
Keesokan harinya, Gavin dan Naura memutuskan pulang ke mansion, mengingat nanti sore Gavin akan terbang ke Paris untuk honeymoon pertama mereka.
Sebenarnya Naura sangat malas sekali, tidak ingin beranjak dari ranjangnya. Tubuhnya terasa lunglai untuk di gerakkan, Gavin benar menghabisinya untuk menuntaskan hasratnya yang begitu tinggi.
Setelah sopir datang menjemput, mereka langsung meninggalkan vila itu, vila yang menjadi saksi bisu pengakuan cinta Gavin pada Naura.
Di dalam perjalanan pun, Naura tertidur pulas di dada kekar Gavin. Gavin dengan senang hati memberikan sandaran untuk Naura, sesekali mengecup pucuk kepala Naura, menyalurkan rasa sayangnya.
Sesampainya di mansion pun, Naura masih tertidur pulas membuat Gavin menggendong nya untuk masuk ke dalam, karena Gavin tidak tega membangunkan Naura yang terlihat lelah.
" Dad.. " Gavin menghampiri Brian yang sedang berada di ruang kerjanya setelah menidurkan Naura di kamar mereka.
" Hem. " jawab Brian tanpa menoleh ke arah Gavin.
Jia masuk ke dalam ruangan itu dengan membawakan secangkir kopi untuk suaminya. " Kau sudah pulang sayang? " tanya Jia pada Gavin.
" Baru saja pulang mom. "
" Dimana Naura? " tanya Jia sembari meletakkan secangkir kopi di meja kerja Brian.
" Terimakasih sayang.. " Brian dengan senyum lebarnya.
" Naura masih tidur mom, sepertinya dia kelelahan. " Gavin.
Jia terkekeh, " Itu pasti karena ulah mu. "
" Dad, mom.. Gavin dan Naura sore ini akan terbang ke Paris. " jelas Gavin.
Brian menghentikan aktifitas nya lalu menoleh ke arah Gavin. " Untuk apa? bukannya tidak ada pekerjaan di Paris untuk bulan ini? "
" Bukan pekerjaan Dad, kami pergi untuk honeymoon. " jelas Gavin.
" Kalian mau pergi honeymoon? mommy senang mendengarnya, jika kalian pulang berikan mommy cucu.. " Jia terlihat senang mendengar putranya sudah berbaikan.
" Tidak bisa! " seru Brian.
" Memangnya kenapa Dad? " tanya Gavin yang tidak menyangka jika Brian tidak mengijinkan nya.
" Iya Kapten.. kenapa kau tidak mengijinkan Gavin pergi bersama Naura? " Jia.
Brian menghela nafas lalu menatap ke arah istrinya. " Apa kau lupa sayang.. kita juga akan ke Paris malam ini. "
" Oh iya, aku lupa Kapten. " Jia.
" Memangnya Dad dan mom ada acara apa pergi ke Paris? " Gavin.
__ADS_1
" Berlibur. " ucap Brian dengan santai lalu kembali menatap layar laptop nya.
" Ck, kalian ini sudah tua tidak mau mengalah pada ku.. aku pikir ada pekerjaan penting. " gerutu Gavin.
" Yasudah kita mengalah saja Kapten.. biarkan Gavin dan Naura yang pergi. " Jia.
" Tidak bisa! " seru Brian, dari dulu sampai sekarang jika menyangkut acara spesial dengan istrinya, Brian tidak mau di ganggu sedikit pun.
" Dad.. please.. " ucap Gavin dengan memelas.
Brian diam tidak mau menjawab, karena keputusannya tidak akan pernah berubah.
" Daddy menyebalkan sekali! tidak mau mengalah! padahal daddy dan mommy sudah terlalu tua untuk pergi berbulan madu untuk yang sekian ratusnya. " gerutu Gavin.
" Justru dimasa tua ini, kita akan sering menghabiskan waktu bersama. " jelas Brian. " Lagi pula kau akan Daddy tugaskan mengerjakan proyek baru di Sumba. "
" Come on Dad, aku ingin berlibur sebentar, setelah itu Gavin janji akan segera membereskan proyek di Sumba. " Gavin tidak akan menyerah begitu saja dan gagal pergi ke Paris bersama Naura.
" Kau bisa bekerja dan berbulan madu di waktu yang sama, ajak Naura juga. Resort kita sangat bagus untuk bulan madu kalian. "
" Please dad, aku sudah membeli dua tiket pesawat untuk terbang ke Paris. " Gavin.
" Tiket? " seru Jia. " Sejak kapan kau membeli tiket untuk berpergian ke luar Negeri? " Jia merasa heran dengan Gavin, pasalnya kemana pun dia pergi pasti akan menggunakan jet pribadi.
Gavin terkesiap dan baru sadar akan hal itu, dirinya juga merasa heran kenapa waktu itu menyuruh bawahannya membelikan tiket, padahal selama ini dia selalu pergi dengan jet pribadi keluarga Nugroho.
" Kau itu benar-benar mirip Daddy mu, terlihat bodoh jika soal cinta. " Jia.
" Sayang.. aku tidak bodoh, aku hanya terlalu mencintai mu. " ucap Brian tak terima.
Jia memutar bola matanya malas. " Terserah kau saja.. " Jia meninggalkan ke dua pria itu yang masih berebut berangkat ke Paris.
Jia sudah tau pasti siapa yang akan menang, tentu saja suami tercintanya. Brian memang tidak lagi muda, namun tidak berkurang sama sekali Hasratnya yang selalu ingin menghabiskan waktu berdua dengannya.
Dengan berat hati, Gavin pun menuruti kemauan Brian untuk bekerja sembari berbulan madu. Sangat sulit untuk mengalahkan kemauan Brian.
Jika untuk bersama Jia, Brian selalu egois meski terhadap anaknya sendiri.
*
Di mansion keluarga Yamazaki.
Mario tengah berenang di temani oleh Milly. Milly duduk di tepi kolam renang melihat suaminya sedang asik bermain air, sedangkan kedua kakinya bergerak kesana kemari ikut bermain air.
Sesekali Mario menghampiri Milly untuk menerima suapan sepotong buah apel dari Milly.
__ADS_1
" Hubby.. apa masih lama berenang nya? " tanya Milly sembari menyuapi Mario. Sungguh pemandangan yang romantis bagi siapapun yang melihat mereka.
Mario melebarkan kedua kaki Milly, sedangkan dirinya masuk ke celah itu tanpa beranjak dari kolam renang. Mario merengkuh pinggang Milly agar lebih dekat dengan nya. Kepalanya mendongak agar melihat wajah cantik istrinya.
" Sebentar lagi.. " ucap Mario. " Sayang.. kau terlihat cantik sekali. " Mario membelai wajah Milly. "
" Aku tau hubby.. aku ini anak Daddy dan mommy.. sudah pasti aku cantik. Seperti anak kita nanti.. dia pasti akan cantik dan tampan seperti kita. " jelas Milly dengan menangkup wajah Mario, lalu mengecup bibir Mario.
Mario terkekeh, " Kau benar sekali sayang.. " Mario mencubit gemas hidung Milly.
Lalu mendekatkan wajahnya ke Milly, menjangkau bibir Milly yang sedari tadi menggodanya. Mereka pun tenggelam dalam ciuman panas di tepi kolam renang.
" Sayang.. sepertinya sangat menyenangkan jika kita bercinta di sini. " bisik Mario saat ciuman mereka terlepas. Mario selalu saja bergairah jika berdekatan dengan Milly.
" Kau ini! " Milly menepuk bahu Mario. " Tidak ingat jika di rumah ini bukan hanya kita saja yang tinggal. " jelas Milly.
Mario terkekeh, " Kau benar, tapi jika hanya bermesraan tidak masalah bukan? "
Sebelum menjawab, Milly memutar kepalanya mengamati ke adaan sekitar.
" Tidak ada siapapun sayang.. " ucap Mario yang mengerti maksud Milly.
" Tapi, bisa saja mereka tiba-tiba datang dan melihat kita. "
" Tidak ada! " Mario menyambar bibir Milly dengan rakus, Milly pun membalas ciuman itu.
Ciuman Mario begitu liar, membuat Milly mencengkram kuat punggung polos Mario. Bukan hanya itu yang Mario lakukan, tangannya tanpa ragu meremmas kedua gundukan Milly. Ciumannya pun turun ke bawah, Milly semakin mendesah nikmat menerima sentuhan Mario. Mario tidak lagi memperdulikan tempat dimana sekarang berada.
Tanpa mereka sadari, seseorang melihat semua itu, membuat hatinya tersayat dan merasa ngilu begitu hebat.
Mike yang sedang menikmati weekend di rumah, tidak sengaja melihat kemesraan Mario dan Milly, saat Mike akan pergi ke dapur untuk menemui Dinda. Sungguh Mike baru pernah merasakan hatinya sesakit ini karena cinta.
*
Sabar Mike.. 🤗🤗
*
*
*
JANGAN LUPA BERIKAN DUKUNGAN KALIAN
LIKE, KOMEN, VOTE..
__ADS_1
VOTE YANG BANYAK!!
BYE.. BYE..