
" Sayang.. apa kalian udah siap? " Jia berdiri di depan pintu kamar Gavin yang tidak tertutup, " Naura kenapa kau belum bersiap? " tanya Jia yang melihat wajah Naura polos tanpa make up.
" Naura mendengus kesal. " Aku tadi sudah siap mom, tapi Gavin menyuruh menghapus riasan ku.. " adunya.
Jia menggelengkan kepalanya. " Gavin memang tidak ada akhlak! berdandan saja tidak boleh. " Jia pun menghampiri menantunya itu.
" Gavin menghina riasan ku, katanya aku terlihat seperti badut. " gerutu Naura.
" Jangan dengarkan dia, dia hanya tidak ingin kecantikan mu di lihat orang lain. Putra mommy itu serakah tidak mau berbagi kecantikan mu dengan pria lain. " ucap Jia sembari membantu membubuhi riasan di wajah Naura.
" Tidak mungkin mom, Gavin sama sekali tidak menyukai ku. bahkan dia sering kali mengatai ku jelek dan kampungan. " Naura membiarkan Jia memberikan pewarna di kedua pipinya.
" Tidak menyukai mu? " tanya Jia heran. di telisiklah leher Naura yang ada beberapa bekas kiss mark. " Tidak menyukaimu tapi setiap hari tanda merah di lehermu bertambah. "
Naura terkesiap, dia tidak menyangka jika ibu mertuanya itu selalu memperhatikannya, yang Naura sendiri sangat acuh mengenai tanda merah hasil karya Gavin.
" Jangan sedih.. Gavin itu sangat mencintaimu. " ujar Jia. Sebagai ibu, naluri Jia mengatakan bahwa putra keduanya itu sangat mencintai Naura.
" Itu tidak mungkin mom. " lirih Naura dengan suara seraknya.
" Kau tidak percaya pada mommy? mommy tau betul anak mommy itu, dia hanya terlalu gengsi untuk mengakuinya. " jelas Naura.
Sedangkan Naura hanya diam mendengar ucapan Jia, di tidak mau berharap lebih mengenai perasaan Gavin padanya.
" Kalau kau tidak percaya, kau bisa membuktikannya sendiri. " Jia.
" Maksud mom? " Naura.
Jia pun membisikkan sebuah rencana agar Naura percaya dengan apa yang ia katakan. Jia sangat yakin jika rencananya kali ini akan berhasil dan membuat Gavin mengakui perasaannya.
" Sudah selesai.. " ucap Jia setelah selesai memberikan sentuhan make up pada Naura. " Kau harus mengganti gaun mu yang lebih indah agar terlihat semakin cantik. "
" Tapi mom, ini pilihan Gavin. " ucap Naura yang memberi tahu jika gaun yang di kenakan sekarang adalah pilihan Gavin.
" Cih, putra mommy sungguh keterlaluan! seperti tidak punya uang saja! " gerutu Jia yang melihat gaun sederhana melekat di tubuh Naura dan sangat kebesaran di badan nya.
Naura pun menurut perkataan Jia, sekarang penampilan Naura terlihat sangat apik bagi siapa pun yang melihat nya.
" Ayo kita berangkat, Milly pasti sudah menunggu kedatangan kita. " ajak Jia.
" Gavin dimana mom? "
" Gavin dan Daddy berangkat lebih dulu. " Jia.
Jia dan Naura pun segera berangkat ke mansion keluarga Yamazaki, untuk memenuhi undangan putrinya.
*
" Beb, apa ini sungguh rumah Mario? suami Milly. " tanya Darren pada Mora ketika mereka tiba di halaman mansion.
" Alamat nya memang betul, jadi sudah pasti ini mansion Mario. " Mora.
__ADS_1
" Ckck... keluarga Milly konglomerat, dapat suami pun tak kalah kaya raya... pantas saja Justin mundur dengan sendirinya. " ujar Darren.
Mora tersenyum. " Bicara tentang Justin, apa dia juga akan datang? " tanya Mora.
" Sepertinya dia akan datang. " Darren.
Baru saja di bicarakan, mobil Justin terlihat memasuki halaman mansion Mario dan berhenti di samping mobil Darren.
" Itu mobil Justin. " Mora.
Mora dan Darren pun turun dari mobil mereka dan menyambut kedatangan Justin. Mereka pun melangkah bersama memasuki mansion yang di sambut hangat oleh para pelayan.
" Mora.. " pekik Milly yang melihat kedatangan Mora, berlari kecil untuk menghampiri sahabatnya itu.
" Sayang hati-hati.. " peringat Mario.
" Hehe iya hubby.. " Milly.
" Baru kemarin kita bertemu Milly. " Mora. " Tidak usah berlebihan seperti tidak bertemu satu tahun. "
" Iya.. iya.. aku senang sekali jika bertemu dengan mu. "
Pandangan Milly teralihkan pada kedua pria yang berdiri di belakang Mora.
" Darren.. Justin... " ucap Milly yang reflek akan memeluk mereka. Dengan sigap Mario menghalangi nya.
" No.. no.. no.. " Mario menarik lengan Milly dan menggelengkan kepalanya.
" Sayang.. ingat ada bebi kita. " Mario.
" Ck, kau mendengarnya? " Milly mencebikan bibirnya.
" Milly, mereka berdua juga sudah tobat, tidak bermain-main lagi. Mereka fokus berusaha menjadi pria sukses. " Mora.
" Iya Milly, kita sudah lama meninggalkannya. " Darren.
" Dan belajar menjadi pria lebih baik. " Justin.
" Sebaiknya kalian bergabung dengan yang lainnya, mereka sudah ada di halaman belakang. " Mario.
Mora, Darren dan Justin pun menuju halaman belakang mansion itu. Disana sudah terlihat Nino dengan istrinya, tidak lupa Elia pun ikut hadir di acara itu.
" Justin. " pekik Niken yang melihat kedatangan Justin.
Justin pun ikut menajamkan penglihatan nya ke arah gadis yang tidak asing baginya. " Apa itu Niken? " gumamnya.
Justin menghampiri gadis itu, ternyata benar dengan dugaannya. Mereka saling kenal dan lanjut dengan obrolan ringan yang membuat mereka semakin dekat.
" Ekhemm. " deheman seseorang mengalihkan perhatian semua orang.
" Dia siapa? " bisik Mora pada Milly yang duduk di samping nya.
__ADS_1
" Dia si kingkong yang menyebalkan. " Milly.
" Hah? " kaget Mora. " Milly jang sembarangan kalau bicara, apalagi saat ini kau sedang hamil. "
" Aku tidak menyukainya. " mereka berbicara dengan nada yang masih berbisik.
Sedangkan Mike sudah ikut duduk dan terlihat mengobrol dengan Nino dan Kendra.
" Justru itu, kau jangan membenci nya jika kau sedang hamil. " Mora.
" Memangnya kenapa? "
" Kau itu bodoh! menurut nenek moyang kita, jika kau membenci seseorang saat sedang mengandung, kemungkinan besar anak mu akan mirip dengan orang yang kau benci itu. " jelas Mora.
" Ah yang benar saja! memang ada yang seperti itu? " Milly masih tidak percaya dengan apa yang di katakan Mora.
" Yasudah kalo kau tidak percaya, bersiaplah anakmu akan mirip dengan nya. " pasr Mora. " Bukannya dia sangat tampan, tapi Kenapa kau membencinya? "
" Aku membencinya saja. " Milly enggan menceritakan kejadian penculikan itu pada Mora, akan semakin rumit jika di jelaskan.
" Kau belum menjawabnya, siapa dia? apa kau mengenal nya? " Mora masih penasaran dengan sosok Mike.
" Dia itu Mike, kakaknya Mario. "
" Uhukk.. uhukk.. " Mora tersedak dengan minumannya yang baru saja memenuhi rongga mulut nya. " Serius? " tanya Mora untuk meyakinkan.
" Untuk apa aku membohongi mu, "
" Pantas dia tak kalah tampan dengan Mario.. bahkan dia lebihhh.. errrrr... " Mora.
" Kau ini! tidak takut jika Darren mendengar nya. " Milly melirik ke arah Darren yang tidak jauh dari mereka.
" Milly.. " panggil Mora yang masih dalam mode khayalan tingginya.
" Hem.. " saut Milly.
" Jika Mario jagung.. lalu dia apa?.. "
Milly melebarkan kedua matanya saat mendengar ucapan Naura, mengerti akan maksud " Mora!!!! "
" Hehe.. yang pasti lebih besar dari jagung. " ucap Mora tanpa risih sedikit pun.
" Moraaaaa.... kau itu jorok sekali!! " teriak Milly yang menjadi pusat perhatian semua orang.
*
*
*
Bye.. bye..
__ADS_1