
" Hubby.. " Milly yang duduk di pangkuan Mario begitu manja sekali, hari ini Milly selalu ingin berdekatan dengan Mario, hingga Mario mengabaikan pekerjaannya di kantor.
" Hem, "
" Aku mencintaimu.. " Milly mengelus pipi Mario yang di tumbuhi bulu-bulu halus.
" Aku lebih mencintaimu sayang.. " Mario membelai rambut Milly dan menyelipkannya di belakang telinga.
" Hubby, kau tidak akan meninggalkan ku kan? " tanya Milly.
" Tidak akan, kenapa kau berbicara seperti itu? " Mario merasa heran dengan Milly yang sudah berulang kali bertanya seperti itu.
" Entahlah, aku hanya tidak mau kau pergi jauh dari ku. "Milly menyandarkan kepalanya di dada bidang Mario. " Aku sangat takut kehilangan mu, "
" Tenanglah aku tidak akan meninggalkanmu. " Mario memberikan kecupan di kening Milly.
Milly mengangkat kepalanya lalu menatap Mario. " Kalau begitu berjanjilah pada ku, kau tidak akan meninggalkan ku dan jika kau pergi kau harus kembali secepatnya, karena aku pasti akan selalu menunggu mu. "
Mario mengangguk, " Iya sayang, kau jangan berfikir yang tidak-tidak. " Mario memberikan kecupan singkat di bibir Milly, " Aku akan selalu kembali pada mu, karena hanya kaulah tempatku untuk kembali "
Milly tersenyum lalu kembali membenamkan kepalanya di dada Mario, dirinya sangat bahagia ketika mendengar ucapan Mario.
" Hubby.. aku ingin memakan kue brownies. " ucap Milly.
" Brownies? bukannya kau tidak menyukainya. " tanya Mario. " Apa mau ku belikan Cheesecake? " Mario menawari kue kesukaan Milly.
" Tidak! aku tidak suka lagi cheesecake, aku ingin kue brownies buatan bunda. " Milly berucap dengan bibir mengerucut.
" Yasudah, aku akan meminta tolong bunda membuatkan brownies untuk mu. " Mario mengalihkan Milly dari pangkuannya. " Kau tunggu disini. "
Mario mulai melangkah meninggalkan Milly untuk mencari keberadaan Bundanya. Milly menatap punggung Mario yang semakin jauh, rasanya tidak ingin di tinggalkan Mario meski hanya sebentar saja. Milly berlari kecil dan menubruk punggung Mario lalu memeluknya dengan erat. " Jangan tinggalkan aku hubby.. "
Mario merasa heran dengan tingkah Milly. Mario mengelus punggung tangan Milly seraya menenangkan. " Aku tidak meninggalkan mu, aku hanya mencari bunda, mungkin bunda ada di dapur. " jelas Mario.
Milly menggelengkan kepalanya, terasa jelas di punggung Mario. " Jangan pergi.. "
Mario membalikkan tubuhnya. " Heyy.. kenapa kau menangis.. " Mario mengusap air mata Milly.
Milly menggeleng, " Aku tidak tau, aku hanya ingin bersama mu. "
" Yasudah ayo kita cari bunda bersama. " ajak Mario.
Milly mengangguk dan mengikuti Mario.
__ADS_1
Di dapur, seperti biasa Dinda terlihat sibuk dengan rutinitas kegemarannya.
" Bunda.. " Mario dan Milly menghampiri Dinda.
" Iya sayang.. " Dinda.
Milly mendekat ke arah Dinda, " Bunda, Milly ingin memakan kue brownies buatan bunda. " ujarnya begitu manja.
Dinda mengernyit. " Milly, bukannya kau tidak suka kue brownies? "
" Tapi Milly ingin mencobanya. " ucap Milly meyakinkan. " Ayo kita buat kue bersama, Milly akan membantu bunda. " Milly sangat bersemangat.
" Sayang, tidak usah membantu, kau akan mengacaukannya dan membuat bunda lebih repot. " tegur Mario, sedangkan Milly mencebikkan bibirnya tak Terima.
Dinda terkekeh mendengar perdebatan kecil Mario dan Milly. " Kebetulan bunda sudah membuat nya, mungkin sebentar lagi akan matang. " ujar Dinda.
" Bunda sudah membuatnya? kenapa kebetulan sekali. " gumam Milly.
" Iya, sore ini Mike akan tiba. dan bunda sengaja membuatnya.. " jelas Dinda.
" Ohh.. " Milly.
Mario mendengar kabar Mike yang akan datang mendengar sedikit malas, mengingat Mike memiliki rasa pada Milly.
Mario dengan antusias memperhatikan wajah Milly, " Kau sakit sayang? " tanya Mario. " Aku akan panggilkan dokter. "
" Hubby, aku hanya merasa lelah, " ucap Milly.
" Benar kau baik-baik saja? benar kata Mario lebih baik pergi ke dokter. " Dinda.
" Tidak bun, Milly tidak mau ke dokter. Milly istirahat saja. " Milly.
Mario pun mengantar Milly ke kamarnya untuk beristirahat.
Baru saja beberapa langkah tubuh Milly sudah lemas tak sadarkan diri, untung saja Mario dengan sigap menopang tubuh Milly.
" Milly.. " pekik Mario.
Dinda yang melihat Milly pingsan segera berlari menghampiri Milly. Dan dengan cepat dia menelpon dokter pribadinya agar cepat datang memeriksakan keadaan Milly.
Dinda dan Mario menemani Milly yang sudah terbaring di atas ranjang, terlihat rasa cemas di raut wajah mereka.
20 menit kemudian, Dr. Susan telah tiba dan segera memeriksa keadaan Milly.
__ADS_1
" Apa yang terjadi pada istri saya dok? " tanya Mario dengan cemas.
" Istri anda baik-baik saja, hanya kelelahan dan butuh istirahat yang cukup. "
Mario mengangguk mengerti.
" Dan sebaiknya anda memeriksakan istri anda ke dokter spesialis kandungan. " lanjutnya.
" Apa menantu saya hamil dok? "
" Baru dugaan saya, untuk lebih jelasnya lagi kalian bisa periksakan di dokter spesialis kandungan seperti yang tadi saya katakan. "
" Baik dik. terimakasih. " Dinda.
Mario memandangi wajah Milly dengan lekat, dia sangat bahagia mendengar jika dirinya akan menjadi seorang ayah. Kecupan demi kecupan Mario berikan pada Milly, membuat Milly terusik dan kembali tersadar.
" Hubby.. " lirih Milly.
" Terimakasih sayang.. " ucap Mario dengan menitikan air matanya.
" Kenapa kau menangis? " tanya Milly heran yang melihat Mario menangis.
" Aku menangis karena bahagia, " Mario mengusap lembut perut Milly, " Disini ada buah cinta kita. "
Milly masih belum mengerti. " Maksudmu? "
Mario mengangguk, " Hem.. disini ada Mario junior sayang. "
" Aku hamil? "
Mario mengangguk. Milly tersenyum lebar mendengar kabar gembira itu.
" Kita akan memiliki bayi kecil? "
" Iya.. Mario junior. " Mario.
Milly memeluk erat tubuh Mario. " Aku senang hubby.. "
*
*
*
__ADS_1
Bye.. bye..