
*Masih Flassback on..
Kinara tengah memeluk celin saat ini,dirinya pun ikut terisak bersama gadis lumpuh itu.
Bagaimana tidak,dalam selembar kertas yang baru saja dia baca tadi menjelaskan bahwa celin saat ini tengah sekarat, Celin terkena kangker otak stadium ahir dan kemungkinan besar hidupnya hanya akan bertahan beberapa bulan lagi. Semua itu disebabkan karna benturan akibat dari kecelakaan yang dia alami beberapa bulan lalu.
Benturan yang menghatam kepalanya,menyebabkan memar dan menimbulkan benjolan dibagian otaknya,hingga terkadang membuat celin merasakan sakit kepala yang teramat sangat sakit,namun saat itu celin selalu enggan untuk memeriksakannya,hingga ketika saat ini dia mengetahui penyakitnya semuanya sudah terlambat karna kangker itu sudah menyebar diseluruh saraf otaknya membentuk tumor ganas,hingga kemungkinan hidupnya tinggal beberapa persen lagi.
"Hidup aku udah ga akan lama lagi ra..? kenapa Tuhan seolah tak pernah adil terhadapku.." Celin semakin terisak dalam pelukan kinara.
"Ka celin jangan ngomong kaya gitu ka, Ka celin harus tetap smangat,harus tetap berjuang,aku yakin ka celin orang yang kuat,ka celin pasti bisa ka.." bisik kinara terus menguatkan celin seraya mengusap lembut bahu gadis itu.
"Sejak kecil aku udah dibuang di panti asuhan, bahkan sampai saat ini aku enggak pernah tahu siapa orang tua kandungku sebenarnya. Lalu disaat aku sudah berusaha iklas menerima perjodohanku dengan alex,dia malah menghianatiku dengan wanita lain,dan sekarang yang terburuknya adalah aku juga kehilangan reyga, aku cacat,aku lumpuh dan aku sekarat nara..kenapa..kenapa Tuhan tak pernah adil untukku.."
Celin semakin terisak pilu,saat mengetahui Dokter memvonis usianya tak akan lama lagi,dirinya seolah tengah berdiri diambang maut.
"Ka celin harus sabar,ka celin harus tetap kuat ka, mungkin Tuhan punya rencana lain,kita harus yakin bahwa rencana-NYA adalah yang terbaik untuk semua umatnya."
Entah kinara sendiri tidak tahu harus seperti apa dan bagaimana untuk menenangkan dan menguatkan sahabat suaminya itu. Yang jelas kalaupun kinara berada diposisi celin saat ini,mungkin dirinya pun tak akan sekuat itu.
"Kalau begitu apakah takdir mungkin bisa berubah,jika adanya campur tangan manusia..?" pertanyaan celin terdengar ambigu,membuat kinara seketika melerai pelukannya menatap celin dengan tatapan tak paham.
"Aku iklas jika memang Tuhan menentukan hidupku tak akan lama lagi,tapi sebelum aku pergi menemuiNYA,bolehkah aku meminta sesuatu yang terakir kalinya..? agar setidaknya ketika aku tiada nanti,aku bisa pergi dengan bahagia.."
Kinara masih diam tak bergeming,dia masih belum paham arah pembicaraan celin.
"Kinara,jika Tuhan tak bisa mengabulkan keinginanku, Namun bisa kah kamu yang membuatnya terwujud..?"
Kinara semakin mengerutkan keningnya bingung "Maksud ka celin..??"
"Reyga...! bolehkah aku meminta reyga padamu..?"
Deg..
Kinara tercengang,reflek dia bangkit dari duduknya ,namun sebelum kinara beranjak celin lebih dulu menggenggam jemarinya seraya bangun dari kursi rodanya lalu menjatuhkan diri bersimpuh dikaki kinara.
__ADS_1
"Ka celin,apa yang ka celin lakukan.." kinara pun berusaha membantu celin untuk bangkit dan kembali ke kursi rodanya.
Sesaat semua tamu dicaffe itu mengalihkan pandangannya kepada mereka. Namun kali ini celin seolah tak perduli,baginya saat ini adalah perjuangan dan pengorbanannya untuk yang terakir kalinya agar kinara mau mengembalikan reyga padanya.
"Ka celin,ku mohon tenanglah jangan seperti ini,kita bisa bicarakan semua ini dengan baik-baik.." kinara sedikit terengah setelah berhasil membawa celin kembali ke kursi rodanya.
"Maafkan aku nara..Tapi aku sungguh sungguh tidak tau lagi harus bagaimana lagi caranya agar kamu mau mengembalikan lagi reyga padaku.."
"Ka celin,aku mengerti dengan kondisi dan keadaan ka celin saat ini, dan sungguh aku pun ikut sedih mendengarnya, tapi untuk ka Reyga maaf aku tidak bisa ka.." Kinara sebisa mungkin mengontrol emosinya,dia tau gadis dihadapannya saat ini tengah rapuh dan putus asa,dan dia tidak boleh terbawa emosi.
"Kenapa nara,kenapa kau begitu egois..! Selama ini kamu sudah memiliki reyga sepenuhnya,hidupmu sempurna,kamu memiliki reyga dengan utuh, lalu kenapa..kenapa kamu tak mau membaginya untukku walaupun hanya sebentar sebelum aku benar benar pergi.."
Lagi lagi kinara hanya bisa menarik nafasnya pelan,mendengar semua permintaan celin yang tidak masuk akal baginya.
"Ka Reyga bukan barang ka celin,yang bisa dipinjamkan dan dikembalikan begitu saja.." sarkas kinara pelan.
"Kalau begitu aku bersedia menjadi yang kedua,aku berjanji takan menuntut banyak dari hubungan ini. Aku hanya ingin sebelum aku pergi aku bisa menghabiskan sisa hidupku bersama orang yang paling aku cintai.."
Sesaat kinara memejamkan matanya,merasa putus asa menghadapi sikap celin yang terus menyudutkannya
"Tidak ka celin,maaf aku tidak bisa..! Kalau itu terjadi yang ada kita hanya akan saling menyakiti saja. Lalu bagaimana dengan perasaan ka Reyga,dia juga pasti akan sama terlukanya." kinara berucap lirih berharap celin mau mengerti dan menghentikan keinginannya yang sudah tak masuk akal.
"Maaf ka celin,aku juga sangat mencitai ka reyga, Aku tak bisa membagi suamiku dengan wanita lain.."
Yah kinara rasa dirinya harus bisa tegas kepada celin,meskipun sejujurnya dia sangat iba atas kondisi gadis itu,tapi untuk membagi suaminya rasanya itu sangat tidak mungkin karna reyga juga merupakan hidupnya.
"Maaf ka celin,sepertinya aku harus segera pergi,aku akan selalu mendoakan ka celin agar kembali sehat,dan bisa hidup bahagia."
Kinara mengulas senyum sebelum ahirnya dia bangkit lalu beranjak pergi dari caffe itu.
Namun langkahnya tiba tiba terhenti,kala kinara mendengar suara riuh para tamu dicaffe itu,dan samar samar suara asisten rumah tangga celin yang terdengar jelas ditelinganya. "Non celin bangun non.."
Kinara menoleh kebelakang,dan matanya seketika membelalak kala melihat tubuh celin jatuh tersungkur dari kursi rodanya tak sadarkan diri "Ka celiiin...!"
***
__ADS_1
"Keadaan pasien sudah sangat kritis,kita harus melakukan kemoterapi agar bisa membuat kondisi pasien bertahan lebih lama.." ucap sang dokter menjelaskan pada kinara karna kebetulan orang tua angakat celin keduanya sedang berada diluar kota,dan sang asisten sedang berusaha untuk menghubunginya.
"Kalau begitu lakukan saja apa yang terbaik menurut dokter,saya kerabatnya sebentar lagi orang tuanya akan datang,jadi untuk sementara saya yang akan bertanggung jawab."
"Maaf sebelumnya nona, masalahnya pasien tidak mau menjalani kemoterapi,dan hal itu akan membuat penyebaran kangker semakin ganas dan meluas.."
"Jadi saya sarankan,tolong bantu bujuk pasien agar mau secepatnya menjalankan kemoterapi atau kalau tidak.." dokter itu menghentikan kalimatnya,membuat kinara semakin penasaran.
"Kalau tidak apa dokter..?"
"kemungkinan hidupnya hanya akan tinggal satu persen.."
Kinara tertegun mendengarkan penjelasan sang dokter,seketika kakinya terasa lemas dan semua permintaan celin sesaat berkecamuk dibenaknya,haruskah dia memenuhi keinginan gadis itu..???
***
"Untuk apa aku menjalani pengobatan kinara,jika hidupku sudah tidak ada artinya lagi,mungkin lebih cepat mati itu adalah lebih baik,bukan kah ini yang Tuhan inginkan.."
"Cukup ka Celin..!" kinara sudah benar benar merasa geram dan gemas menghadapi sikap kerasa kepala celin,sejak tadi dia berusah untuk membujuknya namun sama sekali tidak berhasil.
"Loh kenapa memangnya nara..?? kata kataku benar kan..? kamu ga usah sok peduli padaku..jadi pergilah,biarkan aku sendiri,biar saja aku mati.." celin berbalik membelakangi kinara,menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut lalu kembali terisak pilu.
Kinara hanya bisa menghela nafasnya pelan menghadapi celin,sepertinya dirinya memang harus mengalah mengingat semua penjelasan sang dokter,jika tidak secepatnya ditangani,Celin bisa saja sewaktu waktu akan pergi untuk selamanya..
"Baiklah aku mengalah.." ucap kinara lirih
Dan seketika celin menghentikan tangisnya,namun tetap pada posisinya.
"Beri aku waktu selama satu minggu,aku ingin membahagiakan ka reyga,sebelum.." Kinara menarik nafas menghentikan kata katanya.
Sementara celin masih tak bergeming namun mencoba untuk mendengarkan apa yang akan kinara ucapkan selanjutnya.
"Sebelum aku yang akan pergi meninggalkannya.."
"Berjanjilah untuk tetap hidup dan ku mohon bahagiakan ka reyga.."
__ADS_1
*Flassback off..
*Bersambung..