
" Tuan, apa anda baik baik saja? " Duta yang baru saja masuk ke ruangan Mario sedikit terkejut dengan penampilan Mario yang terlihat acak acakan.
Duta sangat hapal dengan kilat mata bosnya itu sedang menahan sesuatu yang tidak tersalurkan.
" Apa perlu saya mengatur kencan buta untuk anda? " Duta mamberanikan bertanya, pasalnya sudah beberapa bulan ini Mario tidak lagi menyuruh Duta mencarikan wanita untuk menghangatkan ranjangnya.
Mario yang mendengar ucapan Duta menjawab dengan tatapan tajam. Sorot matanya membungkam Duta hingga tak berkutik.
" Maaf tuan, " Duta segera menunduk dan pergi meninggalkan Mario.
" Tuan aneh sekali.. tidak biasanya dia menolak. " batin Duta.
" Duta! " Duta terhenti di ambang pintu mendengar Mario memanggilnya.
" Iya Tuan, "
" Antar aku pulang, " Mario bangkit dari kursi kebesaran nya.
" Baik tuan. "
Mario memilih segera pulang untuk menghindari Milly yang sebentar lagi pasti akan datang di jam makan siang.
Setiap hari bertemu Milly membuat nya senang, tapi kali ini Mario tidak yakin bisa menahan nya lagi, mengingat hasrat nya sudah di ambang puncak.
Sesampainya di mansion, Mario segera masuk ke kamarnya tanpa menyapa Dinda yang sedang bersantai di ruang keluarga.
" Duta, ada apa dengan Mario? " Dinda bertanya pada Duta tentang putranya yang terlihat kusut dan tidak biasanya pulang sangat awal.
" Tidak tau Nyonya, tuan muda hanya ingin pulang cepat saja. " Duta.
" Oh.. "
Milly yang tidak menemukan Mario di perusahaannya, memutuskan untuk pergi ke mansion Mario.
Tidak di sangka penjagaan mansion Mario sangatlah ketat, banyak sekali bodyguard yang mengelilingi mansion itu.
Untuk masuk ke mansion Mario, Milly cukup kesulitan. Karena para penjaga memang tidak mengenali Milly.
" Ayo bukakan gerbangnya! aku ingin bertemu dengan Mario. " seru Milly pada pria berbadan kekar.
" Maaf nona, kami tidak mengijinkan anda masuk. "
" Ck, menyebalkan sekali! kau tidak tau siapa aku? " Milly berdecak kesal, " Aku kekasih Mario! "
Para bodyguard itu saling tatap, kekasih Mario? yang benar saja, Mario tidak pernah memiliki kekasih, pikir mereka.
" Maaf nona, kami tidak bisa. "
Milly membuang nafasnya kasar, " Tom, Tam, lawan mereka! "
Tom dan Tam nampak diam, tidak menuruti perintah Milly.
" Tom! Tam! tunggu apa lagi, " seru Milly yang kesal melihat kedua pengawalnya tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya.
" Maaf nona jumlah mereka sangat banyak, sebaiknya kita pergi saja. " Tam.
" Ck, kalian ini payah sekali! melawan mereka saja tidak berani, aku jadi yakin kalian masuk anggota militer menggunakan jalur nepotisme. " celoteh Milly sembari mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Mario.
" *Astaga bocah ini benar-benar ingin di lempar ke laut! " batin Tom.
" Ck, ck, ck bagaimana bisa melawan bodyguard lebih dari 20 orang! bocah ini memang tidak punya akal! " batin Tam*.
__ADS_1
Milly mengurungkan niatnya untuk menelfon Mario, saat dia melihat Duta baru saja keluar dari mansion tersebut.
" Pata! " pekik Milly.
" Nona... " Duta segera menghampiri Milly. " Nona sedang apa disini? "
" Tentu saja aku ingin bertemu dengan Mario, tapi mereka tidak mengijinkan aku masuk. "
Duta pun memerintahkan para pengawal membuka gerbangnya dan mempersilahkan masuk.
" Pata, kenapa Mario cepat sekali pulangnya, apa dia sakit? " tanya Milly.
" Dia seenaknya saja mengganti namaku! " batin Duta.
" Tidak nona, tuan baik baik saja, mungkin hanya kelelahan. "
" Oh oke. "
Duta berpamitan untuk kembali ke kantor.
" Awas saja kalian, akan ku adukan pada Mario! " ucap Milly dengan kedua bola matanya yang hampir keluar dari tempatnya.
" Maaf nona.. " mereka tertunduk takut.
Milly pun melanjutkan langkahnya untuk segera masuk ke dalam Mansion, " Seperti rumah gengster saja. " gumam Milly yang mendapati banyak pengawal berbadan tegap dan terlihat seram di sekeliling rumah.
Milly masuk ke dalam mansion di sambut oleh para pelayan, Dinda yang sedang bersantai menghampiri Milly.
" Milly... " Dinda menyambut kedatangan Milly, tidak lupa memberikan pelukan dan kecupan di kedua pipi Milly.
" Tante.. " Milly membalas perlakuan Dinda.
" Tante senang kau datang kemari. " Dinda mengajak Milly untuk duduk di sofa dan mengajaknya berbincang cukup lama.
" Iya tan, " jawab Milly. " Tante.. boleh Milly menemui Mario? "
" Oh, tentu saja boleh, sepertinya dia masih di kamarnya. "
Dinda menyuruh salah satu pelanyan untuk mengantarkan Milly.
" Mario... " panggil Milly setelah dirinya membuka pintu.
Tidak ada sahutan dari Mario, karena dia tertidur setelah membersihkan diri.
Minta menghampiri Mario, " Mario.. " Milly mengguncang lengan Mario yang masih tertidur.
" Astaga.. kenapa dimana mana aku mendengar suaranya, sepertinya aku sudah gila! " gumam Mario dengan mata yang masih terpejam.
" Mario! ini aku, aku disini. " seru Milly yang mendengar gumaman Mario.
Mario terkejut dan langsung terbangun. " Milly, kau ada di sini? "
Bukannya menjawab, Milly hanya diam menatap Mario dengan penuh kagum. Mario tidak sadar dirinya hanya memakai boxer di tubuhnya.
" Milly.. "
" Ah... i-ya.. " ucap Milly terbata.
" Kenapa kau disini? " tanya Mario yang heran mendapati Milly di kamarnya.
" A-aku tadi ke kantor mu, tapi kau tidak ada. salah satu karyawan mu bilang, kau sudah pulang, jadi aku kesini. " ucap Milly.
__ADS_1
" Aku menghindari nya kenapa dia malah kesini. " batin Mario.
" Mario apa kau sakit? " Milly menempelkan punggung tangannya untuk memeriksa suhu tubuh Mario. " Tapi kau tidak demam. "
" Aku tidak sakit! "
" Oh.. syukurlah, aku pikir kau sakit. "
" Kau pergilah, aku ingin tidur! " Mario kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata dengan lengan yang menempel di keningnya.
" Kau mengusir ku! " seru Milly.
" Aku lelah, ingin istirahat. " ucap Mario yang ingin menjaga jarak dengan Milly, berdekatan dengan Milly membuat dirinya ingin menerkam, melahapnya habis.
" Kau tega sekali! " Milly mengerucutkan bibirnya. " Yasudah aku temani kau tidur. " Milly ikut membaringkan tubuhnya di samping Mario.
" Lebih baik kau pergi, memangnya kau tidak kuliah! "
" Tidak, aku ingin bersama mu. " Milly mengeratkan pelukannya di perut Mario.
" Milly, menjauhlah dariku.. aku bisa menghabisi mu. " suara Mario terdengar sangat parau.
Milly terkekeh, " Memang nya kau ini beruang? mau menghabisi ku? mencabik cabik ku! kau ini aneh sekali. "
Mario menoleh ke arah Milly, menatap wajah Milly yang begitu cantik, " Aku sudah memperingatkan mu. jangan salah kan aku jika.. "
" Jika apa? " Milly.
Mario perlahan mendekatkan wajahnya, tatapannya terpusat pada bibir mungil Milly. Mario mulai mencium bibir itu dengan lembut, melummatnya dengan penuh gairah. Ciuman itu semakin panas dan rakus. Milly hanya bisa menerima perlakuan Mario, sesekali Milly membalas ciuman itu.
Ciumannya mulai turun ke leher, turun lagi dan lagi. Milly yang baru merasakan sensasi itu menggeliat, mencengkram kuat kepala Mario yang terbenam tepat di dadanya.
" Mario... " lirih Milly.
Desahan yang keluar dari mulut Milly membuat Mario semakin menggila. Kegiatan liar itu semakin panas, hasrat Mario yang sudah lama tidak tersalurkan membuatnya lupa segala hal.
Entah sejak kapan Milly sudah menanggalkan semua pakaiannya, tubuh polosnya menjadi sasaran empuk Mario. Tidak terlewat sedikit pun tubuh Milly dari sentuhan Mario.
" Mario.. "
" Milly.. "
Kegiatan itu terhenti tatkala akal sehat Mario kembali tersadar.
" Milly, maafkan aku.. " Mario segera bangkit dari Milly. " Aku akan mengantar mu pulang, bersiaplah. " ucap Mario seraya meninggalkan Milly dan menuju ke kamar mandi untuk menuntaskan hasrat nya.
Untung saja Mario belum sempat menaggalkan boxer yang sedari tadi melekat di tubuhnya. Jika tidak, penyesalan lah yang akan menghantuinya.
Mario mengantarkan Milly pulang ke rumahnya.
" Dad, aku ingin menikahi Milly.... "
*
*
*
Jangan lupa Vote.. vote.. vote...
Karena Vote kalian membuat Author semangat up.
__ADS_1
Bye.. bye..