
Reyga meletakan celin diatas ranjangnya,gadis itu sedikit menggigil dengan bajunya yang basah.Dia tahu tindakannya kali terlalu berbahaya untuk dirinya sendiri.Namun hal ini harus ia lakukan semata mata agar kinara tahu dan sadar bahwa sampai kapanpun reyga akan lebih peduli padanya dibandingkan wanita yang kini berstatus menjadi istrinya.
"Elo engga papa kan cel,apa perlu gue panggil dokter..?" Reyga mencoba mengelap tubuh celin yang basah,meskipun itu takan berpengaruh karna nyatanya dirinya dan celin basah kuyup.
"Sebaiknya,aku panggil bibi untuk membantumu berganti pakaian,aku akan keluar sebentar untuk menemui kinara." Namun belum juga reyga melangkah celin lebih dulu melingkarkan tangannya kepinggang pria itu dan membenamkan wajahnya diperut reyga yang kini tepat berdiri dedepan celin yang dalam keadaan setengah duduk ditepi ranjang.
"Gue ga tau apa jadinya kalo tadi elo ga dateng dan nyelametin gue rey." celin sedikit terisak,lalu kembali melanjutkan ucapannya.
"Padahal gue udah minta maaf sama nara,jika dimalam pesta itu elo ninggalin nara untuk nolongin gue,dan itu malah menyebabkan nara dijebak oleh seseorang.Sungguh rey,gue benar benar nyesel itu terjadi. Kalo saja waktu itu bisa diulang,mungkin lebih baik gue gak minta tolong sama elo rey. jadi kinara tak perlu mengalami kejadian buruk gara-gara gue."
Celin kembali terisak seraya terus memeluk pinggang reyga. membuat reyga mau tak mau berusaha menenangkannya. "Udah lah cel,elo gak usah merasa bersalah seperti itu. Lagipula kinara sekarang baik-baik saja ko." reyga menepuk punggung celin,mencoba untuk membuatnya tenang.
"Tapi rey,Kinara marah banget sama gue,bahkan tadi waktu gue berusaha untuk minta maaf,nara justru mendorong gue,hingga gue terjatuh dikolam." celin memasang mimik wajah yang menyedihkan seolah dia sangat tertekan hal itu.
Reyga yang melihat sahabatnya seperti itu,tentu saja merasa iba.Dan mendengar perkataan celin tadi,Reyga sedikit sulit untuk percaya apa iyah kinara sangat marah hingga tega mendorong celin dan menyebabkan gadis itu jatuh kekolam.
"Sebaiknya elo cepet ganti baju cel,jangan sampai nanti elo demam dan sakit. Gue keluar bentar yah." Reyga melepaskan tangan celin yang melingkar dipinggangnya.Dia tersenyum singkat sebelum ahirnya berlalu meninggalkan kamar celin.
Setelah reyga menghilang dari balik pintu kamarnya,raut wajah berubah sendu,dia bahkan berkata lirih seorang diri "Maafin gue rey, apapun akan gue lakukan untuk mendapatkan perhatian elo lagi seperti dulu.Meskipun gue tau cara gue salah,tapi gue cinta sama elo rey,dan jika saja kinara tidak hadir diantara kita,pastinya yang menjadi pendamping elo saat ini itu gue,bukan kinara."
Langkah kaki reyga menderap menghampiri kinara yang saat ini tengah menunggunya diruang tamu. Sebenarnya kinara tadi ingin ikut masuk ke kamar celin,untuk memastikan keadaan celin apa gadis itu baik baik saja.Tapi dengan sorot mata tajam reyga melarangnya dan membari kode agar lebih baik kinara menunggunya diruang tamu.
"Ka reyga bagaimana keadaan ka celin..?" kinara bangun dari duduknya menghampiri sang suami yang tengah mendekat berjalan ke arahnya. Namun entah kenapa raut wajah reyga berubah datar,tatapan pria itupun terasa dingin tak seperti biasanya.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya kamu lakukan kinara,kenapa tiba tiba kamu ada dirumah celin." pertanyaan reyga barusan seolah terasa mengintimidasi,membuat kinara hanya bisa menarik napasnya pelan.
"A..aku sebenarnya datang kesini untuk.." jawaban kinara menggantung,dia bingung,haruskah dia mengatakan yang sebenarnya mengenai alasanya menemui celin.
"Apa kamu datang kesini,hanya untuk meluapkan amarahmu pada celin.." Kinara mengerutkan dahi merasa tak paham dengan pertanyaan suaminya. "Maksud ka reyga apa..?"
"Kinara..! apa kamu masih belum sadar,kalau saja tadi aku datang terlambat mungkin sekarang sudah terjadi suatu hal yang buruk dengan celin." kinara terdiam berusaha mencerna apa yang dikatakan suaminya,meskipun kinara sendiri masih belum memahaminya apa maksud dari perkataan suaminya itu.
Reyga menarik nafasnya kasar,matanya menyipit menatap istrinya yang masih saja tak bergeming "Kinara aku tau,kamu sangat terluka atas kejadian pesta malam itu,tapi seharusnya kamu melampiaskan amarahmu itu padaku,bukan pada celin,kau tau nara,celin sangat terpukul saat iñi.tidak seharusnya kamu melampiskan amarahmu pada celin,sampai-sampai kamu membuat celin jatuh kedalam kolam."
Kinara tercengang dengan apa yang diucapkan suaminya. Dia tidak menyangka reyga tega menuduhnya seperti itu.
"Dan ka Reyga percaya aku mampu melakukan itu..??" ucap kinara dengan bibir sedikit bergetar,tiba tiba saja hatinya terasa pilu,mana kala suaminya sendiri tengah menyudutkannya dan memojokannya seperti ini.
Reyga terdiam sejenak,dia sendiri sangsi akan hal itu,karna reyga mengenal dengan baik wanita yang sudah menjadi pelabuhan hatinya itu.Kinara begitu lembut dan tulus,apa mungkin mampu melakukan hal itu.Namun melihat celin yang begitu rapuh seraya menangis histeris,celin pun sepertinya tak mungkin berbohong.
Reyga menghentikan sejenak ucapanya memandang raut wajah istrinya yang berubah pias "Aku tau,kamu orang yang tulus nara,tapi bisa sajakan,seseorang melakukan hal diluar kendalinya,disaat dia tengah dipenuhi amarah."
Kinara tersenyum getir menatap guratan wajah lugas suaminya. "Dan aku kecewa ka reyga mempercayai hal itu.Karna terkadang apa yang kita lihat tidaklah selalu sama dengan kenyataannya."
Kinara menarik nafas dalam untuk yang kesekian kalinya,lalu dia berjalan mendekat hingga persis dihadapan sang suami.Sejenak reyga tertegun menatap mata indah istrinya yang seolah menyiratkan luka akan segala pernyataannya,karna pada dasarnya dirinya sendiri mulai gamang akan kata kata celin.
"Jika ka reyga lebih percaya akan kata kata ka celin,silakan itu hak ka reyga.Dan rasa rasanya percuma juga aku memberikan pembelaan,jika suamiku sendiri tidak mempercayai istrinya dan lebih mempercayai sahabatnya.Jadi rasanya tak ada gunanya lagi aku disini,Aku permisi ka rey,sampai kan maaf ku pada ka celin karna sudah membuatnya celaka." kinara mengulas senyum namun terlihat sebagai kilasan luka dimata reyga.
__ADS_1
Gadis itu berlalu pergi dengan menahan segala sesak yang ada didadanya.Kaki nya yang tersa lemas untuk melangkah,namun sebisa mungkin dia menguatkan diri untuk tak meluruhkan air mata dihadapan suaminya. Karna itu kinara memilih untuk segera pergi dari tempat celin,agar luka dihatinya tidak semakin dalam mendengar segala pembelaan suaminya yang ternyata lebih mempercai perkataan sahabatnya dari pada dirinya.
Sementara reyga,pria itu masih mematung ditempatnya tak bergeming sedikitpun. Pancaran penuh luka dari sorot mata sang istri seolah terasa menikam tepat didadanya.
Reyga menarik berat nafasnya.Hari ini kinara pasti begitu kecewa padanya. Dan reyga pun begitu merutuki kebodohonnya sendiri karna terlalu menyudutkan istrinya,hingga satu kata kata yang kinara lontarkan masih terngiang jelas ditelinganya,membuat dirinya begitu amat sangat menyesali karna sudah sangat melukai perasaan istri tercintanya itu.
manakala kinara mengatakan..
"*Terkadang apa yang kita lihat, tidaklah selalu sama dengan kenyataanya.."
"Dan rasanya percuma juga aku memberikan pembelaan, jika suamiku sendiri tidak mempercayai istrinya dan lebih mempercayai sahabatnya*.."
*Bersambung..😊
Terimakasih untuk para pembaca yang masih setia membaca karya pertama author ini, mohon maaf jika ceritanya kadang tak sesuai dengan ekspetasi para pembaca.
Ada yang ingin saya terangkan disini.Terkadang membuat cerita tidaklah semudah dengan membacanya,karna dibutuhkan waktu dan tenaga,untuk menyusun setiap kalimatnya,tentunya dibutuhkan ketenangan dan inspirasi juga..😊
Jadi author mohon sekali lagi,jangan sungkan2 memberikan dukungan,vote like dan komentar yang positif sebanyak banyanya yah..🙏🙏
Karna itu akan menjadi amunisi untuk para penulis dalam mengembangkan karyanya.
Dan buat yang sudah membaca karya recehan author ini,saya ucapin banyak2 makasih yah,terus dukung dan tinggalkan jejaknya..okeh..👍
__ADS_1
Salam sayang author buat semuanya..🤗
semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat dan selalu dalam lindungan Allah..Aamiin😊