
" Gavin! tunggu aku.. " teriak Naura sembari menjinjing gaun panjangnya yang sangat lebar untuk memudahkan melangkah. Gavin berjalan terlebih dulu tanpa menunggu Naura yang sedang kesusahan berjalan karena gaunnya.
" Kau lambat sekali seperti siput! " gerutu Gavin tanpa memperlambat langkahnya. Dia terus berjalan menuju kamar yang sudah di persiapkan oleh kedua orang tuanya.
Naura mendengus kesal karena Gavin tidak memperdulikannya. Dia pun berjalan malas tidak ingin lagi menyamakan langkahnya dengan langkah Gavin.
Gavin menghentikan langkahnya saat kicauan Naura tidak terdengar lagi. Dia membalikan tubuhnya, dan benar saja Naura sudah tertinggal jauh di belakang sana.
Gavin menghela nafasnya dalam kemudian dia menghampiri Naura lalu tanpa aba-aba Gavin menggendong Naura ala bridal style.
" Aww... " pekik Naura ketika merasakan tubuhnya melayang. Dengan cepat Naura mengalungkan tangannya ke leher Gavin agar tidak jatuh.
Naura merasa heran dengan Gavin, kenapa tiba-tiba dia baik padanya, bukannya tadi dia tidak peduli padanya.
" Jangan terlalu lama memandangku, nanti kau bisa jatuh cinta. " ucap Gavin yang melihat Naura tengah memperhatikannya.
" Cih! " Naura membuang muka ke sembarang arah. " Percaya diri sekali! "
Setelah sampai di kamar mereka, Gavin tanpa ragu melempar tubuh Naura ke ranjang yang sudah di penuhi kelopak bunga.
" Gavin! " pekik Naura. meski dia tidak merasa sakit sedikit pun tapi perlakuan Gavin membuatnya kesal.
" Aku mau mandi! " ucapnya tanpa memperdulikan pekikan Naura. Gavin berlalu begitu saja ke arah kamar mandi.
Naura memandangi sekeliling ruangan itu, ruangan yang sudah di sulap menjadi kamar pengantin pada umumnya. Kelopak bunga di mana-mana, lilin beraroma, cahaya lampu yang temaram membuat suasana begitu romantis.
" Kamar yang sangat indah. " ucap Naura. Dia tidak mau berfikir terlalu jauh, karena sangat sadar diri mereka menikah karena desakan orang tua. Naura beranjak dari ranjang dan ingin melepaskan gaun pengantinnya yang sangat rumit itu. Karena tidak bisa melepaskan sendiri tanpa bantuan orang lain, Naura memutuskan untuk menunggu Gavin, berharap Gavin akan membantunya.
Ceklek... pintu kamar mandi terbuka.
Gavin keluar dengan tubuh yang terlihat lebih segar, dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya, membuat sadar bidang nan kekar itu terekspos. Rambut yang terlihat masih basah membuat pesona Gavin bertambah sexy.
Naura melihat Gavin tanpa berkedip. Pemandangan yang baru pertama kali ia lihat. Naura bisa dengan jelas melihat dada kekar itu yang sempat ia hina kurus kering.
" Apa yang kau lihat! " seru Gavin.
Naura dengan cepat menggelengkan kepalanya. " Ti.. tidak! "
" Tidak mau mengaku! bilang saja kau mengagumi tubuh ku ini kan? mengaku saja! "
Lagi-lagi Naura membuang muka, dia tidak mau Gavin melihat pipinya yang sudah memerah menahan malu karena tertangkap basah telah memperhatikan tubuh suaminya.
__ADS_1
" Apa kau tidak mau mandi! cepatlah, bau mu menyengat menusuk hidungku. " cela Gavin.
" Emm... aku.. aku.. " Naura ragu mengatakan jika dirinya butuh bantuan untuk melepaskan gaunnya.
Gavin mendekat ke arah Naura, membuat Naura semakin gugup di buatnya, jantungnya pun berdegup kencang saat Gavin sudah berdiri di dekatnya, apalagi Gavin hanya mengenakan handuk.
" Mau apa kau? " tanya Naura.
" Berdirilah dan berbalik! " ucap Gavin.
Naura bergeming, dia masih diam terduduk di tepi ranjang.
" Bukannya kau butuh bantuan ku untuk membuka gaun mu itu. "
" Ah.. iya.. " Naura pun berdiri lalu berbalik memunggungi Gavin.
Gavin membantu Naura menurunkan resleting yang ada di punggung Naura. Perlahan resleting itu turun hingga ke batas pinggang, memperlihatkan punggung putih mulus milik Naura, Gavin menelan salivanya dengan kasar.
Gairahnya membuncah begitu saja hanya melihat punggung Naura, pikiran liarnya pun sudah menjalar kemana-mana, membayangkan dirinya menarik gaun Naura dengan satu tarikan, sudah bisa di pastikan gaun yang Naura pakai akan melorot ke lantai dan menunjukkan pemandangan yang luar biasa.
" Apa sudah? " seru Naura yang membuyarkan pikiran kotor Gavin.
" Ah.. iya.. " jawab Gavin.
Sedangkan Gavin terdiam, " Shitt! " umpat nya kesal. Bagaimana pun Gavin seorang pria yang normal, berada satu kamar dengan lawan jenis membuatnya stress jika tidak melakukan apapun.
Gavin berjalan mondar-mandir memikirkan cara agar dirinya bisa mendapatkan Naura malam ini juga, tanpa harus merendahkan harga dirinya. Tidak mungkin bukan? Gavin mengatakan langsung jika dirinya menginginkan Naura, itu akan sedikit mempermalukan dirinya.
Seringai licik terlukis di wajah Gavin, dia mendapatkan cara jitu untuk mendapatkan Naura, usahanya berpikir keras sedari tadi akhirnya membuahkan hasil.
Gavin dengan cepat memakai pakaiannya, dan duduk di tepi ranjang sembari memainkan ponselnya.
Seperti dugaan Gavin, Naura keluar dari kamar mandi sudah lengkap memakai pakaian tidurnya. Pakaian yang jauh dari kata sexy, pakaian tidur yang berhasil menutup semua lekuk tubuh Naura.
Naura berjalan pelan ke arah ranjang lalu mengambil satu bantal dan guling.
" Mau di bawa kemana bantal ku! " seru Gavin.
" Aku mau tidur di sofa saja. " ucap Naura.
" Kenapa kau membawa bantal ku, kau mau tidur di sofa ya tidur saja. " Gavin mulai mengeluarkan kemampuan actingnya.
__ADS_1
" Aku hanya mengambil ini, lagi pula itu masih banyak. " Naura menunjuk ke arah bantal yang masih tersisa banyak di ranjang.
" Kau lupa, kamar ini semua di bayar memakai uang ku! jadi, semua yang ada di kamar ini milik ku. termasuk bantal yang kau pegang. " Gavin.
" Gavin! semenjak kapan kau jadi pelit hanya karena bantal! " seru Naura.
Gavin hanya mengedikkan kudua bahunya, " Tidak mau tau, balikan bantal ku! "
Dengan kesal Naura melempar bantal itu tepat di wajah Gavin. " Rasakan ini! "
Dengan cepat Gavin menghindar, " Kau itu galak sekali! aku akan berikan bantal ku jika kau mau tidur disini. " Gavin menepuk kasur empuk itu, tepat di sebelahnya.
" Tidak mau! " seru Naura.
" Kenapa? bukan kah kau sekarang istri ku? "
Naura menyipitkan kedua matanya menatap Gavin, " Jangan bilang kau mau aku melakukan seperti yang ada di otak kotor mu itu. "
Gavin terlihat gelagapan karena Naura bisa menebak dengan mudah jalan pikirannya. " Ti.. tidak.. "
" Lalu? "
Gavin terdiam nampak berfikir dulu. Bukan Gavin namanya kalo otak cerdasnya tidak berfikir dengan cepat untuk mendapatkan sebuah ide brilliant. " Cih! kau terlalu percaya diri Naura, aku tidak tertarik pada tubuh mu yang seperti lembaran kertas. "
" Apa! kau bilang apa! " pekik Naura yang tak Terima tubuh idealnya di hina.
" Apa kau tuli! " ucap Gavin dengan cuek.
" Seenaknya saja kau menghina tubuhku yang seperti Alexandra Daddario ini. " Naura menyombongkan diri.
" Cih, Alexandra Daddario itu mempunyai tubuh yang sangat sexy, dadanya begitu menggoda apalagi bokongnya yang sangat menggemaskan. Sangat jauh di bandingkan mu. " seru Gavin.
" Aku juga mempunyai dada yang besar. " Naura menangkup kedua dadanya dengan telapak tangannya. " Bokong ku juga sangat indah
" Naura sangat kesal dan tak Terima tubuhnya di samakan dengan selembar kertas.
Dalam hati Gavin, dia bersorak ria karena Naura perlahan masuk ke dalam perangkapnya. Tinggal beberapa langkah lagi, semua akan sukses.
*
Guys segitu dulu yak.. besok lanjut lagi 🤣🤣
__ADS_1
*
Bye.. bye..