Mengejar Cinta CEO

Mengejar Cinta CEO
Hanya souvenir


__ADS_3

Di dalam kamar, Gavin menunggu Naura yang sedang membersihkan diri di kamar mandi. Gavin memandangi sebuah kalung berlian yang sangat cantik, dia berniat memberikan nya pada Naura.


Kalung yang tidak ada duanya di dunia ini, karena Gavin sendirilah yang mendesainnya. Dengan liontin berinisial GN yang terkurung di sebuah gambar berbentuk hati, melambangkan nama kedua pasangan itu.


Gavin duduk di sebuah sofa sembari memikirkan rangkaian kata yang akan di ucapkan pada Naura tanpa mengurangi harga dirinya, Pria itu masih saja enggan mengungkapkan perasaan nya pada Naura.


Naura baru saja keluar dari kamar mandi lengkap dengan piyama tidurnya, dengan rambut yang terlihat masih basah dililit oleh sebuah handuk kecil yang menghiasi kepalanya.


" Naura.. " panggil Gavin.


" Iya.. " Naura menoleh ke arah Gavin.


" Kemarilah "


Naura yang hendak ke meja rias melaksanakan ritual malamnya sebelum tidur mengurungkan niatnya dan melangkah ke arah Gavin. " Ada apa? "


" Duduklah. " Gavin menepuk sofa di sebelahnya.


Naura menuruti Gavin dan duduk di sebelah Gavin.


" Ini. " Gavin menyodorkan kotak merah beludru ke arah Naura.


" Apa ini? " tanya Naura sembari menerima kotak itu.


" Buka saja, banyak bicara! " seru Gavin.


Kedua mata Naura berbinar saat melihat sebuah kalung silver di hiasi beberapa berlian yang sangat cantik. " Ini untuk ku? " tanyanya yang masih menatap kalung itu.


" Hem. "


" Kau membelikan ini untuk ku? " kali ini Naura melihat Gavin untuk menunggu jawaban pria itu.


" Tidak! itu hanya souvenir.. " Gavin.


" Souvenir? tapi sepertinya ini i kalung sangat mahal. " lirihnya, Naura tak hentinya mengamati kalung itu, dirinya benar-benar kagum akan keindahan kalung itu.


Saat membalikan liontin yang ada di kalung itu, au melihat sebuah inisial, " GN? " lalu Naura menatap Gavin yang seolah acuh, sibuk dengan ponselnya.


Padahal ekor matanya selalu mengawasi gerak-gerik Naura, seolah tidak mau kehilangannya kesempatan saat wajah Naura bahagia melihat kalung pemberiannya.


" GN? apa itu inisial kita? Gavin Naura. "


Naura tersenyum sendiri saat asumsinya membenarkan Gavin yang membelikannya, bukan sekedar souvenir.


" Sepertinya ini sangat mahal, aku bisa kaya mendadak jika menjualnya. "


Gavin membulatkan matanya tak Terima, susah payah dia membuatnya Naura dengan mudah berkata akan menjualnya.


" Kau!! jangan beraninya menjual itu! " serunya.


" Kenapa? ini kan hanya souvenir. " ucap Naura.


Gavin menghela nafasnya, " Apa kau begitu miskin sampai mau menjual kalung itu. Apa uang yang aku berikan padamu itu kurang? hem? "


" Bukan begitu, ini akan menambah uang tabungan ku, lumayan kan. Aku bisa menjualnya 10 juta. "


" Apa! enak saja kau mau menjual dengan harga murah. Bahkan kau menukar dengan ginjal mu saja tidak akan mendapatkannya. " seru Gavin.

__ADS_1


" Semahal itu? " pekik Naura.


" Hem. "


" 100 juta? " tanya Naura. Gavin menggeleng.


" 500 juta? " Gavin menggeleng lagi.


" 1 milyar. "


" Berisik sekali! kau akan pingsan jika tau harga kalung itu. " seru Gavin.


Naura menganga tak percaya. " Berapa? aku sangat penasaran. "


" Ginjal mu, jantung mu, ditambah kedua bola mata mu itu. Ya segitu baru cukup untuk membelinya. "


Naura bergidik ngeri. " Seram sekali, mana ada orang yang mau menjual organ tubuhnya hanya untuk sebuah kalung. "


Gavin menyentil kening Naura. " Kau itu bodoh! tentu saja menunggu tubuh mu kaku. "


" Kau menyumpahi ku mati! " Naura.


Gavin mendengus kesal. " Sudahlah berbicara dengan mu membuat ku selalu kesal. "


Naura kembali mengamati kalung itu, ia begitu tak menyangka jika kalung yang ada di tangannya itu sangat mahal.


" Memangnya kau mendapat souvenir ini darimana? kenapa bisa semahal itu. " celetuk Naura.


Skakmat!!


" Mau. "


" Sini aku Pakaikan. "


Gavin mengambil kalung itu dan memakaikan nya pada leher Naura.


Naura dengan sigap membalikkan tubuhnya lalu menyingkap rambutnya, sehingga leher putih mulusnya terlihat dengan jelas oleh Gavin.


Hanya karena melihat leher Naura, Gavin sudah di buat tergoda, hasrat nya mulai bangkit.


" Terimakasih. " ucap Naura yang membuyarkan pikiran kotor Gavin.


" Awas saja kalau sampai hilang! " peringatan Gavin.


" Dasar pria menyebalkan! souvenir? cih! kau terlalu gengsi mengatakan jika kau sendiri yang membelikannya. "


Naura sangat bahagia dengan pemberian Gavin, meski Gavin tidak mau mengakuinya. " Apa Gavin menyukai ku? ahh tapi tidak mungkin sekali. "


Naura tidak peduli dengan perasaan Gavin yang sebenarnya. Yang penting Naura merasa selalu bahagia jika dekat bersama Gavin, meski hanya ada pertengkaran di antara mereka.


Naura kembali membalikan tubuhnya tanpa mengalihkan pandangannya dari kalung yang telah melingkar sempurna di lehernya.


Naura tidak sadar jika wajahnya begitu dekat dengan Gavin, hembusan nafas Gavin menerpa wajah Naura membuat Gadis itu mengalihkan pandangan nya. Seketika tatapan mereka bertemu.


Perlahan Gavin mendekatkan wajahnya, saat itu juga Jantung Naura berdebar sangat kencang. Memang kedekatan seperti ini bukanlah yang pertama kali bagi mereka. Namun Naura kali ini merasakan hal berbeda, terutama jantung nya yang berdegup kencang.


Ciuman itu pun dimulai, saat Gavin dengan cepat meraup bibir Naura.

__ADS_1


" Apa kau sudah siap dengan janji mu itu? " ucap Gavin setelah menyudahi ciumannya. Gavin mengingatkan kesepakatan mereka.


" Janji apa? " Naura.


" Janji mu yang akan memuaskan ku. " jelas Gavin.


Naura mencibir. " Kau selalu saja ingat jika tentang itu. "


" Tentu saja, otak ku berfungsi dengan baik. "


" Kali ini aku belum bisa. "


" Kenapa? kau menolak ku lagi? "


" Bukan, aku kedatangan tamu bulanan. " jawab Naura.


Gavin yang mendengarnya nampak pasrah tak berdaya.


Naura pun beranjak dari duduknya berniat meninggalkan Gavin.


" Kau mau kemana? " Gavin menarik tangan Naura, sehingga tubuh Naura terhuyung dan terduduk di pangkuan Gavin.


Dengan cepat Gavin membenarkan posisi duduk Naura di pangkuannya agar nyaman.


Naura terlihat risih dengan posisi itu. " Gavin, turunkan aku. " pinta Naura. Namun Gavin semakin mengeratkan pelukannya.


" Kedatangan tamu bulanan bukan berarti tidak bisa melakukan hal lainnya bukan? "


Naura mengernyit " Apa maksud mu? "


Gavin meremmas buah dada Naura. " Aku akan membuatnya lebih menarik dari Alexandra Daddario mu itu. "


Naura membulatkan matanya saat Gavin dengan mudahnya meremmas benda sintal miliknya. " Apa maksud mu? " Naura menepis tangan Gavin.


" Tidak ada maksud aku hanya akan memberikan servis terbaik ku agar dia lebih menggoda. " Gavin kembali Meremmas itu.


" Gavin! apa kau tidak sadar. jika kita seperti ini. kita sangat mirip dengan sepasang kekasih. " ucapnya.


" Boleh jika itu mau mu. " Gavin.


" Kau ini! " pekik Naura saat Gavin menjawab dengan gurauan. " Sepasang kekasih itu saling mencintai tidak seperti kita. " terangnya.


" Kau terlalu banyak bicara! " Gavin menyingkap atasan Naura dan meraih benda kenyal itu, melahapnya dengan penuh nikmat, Naura pun terbuai oleh sentuhan Gavin.


Sepasang suami-istri yang belum resmi menjadi sepasang kekasih itu memadu kasih, menikmati belaian cinta.


*


*


*


Udah yak. ini up ke 2 hari ini. lunas sudah janji ku.


jangan lupa berikan dukungan kalian.


Bye.. bye..

__ADS_1


__ADS_2