
Happy Reading..
~
Milly berjalan dengan sangat anggun dengan gaun yang di kenakannya, gadis itu bertambah cantik berkali kali lipat dengan wajah yang dihiasi make up natural.
Gavin pun tak kalah tampan malam ini, Gavin berjalan beriringan dengan Milly yang melingkarkan tangannya di lengan sang kaka.
Briano dan Jiandra nampak serasi, pasangan yang tidak lagi muda itu masih terlihat sangat sempurna bagi siapapun yang melihatnya. Keromantisan mereka tidaklah pudar meski usianya semakin mengikis.
Sedangkan Arnaf, malam ini tidak ikut serta. Sasa yang tengah hamil muda membuat Arnaf sangat overprotective pada istrinya. Apalagi semenjak mereka memutuskan untuk tinggal di rumah impian mereka, yang belum lama Arnaf beli.
Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka dan mengantarkan ke ruangan yang sudah di booking terlebih dahulu.
Mereka menuju salah satu ruangan VVIP tempat bertemu janji dengan keluarga Yamazaki untuk makan malam bersama.
Betapa terkejutnya Milly saat pintu ruangan itu terbuka. Di sana ia melihat pria yang sangat di kenal dan tentu saja sangat Milly cintai.
Senyum merekah terlukis di wajahnya yang sedari tadi terlihat sangat masam.
Kedua keluarga itu saling menyapa satu sama lain, dan berbincang bertukar kabar dan cerita, sembari menunggu makanan terhidang di meja.
Hanya ada keheningan di ruangan itu saat makan malam sedang berlangsung, mereka hanya fokus dengan makanan yang ada di hadapan nya.
Tapi tidak dengan dua insan yang sedang kasmaran, Milly tak henti melirik ke arah Mario dan memberikan senyum termanis nya.
Sebaliknya juga, Mario pun sama. Memperhatikan Milly yang terlihat begitu cantik.
" Ekhemm.. " Deheman Brian membuyarkan keheningan di ruangan itu, dia sangat tau jika putrinya sedang mencuri curi pandang pada putra angkatnya itu.
" Tuan Morgan, apa putra sulung mu tidak ikut hadir? " Brian menanyakan keberadaan putra lain dari Morgan. Setau Brian, Morgan mempunyai dua putra dari wanita yang berbeda.
" Putra ku tidak disini, dia sudah kembali ke Jepang karena ada pekerjaan penting. " Morgan yang duduk di kursi roda masih terlihat sangat gagah dengan stellan jas nya meski sudah berumur dan kondisi yang sudah tidak bugar lagi.
" Iya, dia hanya satu minggu di Jakarta, mungkin dia akan ke sini lagi jika urusan nya sudah selesai. " saut Dinda yang duduk di sebelah Morgan.
Brian menganggukan kepalanya.
" Mario.. kau terlihat sangat tampan malam ini, " Jia memuji ketampanan Mario saat ini.
Belum sempat Mario berucap, Brian terlebih dahulu menyautinya. " Suami mu juga sangat tampan, kau lupa itu! "
" Dad.. " panggil Gavin mengingatkan Brian yang membuatnya malu dengan ke narsisan pria yang sudah tidak lagi muda.
Brian dan Jia terkekeh melihat wajah Gavin yang menahan malu.
" Kau ini, masih seperti dulu! terlihat bodoh jika bersama Jia. " Dinda ikut tergelak.
" Kau juga tidak ingin memuji suami tampan mu ini! " seru Morgan yang tak mau kalah.
" Aku tidak pernah bilang kau itu tampan. " Dinda.
" Kau mengelak? Putra mu tampan karena menuruni ku, lihat saja Mario dia seperti ku saat aku muda dulu. " Morgan.
" Sudah tua jangan narsis! " Dinda.
Keheningan berubah menjadi penuh tawa yang memenuhi ruangan itu.
" Watashi wa, anata o aishiteimasu " ucap Dinda ketika melihat wajah suaminya yang berubah masam.
" Son'na koto shitteru. ( aku tau itu)." Morgan mengembangkan senyumnya dan mengelus pipi Dinda.
" Sepertinya aku pernah mendengar nya. " gumam Milly.
__ADS_1
" Gavin, Kau juga tak kalah tampan, apa sudah mempunyai seorang kekasih? " Dinda.
" Aku.. masih sendiri tan, " jawab Gavin.
" Ck, kau itu seperti Mario saja! tidak mempunyai kekasih! " Dinda.
" Bun, " Mario.
" Memang benar kan? " Dinda.
" Tidak tante, Mario sudah mempunyai kekasih. " seru Milly.
" Kau tau kekasih Mario? " Morgan antusias mendengar putra nya memiliki seorang kekasih.
Milly mengangguk.
" Siapa? " Morgan semakin di buat penasaran.
Tanpa ragu Milly berucap, " Aku. "
Kening Morgan berkerut masih belum mencerna ucapan Milly. Sedangkan Brian sudah menunjukan Wajah dinginnya.
Lain dengan Jia dan Dinda yang hanya menggelengkan kepalanya melihat kepolosan Milly.
" Kau ini bicara apa? " Gavin.
Dengan bangga Milly berucap dan meletakkan telapak tangan nya di dada, " Aku lah kekasih Mario. " seakan memberitahu kepada dunia jika Milly sudah resmi menjadi kekasih Mario.
" Uhuk.. uhuk... " Mario terbatuk, dia sangat terkejut dengan pengakuan Milly.
" Benarkah? " Morgan bertanya kembali untuk memastikannya.
" Milly! " Brian menatap Milly dengan tatapan penuh arti, seketika Milly menundukan kepalanya.
" Maaf kan Milly om, Milly memang suka bercanda.. "
" Kak aku tid-- " Milly.
" Milly.. " kali ini Mario memperingati Milly agar tidak melanjutkan ucapannya yang membuat Brian semakin menahan amarah dalam diamnya.
Jia yang mendapati Brian tengah menahan kesal, hanya bisa menenangkan nya dengan mengusap punggung Brian.
Milly yang merasa kesal, berpamitan untuk pergi ke toilet.
Tidak lama kemudian, Mario pun pamit untuk menyusul Milly tanpa menghiraukan tatapan Brian yang sangat tajam.
***
" Mario.. " pekik Milly yang terkejut melihat Mario di depan pintu masuk toilet wanita. " Sedang apa kau disini? "
" Aku menunggu mu. " Mario menggandeng tangan Milly untuk mengikuti langkahnya.
" Kita mau kemana? " tanya Milly yang menyadari jika mereka berjalan bukan ke arah dimana orang tua mereka berada.
" Ikut aku saja, nanti kau juga tau. "
Mario membawa Milly ke rooftop hotel tersebut. Disana terdapat sebuah sofa dan meja yang sudah tersedia beberapa minuman dan makanan ringan, tidak lupa sebuah proyektor sudah terpasang disana.
" Ini seperti basecamp. " ucap Milly yang melihat sebuah tenda lengkap dengan isinya, tidak lupa banyak sekali bunga bunga yang mempercantik tempat itu.
" Apa kau suka? "
" Hem. " Milly mengangguk.
__ADS_1
Mereka pun duduk dan menikmati sebuah film romantis seperti yang di inginkan Milly.
Milly bersandar di dada bidang Mario begitu manja, sedangkan Mario membelai dan memainkan rambut Milly yang tergerai, sesekali mengecup puncak Milly, menunjukan rasa sayang nya pada gadis itu.
" Mario, kita seperti pasangan yang sangat romantis. "
" Benarkah? apa kau senang? "
" Tentu saja sangat senang, " Milly mencebikan bibirnya.
" Terimakasih.. " Milly mendongakan kepalanya untuk melihat wajah Mario.
Tatapan mereka bertemu saat saling berhadapan, bibir mungil Milly menjadi pusat perhatian Mario.
Bibir Milly begitu menggoda bagi Mario, perlahan Mario mendekatkan bibirnya.
Cup, Mario mengecup bibir Milly. Dengan cepat Milly menutup kedua matanya.
Mata Milly terbuka kembali saat Mario menyudahi kecupannya. " Kenapa berhenti? " Milly berharap lebih.
" Hah? "
" Kenapa kau berhenti mencium ku! " gerutu Milly.
" Aku ingin ciuman seperti waktu itu! "
" Yang mana? " Mario berusaha mengingat.
" Yang di kolam renang, ciuman pertama ku. " Milly berkata malu malu.
" Oh.. "
Mario hanya ber oh ria tanpa melakukan yang diinginkan Milly.
Tanpa berpikir panjang, Milly mengecup bibir Mario. Ciuman itu lama namun tak ada pergerakan, karena Milly memang tidak tau harus memulainya seperti apa.
Mario perlahan melummat bibir Milly dengan lembut, lama kelamaan ciuman itu menjadi semakin panas dan menuntut lebih.
Nafas mereka tersengal sengal ketika ciuman itu berakhir.
" Milly, sebaiknya kita kembali.. " ucapan Mario di sela nafasnya yang masih memburu, terlihat kabut gairah di kedua matanya.
" Aku masih ingin disini. "
" Milly, aku tidak bisa mengendalikan diri ku jika masih bersama mu. "
" Kau ingin berciuman lagi? ayo lakukan lah. " ucap Milly tanpa mengerti apa yang di maksud oleh kekasihnya itu.
" Kita harus pergi! " Mario tidak mau dirinya lepas kendali dan berakhir mengajak Milly menginap di salah satu kamar hotel itu.
Semenjak mengenal Milly, entah kenapa Mario tidak lagi bergairah saat melihat wanita mana pun. Pikiran nya hanya di penuhi dengan Milly, Milly dan Milly.
*
*
*
Jangan lupa Vote.. vote.. vote...
Karena Vote kalian membuat Author semangat up.
Bye.. bye..
__ADS_1