Mengejar Cinta CEO

Mengejar Cinta CEO
Apa kau cemburu?


__ADS_3

VOTE!


*


Naura sama sekali tidak mengerjakan apapun hingga jam menunjukan pukul 12 siang dimana para karyawan akan menghabiskan waktunya untuk beristirahat dari pekerjaannya.


Gavin pun keluar dari ruangannya.


" Ikut aku! " seru Gavin pada Naura tanpa menoleh ke arah Naura dan terus berjalan.


Langkah Gavin terhenti saat di rasa Naura tidak mengikutinya dari belakangan, Gavin mendengus kesal saat melihat Naura bergeming dari duduknya. " Naura!! apa kau tuli! " seru Gavin.


Teriakan Gavin membuat Naura tersadar dari lamunannya. " Bisa tidak, kau jangan berteriak! " seru Naura.


" Ayo cepat! aku sudah lapar. " kebiasaan Gavin jika makan siang di kantor akan selalu di temani Naura.


" Pergi saja sendiri. Aku ingin makan di kantin bersama Elia. Iya kan Elia? " Naura berharap Elia bisa membantunya agar terhindar dari Gavin.


" Ii.. iya.. " Elia.


" Naura, " geram Gavin yang tidak ingin ada penolakan dari Naura.


" Iya.. iya.. " Naura cepat-cepat mengiyakan permintaan Gavin. Melihat ekspresi wajah Gavin yang menyeramkan membuat Naura menyetujuinya, dia malas sekali jika berdebat dengan Gavin yang akan membuat moodnya bertambah buruk.


" Kau menyebalkan sekali! " gerutu Naura saat sudah berjalan di samping Gavin.


" Jangan terlalu percaya diri, aku mengajak mu karena aku tidak terbiasa makan sendirian. " jelas Gavin.


" Cih, lalu kenapa kau tidak mengajak Natali saja! " seru Naura.


" Malas. " jawab Gavin dengan santai.


" Biasanya kau sangat senang jika bersamanya. "


" Tapi sekarang tidak lagi. "


" Cih! munafik! tadi saja kau bermesraan dengannya. " ucap Naura begitu kesal. Naura teringat saat di ruangan Gavin, Natali mengecup pipinya dan Gavin hanya diam saja tidak menolak sama sekali, lalu sekarang bilang dia bosan dengan Natali.


" Tunggu.. " ucap Gavin menghentikan langkahnya. " Kenapa kau terlihat marah tidak jelas, bukannya kau sering melihat ku berdua dengannya. " Gavin menatap Naura penuh selidik.


" Apa kau cemburu? " celetuk Gavin.


Naura di buat gugup dengan pertanyaan Gavin. " Ti.. tidak! aku tidak cemburu! kau ada ada saja berbicara seperti itu. " ucap Naura dengan senyum dipaksakan.


" Kenapa aku jadi tidak jelas begini. Toh bukan urusan ku, Gavin dekat dengan siapa saja. "


Gavin tergelak melihat kegugupan Naura. " Ah terlihat sekali kau berbohong. Kau pasti cemburu. Iya kan? mengaku saja! aku tau, aku ini sangat tampan tidak mudah untuk mu tidak menyukai ku. " ucap Gavin dengan begitu percaya diri.

__ADS_1


" Tidak! " seru Naura dengan kesal.


" Haha... ternyata diam diam kau sudah terpesona oleh ketampanan ku. " Gavin senang sekali menggoda Naura, apalagi pipinya sudah terlihat semerah tomat.


" Iya kan? "


" Tidak! "


" Pasti iya. " Gavin tak hentinya menggoda Naura.


" Tidak! aku bilang tidak ya tidak! menyebalkan sekali. " ucap Naura tanpa berbalik ke arah Gavin, dia tidak mau wajahnya yang menahan malu di lihat oleh Gavin. Naura meninggalkan Gavin begitu saja. Sedangkan Gavin tertawa puas sudah berhasil membuat Naura jengkel.


*


" Mario. " panggil Dinda.


" Iya bun, "


" Emm.. bunda hanya mau mengingatkan, bagaimana pun juga Putri masih saudara bunda. Tolong jangan sampai kau menyakitinya berlebihan apalagi sampai kau... " Dinda tadi sempat mendengar percakapan Mario den Rai di telfon. Dinda merinding saat mendengar Mario ingin menghabisinya.


Dinda tau betul, Mario tidak pernah main-main dengan ucapannya, apalagi Putri sudah menyakiti hati wanita yang sangat di cintai Mario. Tapi, Dinda tidak mau jika Mario sampai membunuh orang yang masih bersaudara dengannya.


" Bunda, dia sudah sangat keterlaluan. Jika di biarkan kemungkinan besar dia akan mengulangi nya lagi, dan Mario tidak ingin hubungan ku dengan Milly hancur hanya karena wanita sialan itu. " jelas Mario yang menolak keinginan Dinda.


" Bunda tau sayang, tapi masih ada jalan lain tanpa harus menghilangkan nyawanya. " air mata Dinda mulai berderai.


Melihat Bundanya menangis membuat Mario tidak tega. " Iya bunda, tapi jangan menangis lagi. " Mario mengusap air mata Dinda yang sudah membasahi pipinya.


Mario mengurungkan niatnya untuk pergi ke markas menemui Rai dan memilih menghubungi nya untuk memberitahu jika dirinya akan membatalkan rencananya.


" Halo Tuan. " suara Rai di sebrang sana.


" Rai, aku membatalkan rencana untuk wanita sialan itu. "


" Baik tuan, kondisinya semakin lemah karena sudah dua hari tidak makan dan minum. " jelas Rai.


" Baguslah. Aku senang mendengarnya menderita. aku tidak akan menghabisinya tapi aku akan membuangnya ke tempat yang sangat jauh. " seringai di wajahnya sangat menakutkan. " Kirim dia ke Afrika! "


" Baik tuan. "


*


" Bunda.. " Milly menghampiri Dinda yang sedang berada di dapur.


" Iya sayang, "


" Apa bunda melihat Mario? " tanya Milly.

__ADS_1


" Baru saja dia pergi. Sepertinya dia kembali ke kantor. " ucap Dinda tanpa menghentikan aktivitas nya yang sedang berkutat dengan adonan kue.


" Bunda sedang apa? " tanya Milly yang sudah berada di samping Dinda.


" Bunda sedang membuat kue Bronis. Apa kau juga menyukainya? " Dinda.


" Emm, Milly tidak suka karena kue terlalu manis. "


" Lalu apa kue apa yang kau suka, biar lain kali bunda buatkan khusus untuk mu. "


" Milly menyukai cheesecake bunda. "


" Owhh.. sama seperti Mike. dia juga menyukai cheesecake buatan bunda. Besok bunda buatkan yah. "


" Iya bunda. Emm... Bunda, apa ada yang bisa Milly bantu? " Milly ingin mencoba membuat kue seperti Dinda. Ibu mertuanya itu selalu jago dalam urusan dapur.


" Tidak usah, pasti kau akan mengacaukannya. " seru Mike yang baru saja datang.


Milly menoleh ke sumber suara itu, wajahnya geram ketika melihat Mike.


" Mike, tidak boleh bicara seperti itu. " ucap Dinda menasehati Mike agar berbicara sopan pada Milly.


" Itu memang kenyataan bunda, dia mana mungkin bisa, memasak air saja belum tentu bisa apalagi membuat kue? " cibir Mike seraya mengejek.


Ingin sekali rasanya mengumpat kasar pada Mike, tapi masih Milly tahan karena masih ada ibu mertuanya.


" Dasar kingkong! awas saja! tunggu pembalasan ku. "


" Lihatlah bunda, dia sangat cantik tapi tidak waras. " ucap Mike yang melihat bibir Milly komat kamit tanpa mengeluarkan suara.


" Kau!! " geram Milly.


" Mike. jangan membuat nya marah. " Dinda.


" Milly, jangan dengarkan Mike. dia memang seperti itu. " kali ini Dinda berucap pada Milly.


" Bunda, Milly mau ke kamar dulu. " Milly berpamitan pada Dinda, karena tidak ingin berlama-lama berada di dekat Mike.


Saat melewati Mike, Milly melebarkan kedua bola matanya yang nyaris keluar dari tempatnya, seraya memberikan peringatan pada Mike.


Sedangkan Mike justru mengerlingkan sebelah matanya dengan senyuman lebar, membuat Milly semakin geram.


*


*


*

__ADS_1


**VOTE!!


Bye.. bye**..


__ADS_2