
Di sebuah restoran bintang lima, ketiga perempuan itu menikmati obrolannya dengan pria yang berwajah tampan menjadi pusat perhatian mereka.
Ke tiga perempuan itu menyantap hidangan makan siangnya dengan begitu anggun, tidak seperti biasanya.
Naura sangat menjaga sikapnya saat menikmati makan siang nya, begitu malu-malu padahal perutnya sudah begitu lapar, tapi demi menjaga image di depan Nicholas, Naura mengabaikan perutnya yang meminta segera di penuhi.
Sama halnya dengan Milly, di kehamilan nya, Milly bisa menghabiskan makanan dalam porsi yang lumayan banyak, tapi di depan Nicholas, Milly menahan semua itu, memakan makanannya seperti para bangsawan yang hanya mencicipi secuil hidangan itu.
Mora juga tidak jauh berbeda, biasanya dia tidak akan menyiakan kesempatan emas, dan akan menghabiskan apapun yang tersedia di meja makan.
" Kak Nicholas, apa aku boleh berfoto dengan mu? " tanya Mora dengan nada malu-malu seperti anak perawan yang baru mengenal pria.
" Boleh.. " ucap Nicholas disertai senyuman yang membuat ke tiga perempuan itu meleleh.
" Uhhh.. tampan sekali.. " batin mereka bertiga.
Dengan semangat Mora pun segera mengeluarkan ponselnya dari tasnya. Tidak mau kalah Naura dan Milly pun ikut berfoto.
" Apa Sesil tidak ikut kemari? " tanya Nicholas.
" Mungkin sebentar lagi kak Sesil akan datang. " ucap Milly. Suaranya terdengar begitu manis.
Nicholas menganggukan kepalanya.
" Kak Nicho, emm.. terimakasih telah menyempatkan waktu mu yang sangat sibuk, kami sangat senang sekali bisa bertemu dengan mu. " Naura.
" Iya, aku sudah lama mengidolakan mu. " Mora.
" Iya kak, dari dulu kau adanya idola ku. " bual Milly. Tidak lupa Milly menunjukkan senyum termanisnya.
Naura dan Mora saling pandang mendengar pengakuan Milly ' bohong sekali ', padahal Milly baru mengenal Nicholas baru semalam.
Dering ponsel Nicholas berbunyi, membuat pria itu ijin untuk menerima panggilan, Nicholas sedikit menjauh untuk menerima panggilan itu.
" Tampan sekali dia. " ucap Mora sembari memangku kepalanya dengan kedua tangannya.
" Iya dia sangat tampan. " Naura ikut memuji ketampanan Nicholas.
" Iya, dia begitu tampan. " Milly. Mereka bertiga tidak lepas memandangi Nicholas dari kejauhan.
" Kenapa aku baru tahu, ada pria setampan itu? aku pikir hanya Mario yang sangat tampan. " sesal Milly saat baru menyadari jika bukan hanya suaminya yang tampan.
" Iihh kau ini, ingat dengan Mario mu itu! " seru Mora.
__ADS_1
" Iya aku tidak akan lupa.. " Milly.
" Tidak hanya tampan, dia juga masih muda.. " Mora.
" Iya, jauh sekali dengan Mario yang mempunyai usia lebih banyak. " celoteh Milly yang mengingat usia dirinya dan Mario terpaut belasan tahun.
" Iya.. aku juga menyesal. Masa mudaku, aku hanya menghabiskan waktu dengan kakak mu yang sangat menyebalkan itu." Naura ikut menggerutu.
" Hemm.. andai saja kita mempunyai pintu ajaibnya doraemon. " Mora.
" Iya.. aku akan pergi ke masalalu ku dan merubah nya agar menjadi indah. " Naura.
" Iya, aku akan menemui Nicholas lebih cepat. " Milly.
Mereka bertiga masih dalam mode khayalan nya, tidak lupa tatapan mereka tertuju pada Nicholas.
Tanpa mereka sadari, dua pria yang sangat di kenali sudah berdiri menjulang di belakang mereka dan mendengar semua obrolan konyol para wanita itu.
Wajah kedua pria itu terlihat kesal, menahan amarah.
" Ehehmm.. " kedua pria itu berdehem seolah ingin memberi tahu keberadaannya.
" Kenapa aku seperti mendengar suara Mario.. aku sungguh sudah di butakan cinta Mario.. " Keluh Milly tanpa menoleh ke belakang.
" Aku juga merasa mendengar suara pria menyebalkan itu. Aduhhh... dia sungguh selalu mengganggu ketenangan ku, " Naura.
" Mario.. " Lirih Milly.
Naura dan Mora pun ikut berbalik.
" Gavin!! " pekik Naura.
" Kenapa? " Gavin sudah menatap tajam ke arah Naura. " Kenapa kau terkejut? Kau tidak suka jika aku menganggu acara kencan mu? hem? "
Naura dan Milly di buat gugup dengan kedatangan para suami mereka. Lidah mereka menjadi kelu, tidak bisa membela diri. Mereka merasa seperti ketahuan selingkuh.
" Matilah aku.. " Milly.
" Aduhh.. gawat, Gavin pasti marah pada ku. " Naura.
Tanpa banyak bicara, Mario pergi dari tempat itu dengan menahan amarahnya. Milly yang menyadari jika suaminya itu sedang marah, dengan cepat mengikuti langkah Mario.
" Pulang! " sarkas Gavin dengan sorot mata yang tajam ke arah Naura.
__ADS_1
Naura yang melihat wajah mengerikan Gavin di buat bergidik ngeri. " Ii--iya.. "
Naura berjalan mengekori Gavin dengan penuh rasa was-was.
Kini tinggal menyisakan Mora sendiri. " Uhh menyeramkan sekali memiliki suami seperti itu. " ucap Mora yang melihat raut wajah Gavin dan Naura yang sedang dalam mode marah.
" Hanya aku yang beruntung, aku bisa berduaan dengan Nicholas.. hihihi.. " Mora terlihat senang jika hanya dialah yang akan menemani Nicholas.
" Awww... " pekik Mora saat telinganya merasa ada yang menariknya. " Darren!! " pekik Mora yang mendapati kekasihnya itu berdiri di samping nya.
" Sedang apa kau di sini? hem? " Darren.
" Kau sendiri sedang apa disini? " bukannya menjawab, Mora malah bertanya balik.
Darren sudah berada di restoran itu sedari tadi, dia memperhatikan tingkah laku Mora saat di depan Nicholas. Sebenarnya Darren ingin menghampiri langsung saat itu, tapi dia mengurungkan niatnya karena sedang menemani atasannya bertemu client.
Akhirnya Darren membawa Mora pergi dari tempat itu.
Cecilia yang baru saja sampai di restoran itu, hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kecemburuan dari pasangan ke tiga teman barunya itu. Dia pun menghampiri Nicholas yang terlihat kebingungan mencari keberadaan para perempuan yang tadi bersamanya.
*
Di dalam mobil tidak ada suara sedikit pun sepanjang perjalanan. Mario berusaha menahan kemarahannya pada Milly, mengingat jika istrinya itu sedang mengandung buah cintanya.
" Hubby.. " panggil Milly, berharap Mario mau melihatnya, tidak mengacuhkannya lagi.
" Maaf kan aku.. " lirih Milly.
Lagi- lagi Mario masih diam.
" Hubby.. kenapa kau mendiami ku? aku kan sudah meminta maaf pada mu.. " cicit Milly.
" Cih! bisa sekali kau menunjukkan wajah memelas mu! kau sudah membandingkan ku dengan bocah sialan itu! " batin Mario yang masih mengingat celotehan Milly yang membandingkannya dengan Nicholas.
" Apa kau tidak ingat, kau yang dulu menggilaiku! jika kau tidak hamil, sudah ku pastikan akan menghukum mu!! "
Mario hanya bisa diam menyimpan amarahnya. Dia tidak mungkin berkata ataupun berbuat kasar pada istri yang sedang mengandung buah cintanya.
Berbeda dengan kedua pasangan suami-istri di tempat lain. Siapa lagi kalau bukan Gavin dan Naura. Jika Mario bisa menahan amarahnya tapi tidak dengan Gavin. Naura sudah siap siaga satu menerima amukan Gavin yang sebentar lagi akan meledak.
*
*
__ADS_1
*
Bye.. bye..