
Seusai mandi, Gavin berdiri di depan cermin mengamati punggungnya yang terasa sangat perih, berusaha menjangkau pandangannya ke arah punggungnya dengan bantuan cermin.
" Banyak sekali.. " gumamnya saat melihat banyak luka cakaran di punggungnya. Bibirnya tersenyum puas saat mengingat pergulatan semalam bersama Naura, di liriknya Naura masih tertidur pulas di ranjang dengan berbalut selimut.
Gavin menghampiri Naura, duduk di tepian ranjang. Di lihatlah wajah cantik Naura dengan mata masih terpejam. Gavin menyelusuri setiap inci wajah wanita itu, membuat sang empunya sedikit terusik namun masih enggan untuk membuka kedua matanya.
Gavin mengurungkan niatnya untuk membangunkan Naura, " Sepertinya dia sangat lelah. "
Gavin meninggalkan Naura yang masih tertidur. Dia akan sarapan terlebih dahulu baru akan membawakan untuk Naura.
" Mom, Dad.. " pekik Gavin yang melihat kedua orang tuanya tengah menikmati sarapannya di restoran yang tersedia di hotel itu. " Kalian masih disini? "
" Iya, Mommy mu mengajak Daddy menginap disini. " jawab Brian yang mendapat cubitan kecil dari Jia. " Aww.. sakit sayang. "
" Kau yang mengajak ku menginap disini. " sela Jia.
Brian tergelak, " Iya. iya.. tapi kau tidak menolak kan? "
" Bagaimana malam mu Gavin? " tanya Jia pada Gavin tanpa memperdulikan Brian.
" Sangat lelah. " jawab Gavin tanpa tau maksud dari pertanyaan mommy nya.
Jia tersenyum mendengar jawaban Gavin. " Lalu dimana Naura? "
" Dia masih tertidur. " ucap Gavin sambil memainkan ponselnya.
" Apa Naura tidak bisa berjalan karena ulah mu. " bisik Jia.
Gavin seketika menghentikan kegiatannya mendengar pertanyaan dari mommy nya.
" Sayang.. kenapa kau bertanya seperti itu. " sela Brian yang sedari tadi hanya mendengarkan sambil menyantap sarapan paginya. " Itu hal yang privasi. "
" Aku hanya ingin tau saja " Jia mencebikkan bibirnya. " Apa anak mu ini sebuas dirimu seperti malam pertama kita dulu. " seru Jia.
" Sayang. " ucap Brian memperingati agar Jia tidak berbicara lebih jauh lagi mengenai hal pribadinya di depan putranya.
" Iya.. iya.. " Jia.
Gavin sudah mulai jengah mendengar percakapan kedua orang tuanya itu yang tanpa sadar selalu mengumbar kemesraan mereka.
__ADS_1
" Gavin apa semalam kau berubah menjadi hulk? " Jia masih saja penasaran dengan kegiatan putranya dan menantu barunya.
" Please mom, Aku tidak mengerti apa yang mommy katakan. " kesal Gavin.
" Iikhh kau ini pelit sekali berbagi cerita dengan mommy. " gerutu Jia. " Ayo cerita kan sedikit saja pada mommy. "
Gavin di buat kesal dengan mommy nya, sebelum menjawab Gavin menghela nafasnya dalam. " Mom, aku ini putranya Daddy, tentu saja aku sangat mirip dengan Daddy, jadi mommy tidak perlu menanyakan hal itu lagi. " Gavin berdiri dari duduknya. lebih baik di pergi menghindari mommy nya jika tidak ingin mendapat pertanyaan konyolnya.
" Aku duluan mom, dad. " pamit Gavin. Yang di angguki oleh Brian tapi tidak dengan Jia.
" Kapten.. apa benar Gavin seperti dirimu. "
" Tentu saja dia itu putra ku. " Brian.
" Kasihan sekali Naura, pasti dia sangat kesakitan. " Jia mengingat dirinya waktu merasa sakit setelah malam pertamanya dengan Brian.
" Kenapa kau kasihan? memangnya apa yang Gavin lakukan. "
" Ck, kau tidak mengingatnya, dulu kau membuat ku susah berjalan sampai dua hari. " pekik Jia yang merasa kesal.
" Kau dan Naura sangat berbeda. " seru Brian.
" Berbeda? " ulang Jia.
" Oh.. " Jia.
" Astaga.. bagaimana dengan Milly ku? aku belum sempat menanyakannya. apa dia juga mengalami seperti ku? aku harus segera menanyakannya." Batin Jia.
Saat Jia larut dalam pikiran nya Milly dan Mario menghampiri mereka.
" Mommy.... daddy.... " Milly berhambur memeluk kedua orang tuanya.
" Kau juga ada di sini. " tanya Jia.
" Iya Mommy. Mario mengajak ku bermalam disini. " Milly segera mendudukkan diri di sebrang Jia dan Mario duduk di sebelah Milly bersebrangan dengan Brian.
Pandangan Jia tertuju pada leher jenjang Milly, Jia bisa melihat dengan jelas beberapa kissmark tercetak disana, lalu berganti menatap ke arah Mario.
" Apa Mario selalu menyiksa Milly ku setiap malam? " batin Jia.
__ADS_1
Brian membuyarkan lamunan Jia dengan menepuk bahu Jia, seolah tau apa yang sedang istri tercintanya pikirkan. " Hapus pikiran kotormu. " bisik Brian.
" Moji, ada apa dengan mu? apa moji baik-baik saja. " tanya Mario yang melihat Jia diam dalam lamunannya.
" Ehh.. tidak apa Sean. " ucap Jia.
" Sayang, maaf Daddy dan mommy harus pergi, tidak bisa menemani kalian sarapan. ' Brian.
" Iya Dad, tidak apa.. tenang saja ada Mario yang selalu menemani ku. "
Brian sengaja berpamitan, karena tidak mau melihat Jia memberikan pertanyaan konyol pada Putri dan Menantunya.
" Kapten.. kenapa buru-buru sekali. " seru Jia yang tidak mau pergi.
" Ayo sayang.. temani aku. " Brian.
" Tapi kapten, ada hal penting yang ingin ku tanyakan. " lanjut Jia.
Brian menghela nafasnya. " Kau mau membantah ku. " ucap Brian dengan suara dinginnya.
Jika suara menyeramkan itu keluar dari mulut Brian, Jia tidak bisa membantah lagi. " Yasudah ayo.. kau memang sangat menyebalkan. " Jia pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu pada Milly dan Mario.
" Milly, Sean.. daddy pergi dulu. "
" Iya Dad. " ucap Milly dan Mario bersamaan.
*
Di dalam kamar, Naura yang baru bangun dari tidurnya merasa sedih karena tidak mendapati Gavin di kamarnya.
" Habis manis sepah di buang. " gumamnya.
Naura perlahan bangkit dari duduknya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Pikiran nya kemana-mana mengingat Gavin yang sudah merenggut mahkotanya tanpa di dasari rasa cinta.
" Auww.. perih sekali, sialan kau Gavin! " umpat nya kesal.
*
*
__ADS_1
*
Bye.. bye..