Mengejar Cinta CEO

Mengejar Cinta CEO
Jauhi Milly ku!


__ADS_3

Cukup lama Mario membersihkan diri di dalam kamar mandi. Saat Mario keluar, ia mendapati Milly tertidur pulas di ranjang nya, dengan keadaan tubuh masih polos yang tertutupi oleh selimut.


Setelah selesai berpakaian rapih, Mario meninggalkan Milly yang masih tertidur.


" Mario, dimana Milly? " Dinda bertanya pada Mario saat baru saja menjejakan kakinya di anak tangga.


" Dia tertidur bun, " Mario menghampiri Dinda yang sedang bersantai membaca sebuah majalah.


Mario mendudukan dirinya di sebelah Dinda, " Bunda... aku ingin menikahi Milly. "


Dinda yang mendengar ucapan Mario sedikit menegakkan tubuhnya, menaruh majalah yang sedang di lihatnya di atas meja. " Bunda tidak salah dengar nak? "


" Tidak bun, "


" Kamu yakin? menikah itu suatu hubungan yang tidak boleh di permainkan. Tidak ada teman kencan wanita selain istrimu. " tutur Dinda.


" Aku tau itu bun, " Mario.


" Bunda mendukung apapun keputusan mu, tapi ingat... jangan pernah mengecewakan Milly dengan kebiasaan buruk mu di masalalu, tinggalkan semua hal buruk itu, "


Mario menangguki perkataan ibunya. " Tapi.. apa Daddy akan merestui kami, aku tidak yakin bun. "


Dinda membelai putra tercintanya, " Sayang, untuk itu kau harus berusaha menyakinkan Daddy mu, agar dia percaya dan memberikan Milly padamu. "


" Iya bun, "


" Bunda yakin, Daddy Brian akan merestui mu jika kau menjadi pria lebih baik. "


" Terimakasih bun, aku akan berusaha menghilangkan kebiasaan buruk ku. "


Sore hari, Milly baru membuka matanya dari tidurnya. " Mario.. " lirih Milly, kedua matanya mengitari seluruh ruangan itu mencari Mario.


Ceklekkk... pintu terbuka.


" Kau sudah bangun? " Mario baru saja masuk ke kamarnya dan melihat Milly terbangun dari tidurnya.


" Hemm.. " Milly mengangguk.


Mario menghampiri dan duduk di tepi ranjang. " Kau tidur nyenyak sekali. " Mario membelai kepala Milly.


Milly tersipu malu menerima perlakuan Mario.


" Sudah sore, aku akan mengantar mu pulang. " Mario.


" Kemana baju ku. " ucap Milly sembari menahan selimut dengan lengannya untuk menutupi tubuhnya.


Mario memberikan paper bag berisi pakaian Milly yang baru, " Baju mu sudah kotor, pakailah ini. "


Milly mengambil paper bag itu dan menuju ke kamar mandi.


" Kau mau kemana? " tanya Mario.


" Memakai baju. "


" Ganti saja di sini. "


" Yasudah kau keluar dulu. "


Mario terkekeh, " Aku sudah melihatnya, tidak usah malu pada ku. "


Milly mencebikan bibirnya. " Tidak mau, aku malu.. "

__ADS_1


" Kenapa harus malu? "


" Tentu saja, kau sudah melihat seluruh tubuh ku, tapi aku bel--... " Milly sangat malu mengucapkan nya.


Mario kembali terkekeh, mengerti yang di maksud Milly, " Kau tidak akan bisa tidur jika kau benar melihatnya. "


Milly mengerucut kan bibir nya, " Kau curang sekali! "


" Aku tidak curang, kau yang menang banyak sampai kau sangat menikmatinya. " Mario tergelak mengingat wajah Milly ketika sampai pada puncaknya.


Kedua pipi Milly terpancar rona merah, " Tidak, aku biasa saja! " elak Milly.


" Cih, masih saja mengelak, kau bahkan tidak henti memanggil namaku. " ucap Mario. " Mario... Mario... Mario... " Mario menirukan gaya berbicara Milly saat itu.


" Mario!!! " Milly memukul lengan Mario yang terus menggodanya, hingga selimut yang menutupinya turun ke bawah memperlihatkan kedua bukitnya.


Mario melebarkan matanya, " Milly, jangan menggoda ku lagi. "


Milly segera menutup nya kembali. " Siapa yang menggoda mu! "


Tidak ingin berlama lama dengan Milly, Mario memilih keluar dari kamarnya dan membiarkan Milly bersiap diri. Bisa gawat kalau Junior nya kembali bangkit.


***


Di perjalanan pulang ke rumah Milly aluna musik klasik menemani mereka.


Tom dan Tam setia membuntuti mereka di belakang tidak jauh dari mobil Mario.


" Mario.. "


" Hem.. " Mario fokus mengemudi kan mobilnya.


" Apa aku sudah menjadi seorang wanita? " pertanyaan Milly mengagetkan Mario.


" Tapi aku tadi.... "


" Percaya pada ku, kau masih Virgin. " Mario tidak habis pikir kenapa Milly bisa sepolos itu.


" Aku tidak akan merubahmu menjadi seorang wanita sebelum aku menikahi mu. " Mario.


Kedua mata Milly berbinar, " Kau akan menikahi ki? "


" Tentu, kau mau menikah dengan ku? "


" Ck, tidak romantis sekali, aku tidak mau menjawabnya.. kau harus melamar ku dengan cara yang benar. "


" Tanpa kau jawab pun aku sudah tau jawaban mu. "


" Percaya diri sekali. " Milly.


" Dengan siapa lagi kau akan menikah jika bukan dengan ku. " Mario menyeringai dalam senyum nya.


Milly hanya memanyunkan bibirnya, membenarkan perkataan Mario, dirinya hanya ingin menikah dengan pria pertama yang berhasil menyentuhnya, pikir Milly.


Sesampai di rumah, Mario berjalan bergandengan tangan dengan Milly menyusuri ruangan hingga sampai dimana tempat Brian berada.


Di ruang keluarga terdapat Brian dan Jia yang sedang asik bercengkrama, sedangkan Gavin terlihat baru pulang.


" Dad, mom... " panggil Milly.


Brian dan Jia menoleh ke sumber suara tersebut, tatapan Brian tertuju pada kedua tangan yang saling bertautan.

__ADS_1


Brian berdiri di depan Mario dengan wajah dinginnya.


" Dad, aku ingin menikahi Milly.. " ucap Mario dengan lantang dan percaya diri.


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Brian. Sorot mata yang tajam seolah menusuk dalam pada pria yang ia anggap sebagai putranya sendiri.


Jia yang melihat raut wajah suaminya yang tidak bersahabat, segera membawa Milly masuk kedalam kamar.


" Milly, ikut Mommy.. "


" Tapi Mom--- "


" Biar Daddy berbicara dengan Sean. "


Milly pun berjalan beriringan dengan Jia untuk masuk ke dalam kamar.


Gavin membulatkan kedua matanya ketika Milly lewat di depannya dan melihat tanda merah di leher adiknya. Ya, tentu saja Gavin tau jelas tanda itu.


Gavin berusaha meredam emosinya dan menunggu Milly dan Jia masuk ke dalam kamar.


Setelah Milly dan Jia tidak terlihat lagi, Gavin melangkah ke arah Mario.


Buughhh.. buughhh...


Gavin melayangkan tinjunya ke wajah Mario. " Brengsssekk!!! berani nya kau menyentuh Milly ku!! "


Mario sama sekali tidak membalas perbuatan Gavin, meski dirinya tau Gavin bukan lah lawan yang sebanding dengannya. Mario menyadari akan kesalahannya, dia dengan rela menerima hukuman itu.


Amarah Brian memuncak, tapi berusaha dia tahan agar tidak menyentuh putra nya itu. Brian memilih meninggalkan Gavin yang dengan membabi buta menghajar Mario.


***


Dua hari setelah kejadian itu, Mario sulit sekali bertemu dengan Milly.


Dengan luka yang belum sepenuhnya pudar di wajahnya, Mario memilih menyibuk kan diri dengan pekerjaan nya yang terbengkalai selama dua hari itu.


Duta yang tidak tau permasalahan yang menimpa atasannya pun terlihat bingung dengan sikap bosnya yang menjadi pendiam dan tidak bersemangat.


Arnaf yang baru saja mendengar kabar tentang adiknya, bergegas menuju ke perusahan Mario.


Dengan langkah yang lebar dia memasuki Yamazaki Corp. dengan aura yang menyeramkan bagi siapa pun yang melihat nya.


Tidak perlu banyak bertanya ke beradaan Mario, bagai pucuk di cinta ulam pun tiba.


Arnaf mendapti Mario yang saat itu baru saja keluar dari lift.


Dengan penuh amarah, Arnaf menghampiri Mario dan,


Buughhh... bughhh...


" Brengsssekk!!!! jauhi Milly ku!!!


Kemarahan Arnaf membuatnya tidak sadar dengan apa yang di lakukannya, Arnaf tanpa henti meninju Mario, melupakan seragam kebesaran nya yang masih melekat di tubuhnya.


*


*


*


Jangan lupa Vote.. vote.. vote...

__ADS_1


Karena Vote kalian membuat Author semangat up.


Bye.. bye..


__ADS_2