
Sesampainya di apartemen Rafi, Gavin berulang kali memencet bel tapi tak kunjung ada yang membukakan pintu itu. Sudah jelas jika apartemen itu kosong tak berpenghuni, namun Gavin bersikeras membunyikan bel dengan sesekali mengumpat kasar karena kekesalannya.
Hingga kedatangan security yang memperingati Gavin agar tidak membuat keributan di tengah malam.
Gavin pun memilih pergi ke apartemennya yang hanya berbeda beberapa lorong saja dari apartemen Rafi.
Hingga pagi menjelang, Gavin masih terjaga memikirkan Naura, berulang kali Gavin menghubungi ponsel Naura tapi sepertinya Naura sengaja mematikan ponselnya.
Tidak mau menunggu lama, Gavin bergegas membersihkan diri, berniat langsung ke kantor walaupun masih sangat pagi. Dia berharap akan bertemu Naura di kantor.
Pukul delapan pagi Gavin tiba di kantor, terlihat masih sepi karena jam kerja dimulai pukul sembilan pagi.
Hingga siang, Naura tak kunjung datang membuat Gavin semakin gusar. Gavin tanpa Naura seakan hidup enggan matipun tak mau, padahal baru berpisah satu hari.
Gavin memutuskan ke rumah sakit dimana Rafi bekerja.
Sesampainya di rumah sakit, Gavin langsung menuju ke ruangan Rafi.
Ceklek..
" Gavin. " Rafi terlebih dahulu menyapa Gavin yang masuk tanpa mengetuk pintu.
" Kak.. " Gavin mendekat dan duduk di depan Rafi, hanya meja yang menjadi penghalang antara mereka berdua.
" Tumben sekali kau datang kesini? ada apa? " tanya Rafi.
Baru saja ingin menjawab dan menanyakan keberadaan Naura, Rafi terlebih dahulu menanyakan Naura.
" Kau kesini sendiri? tidak bersama Naura? "
__ADS_1
Glekk..
" Jadi, kak Rafi juga tidak tau dimana Naura berada? "
" Tidak kak, dia masih sibuk. " bohong Gavin, dia tidak mau Rafi tau jika mereka sedang ada masalah yang membuat Naura pergi tanpa kabar.
" Yasudah kak aku pamit dulu. " Gavin berdiri meninggalkan Rafi.
Rafi di buat heran dengan tingkah Gavin, yang tiba-tiba datang kemudian pergi tanpa ada tujuan yang jelas.
" Aku harus mencarinya kemana lagi? " Gavin mengusap wajahnya dengan kasar.
" Mommy.. iya mommy pasti tau dimana Naura pergi. dia yang terakhir bertemu dengan Naura. " tebak Gavin seraya melebarkan langkahnya.
Gavin mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak peduli dengan kendaraan yang lainnya, Gavin hanya ingin cepat sampai di mansion dan bertemu dengan mommy nya.
" Mommy.. " baru saja keluar dari mobil, Gavin langsung memanggil Jia, pria itu memang tidak sabaran.
Dilihat Jia sedang bersantai dengan wajah yang tertutup oleh gumpalan berwarna putih yang sering di sebut masker wajah.
" Mom. " Gavin menghampiri Jia. " Mommy. " kali ini Gavin mengguncang bahu Jia karena tidak mendapat jawaban.
" Ada apa Gavin, kau menganggu mommy saja. " gumam Jia yang berusaha tidak melebarkan bibirnya agar masker wajahnya tidak retak.
" Mommy tau kan dimana Naura? " seru Gavin.
" Mommy tidak tau sayang.. " suara Jia nyaris tak terdengar, hanya gumaman yang terdengar oleh Gavin.
" Mom, Naura dimana? " Gavin yang tak sabar, melepaskan penutup mata berupa lembaran mentimun yang tertempel di kedua kelopak mata Jia.
__ADS_1
" Ck, kau itu menganggu mommy saja! " Jia berdecak kesal, mau tak mau Jia mendudukan diri dengan tegap. " Ada apa! " ketus Jia.
" Mommy tau kan dimana Naura? katakan pada ku mom dimana Naura? " pintanya dengan wajah memelas.
" Mommy tidak tau! "
" Ayolah mom, mommy tega sekali pada ku. "
" Kau harus mencari nya sendiri. Walaupun mommy tau dimana Naura, mommy tidak akan memberitahu mu! " jelas Jia.
Gavin nampak pasrah, dia tau betul jika mommy nya berkata tidak, merayupun hasilnya akan sama. Tentu saja karena mommy nya itu sudah terkontaminasi sikap Daddy nya, meski Jia tidak sekeras Brian.
Gavin terlihat lesu, pikiran nya sangat kacau sehingga otak yang brilliant itu tidak mempunyai titik cerah, tidak mendapati tempat kemungkinan dimana Naura berada.
Gavin mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari Naura. Tapi tak kunjung membuahkan hasil.
Tanpa Gavin sadari, mommy nya itulah yang mengutus anak buah Gavin agar tidak mencari Naura, dan memberikan info palsu pada Gavin, yang belum bisa menemukan keberadaan Naura.
Jia tidak akan membiarkan Gavin dengan mudah menemukan Naura, sebelum Gavin menyadari akan kesalahannya.
Gavin semakin yakin jika perasaannya pada Naura itu benar adanya bukan karena nafsu belaka. Gavin pikir, cinta nya pada Naura itu hanya sekedar perasaan senang ketika bersama Naura. Ternyata jauh lebih besar dari apa yang ia bayangkan.
Gavin merasa kehilangan setengah nyawanya saat berjauhan dengan Naura. Bahkan untuk makan dan beraktivitas pun Gavin merasa enggan, Gavin lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, mengurung diri.
*
*
*
__ADS_1
Bye.. bye..