Menikahi Pacar Idaman

Menikahi Pacar Idaman
Episode 33


__ADS_3

"Jadi beneran kamu mau kebandung ra..?"


tanya tante fina yang berdiri didekat pintu kamarku.


"iya tan,cuma sehari ko tar malem juga kayaknya udah pulang."


jawab ku seraya memasukan barang-barang yang akan kubawa kedalam ransel.


"sama reyga aja berdua..?" tanya tante fina lagi,dan akupun hanya tersenyum mengangguk.


"kalo aja om kamu ga diluar kota,pasti dia mau nemenin kamu kebandung."


"ga papa kok tan,om rudi kan lagi banyak kerjaan,nara ga mau ngrepotin om."


"ya udah kamu sama reyga hati-hati yah,bilangin sama reyga jangan ngebut-ngebut." ucap tante fina dengan raut wajah cemasnya.


"iya tanteku sayang,tante tenang aja."


"oh iya nara,ini jangan lupa dibawa ya,tadi tante udah masakin rendang sama acar kesukaan kamu,nanti kalo udah nyampe kamu dan reyga bisa langsung makan."


ucap tante fina seraya menyerahkan bekal masakan yang dibuatnya tadi.


"ya ampun tante,ngapain mesti repot-repot bawain bekal sih,kan nanti nara bisa beli makanan dijalan."


"iya ga papa,tante pengen aja masakin buat kamu sama reyga."


dan tiba-tiba terdengar suara deru mobil datang dari luar.


"itu kayanya suara mobil ka reyga deh tan."


ucapku sembari melongok dari jendela untuk memastikan.


"tuh kan bener,ka rey udah dateng,kalau gitu nara pergi sekarang yah tan."


kemudian akupun mencium tangan tante fina untuk berpamitan,dan tante fina pun mengantarkan ku sampai depan rumah,dan bertemu dengan ka reyga yang baru turun dari mobilnya lalu menghampiri tante fina dan mencium tangannya.


"nak reyga titip kinara yah,nanti bawa mobilnya pelan-pelan aja gak usah ngebut."


wanti tante fina sama ka reyga.


"iya tan,rey akan hati-hati ko."


"ya udah tan,kita pamit dulu,keburu siang nanti jalanan macet."


ucapku seraya berpamitan ulang,lalu masuk kedalam mobil ka reyga,meninggalkan tante fina yang masih berdiri didepan pagar melambaikan tangan.


Dan setelah menempuh perjalanan beberapa jam ahirnya kami pun sampai dibandung.


mobil ka reygapun memasuki sebuah pekarangan rumah yang terlihat nampak usang.Aku dan ka reyga pun turun dari mobil.


perlahan aku memasuki pekarangan rumah itu dengan tatapan mataku yang tak lepas dari bangunan rumah yang bercat warna putih namun sudah memudar dan berlumut,dengan halaman yang nampak gersang hanya ditumbuhi ilalang dan rumput-rumput liar.


padahal dulu halaman rumah ini dipenuhi dengan tanaman-tanaman bunga yang indah,namun sekarang setelah ditinggal pemiliknya nampak terlihat jelas tak terurus.


ka reyga menepuk bahuku pelan.


"apa ini rumahmu..?"


tanyanya singkat,dan akupun tersenyum mengangguk.


"ayo masuk.." ucapku seraya melangkah masuk membuka pagar rumah yang sudah nampak berkarat,Namun baru saja beberapa langkah melangkahkan kaki,tiba-tiba ada yang memanggilku dari belakang.


"Neng nara.." ucap seorang lelaki tua yang berjalan mendekat kepada kami.


"mang asep.." ucapku seraya tersenyum.


"maaf neng mamang tadi abis kewarung beli kopi sama gas." ucap mang asep yang memang menenteng tabung gas dan kantong plastik blanjaan.


"maaf neng,rumputnya baru mamang cabuti sebagian,tapi kalo didalem udah mamang beresin semuanya,termasuk kamar neng nara."

__ADS_1


"oh iya mang gapapa makasih banyak yah,maaf nara udah ngrepotin mamang,nara ga lama disini ko mang,nanti sore juga udah balik lagi,jadi gak usah dicabutin semua rumputnya."


"oh iya gimana kabarnya bik sumi..?"


ucapku pada mang asep,yang dulunya adalah sopir alm.ayah dan bik sumi adalah istrinya,semalam aku memang sengaja menghubungi mang asep untuk meminta tolong sekedar membersihkan dan merapikan bagian didalam rumah yang pastinya sudah sangat kotor dan berdebu.


"Alhamdulillah bik sumi sehat neng,nanti kalo sudah istirahat mangga neng nara main kaerumah mamang bik sumi pasti seneng ketemu sama eneng."


ucap mang asep dengan ramah.


"iya mang insyaallah yah nanti kalo masih sempet nara mampir,soalnya nanti sore udah mau balik lagi." ujarku seraya tersenyum ramah pada mang asep.


"iya udah ga papa neng,sebaiknya neng dan temen neng nara ini istirahat saja dulu,nanti mamang mau pasangin gasnya,barang kali nanti emasnya mau bikin teh atau kopi,udah mamang siapin."


"aduh makasih banyak ya mang,sekali lagi nara minta maaf udah ngerepotin."


"sama-sama neng ga papa,eneng kan sudah mamang anggep anak sendiri."


seketika mataku pun berkaca-kaca,mengenang masa-masa lalu dimana mang asep sering sekali mengantar dan menjemputku ke sekolah.


"marih neng,mas.."


ucapnya membungkuk hormat dan berjalan didepan kami yang mengikutinya dari belakang.


Saat pertama kali aku menginjakan kakiku kembali kedalam rumah ini,memoryku pun seolah memutar ulang kembali segala kenangan-kenangan manis yang sudah banyak sekali dilewati disetiap sudut rumah ini.


"apa rumah ini dibiarkan kosong begitu saja."


ucap ka reyga kemudian,seraya matanya terus mengamati setiap ruang yang ada didalam rumah ini,lalu tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah foto yang berukuran cukup besar yang terpasang didinding ruang tamu,yang mana didalamnya ada ayah,ibu dan diriku yang nampak tersenyum bahagia didepan kamera,dan aku ingat betul foto itu diambil pas waktu acara kelulusan SMAku.


"apa itu foto ayah dan ibumu..?"


ucapnya lagi memandang lekat foto itu.


dan aku pun mengangguk seraya ikut memandangnya.


ucapku sendu,dan kini wajah ka reyga berpaling menatapku.


"apa kamu merindukan mereka,sehingga kamu mengajakku kesini."


"sangat...!"


"aku sangat merindukan ayah dan ibu setiap waktu dan setiap saat."


ucapku dengan mata berkaca.


"apa ini alasannya kamu membiarkan rumah ini kosong tanpa berniat menjualnya."


ucap ka reyga lagi,seraya kembali menatap foto dihadapannya.


"sebenarnya dalam kecelakaan itu,ibu meninggal ditempat,sementara ayah dalam kondisi kritis,dan sebelum wafat menyusul ibu,ayah sempat berpesan pada om rudi dan tante fina,bahwa rumah ini boleh aku jual untuk meneruskan biaya kuliyahku nanti,namun apapun keadaannya aku tak ingin menjual rumah ini,karna bagaimanapun rumah ini adalah kenangan satu-satunya untukku." ujarku menceritakan pada ka reyga.


dan tak terasa bulir bening itupun menetes dikedua pipiku,dan ka reyga yang melihatku menangis,langsung merengkuhku kedalam pelukannya,membiarkan aku menangis dipelukannya,tangisan akan kerinduan seorang anak kepada kedua orang tuanya yang telah tiada.


"kamu masih beruntung kinara,setidaknya kamu masih punya kenangan manis dimasa kecilmu bersama kedua orangtuamu,tidak sepertiku."


ucapnya pelan dengan raut wajah datar,dan seketika akupun mendongkak menatap wajahnya yang berjarak begitu dekat denganku,perlahan aku melepaskan diri dari pelukan ka reyga dan mengusap air mataku.


aku melihat raut wajah ka reyga berubah murung,dan aku paham,pasti diapun teringat akan masa kecilnya yang kelam.


"ka rey masih cape enggak..?"


tanyaku seraya menatapnya,dan diapun menjawab hanya dengan menggeleng.


"kalo begitu,aku mau ajak ka reyga kesuatu tempat." ujarku seraya menarik tangannya.


"emang kita mau kemana..?"


tanyanya bingung.

__ADS_1


"udaah ka rey ikut aja,nanti juga tau."


***


aku dan ka reyga pun tiba disebuah area yang dimana disitu terdapat barisan gundukan tanah marah,yang diatasnya terdapat papan nisan bertuliskan nama seseorang yang jasadnya dibawah sana tengah terbaring damai dalam tidur panjangnya.


aku masih menggandeng tangan ka reyga melewati beberapa batu nisan,dan seketika kakipun berhenti ketika mendapati dua batu nisan bernama 'Antoni wijaya' dan satunya lagi 'Kinanti larasati'.


"Assalamualaikum ayah ibu.."


ucapku seraya bersimpuh didepan pusara kedua orangtuaku,sementara ka reyga dia ikut bersimpuh disampingku tertegun menatap kedua batuh nisan dihadapan kami.


"Ayah,ibu..maafin nara yah baru sempet jiarah lagi kesini,ayah dan ibu pasti sudah bahagia disurga sana."


ucapku lagi dengan terus mengulas senyum namun mataku sendiri terasa berat dan mulai berkaca.


"ayah,ibu kalian tahu sejak kalian pergi nara sangat kesepian,nara selalu ngerasa sendiri,meskipun om rudi dan tante fina sangat baik,tapi tetap saja nara rindu sosok ayah dan ibu."


ucapku lagi berkata kepada kedua batu nisan itu,seolah olah yang terbaring didalamnya tengah mendengarkan keluh kesahku.kemudian aku pun mendongkakan wajah keatas menahan agar air mataku tidak jatuh,karna aku tidak ingin menangis dihadapan kedua pusara ayah dan ibuku.


"oh iya,ayah,ibu aku kesini tidak sendirian,aku kesini bersama teman priaku."


dan sekilas aku melihat ka reyga menatapku aneh.


"namanya reyga bu,dia itu pria yang sangat tampan dan idola dikampus tempat nara kuliah,tapi meskipun dia tampan,sikapnya itu sangat dingin dan kaku,wajahnya selalu datar dan menyebalkan,tapi nara mencintainya bu."


ucapku pelan kemudian,yang tak lepas dari tatapan mata ka reyga.


"padahal nara dulu pernah bilang sama ayah,bahwa kelak nara ingin menikah dengan sosok pria seperti ayah yang sangat mencintai ibu,dan terbuktikan ayah sangat mencintai ibu,meskipun ibu meninggalkannya terlebih dahulu,tapi hanya selang beberapa waktu ayah langsung menyusul ibu,bahkan ayah tidak bisa hidup tanpa ibu walaupun cuma sehari hingga maut pun tak bisa memisahkan kalian."


ucapku lagi,dengan kelopak mata yang sudah beranak sungai disana.


"tapi lihatlah sekarang,ayah,ibu,pria tampan yang kinara bawa ini,meminta kinara untuk menikah dengannya,bagaimana menurut kalian..?apa ayah dan ibu merestuinya..?"


ucapku lagi yang seolah olah didengar oleh kedua pusara dihadapanku saat ini.


lalu tiba-tiba ka reyga memegang dan menggenggam tanganku dan meletakannya ditengah pusara ibuku,sementara tangan satunya lagi memegang batu nisan ibu.


"Paman,bibi,kalian tidak usah cemas karna mulai sekarang,aku berjanji akan menjaga putri kalian sebaik mungkin,aku ingin menikahinya menjadikan dia orang yang pertama dan terakir yang akan menemaniku sampai maut pun kelak tak bisa memisahkan kami,seperti kalian."


"mungkin aku tidak mampu mencintainya sebesar rasa cinta kalian pada kinara,tapi kalian perlu tahu,aku sangat sangat menyayangi putri kalian."


Ucap ka reyga dengan tulus,seolah olah ayah dan ibu didalam sana mendengarnya,dan mungkin memang benar ayah dan ibu tengah tersenyum memberi restunya didalam sana.


karna seketika aku bisa merasakan semilir angin yang sejuk datang berhembus,yang membuat daun-daun kering disekitar pusara berterbangan,hembusannya pun memainkan anak rambutku menutupi sebagian wajahku.


kini ka reyga berpaling menatap lekat wajahku.


"kinara dihadapan pusara ayah dan ibumu,aku ingin bertanya sekali lagi."


"maukah kamu menikah denganku..?"


tes..bulir bening itu pun ahirnya bergulir bebas dikedua pipiku,dan ka reyga pun mengusapnya pelan seraya menyelipkan anak rambut yang menutupi sebagian wajahku ketepi telingaku.


"aku tidak bisa menjanjikan banyak kinara,tapi percayalah,aku hanya ingin kamu yang selalu bersamaku."


ucapnya lagi dengan penuh pengharapan,hingga ahirnya aku pun mengangguk pelan.


"iya,aku mau ka rey.."


***Bersambung..๐Ÿ˜Š


Alhamdulillah ahirnya bisa Up juga..๐Ÿ˜


sebenernya inspirasi lagi banyak nih,cuma lagi males ngetik aja..๐Ÿคฆโ€โ™€๏ธ๐Ÿ˜…


abisnya liat like yang stak anteng disitu jadi kurang semanget Up nya..โ˜น


coba aja like nyampe 100 lebih,kayanya autor bakal usahain deh Up 2-3 episod perhari,tapi itu juga kalo lagi gak sibuk..๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐ŸคญโœŒ**

__ADS_1


__ADS_2