sudah pandai mengimbangi hasrat suaminya yang begitu tinggi.
Milly tersenyum malu, Mario terus saja menggoda dirinya.
" Aduh kalian ini romantis sekali pengantin baru. " ucap Dinda yang datang dan melihat keromantisan Mario dan Milly.
" Bunda seperti tidak pernah muda saja. " Mario.
" Bunda, apa ayah sangat romantis jika bersama bunda? " Milly tiba-tiba penasaran, apa keromantisan Mario itu diturunkan oleh sang Ayah yang tidak lain adalah Morgan.
Dinda tersenyum mendapat pertanyaan dari menantunya.
" Jangan ditanya, bukan romantis lebih tepatnya sangat manja jika bersama bunda. " ucap Mario.
" Kau bisa saja. " Dinda.
" Putri.. " panggil Dinda. " Tolong ambilkan kue yang tadi tante buat, bawa kemari sayang. "
" Baik tan. " Putri pun menyediakan kue yang sudah di sediakan Dinda.
Mario mendengus kesal karena masih mendapati Putri tinggal di mansion itu.
" Hubby.. kau kenapa? "
" Tidak apa. " ucap Mario, lalu mendekatkan diri ke tubuh Milly dan melingkarkan lengan kokohnya ke perut Milly. " I love you.. " Mario terus menerus memberi kecupan di pipi Milly, meski di depan mereka ada Dinda sekalipun.
" Hubby, apa kau tidak malu. Ada bunda disini. " lirih Milly.
" Bunda akan memakluminya. " Mario mengeratkan pelukannya. " Iya kan bun. " tanya Mario.
Dinda kanya menggelengkan kepalanya. " Kau ini! sama seperti ayahmu. "
" Ini tan. " Putri membawa sebuah piring yang telah terisi beberapa potong kue buatan Dinda dan meletakkan di mejanya.
" Kau mau kemana? duduklah bersama kami. " Milly mencegah Putri yang hendak berlalu untuk ikut duduk bersamanya. Sedangkan Mario mentap Putri dengan jengah.
Putri pun duduk di samping Dinda. Mereka menikmati kue buatan Dinda sembari bercanda ria.
" Permisi Nyonya.. Tuan besar memanggil Nyonya. " Suster yang merawat Morgan menyampaikan pesan dari Morgan.
__ADS_1
" Baiklah. " jawab Dinda. " Bunda ke kamar dulu ya, kalian lanjutkan lah. " Dinda beranjak dari duduknya untuk menemui Morgan.
Mario terus saja memamerkan kemesraannya dengan Milly di depan Putri, menunjukkan betapa bahagianya dirinya bersama Milly dan secara tidak langsung memperingatkan Putri agar tidak mengganggu hubungan mereka.
Jangan ditanya bagaimana perasaan Putri sekarang, tentu dia sangat cemburu melihat Mario begitu perhatian dan mesra terhadap Milly. Dari dulu dia menginginkan posisi itu, menjadi wanitanya.
" Hubby, sebaiknya kau bersiap, ini sudah terlalu siang. " Milly mengingatkan Mario agar bersiap untuk pergi bekerja mengingat waktu sudah hampir siang.
" Baiklah, aku ke kamar dulu. " Mario mengecup bibir Milly sebelum meninggalkannya.
" Ekhemm.. " Putri berdehem membuyarkan Milly yang terus menatap punggung Mario.
" Eh, maafkan kami. Mario memang selalu begitu. tidak tau malu. " ujar Milly.
" Kau terlihat sangat bahagia. " ucap Putri.
" Tentu saja aku sangat bahagia. " Milly.
" Kau bahagia di atas penderitaan orang lain. " ucap Putri yang menunjukan ketidak sukaannya.
Milly yang semula tersenyum lebar, seketika menyurutkan senyumannya. " Apa maksudmu? "
Milly mengernyitkan keningnya seraya mencerna ucapan Putri.
" Pria yang ku cintai, pria yang ku tunggu selama ini. " Putri.
" Maksudmu? "
" Iya, pria itu adalah Mario. yang sudah kau rebut dari ku. " geram Putri.
Milly sangat terkejut dengan pengakuan Putri. Dirinya ingat betul pria yang pernah di ceritakan Putri, yang selalu ia nantikan cintanya.
" Oh, aku tidak tau. Maafkan aku.. " ucap Milly yang merasa bersalah. " Tapi kita saling mencintai dan sudah menikah. Kau harus merelakan perasaanmu pada suamiku. " ucap Milly dengan tenang.
" Aku yakin kau akan menemukan pria yang terbaik untukmu, tapi bukan Mario. " Milly.
" Cih, mudah sekali kau berbicara seperti itu. " Putri terlihat sudah sangat kesal.
" Putri.. " Milly.
" Sampai kapan pun aku tidak akan melupakan Mario dan aku akan merebutnya dari mu! " seru Putri.
__ADS_1
" Jaga batasan mu Putri! " Milly mulai tak tahan dengan Putri yang terang - terangan ingin menghancurkan rumah tangganya.
" Kenapa? apa kau takut! hah! " teriak Putri yang sudah mulai emosi.
" Mario sudah menikah dengan ku! jangan harap kau bisa merusak rumah tangga ku! "
" Tidak peduli. Aku akan membuatnya terpikat padaku dan meninggalkan mu. " Putri.
Milly melebarkan kedua matanya, sungguh dia tak pernah menyangka jika Putri memiliki sifat yang buruk. Selama ini Milly mengenalnya yang penuh dengan kelembutan.
" Aku percaya pada suami ku! dia mencintaiku! dia tidak akan pernah menghianatiku! " Milly melangkah untuk pergi meninggalkan Putri, dia tidak mau menanggapi perkataan Putri yang membuat hatinya sakit.
" Kau sangat yakin sekali. " Putri tergelak membuat Milly menghentikan langkahnya. " Dengar baik - baik, tato elang yang terlukis sangat kecil di tubuh suami mu. " Putri.
Milly tertegun mendengar ucapan Putri, Milly tau jelas tentang tato itu yang tersembunyi di tubuh Mario.
" Apa kau tau maksud ku? ah.. aku lupa kau itu istrinya, sudah pasti kau tau tentang tato yang ku maksud. Aku bukan istrinya, tapi aku tau dengan jelas. " Putri memulai menyulut api kemarahan Milly, dengan cara memamerkan jika dirinya tau jelas tato yang tersembunyi itu, yang terlukis di area tertutup.
Tak terasa air matanya menetes di pipi Milly. " Apa Mario pernah bercinta dengan Putri? Apa mereka pernah menjalin hubungan? "
" Kau masih percaya dengan suami mu itu? " Putri.
Tanpa memperdulikan ucapan Putri, Milly lari dengan cepat keluar dari mansion itu. Hatinya benar - benar terluka mendengar pengakuan Putri.
Sedangkan Putri tertawa bahagia berhasil membuat Milly percaya dengan perkataannya dan berharap akan ada keretakan di rumah tangga mereka.
Yah, Putri memang tau tentang tato itu, Putri melihatnya saat seorang perawat tengah merawat Mario ketika ia terluka parah dan tidak sadarkan diri akibat bertarung dengan musuh - musuhnya, bukan karena dia pernah menghabiskan malam bersama Mario, seperti yang Milly pikirkan.
Plak
Satu tamparan mendarat di pipi Putri.
" Tante.. "
*
*
*
Bye.. bye..
__ADS_1