
Ketiga pasangan suami-istri itu melakukan perjalanan dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajah mereka.
Mereka mengendarai mobilnya masing-masing tanpa adanya supir. Mario dan Gavin memegang kendali kemudi di mobil mereka. Berbeda dengan sepasang suami-istri yang satu ini, yang bukan lain Mike dan Elia.
Elia menguasai penuh mobil sport yang belum lama sah menjadi miliknya, karena memenangkan pertandingan dengan Mike, meski melakukan sedikit kecurangan kala itu.
Elia berteriak kencang mewakili rasa bahagianya, teriakan Elia terbawa oleh angin yang kondisi atap mobil terbuka.
Mike hanya tersenyum tipis melihat kelakuan Elia yang terlihat seperti anak kecil.
" Kenapa kau tertawa Mike? " Elia melirik ke arah Mike.
Mike terkekeh. " Kau seperti anak kecil.. " ucapnya.
" Kau lupa, aku memang masih muda tidak seperti mu yang sudah tua. bahkan usia kita terpaut belasan tahun. " jelas Elia.
Wajah Mike berubah menjadi masam mendengar ucapan Elia.
" Harusnya aku memanggil mu uncle.. he.. he... " cengiran Elia membuat Mike semakin kesal.
" Tapi aku masih tampan melebihi oppa oppa mu itu. " ucap Mike dengan sombong membandingkan dirinya dengan pria yang selalu memenuhi layar ponsel Elia saat malam hari.
Elia memutar bola matanya malas, " Iya.. uncle Mike.. "
" Ck, tapi kau suka kan dengan permainan uncle ini di atas ranjang. " seloroh Mike dengan senyum mesumnya.
" Cih. " Elia hanya berdecih, tidak mengakui atau menyanggahnya. Karena wanita itu pun menyukai permainan Mike meski tubuhnya selalu tumbang setelah itu.
*
" Sayang.. kenapa mereka merecoki liburan kita? " ucap Gavin yang baru tau jika dua pasang suami-istri ikut serta saat akan berangkat menuju vila. Ada rasa kesal karena kebersamaannya dengan Naura akan terganggu.
" Mommy yang meminta mereka untuk ikut agar kita tidak bosan. " ujar Naura.
Gavin mendengus. " Justru kehadiran mereka yang akan membuatku bosan. " rasanya Gavin tak rela.
__ADS_1
" Sudah, jangan seperti itu. " bujuk Naura. " Kita jalani saja pasti akan menyenangkan. "
Gavin terlihat pasrah menerima kehadiran dua pasangan suami-istri yang ikut menemaninya berlibur di vila. Gavin hanya bisa berharap dengan kehadiran mereka tidak mengganggu acara romantis nya bersama Naura.
Setelah menempuh jarak yang lumayan dan menghabiskan waktu perjalanan selama dua setengah jam, Ketiga mobil mereka berhenti di halaman vila yang begitu besar.
Vila baru milik Jiandra, pemberian dari papa Jody, opa dari Milly dan Gavin. Mereka langsung masuk ke dalam vila itu.
" Wah.. besar sekali.. " ujar Naura yang begitu kagum saat melihat kemewahan vila itu.
" Iya.. ini sangat bagus.. " timpal Elia.
" Ck, aku akan membelikan mu yang lebih bagus dari ini. " ucap Mike sembari memeluk Elia dari belakang. " Ingat suami mu ini juga sangat kaya. " bisik Mike di telinga Elia, yang membuat Elia bergidik geli karena hembusan nafas Mike menerpa kulitnya.
Gavin melirik tidak suka melihat keromantisan Mike dan Elia. Rasa gengsinya timbul, ini liburannya! kenapa mesti dia yang melihat keromantisan orang lain? bukan sebaliknya.
" Sayang.. jika kau suka aku akan memberikan vila ini untuk mu. " ujar Gavin lalu memberikan kecupan di bibir Naura, tidak lupa tangannya melingkar posesif di pinggang Naura, seakan menunjukan hanya dirinyalah pria teromantis.
Naura tersenyum. " Terimakasih sayang.. "
Seketika keromantisan yang di ciptakan Gavin hancur, karena Mike sudah terkekeh menertawakan Gavin.
Gavin berdecak kesal dengan kelakuan adiknya. Inilah yang dia takuti, kebersamaan dengan Naura akan terganggu.
" Iya.. iya.. " ucap Gavin. Naura mengelus punggung Gavin memberi dukungan. Jika bukan adiknya, tentu saja Gavin akan mencuap-cuap meluapkan kekesalannya.
" Kau tidak perlu memberikan apapun pada ku, aku tetap akan mencintaimu. " Naura memberi kecupan di pipi Gavin, membuat pria itu mengembangkan sebuah senyuman.
" Honey.. jangan marah-marah... ingat baby kita. " Mario mengelus perut buncit Milly.
" Hehe.. iya.. aku lupa. " Milly.
Setelah berkeliling ke seluruh ruangan, saatnya mereka memilih kamar mereka masing-masing.
Mario dan Milly menempati kamar utama yang terdapat di lantai satu, mengingat Milly tengah mengandung jadi di usahakan tidak naik turun tangga, yang akan menimbulkan resiko tidak di inginkan.
__ADS_1
Sedangkan Gavin dan Mike menempati kamar yang terdapat di lantai dua.
" Sayang.. bersiaplah malam ini. " bisik Mike pada Elia dengan suara yang begitu menggoda saat mereka berjalan menuju ke kamar. Dan Gavin yang berjalan di belakang mereka mendengar ucapan sepasang suami-istri itu.
Gavin tak mau kalah. " Baby.. malam ini kau harus menyiapkan tenagamu untuk bertempur dengan ku. " Gavin sengaja mengencangkan suaranya agar Mike mendengar.
Naura mengerutkan keningnya, " Baby? " ulang Naura yang baru pertama kali mendengar Gavin memanggilnya dengan sebutan Baby.
" Iya.. Baby.. kita akan melakukan beberapa ronde malam ini. " ujar Gavin seromantis mungkin.
" Gavin, pelankan suaramu.. malu jika mereka mendengarnya. " bisik Naura lalu melirik ke arah Mike dan Elia. " Dan sejak kapan kau mengubah penggilan untuk ku. "
Gavin berdecak kesal melihat Naura yang tidak peka di ajak kerjasama untuk mengumbar keromantisan di depan Mike dan Elia.
Mike tersenyum sinis, " Sayang.. ayo masuk, aku sudah tidak sabar mencoba ranjang kita. " ucap Mike menggiring tubuh Elia masuk ke dalam kamar mereka, yang tepat berdampingan dengan kamar Gavin dan Naura.
" Kau itu susah sekali di ajak kerjasama. " gerutu Gavin setelah Mike dan Elia hilang di balik pintu. Dan berlalu masuk ke dalam kamar meninggalkan Naura yang masih belum paham sikap Gavin.
Naura menghela nafas, selalu saja Gavin marah padanya tanpa sebab yang tak jelas.
" Memangnya aku cenayang? bisa telepati? hah menyebalkan sekali suamiku ini.. huft.. tapi aku sangat mencintainya. "
Naura menyusul Gavin ke dalam kamar mereka.
*
*
*
...Jangan lupa berikan dukungan kalian...
...Like. komen. vote. ...
...Bye.. bye.. ...
__ADS_1