
"Dari mana saja jam segini baru pulang." ucap reyga ketika kinara baru saja sampai diapartemennya.Dan kinara bisa melihat raut wajah reyga yang seperti sedang menahan kesal.Namun sebisa mungkin kinara bersikap tenang dan tak meladeni suaminya itu.
Kinara melangkah masuk hendak ke kamar,namun reyga malah mencekal tangannya membuat kinara terpaksa menghentikan langkahnya.
"Kinara,kamu dengerkan tadi aku nanya apa..?kenapa kamu malah diam tidak menjawab." ucap reyga lagi seraya menatap tajam pada istrinya.
"Aku cape ka rey,aku mau mandi dulu." jawab kinara singkat dan kembali melangkah ke kamar. "Apa seharian ini kamu jalan sama anak baru itu,sampai lupa waktu,atau mungkin kamu juga lupa kalau kamu adalah wanita yang sudah bersuami." ucap reyga dengan intonasi yang dingin.Membuat kinara kembali menghentikan langkahnya dan membalikan badannya menatap reyga lagi.
Sesaat kinara memejamkan matanya seraya menghela nafas pelan. "Anak baru itu namanya devano ka rey,dan aku tidak punya hubungan apapun dengannya.Setelah acara makan direstoran tadi kami langsung pulang dan tadi kebetulan aku mampir kerumah tante fina,karna lama baru ketemu tante fina pun menyuruhku makan malam dirumahnya,itulah alasanya kenapa aku pulang malam hari ini.Sudah jelaskan." kinara berusaha untuk berbicara setenang mungkin.
"Kalo memang itu benar,kenapa tak memberiku kabar,kenapa tiba tiba ponselmu tidak aktif." tanya reyga lagi yang masih meragukan istrinya,membuat kinara lagi lagi menghela nafasnya perlahan.
"Ponselku mati ka rey,aku lupa mengisi dayanya,kalau ka reyga enggak percaya.Nih ka reyga bisa lihat sendiri." kinara kemudian menunjukan ponselnya yang tengah mati kepada reyga.
"Tapi tetap saja aku tidak suka kamu dekat dekat dengan anak baru itu,dan waktu direstoran tadi aku lihat dia terus menatapmu,dia pasti menyukaimu." ucap reyga lagi dengan wajah datarnya.
"Kalo ada seseorang yang menyukai kita,maka itu adalah hak nya karna kita ga bisa maksain seseorang untuk bisa benci ataupun suka kepada kita,tapi yang penting aku cuma menganggapnya sebagai teman tidak lebih.Bukan kah ka reyga juga pernah bilang begitu tentang ka celin." sarkas kinara yang seketika yang membuat reyga terdiam.
__ADS_1
Melihat suaminya terdiam maka kinara pun berlalu hendak masuk ke kamar namun lagi lagi reyga mencekal tangannya.
"Tunggu kinara,aku dan celin jelas kami bersahabat sejak kecil,tapi kamu dan dia..?? kalian baru saling kenal,okeh kalau kamu menganggap dia teman,tapi anak baru itu akan berharap lebih kalo kamu sendiri selalu memberinya kesempatan untuk bisa terus dekat denganmu.Bukankah itu sama saja kamu memberinya harapan." mendengar reyga bicara seperti itu,kinara sudah tidak bisa lagi menyembunyikan rasa kecawanya.
"Lalu apa bedanya aku sama ka reyga..?! Bukannya selama ini juga ka reyga selalu membiarkan ka celin bergantung pada ka reyga,sampai sampai ka reyga sendiri lupa kalau status ka reyga itu seorang suami.
Apa pernah ka reyga bertanya dan memahami perasaanku..?! mungkin ka rey selalu menganggap ka celin adalah sahabat ka reyga sejak kecil,tapi apa ka celin juga beranggapan yang sama..? jelas jelas ka celin itu menyukaimu ka rey,bahkan sikap ka celin berubah terhadapku karna dia tidak menyukai krberadaan diantara kalian.Lalu kenapa,kenapa sekarang ka rey menghakimiku menyudutkanku seolah olah akulah terdakwanya disini." mata kinara sudah mulai berkaca kaca,dia sudah benar benar sesak hingga ingin menumpahkan semua keresahan yang ada dihatinya.
"Harusnya ka reyga menikah saja dengan ka celin bukan menikah dengan ku." dan kata kata kinara kali ini membuat reyga menatap tajam padanya. "Jadi kamu menyesal karna sudah menikah denganku." ucapnya dengan begitu dingin,membuat kinara tersenyum kecut.
"Aku tak pernah menyesal menikah denganmu ka rey,aku cuma menyesali kebodohanku karna terlalu banyak berharap padamu.Padahal aku sadar sejak awal ka rey tak pernah mencintaiku,dan pernikahan ini juga terjadi karna ka reyga membutuhkan ku sebagai obat.Namun lagi lagi aku terbuai karna merasa memilikimu membuatku menjadi egois dan merasa tak rela jika perhatian suamiku tercurah untuk perempuan lain yang beratas namakan sahabat." kinara tertawa getir hingga tanpa terasa bulir bening itu sudah menetes dipipinya.
"Asal kamu tau, kinara,sebelum kamu hadir tak ada seorang gadis pun yang bisa memasuki kehidupanku kecuali celin.Tapi ketika kamu hadir dan mulai memasuki kehidupanku,aku justru merasa segala duniaku ada padamu.Aku akui aku sakit dan tak bisa mengendalikan hasratku ketika aku emosi,tapi bukan berarti aku menikahimu untuk menjadikanmu budak nafsuku.Dan jika selama ini sikap ku salah pada celin,aku minta maaf,tapi jauh sebelum kamu hadir,celin sudah memberikan banyak andil untuk kehidupanku yang dulu,dan sikapku yang sekarang semata mata hanya ingin membalas apa yang sudah perna celin lakukan untukku dulu.Jadi seharusnya kamu tak perlu cemas perihal celin."
Mendengar semua penuturan reyga,kinara makin terisak,dia berlari memasuki kamar dan menjatuhkan tubuhnya ditempat tidur.Kinara menangis sesunggukan menumpahkan segala asa dan kecewa yang menyesakan didadanya.Sementara reyga dia merosot terduduk lemah dilantai,jauh dilubuk hatinya dia ingin sekali mendekap dan memeluk tubuh istrinya,apalagi melihat kinara meneteskan air mata karenanya,hatinya jauh lebih sakit.Tapi reyga memilih bertahan. baginya cinta hanyalah akan selalu meninggalkan rasa luka dan kecewa.Karna itu reygapun tak ingin kinara terlalu mencintai dirinya yang sudah terlalu sering membuatnya menangis.
***
__ADS_1
Malam sudah semakin larut,namun reyga belum juga memejamkan matanya,dia memilih tidur disofa ruang tengah sengaja membiarkan kinara tertidur sendiri dikamarnya.Namun reyga justru semakin gelisah dan tidak tenang ketika dibagian bawah sana mulai menegang.Tentu saja sejak sore tadi dia sudah emosi karna kinara pulang malam,ditambah lagi dia harus bertengkar dengan istrinya.Sebenarnya sudah sejak tadi reyga menengang namun dia bertahan,karna kali ini dia harus bisa mengendalikan dirinya dan emosinya.Dia tidak ingin menerjang kinara yang saat ini tengah marah dan kecewa padanya.
Jam sudah menunjukan pukul satu dini hari,reyga masih saja gelisah,tubuhnya mulai gerah dan panas bahkan keringat dinginpun sudah mulai keluar bercucuran,reyga bangun dari posisi tidurnya dan duduk bersandar,reyga meremas rambutnya merasa frustasi.
"Aku harus bisa,aku harus bisa,aku tak boleh melampiaskannya pada kinara,itu hanya akan semakin melukai hatinya." reyga terus bergumam sendiri,sampai sesaat kemudian dia termenung seperti sedang berfikir.
"Obat..!sepertinya aku masih menyimpan beberapa obat dilemariku." dan tak butuh waktu lama reygapun berlari memasuki kamarnya,dia berjalan mengendap agar tidak membangunkan istrinya yang sudah tertidur karna kelelahan menangis.Reyga perlahan mencari obat itu dilemarinya,dan ahirnya dia berhasil menemukannya.reyga buru buru berjalan menuju pintu keluar,namun langkahnya terhenti kala matanya menatap wajah istrinya yang tengah tertidur pulas.
Reyga berjalan mendekat dan duduk ditepi ranjang,sejenak dia menatap wajah damai istrinya,terlihat mata yang sedikit membengkak karna habis menangis.Reyga kemudian mencium kening kinara dengan pelan" Maafin aku nara,aku sayang kamu." bisiknya lalu secepatnya pergi dari kamar,takut tak bisa lagi mengendalikan dirinya.
Reyga ahirnya sudah bisa tertidur dengan tenang,setelah dia meminum obat penenang atau obat pengendali libidonya.Dan disaat reyga sudah terlelap,diam diam kinara keluar dari kamar menuju ruang tengah.Dia membawa selimut untuk menyelimuti tubuh suaminya.Namun seketika mata kinara tertuju pada kemasan obat yang tergeletak dimeja bersama segelas air putih.
Kinara mengambil bekas kemasan obat itu,dan sesaat kinara terpaku karna dia tahu betul itu adalah obat pengendali libido suaminya.Hati kinara seketika mencleos.
"Lihatlah ka rey,bahkan kamu lebih memilih mengonsumsi obat-obatan itu lagi,dari pada menyentuh tubuhku.Apakah aku sudah tidak berarti lagi untukmu." air mata kinara kembali menetes,hatinya merasa perih dan terluka.
Dia memang berhasil menikahi pacar idamannya.Tapi dia tidak berhasil memiliki hatinya.
__ADS_1
Kinara kembali memasuki kamarnya,dia kembali terisak dikesunyian malam yang hening.
*Bersambung..😊