Menikahi Pacar Idaman

Menikahi Pacar Idaman
Episode 67


__ADS_3

"Papih.." kata itu keluar begitu saja dari mulut reyga seiring gerakan reflek kakinya yang mulai melangkah mendekati tempat ayahnya berbaring.


"Rey.." johan samar samar mengulas senyum ketika reyga sudah berdiri tepat didekat ranjangnya.Pria pesakitan itu menggerakan badannya untuk sedikit bangun,namun lagi lagi darah merembes keluar dari lubang hidungnya,ditambah lagi johan mulai memuntahkan darah dari mulutnya,yang membuat marisyah nampak semakin panik.


"Sudahlah mas kau jangan banyak bergerak dan jangan banyak bicara dulu." marisyah terus mengelap dan membersihkan wajah sang mantan suami,yang sebagiannya sudah dipenuhi darah yang terus mengalir dari mulut dan hidungnya.


Sementara reyga sendiri nampak nanar menatap kondisi sang ayah yang semakin memburuk,namun entah mengapa mulutnya masih terasa kaku dan kelu untuk mengucapkan kata apapun,seiring hatinya yang kian terasa piluh.


"Rey.. Papih tidak akan menuntutmu untuk memaafkan papi,tapi bolehkah papih memelukmu sebentar saja untuk yang terakir kalinya." Johan nampak terbata dan bergetar dalam pengucapannya,hingga tak terasa sudut matanya sudah menitikan air mata,gambaran penyesalan yang begitu dalam serta rasa sakit yang kian menjalar diseluruh tubuhnya.


Dan tak disangka sangka,Reyga membungkukan tubuhnya dan menubruk pria yang memiliki aliran darah yang sama dengannya yang kini tengah terbaring lemah tak berdaya.Membuat marisyah seketika terpaku melihat pemandangan haru dihadapannya.


"Aku memaafkan mu pih,bertahanlah." bisik reyga pelan tepat ditelinga sang ayah.Membuat pria itu mengurai senyum rasa bahagia yang menyeruak didadanya.


"Terimakasih rey,semoga kau selalu memiliki kehidupan yang baik dan bahagia sepanjang masa,papi bangga padamu nak,papi menyayangimu. Johan mengelus bahu putranya dengan tangan bergetar,hingga ahirnya reyga mulai mengangkat tubuhnya perlahan dan menatap wajah sang ayah dengan rasa yang teramat pilu.


Sesaat senyuman sang papih samar samar mulai memudar,diikuti kelopak matanya yang perlahan mulai merapat dan menutup.disusul dengan layar monitor pendeteksi detakan jantung yang seolah mulai melemah dan berhenti berdetak.Sontak marisyah mulai histeris "Mas johan ku mohon bertahanlah." ucapnya dengan bibir bergetar mulai terisak,dibarengi kinara yang kembali memasuki ruangan di ikuti sang dokter dan beberapa perawat dibelakangnya.


Sementara reyga,perlahan dia memundurkan langkahnya sampai punggungnya menabrak dinding tembok ruangan itu.Tatapannya masih fokus pada pria yang dalam hitungan menit tadi dia panggil papih.Namun sekarang pria itu telah menutup matanya yang sepertinya enggan untuk membukanya lagi.


Kinara langsung berlari menghampiri suaminya,dia menopang tubuh kokoh suaminya yang terlihat mulai merapuh.Tangannya menggandeng lengan reyga dan menuntunnya keluar ruangan itu.Begitu pun marisyah yang sejak tadi terisak,ikut keluar dari ruangan membiarkan sang dokter memeriksanya.


Dan setelah beberapa waktu berlalu,sang Dokter ahirnya keluar dengan raut wajah tak biasa,Marisyah mencoba mendekat untuk menanyakan keadaan sang mantan suami.

__ADS_1


"Gimana keadaan mantan suami saya dok." sang Dokter pun kemudian menggeleng pelan. "Maaf bu,kami sudah berusaha tapi pa johan tidak bisa diselamatkan."


Mendengar hal itu,tubuh reyga merosot kelantai,dia termangu dengan sorot mata tak berekspresi,ingatannya kembali berputar untuk kejadian beberapa menit lalu yang merupakan moment terakirnya dengan sang ayah.Kinara yang melihat hal itu merangkul punggung suaminya untuk mengalirkan kekuatan pada jiwa yang tengah rapuh itu.


Sementara marisyah sudah kembali masuk kedalam ruangan itu untuk melihat sang mantan suami untuk yang terakir kalinya.


***


Reyga masih menatap nanar gundukan tanah merah dihadapannya,terdapat nama 'Johan pratama adinata' dalam batu nisan yang tertancap diatas tanah merah itu.


Beberapa kerabat dan juga orang orang terdekat yang ikut hadir dipemakaman,nampak satu persatu mulai meninggalkan area pemakaman.disana juga nampak om rudi dan tante fina yang tengah mengucapkan berbela sungkawa pada marisyah,lalu stelah itu menghampiri kinara dan reyga yang masih setia bersimpuh dihadapan pusara sang ayah.


"Nak reyga..Om dan tante turut berduka cita yah,kamu yang sabar yah rey.." Om rudi menepuk pelan bahu suami dari keponakannya itu,yang dibalas anggukan singkat oleh reyga tanpa ada senyuman sedikitpun diwajahnya.


"Nara.. tante dan om pamit yah,kamu terus dampingi dan semangati reyga yah." setelah itu om rudi,tante fina,dan juga marisyah mulai berlalu meninggalkan pemakaman.


"Kita juga ikut berduka cita yah rey.." ucap doni,yang dibalas senyum singkat oleh kinara untuk mewakili suaminya. "Makasih yah ka doni,ka celin." kinara juga mengulas senyum pada celin yang malah justru tak meresponnya.


"Rey,gue tau kok apa yang elo rasain sekarang,gue siap jadi pendengar cerita elo kapan pun elo mau rey." celin mengembangkan senyumnya berusaha menguatkan reyga,yang masih setia berdiam diri tak bergeming.


"Don,elo pulang duluan aja bareng nara,biar gue temenin reyga disini. Nara,kamu kelihatannya udah cape banget,sebaiknya kamu pulang bareng aja sama doni,biar reyga gue yang nemenin." Kinara yang mendengar hal itu menjadi merasa bingung,disatu sisi dia tidak ingin meninggalkan suaminya yang tengah berduka saat ini,tapi mendengar ucapan celin barusan,secara tidak langsung celin seolah menyuruhnya menjauh dari reyga.


Kinara ahirnya beranjak bangun,mungkin dia harus mengalah dan memberi kesempatan pada celin untuk bisa menemani suaminya,mungkin reyga akan merasa lebih baik ketika bersama celin sahabat kecilnya.

__ADS_1


Namun baru saja kinara berdiri,reyga malah menggengam tanggannya dan menariknya kembali."Maaf celin,saat ini aku hanya butuh kinara disampingku." ucap reyga dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.


Doni yang menyaksikan kecanggungan itu ahirnya membuka suara dan membujuk celin untuk ikut pulang bersamanya. "Sudahlah cel,biarkan reyga bersama kinara,lebih baik kita pulang sekarang." nampak wajah celin berubah muram,entah mengapa hatinya sakit mendapat penolakan dari reyga.Padahal dia hanya ingin berada disamping reyga untuk menemaninya melewati masa duka citanya.


Tapi hatinya terasa perih kala reyga tak menatapnya sama sekali,bahkan tangan reyga yang semakin erat menggenggam kinara ,membuat celin mendelik tajam kearah kinara yang kini memilih menundukan wajahnya.


"Kalau gitu kita permisi yah rey,nara,kita duluan." doni pun berlalu sambil mendorong kursi roda celin yang sejak tadi terdiam tak berbicara sepatah katapun.


***


Reyga tengah berdiri diatas balkon lantai kamarnya,menatap langit malam yang gelap tanpa kemerlip bintang menghiasi.Sepulang dari pemakaman tadi kinara terus membujuknya untuk menginap dirumah maminya,dengan alasan agar maminya tidak merasa sedih dan merasa sendiri dalam melewati masa duka ini.


Kinara yang melihat reyga tengah melamun,mencoba menghampirinya dan memeluknya dari belakang. "Ka rey.." ucap kinara lembut,seraya melingkarkan tangannya ditubuh kekar suaminya.


"Kenapa belum tidur..?disini dingin tidurlah lebih dulu,aku masih ingin disini sebentar lagi." reyga memegang tangan kinara yang melingkar diperutnya.membalikan badan menatap wajah sang istri. "Aku enggak bisa tidur kalau ka reyga enggak ada disampingku." kinara balas menatap dalam wajah suaminya.


Sejak dirumah sakit bahkan dipemakaman tadi,reyga sama sekali tak menampakan airmatanya,meskipun gurat kesedihan tercetak jelas diwajahnya.Namun kenapa ekspresi suaminya itu terlihat begitu datar,padahal kinara sendiri sangat tau suaminya kini tengah rapuh berselimut duka.Tapi kenapa reyga enggan menampakan sisi hatinya yang lemah,meskipun itu dihadapan dirinya.


"Ka rey,papih sudah tenang di alam sana,dan aku yakin kedepannya semua akan kembali normal dan baik baik saja." entah kinara tidak tau harus berkata apa lagi,hanya rangkaian kata itu yang berhasil keluar dari mulutnya.


Dengan perlahan reyga merengkuh dan memeluk tubuh istrinya.Dia sendiri tidak mengerti dengan gambaran perasaannya saat ini.Yang jelas hatinya terasa piluh,jiwanya terasa kosong seperti ada sebagian yang hilang dari dalam dirinya.Membayangkan raut wajah papihnya disaat saat terakir membuat hatinya bergelung hingga kepuncak berada dititik penyesalan.


Reyga membenamkan wajahnya dibahu sang istri,dalam diam dan heningnya malam tubuh kekar itu sedikit terguncang menandakan ia sudah tidak bisa lagi melawan arus kesedihan yang menderanya sejak sang ayah menutup mata tepat dihadapannya untuk selama lamamnya.

__ADS_1


Kinara dengan lembut mengusap usap punggung suaminya,membiarkan reyga menumpahkan rasa sesak yang membelenggu jiwanya. "Menangislah ka rey..lepaskanlah semua rasa itu,ada aku yang akan selalu ada disampingmu."


*Bersambung..😊


__ADS_2