Mengejar Cinta CEO

Mengejar Cinta CEO
Menyebalkan atau mengagumkan


__ADS_3

Lagi - lagi Mario di buat menganga melihat Milly memakan ice cream dengan mayonaise begitu lahap.


" Apa tidak aneh dengan rasanya. " Mario menggelengkan kepalanya tidak percaya.


" Hubby.. apa kau mau? " tanya Milly. Dengan cepat Mario menggeleng.


" Kalo tidak mau kenapa kau melihat ku seperti itu. " ucap Milly.


" Aku hanya tidak menyangka kau memakannya dengan sangat lahap. " Mario mengusap sekitar mulut Milly yang di penuhi icecream yang belepotan dengan ibu jarinya.


" Ini sangat enak, kau harus mencobanya.. "


" Tidak.. tidak.. aku tidak mau.. aku sudah kenyang. " Mario menolak dengan cepat.


" Apa kalian mau? " kali ini Milly bertanya pada Dutta dan Niken yang masih duduk disana setelah menemani Milly bermain monopoli.


" Tidak nona, terimakasih. " jawab Dutta, sedangkan Niken hanya menggelengkan kepalanya.


" Hubby.. kapan kau akan mengajak ku jalan - jalan dengan motor mu? " Milly menagih janji Mario yang akan mengajaknya jalan menggunakan motor.


" Hari minggu.. "


" Bagaimana kalau malam minggu saja, sekalian aku ingin menonton balap liar.. "


" Udara malam tidak baik untuk mu, apalagi naik motor. " jelas Mario.


" Yasudah kalau kau tidak mau, aku akan meminta teman ku saja untuk menemani ku. " ucap Milly dengan begitu cuek.


" Teman siapa yang kau maksud? "


" Siapa lagi menurut mu. Aku hanya memiliki tiga teman untuk datang di tempat seperti itu. "


Mario menghela nafas, " Apa pria sialan itu! " Mario masih ingat dengan jelas pria yang akan mencuri ciuman pertama Milly.


" Siapa yang kau maksud? Darren? Justin? "


Mendengar nama Justin membuat Niken tersedak ludahnya. Suara Niken membuat Mario tersadar jika dua sekertarisnya masih ada di dalam ruangan nya.


" Dutta, Niken.. kalian boleh kembali bekerja. "


" Baik tuan.. " Dutta.


" Baik Pak. "


Mario mengangguk.


" Baiklah aku akan mengajakmu ke tempat itu. " jawab Mario dengan pasrah, tidak mungkin Mario membiarkan istri tercintanya pergi dengan pria lain.


" Benarkah? terimakasih.. " Milly melebarkan senyumannya.


" Niken " panggil Milly yang melihat Niken masih di ambang pintu hendak keluar.


Niken membalikan tubuhnya. " Iya, nona.. "


" Kau, ikutlah dengan kami.. "


Niken mengernyit heran, " Saya..? " tunjuk nya pada diri sendiri.


" Hem.. aku mau kau juga ikut. aku tidak menerima penolakan. " ujar Milly.


" Baik nona. "


" Kenapa kau mengajaknya. " tanya Mario setelah Niken benar-benar pergi dari ruangannya.


" Agar Justin memiliki pasangan. "


" Oohh.. " Mario mengangguk mengerti.


*

__ADS_1


Gavin merasa Naura mendiaminya sejak di kantor. Saat makan malam berlangsung pun Naura begitu cuek padanya, biasanya dia akan cerewet sekali mengajaknya berdebat dengan masalah yang sepele.


Gavin masuk ke dalam kamarnya yang kini telah di tempati bersama Naura. Gavin melihat Naura duduk bersandar di atas ranjang sedang memainkan ponselnya.


" Ehemm.. " Gavin berdehem untuk menarik perhatian Naura, namun Naura diam saja tidak mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.


Gavin merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dia sengaja melebarkan kakinya dan kedua tangannya untuk mempersempit ruang Naura, agar Naura berkicau memarahinya.


Naura melirik ke arah Gavin yang tidak bisa diam, membolak balikan badannya, mengganggu ketenangannya.


" Cih.. tidak akan mempan. " Naura memilih beranjak dan berpindah duduk di sofa.


Gavin berdecak kesal karena Naura tidak bereaksi sesuai harapannya. " Apa dia masih marah pada ku? "


Gavin tidak habis akal, dia menyalakan televisi dengan volume yang sengaja di kencangkan dan duduk di samping Naura seraya mengangkat kakinya bertumpang pada paha Naura.


" Ck, bisa kau singkirkan kaki mu! " sergah Naura yang sudah tidak tahan dengan kelakuan Gavin. "


" Tidak bisa, aku ingin meluruskan kaki ku yang terasa pegal. kalo perlu kau bisa memijatnya, aku mengijinkan mu menyentuh kaki ku. " seru Gavin.


" Cih.. siapa yang mau memijat kaki mu. menyingkirlan! " Naura memenghalau kedua kaki Gavin yang bergeming di pahanya.


" Kasar sekali, aku ini suami mu. " jelasnya.


" Ck, suami " Naura berdecak. " Suami mana yang tega memarahi istrinya di depan orang banyak. " serunya.


" Oh.. jadi kau masih marah pada ku? " ucap Gavin.


" Sudah tau masih bertanya. " Naura mencebikkan bibirnya.


Gavin membenarkan posisi duduknya menghadap ke arah Naura. " Itu kan salah mu sendiri. kenapa kau meninggalkan dokumen penting. Jadi wajar saja jika atasan mu marah. Kau itu harus profesional dalam pekerjaan. Di rumah kau istri ku, di kantor kau tetaplah pegawaiku. " jelas Gavin.


" Oh.. begitu ya. " jawab Naura dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Iya, begitu saja kau tidak mengerti. payah! "


Naura mengangguk - anggukan kepalanya. Naura meraih remot televisi untuk mengecilkan volume dan mengganti chanel yang menyiarkan film romantis.


Pandangan Gavin pun teralihkan ke televisi, tanpa berkedip Gavin menikmati tontonan yang ada di depannya. Tanpa sadar gairahnya mulai bangkit meminta untuk segera di puaskan.


Melihat gelagat Gavin, Naura tersenyum evil.


" Naura.. apa kau ingin mempraktekannya? aku dengan senang hati membantu mu. " ucap Gavin dengan penuh harap. Egonya masih saja tak terkalahkan.


" Cih, dia yang mau tapi masih saja gengsi mengakuinya. selalu aku yang di jadikan alasan. "


" Naura.. " suara Gavin terdengar parau.


" Tidak! aku tidak menginginkannya. " Naura.


" Ck, tidak usah malu. katakan saja kau menginginkannya, iya kan? aku akan menolong mu " Gavin.


" Aku tidak mau. jangan memaksa ku. " Naura.


" Aku tidak memaksa mu " Gavin mengalihkan pandangannya. Sebisa mungkin Gavin menahan gairahnya.


" Yasudah aku ingin tidur. aku mengantuk. " Naura meninggalkan Gavin.


Gavin melihat pergerakan Naura yang melangkah begitu saja tanpa memperdulikan dirinya yang tengah gelisah menahan hasrat membuncah.


Gavin meremmas rambutnya dengan kasar, " Sial kenapa dia malah tidur. "


Suara desahan dari televisi membuat Gavin semakin bergairah dengan cepat Gavin mematikan televisi itu.


" Apa dia benar sudah tidur? " Gavin berjalan mondar-mandir tidak karuan sembari menatap Naura yang sudah rapat tertutupi selimut.


" Sial!! "


Gavin menghampiri Naura, " Naura.. Naura.. " Gavin menggoyangkan bahu Naura.

__ADS_1


" Kau ini berisik sekali!! " seru Naura.


" Apa kau benar tidak menginginkannya. "


" Tidak! "


Gavin mengusap wajahnya dengan kasar, demi hasrat nya agar segera tersalurkan, Gavin rela menjatuhkan harga dirinya. " Tapi.. aku ingin. "


Naura menyibakkan selimutnya mendengar Gavin mengakui keinginannya, tidak biasanya seperti itu, biasanya dia akan berkilah sesuka hati. Tapi kali ini Naura tidak akan membiarkan Gavin menang begitu saja setelah apa yang tadi pagi ia lakukan.


" Aku tidak mau! " serunya.


" Kau menolak ku!! "


" Iya "


" Kau sudah berani menolak ku! "


" Ini bukan di kantor jadi kau bukan atasan ku yang harus aku patuhi. "


" Kau!! " geram Gavin.


Naura tersenyum penuh kemenangan.


Gavin semakin di buat Gusar, tapi bukan Gavin namanya jika otak bisnisnya tidak berfungsi. Senyuman pun mengembang saat dirinya menemukan ide briliant nya.


" Oh yasudah kalau kau tidak mau.. " ucap Gavin seraya berjalan ke arah pintu dan meraih kunci mobil di atas nakas.


Naura mengernyit heran, " Mau kemana kau. "


Gavin tersenyum sebelum dirinya berbalik. " Kau menolak ku, jadi aku akan mencari yang tidak menolak ku. Aku kan sangat tampan, mudah bagi ku untuk mendapatkan apa yang ku mau. "


Naura membulatkan kedua matanya tidak percaya Gavin akan melakukan hal gila.


" Jadi, karena aku baik hati. " Gavin menjeda sejenak kalimatnya lalu menatap Naura. " Aku bertanya sekali lagi pada mu. "


" Mau atau tidak? " tanya Gavin dengan percaya diri.


" Aku menang lagi! enak saja, aku sudah mengakui keinginan ku, kau dengan tidak berperasaan menolak ku begitu saja. "


" Sial! jika aku menolak nya dia akan mencari perempuan di luar sana. "


" Iya.. iya.. " Naura menjawabnya dengan pasrah.


" Ck, kau gengsi sekali tidak mau mengakui keinginan mu! "


" Kau yang menginginkannya bukan aku! " Naura.


" Kau Gavin! "


" Sudah ku bilang kau! " Gavin.


" Aku bi-- "


" Ah.. sudahlah jangan banyak bicara! " seru Gavin yang sudah meninndih tubuh Naura.


" Kau itu menyebalkan sekali! " Naura.


" Menyebalkan apa mengagumkan? " Gavin menggoda Naura.


Naura tidak sempat ingin membalas perkataan Gavin, karena Gavin sudah memberikan ciumannya yang begitu memabukkan bagi Naura. Hatinya sangat kesal melihat Gavin yang dengan semaunya mempermainkan setiap lekuk tubuhnya, meski Gavin melakukanya dengan kelembutan.


Niat hati untuk mengerjai Gavin, malah dirinya yang di kerjai oleh Gavin. Hampir tiap malam Gavin menyentuh Naura dengan berbagai alasan yang memberatkan Naura, padahal dirinya yang menginginkan hal itu.


" Dia benar-benar pintar sekali dalam bisnis ataupun hal mesum seperti ini! " batin Naura sembari menatap Gavin yang sudah berada di atasnya memainkan dirinya dengan ritme tak tentu.


*


Gavin, Gavin.. ckckck lo bener2 yak! akal bulus lo tuh tingkat dewa bgt!

__ADS_1


*


Bye.. bye..


__ADS_2