Mengejar Cinta CEO

Mengejar Cinta CEO
Masa Lalu Jihan


__ADS_3

Jihan mengingat masa lalunya sebelum debut menjadi seorang penyanyi.


Saat itu Jihan pulang ke rumah dengan bahagia, membawa hasil ujian akhir sekolah saat SMP, Jihan berlari ke kamar ibunya sambil memegang kertas hasil ujian akhir sekolah. Jihan begitu senang, dia berlari sambil bernyanyi nyanyi ngak jelas.


"Lihatlah perjuanganku selama ini


Belajar setiap hari untuk mendapatkan nilai


fantas........ssssssssss....tisssss...sssss."


(Menyanyi dengan nada tinggi).


Jihan berlari menuju kamar mamanya.


"Ma...."


Seketika langkahnya terhenti di depan pintu kamar, dia melihat kedua orang tuanya beradu mulut di depan matanya, pemandangan yang selama ini tidak pernah dia lihat.


"Kau bersamanya lagi? Kau bersama perempuan nakal itu! Apa yang harus aku katakan kepada Jihan! Dasar laki-laki b*e*gs*k! Tidak tahu malu!"


"Lakukan sesukamu, aku tidak peduli pada putrimu, jika kamu ingin pisah, bawalah putrimu, tapi jangan harap kamu bisa membawa Arman bersamamu!"


Jihan tidak kuasa menahan air matanya, Jihan tidak mengira keharmonisan dalam kehidupan keluarganya hanyalah sebuah kepalsuan.


Kenapa ayah? Selama ini kamu tidak mengangapku anak? Lalu aku ini sebenarnya anak siapa?


Dari arah belakang, seseorang menarik tangannya, dan ternyata itu adalah Arman, kakak laki-laki Jihan. Arman mengajak Jihan pergi.


"Ikut denganku."


Jihan hanya mengikuti langkah kaki kakaknya, mereka berdua menunggu di pinggir jalan.


"Kak kita mau kemana?"


"Melepas stress, melampiaskan kekesalan."


"Kakak tahu hal ini, sejak kapan?"


"Dari dulu, sekarang kamu sudah mengetahuinya sendiri, jadi aku tidak perlu repot-repot memberitahumu."


Sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka.


"Ayo naik, tenang saja aku ini masih waras tidak akan mengajakmu melakukan sesuatu yang merugikan, aku ini kakakmu."


"Baiklah."


Jihan pergi dengan Arman, mereka pergi ke suatu tempat yang jauh dari wilayah ayahnya.


"Kak, aku ini anak siapa sebenarnya?"


"Anak pungut."

__ADS_1


"Aku serius! Kenapa masih bisa becanda seperti itu, kakak itu pria yang sangat dingin, kaku, perempuan manapun tidak akan mau dengan laki-laki seperti itu!"


"Kau ini c*r*w*t sekali, jangan sampai menyesal dengan kata-kata mu jika suatu hari nanti kamu jatuh cinta dengan pria yang dingin seperti aku."


"Naj*s, tidak akan pernah!"


Kakak selalu ada disaat aku membutuhkannya, tapi entah kenapa aku merasa kakak dan aku bukanlah saudara, walaupun kakak bersikap dingin tapi kakak sangat menyayangiku, sampai hari itu tiba, kakak meninggalkan aku dan menyuruhku kembali menemui orang tuaku.


"Han, maaf kakak harus meninggalkanmu, tapi kamu tahu kan ini adalah impian kakak dari dulu, kakak janji akan sukses dan segera kembali, kamu juga ya, ketika aku kembali kamu harus menjadi seorang dewi yang dipuja-puja di negara ini."


Saat itu aku tidak berkata apa-apa, janjipun tidak aku ucapkan, tapi kakak begitu mempercayaiku, hingga akhirnya tidak tahu kenapa aku akhirnya terjun di dunia hiburan, benar-benar bodoh.


Aku bisa bertahan di dunia hiburan karena aku tidak akan mengecewakan kakak, dan kakak mengirim Sandra untuk menjadi manajerku, benar-benar bodoh, di negeri orang masih saja mencemaskan aku.


Walaupun jauh, Jihan dan Arman selalu berkirim pesan lewat em**l.


"Hai, gimana kabarmu, aku harap kamu tidak mengecewakan aku."


"Iya, aku sudah masuk agensi, tapi sekarang aku kost sendiri, ayah dan ibu berpisah, dan kau tahu mereka berdua saling berebut hak asuh, benar-benar bodoh, aku sudah besar apa yang mereka perebutkan, aku bahkan bisa hidup sendiri walaupun serba kekurangan begini."


"Aku sudah menduganya, menjadi dewi yang dipuja-puja itu tidaklah mudah, prosesnya dari nol, aku tidak akan memberimu uang tapi mungkin hadiahku akan sampai."


"Cih apaan sih, aku tidak akan mengemis padamu, sudah jangan khawatirkan aku disini, jadilah sukses dan cepat kembali."


Setelah satu minggu akhirnya hadiah yang dikirim Arman datang.


"Ini sudah seminggu, kenapa hadiahnya belum sampai, dasar bodoh kenapa aku juga mengharapkannya."


Suara ketukan pintu kost terdengar.


"Eh, apakah kurirnya sudah datang."


Membuka pintu.


"Hallo nona bolehkah saya masuk."


"Ya masuklah."


Di dalam kamar kost.


"Saya adalah manajer artis, saya yang akan menjadi manajer anda nona."


"Siapa yang mengirimmu? Pria tua itu?"


"Bukan nona, tapi tuan muda."


"Siapa, kakakku?"


"Benar nona."


"Jadi hadiahnya adalah kamu?"

__ADS_1


Dengan bantuan dari Sandra yang sudah profesional, akhirnya Jihan bisa mencapai puncak kepopulerannya, menjadi seorang dewi yang dipuja-puja di negara sendiri. Hingga pada akhirnya Jihan berhenti menjadi seorang publik figur hanya karena seorang pria yang baru pertama kali dia lihat.


Jihan kembali menangis mengingat semua kenangan saat dia berjuang di masa yang sulit, Sandra menghampiri Jihan.


"Nona, anda kenapa lagi?"


"Aku hanya mengingat perjuanganku dulu, bagaimana jika kakak tahu aku berhenti."


"Sebenarnya saya tidak sanggup mengatakan pada nona, tapi maaf sebelumnya, saya harus jujur pada nona, bahwa saya harus kembali bekerja untuk tuan muda."


"Apa! Bagaimana mungkin hadiah bisa diambil lagi."


"Nona, bukan begitu."


"Lalu apa? Kalian bahkan kompak meninggalkan aku setelah membuat hatiku begitu nyaman kan, benar-benar menjengkelkan."


"Nona tidak usah khawatir, akan ada yang menggantikan posisi saya berada di samping nona."


"Terserah, mau membawa banyak orang disisiku tidak akan mengubah semuanya."


"Saya harap anda mengerti nona."


"Pergi saja sekarang, pergilah sesuka hatimu, aku tidak akan menghalangimu pergi!"


Jihan masuk kedalam kamar dan membanting pintu dengan keras.


Maaf nona, saya harap nona mengerti.


Sandra meneteskan air mata dan mengemasi barang-barangnya yang akan dibawa keesokan harinya, setelah selesai tiba-tiba saja Jihan berada di depan pintu kamar Sandra.


"Kamu jadi pergi?"


"Iya nona."


"Kejam sekali, baik pergilah dan jangan lupa kasih kabar padaku, jika kamu berangkat pagi maka jangan bangunkan aku, aku tidur dulu."


"Baiklah nona."


Mereka berdua tidur di kamar masing-masing, keesokan harinya Sandra pergi tanpa pamit, Jihan belum bangun, dan akhirnya tidak pergi bekerja di perusahaan Sam.


Melia mencoba menghubungi Jihan, namun Jihan sengaja mematikan ponselnya sejak tadi malam. Sam marah-marah karena Jihan tidak masuk kerja.


"Mel, siapa sih yang kamu rekomendasikan untuk menjadi asisten, yang benar saja dihari kedua bolos kerja, memangnya ini perusahaan milik ayahnya!"


"Maaf tuan, mungkin ada sedikit kesalahan, dia dari keluarga yang serba kekurangan, mungkin ada sedikit masalah."


"Pokoknya aku tidak mau tahu, besok pagi kalau aku tidak melihat batang hidungnya, maka pecat saja dia!"


"Baik tuan, sesuai permintaan anda."


Jihan masih tidak bisa dihubungi sampai malam hari, Melia menjadi khawatir.

__ADS_1


Malam harinya rupanya Jihan tidak mengaktifkan ponselnya, dia sengaja mematikannya sampai kekesalannya menghilang, Jihan pergi ke taman kota, secara tidak sengaja Sam kembali menendang kaki Jihan, Jihan terjatuh namun kali ini dia tidak marah-marah seperti waktu itu, dia berdiri dan berjalan sambil terpincang-pincang tanpa melihat wajah siapa orang yang tadi menendang kakinya, Sam hanya terbengong tidak percaya apa yang dilihatnya, begitu tersadar Sam mengikuti langkah Jihan dari belakang, kemudian Sam tidak tega melihatnya dan mengendong Jihan dengan tiba-tiba, Jihan yang kaget akhirnya hanya bisa terdiam menatap wajah orang yang mengendongnya.


Bersambung.


__ADS_2