
Kinara menaiki sebuah taksi,dan meminta sang supir untuk mengantarkannya kerumah om dan tantenya. rasa kecewa yang menggerogoti hatinya,membuat kinara enggan kembali ke apartemen milik suaminya.
Kinara menyandarkan bahunya dikursi penumpang,tanpa terasa ada genangan yang menganak sungai dipelupuk matanya,dan tanpa bisa ia bendung jatuh meluruh begitu saja membasahi pipi mulusnya.
Jika selama ini,dia masih bisa menahan rasa kecewanya ketika reyga meluangkan waktunya untuk celin,dan lebih mempedulikan celin ketimbang dirinya, kinara masih bisa menerima semua itu dengan berusaha memahami keadaan celin yang selalu bergantung terhadap suaminya.
Namun kali ini bukan saja hanya rasa kecewa yang kinara rasakan. Melainkan luka..!!
Yah..kinara amat terluka,ketika dengan jelas reyga lebih mempercayai perkataan celin ketimbang dirinya.
Dan celin sepertinya berhasil menyakinkan dirinya,bahwa reyga memang lebih peduli dan lebih mengutamakan celin,ketimbang dirinya yang sudah menjabat menjadi istrinya.
Yah..kali ini celin telah membuktikan kata-katanya,bahwa apakah mungkin benar tanpa disadari sesungguhnya reyga juga mencintai celin..??
Memikirkan semua itu,hati kinara semakin terasa sesak,diapun menutup mulutnya sendiri,agar isak tangisnya tak terdengar oleh sang supir taksi,yang tengah fokus mengemudi didepannya.
Dan setelah beberapa menit berlalu, ahirnya taksi yang ditumpangi kinara telah sampai dan berhenti tepat dihalaman rumah tante fina. Perlahan kinara mengusap air matanya saraya menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Ini pa uangnya,dan ambil saja kembaliannya." ucap kinara seraya turun dari taksi,dan sang supir pun hanya mengangguk tersenyum mengucapkan terimakasih lalu berlalu pergi meninggalkan halaman rumah tante fina.
Ting nong ting nong..
Kinara memencet bel pintu rumah om dan tantenya. hingga beberapa saat kemudian pintu terbuka menampilkan tante fina yang mengurai senyum melihat ternyata keponakannya yang bertamu.
"Nara sayang,kamu kesini sama siapa..?" tante fina sedikit menoleh ke kanan dan ke kiri,memungkin kan jika keponakannya itu datang bersama suaminya,namun hasilnya nihil kinara sepertinya datang tanpa ditemanin suaminya.
"Aku datang sendiri ko tan.." ucap kinara tepat saat dirinya mendaratkan tubuhnya disofa ruang tamu rumah tantenya tersebut.
"Tante pikir kamu dateng bareng reyga." tante fina mengulas senyum,dan sesaat senyumnya pudar kala menyadari wajah keponakannya itu terlihat sembab "Nara sayang,kamu habis nangis yah..?"
__ADS_1
Kinara pun sepontan mengukir senyum yang dibuat buat,agar tantenya tak semakin curiga,namun sepertinya sia sia setelah mendengar pertanyaan tante fina selanjutnya. "Kamu bertenggar lagi sama reyga..?"
Ahirnya kinara hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan seraya mengangguk dengan senyum yang dipaksakan.
"Jadi aku boleh nginep disini kan tan..? aku ingin menenangkan diriku dulu." ucap kinara kemudian tanpa bisa lagi menyembunyikan gurat kesedihan yang terpancar diraut wajahnya.
"Tentu boleh dong nara, rumah ini adalah rumahmu juga,jadi kapan pun kamu mau,kamu boleh menginap atau bahkan tinggal disini pun tante takan melarangnya."
"Makasih yah tan.." kemudian kinara pun menghambur memeluk wanita paruh baya itu,yang sudah dia anggap seperti ibu kandungnya sendiri.
Tante fina mengelus rambut keponakan dengan penuh kasih sayang,melihat raut kesedihan diwajah keponakannya itu,tante fina turut merasakan jika saat ini kinara pasti tengah dirundung duka. Namun seperti apa penyebabnya tante fina berusaha menahan diri untuk tidak menanyakan hal itu.
Tante fina tidak ingin memaksa kinara untuk bercerita jika memang keponakannya itu tidak ingin menceritakannya. Dia tidak ingin terlalu ikut campur dalam kehidupan pernikahan sang keponakannya.
"Om rudi mana tan..?" kinara melepaskan pelukannya pada sosok wanita yang sudah seperti ibu baginya.
Kinara faham betul sifat dan karakter om dan tantenya itu. Tante fina yang begitu bijak,sabar dan keibuan, sedangkan om rudi terlihat begitu tegas dalam setiap ucapannya.
Namun bagaimanapun itu kinara tetap bersyukur karna om dan tantenya amat sangat menyayanginya layaknya anak sendiri.
"Ya udah kamu istirahat aja dikamarmu,nanti tante akan panggil kamu kalo makan malam uda siap." kinara mengangguk membentuk senyum tipis diwajahnya,dan diapun berlalu menuju kamarnya,kamar yang dulu dia tempati sebelum dia menikah dengan reyga.
***
Ceklek..
Reyga membuka pintu apartemennya,dia melangkah masuk dan mengedarkan pandangannya disekeliling ruangan,nampak sepi dan hening.
Reyga menarik nafasnya pelan,berharap istrinya tengah berada dikamar dan tengah menunggunya pulang. Namun saat tangannya membuka pintu kamar,ketakutannya menjadi nyata,kamar terlihat sepi dan hening.
__ADS_1
Lagi lagi reyga hanya bisa menarik nafasnya,seraya berjalan lunglai memasuki kamarnya dan mendudukan tubuhnya ditepi ranjang.
Reyga mengusap wajahnya kasar. mencoba mengingat kembali tentang kejadian hari ini,dan sudah pasti dia mengumpat dirinya sendiri karna tanpa sadar sudah melukai perasaan istrinya selalu tulus kepadanya.
Menyesal pun sepertinya tak ada guna,karna dengan tak menemukan sang istri diapartemennya sudah pasti kinara amat sangat terluka atas segala tuduhannya.
Reyga merogoh ponsel yang terletak didalam saku celananya. Menekan tombol yang bertuliskan nama 'Mywife' namun beberapa kali panggilan terhubung,kinara tak jua mengangkatnya,dan ketika reyga mencoba untuk menghubunginya lagi,ponsel kinara sudah dinon aktifkan seolah memberi sinyal bahwa wanitanya itu teramat sangat marah dan kecewa padanya.
Reyga membuang nafasnya kasar. lalu pandangannya beralih pada walpaper ponselnya yang menampakan gambar sang istri yang begitu anggun dan cantik,dan dia berhasil mencuri foto kinara tersebut tepat ketika mereka baru saja menjalin hubungan.
Reyga meraba benda pipih itu,seolah dia tengah meraba pipi istrinya. " Nara,apa kamu mau memaafkanku..? Sungguh aku sangat menyesalinya nara,kamu maukan memaafkanku."
Reyga tersenyum getir,kala dia mengingat seperti apa dirinya menyudutkan sang istri.
Saat itu reyga juga bisa melihat dengan jelas kilatan luka dan rasa kecewa yang terpancar diraut wajah kinara. Namun entah kenapa dirinya seakan buta dan tuli,hingga hanya mampu mendengar tangisan celin dan mempercayai kata katanya.
Reyga kembali memandang layar ponselnya,seraya tersenyum samar menatap wajah gadis cantik yang sudah merebut seluruh dunianya. "Aku akan membawamu kembali nara, Aku memang salah karna sudah meragukanmu, dan aku menyesal. Semoga kamu mau memaafkanku kinara, karna aku sungguh sangat mencintaimu."
Reyga memasukan kembali ponselnya kedalam saku celananya,dia mengambil kunci mobilnya yang terletak diatas nakas,lalu pergi meninggalkan apartemennya untuk mencari kinara istrinya.
Reyga melajukan mobilnya menuju kerumah kedua sahabat kinara, yakni mita dan caca. Namun reyga harus menelan kecewa karna tak menemukan keberadaan istrinya dirumah caca dan mita.
Reyga kini melajukan mobilnya lagi,berputar putar tak tentu arah,sesaat dia berfikir untuk mencari kinara dirumah maminya,tapi reyga mengurungkannya karna berfikir dalam situasi seperti ini, kinara tak mungkin melibatkan maminya. kemudian fikiran reyga tertuju pada om rudi dan tante fina..
Yah sepertinya itu adalah pilihan terakirnya,kinara pasti berada dirumah om dan tantenya. Reyga pun kemudian menancapkan gas mobilnya hingga melaju melejit menembus jalanan kota yang sudah nampak hening dan senyap dikesunyian malam.
*Bersambung..😊
__ADS_1