
Milly dan Mario kini tengah berada di ruang keluarga untuk menghabiskan waktu bersama, bercengkrama, bermanja ria, saling bercerita hingga tujuan awal yang ingin menonton sebuah film action terlupakan.
Mario selalu saja mencuri kesempatan, dari yang menciumi wajah Milly tanpa henti, bermain di sekitar ceruk, hingga tangan yang tidak bisa diam menggerayangi tubuh Milly.
Milly sesekali mendorong tubuh Mario agar menjauh dari nya, perilaku Mario membuat Milly geli dan risih, karena Mario selalu ingin menempel pada tubuhnya seperti perangko hingga Milly kesulitan bernafas dengan lega.
Seperti saat ini, tangan Mario melingkar sempurna di perut Milly dan bibirnya tidak tinggal diam menyusuri leher jenjang Milly sampai bagian dada yang terekspos.
" Hubby.. hentikan, aku merasa geli. " ucap Milly.
" Aku juga tidak tau, kenapa aku tidak bisa menghentikan semua ini, berdekatan dengan mu membuat ku gila. aroma tubuhmu membuat ku candu. " ucap Mario tanpa menghentikan kegiatan nya.
" Kau ini mesum sekali! "
" Kau yang membuatku menjadi mesum. " tangan Mario kini turun kebawah mengelus pahha mulus Milly. " Sayang.. "
" Iya Hubby... "
" Apa masih sakit? "
" Sangat sakit, sampai aku tidak bisa berjalan. " gerutu Milly.
" Lalu kapan akan sembuh? aku sudah tidak tahan memasukinya kembali. " ucap Mario dengan suara parau, bibir Mario kini beralih mengecup ujung bibir Milly dengan penuh gairah.
" Mana ku tau, " jawab Milly sekenanya.
Melihat wajah Mario sangat dekat membuat Milly menatap lekat wajah suaminya, " Hubby.. " Milly menangkup pipi Mario, " Aku tidak percaya, kau sudah resmi menjadi suami ku. "
" Kenapa kau bicara seperti itu. " Mario.
" Apa kau tidak mengingatnya, dulu kau pernah menolak cinta ku. " Milly mengerucutkan bibirnya, sekilas bayangan waktu itu kembali menghiasi ingatannya.
" Jangan membahas nya lagi, aku pun sangat menyesal telah melukai hati mu, yang terpenting saat ini cinta ku hanya untuk mu. " Mario.
" Benarkah? jangan pernah kau menghianati ku, aku akan pergi meninggalkan mu jika benar melakukannya. " ucap Milly dengan ancamannya.
" Hei.. jangan berbicara seperti itu, aku tidak sanggup hidup tanpa mu, Jangan pernah berfikir untuk meninggalkan ku, Oke! " serunya. " Aku tidak akan pernah menyakiti hatimu apalagi mengkhianati mu. "
Milly mengangguk. " Lalu kapan kau mulai jatuh cinta pada ku? " tanya Milly penasaran.
" Kau mau tau? "
" Hem, katakanlah.."
" Waktu pertama kali aku melihat mu, entah kenapa aku sangat tertarik memperhatikan mu. "
Milly mengerutkan keningnya, " Pertama kali bertemu? "
Mario mengangguk.
" Dimana? di club itu? " Milly.
" Bukan, " Mario menggeleng. " Waktu kau bersembunyi di balik mobil ku, lalu kau dengan centilnya bercermin di jendela mobil ku. " jelas Mario.
Milly menutup mulutnya dengan telapak tangannya, " Jadi, kau ada di dalam mobil itu, "
__ADS_1
" Iya, itu pertama kali aku melihat mu, dan yang kedua kali, kau sangat manis ketika hujan membasahi wajahmu itu. "
" Aku tidak mengerti. "
" Waktu itu, saat gerimis kau membuka kaca mobil mu untuk melihat sebuah pelangi. Kau ingat? "
Milly menggeleng. " Aku lupa. "
" Yasudah lupakan saja, dan yang di club itu ketiga kalinya aku melihat mu. " jelas Mario.
" Cih, kau yang pertama tertarik pada ku tapi kenapa ku tega sekali menyakiti hati ku. " cibir Milly.
Mario tergelak, " Mungkin dulu aku terlalu gengsi untuk mengakuinya. "
" Menyebalkan!! "
" Tapi aku sekarang sangat mencintaimu. " Mario mendekatkan wajahnya ke arah Milly, mendaratkan ciumannya di bibir Milly, ciuman yang sangat lembut dan menuntut, Milly dengan reflek mengalungkan tangannya dan membalas ciuman itu agar lebih dalam.
" Ehkemmm... "
Suara deheman seseorang menghentikan aktivitas intim mereka.
" Putri. " pekik Milly. " Kau ada di sini? " tanya Milly.
" Maaf, mengganggu kalian. " Putri sudah sedari tadi memperhatikan keromantisan Mario dan Milly. Hingga tak tahan lagi saat melihat Mario mencium Milly dan memberanikan diri muncul di hadapan mereka.
" Tidak apa? apa kau sudah lama berada di mansion ini? " tanya Milly.
" Iya, tadi pagi aku baru sampai. "
" Oh.. "
" Apa kalian ingin makan siang bersama ku? kebetulan aku sudah memasak untuk makan siang kita. " Putri.
" Tidak! " seru Mario
Milly melirik ke arah Mario dan melebarkan matanya, mengisyaratkan agar Mario bersikap baik pada Putri.
" Maaf kan Mario putri, " Milly meminta maaf atas sikap Mario yang tidak sopan pada Putri. " Nanti kita akan makan siang bersama mu. "
" Tidak masalah. dan terimakasih karena telah sudi makan bersama ku. " ucap Putri sedikit melirik ke arah Mario. " Akan ku siapkan makanannya. "
" Kau jangan terlalu dekat dengannya, " ucap Mario setelah kepergian Putri.
" Memangnya kenapa? dia sangat baik pada ku. "
" Kau yang terlalu baik, sehingga tidak bisa melihat mana yang baik dan buruk, " ucap Mario sembari menyelipkan anak rambut kebelakang telinga Milly.
Milly tersenyum, " Jadi, apa kau siap menggendong ku pergi ke meja makan? "
" Tentu saja tuan Put---, maksud ku Ratu ku. "
" Apa besok kau sudah bisa berjalan? " tanya Mario pada Milly yang ada di gendongannya.
" Kenapa? apa kau lelah membawa ku ke sana kemari! " gerutu Milly.
__ADS_1
" Bukan begitu, kita harus segera pulang ke Indonesia, Daddy pasti mencemaskan mu. "
" Ah, benar juga, mereka pasti merindukan ku. "
" Kalau besok kau sudah bisa berjalan, secepatnya aku akan membawa mu pulang. bagaimana menurut mu? "
" Baiklah. "
Mario sangat cemas, jika Putri mengatakan yang tidak - tidak pada Milly, untuk itu Mario harus segera menjauhkan Milly dari Putri.
Dan juga Mike tentunya, untung saat ini Mike sedang di sibukkan dengan bisnis ilegalnya dan berada di Paris hingga waktu yang cukup lama.
***
Keesokan harinya karena keadaan Milly sudah lebih baik, Mereka memutuskan untuk pulang ke Indonesia.
Milly meminta Mario untuk pulang ke rumahnya terlebih dahulu sebelum tinggal di mansion kediaman keluarga Yamazaki.
Kedatangan Milly di sambut oleh beberapa pelayanan.
" Bi, dimana Daddy dan Mommy? " tanya Milly pada salah satu pelayanan yang sudah lama bekerja di rumahnya.
" Nyonya sedang berkunjung ke makam. " jawabnya.
" Oh.. terimakasih bi. "
" Sayang, Daddy dan Moji tidak ada? " tanya Mario.
" Mereka pergi ke makam oma dan kaka. "
" Maksud mu oma Renatta sudah.. "
" Iya, oma sudah lama telah tiada. " Milly.
" Dan siapa yang kau maksud dengan kaka? " tanya Mario.
" Ya kaka ku, lebih tepatnya saudara kembar ku. "
" Kau mempunyai saudara kembar? "
" Iya, apa aku tidak pernah bercerita pada mu? "
Mario menggeleng.
" Kaka ku meninggal saat dua hari setelah lahir ke dunia ini, " jelas Milly, terlihat kesedihan di raut wajahnya.
" Maafkan aku. " ucap Mario sembari memeluk istrinya.
" Tidak apa, kejadian itu sudah lama. Kami semua sudah merelakannya berada di sisi Tuhan. " ucap Milly.
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa beri dukungan kalian.
Bye.. bye..