
Kinara menghempaskan tubuhnya diranjang tempat tidurnya,dia berbaring sambil memejamkan mata membiarkan sebagian anak rambut menutupi wajahnya yang ayu,ingatannya terus terngiang akan pernyataan reyga yang memintanya untuk menikah dengannya,jelas saja dia tidak bisa memberikan jawaban apapun akan permintaan cowo tampannya itu.
kinara memang sangat mencintai reyga,bahkan meskipun reyga tak pernah mrmbalas cintanya sama,tapi dia akan selalu mencintai pria tampannya itu sebanyak yang ia bisa,tidak peduli dengan segala kekurangannya,tidak peduli juga meskipun sampai detik ini reyga tak pernah menyatakan kalau dia juga mencintainya.
yah semua itu tak pernah menjadi masalah untuk kinara,karna awal mula hubungannya dengan reyga terjalin,dia sudah menyiapkan diri akan segala konsekuensi yang harus dia terima kelak,meskipun beberapa kali,kinara sempat menyerah toh pada ahirnya dia tetap memilih untuk bertahan disamping reyga.
hingga tanpa terasa sudah hampir delapan bulan lebih hubungannya dengan reyga terjalin.
Dan sekarang tiba-tiba saja,reyga memintanya untuk menikah,seketika gadis itupun bingung harus menjawab apa..?? karna meskipun dia sangat mencintai reyga,tapi tak pernah sedikitpun terlintas difikirannya untuk menikah dengan pria tampan itu,apalagi diusianya yang baru menginjak sembilan belas tahun,usia yang masih terbilang mudah untuk menjalin sebuah pernikahan,secara kinara juga masih ingin fokus meneruskan kuliahnya,dia ingin meraih apa yang menjadi cita-citanya.
Tapi sekarang dia Dilema,dia ingin berkata "tidak" tapi dia tidak bisa,karna reyga jelas membutuhkannya,butuh karna reyga sakit.
tapi jika dia menyetujuinya,maka dia pun harus siap menghabiskan seluruh hidupnya bersama pria yang bahkan tak pernah mengungkapkan kalau diapun mencintai dirinya.
"huuffft.." kinara menghembuskan nafasnya pelan.
Dia bangun dari posisi tidurnya dan duduk bersandar ditepi ranjang,dia menengok kesebuah meja kecil dekat tempat tidurnya,meraih bingkai foto yang terpajang disana,lalu dia menatap dan mengusap bingkai foto itu,yang didalamnya ada sebuah gambar sepasang suami istri paruh baya,dan gambar dirinya yang berada ditengah-tengahnya.
seketika bibirnya pun mengulas senyum.
"ayah,ibu, seandainya saja kalian masih ada disini,kinara pasti bisa ceritakan semuanya pada kalian."
"kinara bingung bu,kinara harus apa..?"
"kinara mencintainya,sangaattt..!"
"tapi untuk menikah dengannya,kinara takut bu,kinara belum siap."
"kinara ingin menikah dengan lelaki seperti sosok ayah,yang selalu mencintai ibu bahkan sampai maut pun tak bisa memisahkan kalian."
"ibu,katakan kinara harus apa..? kinara harus bagaimana bu..?"
ucapnya terbata,hingga tak terasa bulir bening itupun menetes dipipi mulusnya.
"ka reyga tak pernah mencintai kinara seperti kinara mencintainya,tapi dia sakit bu,dia butuh kinara untuk sembuh..?"
"kinara tak tau sekarang harus gimana bu??"
"kinara rindu ibu,kinara juga rindu ayah."
dan kini kinarapun terisak,mendekap bingkai foto itu ke dalam dadanya,betapa disaat seperti ini dia sangat merindukan sosok kedua orangtuanya.hingga tanpa terasa diapun terlelap dengan posisi seperti itu.
***
tiga haripun berlalu,aku mencoba terus menghindari ka reyga,entah dikampus atau diluar kampus,kemarin ka reyga sempat datang kerumah,namun aku menyuruh tante fina untuk berbohong,dengan mengatakan aku sedang tidak ada dirumah,dan entah percaya atau tidak,tapi nyatanya ka reyga mau pulang tak menungguku seperti waktu itu.
dan hari ini pun,dia datang lagi mencari ku dicaffe,namun kali ini aku justru meminta tolong pada santi,untuk mengatakan bahwa aku tidak masuk kerja,dan untungnya ka reyga mau percaya,dan langsung pergi dari caffe..
huuffft ahirnya aku bisa bernafas lega,setelah bersembunyi cukup lama,dibalik pintu pantri,takut-takut ka reyga ga percaya dan masuk memeriksa kedalam,tapi untungnya saja tidak,dia langsung pergi begitu santi mengatakan bahwa aku tidak masuk kerja hari ini.dan untuk besok entah alasan apa lagi yang harus aku buat untuk menghindarinya.
yang jelas aku belum siap bertemu dengannya,aku belum punya jawaban apapun mengenai permintaannya tempo hari yang lalu.saat ini fikiranku benar-benar kosong,keyakinanku pun tiba-tiba menguap entah kemana,seolah olah kepercayaan diriku pun hilang..
"yah aku memang mencintai pria itu,tapi untuk menikah dengannya aku tidak tau apa aku bisa..?" Batinku.
"ra,woy...ya elah bengong mulu loh dari tadi,emang ada masalah apa sih? sampe-sampe elo ga mau nemuin si oppa ganteng."
"nyuruh gue boong lagi,kan kasian tuh si oppa mukanya mpe kusut kaya gitu,lagi marahan lo ama dia..??" cerosos santi panjang lebar.
"enggak ko san,gue ga lagi marahan ma dia."
jawabku singkat.
__ADS_1
"terus kenapa tadi lo ga mau nemuin dia?
pasti lagi berantem kan..?ayo ngaku..?"
cerca santi lagi,yang membuatku hanya bisa menghela nafas pelan.
"beneran san,gue ga lagi berantem ko,gue lagi ga kepengen ketemu dia dulu." balas ku cuek.
"terus apa donk alasannya elo ngehindari dia."
tanya santi lagi.
"ga ada,yaah biar dia nanti kangen aja ama gue." jawabku asal,dan seketika santipun memutar bola matanya malas.
"terserah lo deh ra." ucapnya kemudian,yang mau tidak mau membuatku tertawa karna melihat raut wajahnya yang BT.
"oh iya san,gue boleh tanya sesuatu ga..?
"hmm mau nanya apa..?"
"elo kan udah tunangan ma dion,terus kapan rencananya kalian akan nikah..?"
tanyaku kemudian.
"kenapa emang..? tumben elo nanya gitu."
jawab santi memasang wajah curiga.
"yaah cuma nanya aja,secara elo pacaran ma dia kan udah hampir dua tahun."
tanyaku lagi.
"yaah,kalo gue pribadi sih ra,pengennya taun ini tuh kita udah nikah,tapi ga tau deh ama dionnya gimana..?soalnya dia katanya mau nabung dulu supaya bisa nyicil beli rumah,jadi pas nanti kalo kita udah nikah,kita bisa tinggal dirumah sendiri,tanpa harus ngontrak atau tinggal dirumah mertua." jawab santi menjelaskan.
"emang elo udah yakin banget sama dion san..?" tanyaku lagi yang masih belum puas dengan jawaban santi.
"ya ampuun nara,kalau gue gak yakin sama dion,terus ngapain juga gue mau tunangan ama dia." pertanyaan elo aneh-aneh aja deh.
dan aku pun hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk garuk kepalaku yang tidak gatal.
"yaah,gue cuma pengen mastiin aja san,soalnya setahu gue,kalo kita udah yakin mau menikah itu artinya kita akan menghabiskan seluruh hidup kita untuk bisa hidup bersama orang yang kita cintai yang menjadi pasangan kita."
"bener begitukan..?" tanyaku ragu-ragu.
"iya bener begitu non,ngapain juga menikah kalo enggak saling cinta." dan jawaban santi barusan membuat diriku tertampar.
"elo kenapa sih ra..?tiba-tiba nanya soal pernikahan..?"
"elo dilamar yah sama si oppa ganteng..?"
tebak santi asal,yang seketika membuat aku jadi gugup dan gerogi.
"ah,elo san ngada-ngada aja,ya enggak mungkinlah,kita kan masih kuliah."
jawabku tergagap dan terpaksa bohong.
"ya mungkin aja kali ra,kalo si oppa ganteng itu beneran cinta sama elo."
jawab santi kemudian yang membuatku termangu dan terdiam.
***
__ADS_1
sekitar jam sepuluh,ahirnya akupun sampai rumah,seperti biasa aku pulang dari caffe naik ojek langgananku mang amin.
dan kini aku baru turun dari motornya mang amin seraya melepaskan helm yang kupakai.
"ini mang.." aku menyerahkan selembar uang limah puluh ribuan kepada mang amin.
"waduh ga ada kembaliannya neng."
ucap mang amin seraya merogoh kedua saku celananya untuk mencari uang kembalian.
"ya udah,kembaliannya ambil aja buat mang amin,anggep aja bonus karna tiap hari udah nganterin nara pulang pergi kampus dan ke caffe."
balasku pada mang amin yang kini tersenyum girang.
"aduh makasih ya neng,kalo gitu mamang permisi."
"iya mang sama-sama,ati-ati ya mang."
ucapku lagi sambil menunggu mang amin berlalu dari hadapan ku.
lalu setelah mang amin tak terlihat aku pun berbalik badan dan melangkah menuju gerbang rumah om.rudi.
dan disaat aku sedang berusaha membuka pintu gerbang,tiba-tiba ada tangan yang mencekal pergelangan tanganku,sontak akupun kaget dan terkejut,apa lagi setelah melihat orang itu..
"ka,ka ka reyga.." ucapku terbata.
"sampai kapan mau menghindariku kinara..?"
ucapnya dengan tatapan tajam dan raut wajah dingin.
"aku,aku.."
"aku masih menunggu jawabanmu kinara..?"
ucapnya lagi memotong kata-kataku.
"tapi aku belum punya jawabannya ka rey..!"
"tapi inih sudah lebih tiga hari,dan selama itu pula kamu berusaha menghindariku..!"
"bahkan seluruh pesan-pesanku pun tak kamu balas,apa kamu sengaja mempermainkanku kinara..?"
ucapan ka reyga begitu tajam dan dingin,aku merasa benar-benar terpojok dan tak punya pilihan lagi.
akupun meraih tangan ka reyga,menggenggamnya dan menatap wajahnya dalam.
"maaf ka rey,aku tidak bermaksud seperti itu,aku hanya belum siap memberi jawaban apapun,karna aku takut nantinya akan mengecewakanmu."
ucapku setenang mungkin,dan perlahan tatapan ka reyga pun melunak,dia balas menggenggam tanganku.
"kalau begitu bersedialah menikah denganku kinara." ucapnya dengan begitu lembut,dan tatapan matanya yang menghangat.
"kalo ka reyga mau tau jawabannya,bisakah besok ka reyga menemaniku pergi kesuatu tempat,setelahnya baru aku akan memberi tahu jawabanku."
dan seketika ka reyga pun,mengerutkan dahinya.
"besok..? kemana..?" tanyanya binggung.
"ke Bandung.."
"...???"
__ADS_1
*Bersambung..😊