
Plak
Satu tamparan mendarat di pipi Putri.
" Tante.. " Putri memegang pipinya yang terasa perih akibat tamparan Dinda.
" Kau! berani sekali mengganggu keluarga putra ku. " seru Dinda yang sudah mendengar semua ocehan Putri di depan Milly. Saat dirinya akan pergi ke dapur tidak sengaja mendengar pertengkaran Putri dan Milly.
" Tan, apa aku salah mencintai Mario? " Putri tanpa merasa bersalah mempertanyakan hal itu.
" Perasaan mu memang tidak salah, tapi ingat putra ku sudah menikah dan mempunyai istri, jangan menghancurkan rumah tangga mereka hanya karena rasa cinta mu itu. " jelas Dinda.
" Tapi tan -- "
" Sejak kapan kau mencintai Putra ku? "
" Saat aku pertama kali melihatnya. " ucap Putri.
Dinda cukup terkejut mendengar pengakuan Putri yang tidak pernah ia duga, dia mulai paham dengan sikap Mario yang selalu menjauhi Putri.
" Aku tidak akan menyerah tan, aku akan mendapatkan Mario. "
Plak
Dinda memberikan satu tamparan lagi ke pipi Putri, " Apa kau sudah gila! tega sekali kau berbicara seperti itu. Aku sudah menganggap mu seperti anak ku sendiri, tapi kau begitu teganya merencanakan hal buruk pada kehidupan Putra ku. " Dinda mulai geram.
" Jangan harap aku akan membiarkan semua itu terjadi! " Dinda.
" Aku tidak peduli, aku tidak akan menyerah begitu saja merelakan cintaku yang sudah tumbuh bertahun-tahun. " Putri.
Dinda menggeleng-gelengkan kepalanya. " Kau tidak akan bisa memisahkan mereka. Cinta mereka begitu besar. "
" Terserah! " seru Putri.
__ADS_1
Dinda sudah kehabisan kesabaran, orang yang sudah di anggapnya keluarga sendiri akan menjadi bumerang.
" Keluar. " Dinda mengulurkan tangannya dengan jari telunjuk tertuju ke arah pintu utama.
" Keluar sekarang dari rumah ku! " bentak Dinda.
" Baiklah! tapi ingat tan, aku tidak akan pernah melepaskan Mario. " Putri pun meninggalkan mansion keluarga Yamazaki.
Dinda terduduk lemas di sofa sembari memijit keningnya yang terasa pusing. Dinda tidak pernah menyangka jika sifat aslinya seperti itu.
Bayangan Dinda mulai mengenang masa lalunya yang buruk. Dirinya begitu jahat terhadap mantan suaminya dan Jiandra. Tapi keputusannya untuk memilih hidup bersama Morgan membuat dirinya menyadari kesalahan yang pernah ia buat. Hati yang selalu diluputi oleh keburukkan perlahan meluluh karena sikap Morgan yang selalu memberikan kasih sayang yang tulus padanya.
Morgan lah yang berperan penting dalam merubah sikap Dinda yang sangat kasar menjadi lemah lembut seperti sekarang. Meski Morgan sendiri sangat kasar dan begitu kejam pada para musuh - musuhnya, tapi tidak pada keluarganya sendiri.
" Bunda.. " panggil Mario yang baru saja menuruni anak tangga.
" Ada apa Bunda? " tanya Mario yang melihat Dinda bersedih.
" Jawab dengan jujur, apa hubungan mu dengan Putri? apa kalian pernah menjalin hubungan yang spesial? " Dinda.
Dinda menghembuskan nafasnya dengan kasar. " Apa benar kau memiliki sebuah tato kecil berbentuk elang? "
Mario membulatkan kedua matanya mendengar Dinda mengetahui tatonya. " Bagaimana bunda tau? apa Milly.. "
Dinda menggelengkan kepalanya. " Lalu bagimana Putri bisa tau? " Dinda.
Mario mengernyitkan keningnya, dirimu semakin bingung dengan ucapan Dinda. " Maksud bunda? "
" Yah, Putri tau dan dia mengatakan pada Milly. " Dinda menarik nafasnya, " Milly menangis dan dia pergi. "
" Apa!! " pekik Mario.
" Sepertinya dia salah paham, apa memang benar kau pernah -- "
__ADS_1
" Tidak bunda! aku sama sekali tidak pernah menyentuh wanita itu. " seru Mario.
" Kejarlah.. Milly terlihat hancur mendengar itu. " Dinda.
Mario pun bergegas untuk mengejar Milly.
" Brengssekkk!!! sialan kau jallang!! " umpat Mario di sepanjang langkahnya.
*
Di tempat lain, Milly menangis sesegukan, hatinya sangat hancur mendengar ucapan Putri. Mobil yang di kendarai Milly berhenti mendadak saat tidak sengaja menabrak sebuah sepeda motor melintas di depannya.
" Hei, kau tidak punya mata! " seru pengendara sepeda itu yang terluka tidak parah.
" Keluar kau! " serunya lagi.
Milly pun keluar dari mobil itu. " Maaf Pak. " ucap Milly dengan air mata yang terus saja mengalir.
" Maaf maaf, kau harus ganti rugi! "
Tanpa pikir panjang Milly menyerah kan kunci mobil pada orang itu untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Milly memang tidak bisa mengendarai mobil dengan benar, karena sering kali di larang keras oleh Daddy Brian saat ingin berlatih mengendarai mobil.
Pada saat ia keluar dari mansion, Milly memberanikan diri untuk mengendarai mobil sendiri dengan pengetahuan seadanya karena tidak ingin diikuti oleh pengawal.
Milly berlalu begitu saja setelah menyerahkan kunci mobil itu. Sedangkan orang yang tertabraknya merasa heran dengan Milly yang memberikan mobilnya begitu saja.
Milly menuju ke rumah Arnaf dengan menggunakan taxi. Dia yakin Mario akan kesulitan mencarinya, untuk saat ini Milly tidak ingin bertemu dengan Mario. Dia ingin menenangkan hatinya terlebih dahulu.
*
*
*
__ADS_1
Bye.. bye..