Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 100 : Mbak Najwa Beruntung, Beda Sama Mbak Zahra,,,


__ADS_3

Tepat bakda maghrib, ketika nyai Robi'ah memimpin tahlil di hari terakhir atau hari ketujuh untuk sang menantu dan juga untuk putra nya Aida di aula.. gus Umar mendatangi abah nya di perpustakaan, seperti yang diminta kyai Abdullah tadi.


"Assalamu'alaikum abah," ucap salam gus Umar, sambil memasuki ruang baca sekaligus ruang kerja sang abah, yang tak tertutup rapat itu. Gus Umar kemudian menutup pintu nya dengan rapat, dan segera duduk di kursi yang berada di seberang meja di depan abah nya.


"Wa'alaikumsalam,,," balas kyai Abdullah, seraya membuka mata nya dan menghentikan dzikir yang di lafadz kan.


"Sudah makan gus? Nanti bakda isya' ada kenduri, dan pasti nya agak lama. Sampean jangan sampai telat makan?" Tanya kyai Abdullah, yang selalu mengkhawatirkan putra nya itu.


"Tadi sudah minum kopi sama ngemil bah, makan agak malam juga ndak apa-apa," balas gus Umar.


"Gus, apa sampean butuh bantuan abah?" Tanya kyai Abdullah, yang ingin langsung pada inti nya.


Gus Umar mengernyit kan kening nya, "bantuan? Maksud abah?"


"Untuk mengkhitbah nak Aida," balas kyai, Abdullah seraya menatap putra nya.


"Maaf abah, jujur sebenar nya itu juga yang sedang Umar pikirkan. Tapi, apakah ini tidak terlalu cepat abah? Bagaimana dengan pandangan keluarga ning Zahra? Pasti abi sama umi akan sangat bersedih, jika Umar sudah memikirkan wanita lain di saat makam ning Zahra bahkan belum kering?" Gus Umar terlihat galau.


"Sampean benar gus, tapi maksud abah di sini.. ini hanya antara kita. Abah, umi, sampean dan nak Aida. Mungkin juga sama adik sampean, ning Laila."


"Maksud abah, biar di antara kalian berdua ada ikatan.. agar nak Aida, tidak keburu di ambil lagi oleh laki-laki lain, yang mungkin saja akan datang untuk melamar dan menikahi nya," terang kyai Abdullah panjang lebar.


"Mantan suami nak Aida, seperti nya juga sedang berusaha untuk kembali pada nak Aida. Dan abah bisa melihat kesungguhan hati nak Ryan," lanjut kyai Abdullah yang nampak khawatir.


Gus Umar mendesah pelan, di satu sisi.. gus Umar senang, karena mendapatkan dukungan sang abah. Namun di sisi yang lain, gus Umar bimbang,,, karena keputusan nya, pasti akan membuat keluarga almarhum ning Zahra merasa tak dihargai.


"Bagaimana gus?" Tanya kyai Abdullah, setelah menunggu cukup lama.. namun sang putra masih terdiam.


"Umar ikut saja, bagaimana yang terbaik menurut abah." Balas gus Umar, "jujur, Umar senang mendapat dukungan dari abah," lanjut nya seraya tersenyum.


"Baik, jika begitu.. abah akan menyampaikan nya pada nak Aida, besok saat kita mengantar nya kembali ke kota," tutur kyai Abdullah.

__ADS_1


"Dik Aida akan kembali ke kota bah? Secepat ini? Bagaimana dengan luka nya? Siapa yang akan merawat dik Aida?" Cecar gus Umar, yang merasa terkejut mendengar kabar Aida akan segera kembali ke ruko nya di kota.


Melihat kekhawatiran sang putra, kyai Abdullah tersenyum. "Benar gus, nak Aida sendiri yang minta sama umi tadi sore sebelum kontrol. Nak Aida bilang, ndak etis kata nya kalau berlama-lama di sini.. dengan status nya yang janda, dan sampean duda." Kyai Abdullah menatap putra nya, yang mengangguk-angguk.


"Yah, meskipun kalian tak tinggal serumah, tapi karena masih di lingkungan yang sama.. Abah pikir, keputusan nak Aida ada benar nya juga," lanjut kyai Abdullah.


"Ya, sudah gus.. sampean makan dulu gih, masih ada waktu sebelum adzan isya'," titah kyai Abdullah, mengakhiri obrolan nya.


@@@@@


Usai acara kendurian atau selamatan tujuh hari meninggal nya ning Zahra dan baby Wildan, semua keluarga besar gus Umar dan almarhumah ning Zahra berkumpul di ruang keluarga kediaman kyai Abdullah.


Sengaja nyai Robi'ah menyiapkan makan malam, untuk keluarga nya dan keluarga besan nya yang kembali datang di acara selamatan ke tujuh hari ini.


Ning Najwa dan ning Zahwa nampak turut serta membantu Laila dan tiga orang santri putri, yang menghidangkan makanan ke dalam ruang keluarga.


"Sudah mbak Najwa, Zahwa,, biar Laila aja sama mbak santri. Mbak Najwa dan Zahwa pasti capek kan, habis perjalanan jauh?" Cegah Laila, seraya tersenyum ramah.


"Benar La, sampai sini tadi,,, juga langsung duduk lagi, ya kan kak?" Imbuh ning Zahwa, yang menguatkan pernyataan sang kakak. Ning Zahwa mengambil tumpukan piring yang sudah selesai di lap oleh mbak santri, untuk di bawa nya ke ruang keluarga.


"Hemm," balas ning Najwa dengan gumaman sambil tersenyum, dan ketiga nya berjalan beriringan menuju ruang keluarga.


"Terserah kalian saja lah, asal jangan kelelahan.. nanti dikira nya, kami tuan rumah yang dzolim yang membiarkan tamu nya kerja rodi," canda Laila setelah ketiga nya kembali ke dapur, yang di sambut tawa oleh kedua saudari almarhumah ning Zahra itu.


"Ya enggak lah La.. bukan kerja rodi, tapi kerja romusya," balas ning Zahwa masih dengan terkekeh.


"Hemm, sama aja itu Zahwa... cuma beda zaman penjajahan nya saja, zaman penjajahan Belanda dan zaman penjajahan Jepang," ucap Laila yang ikutan tertawa.


Mereka bertiga akhirnya melanjutkan ngobrol dan bercanda di dapur, dan yang melanjutkan menghidangkan makan malam ke ruang keluarga adalah mbak-mbak santri.


Obrolan ketiga wanita itu mengalir dan terasa sangat menyenangkan, meskipun mereka jarang-jarang bertemu tetapi keakraban ketiga nya terasa sangat kental.

__ADS_1


Ning Najwa yang juga berpendidikan tinggi, pandai bergaul dan ngemong,,, tak seperti almarhumah sang adik, yang pendiam. Ning Zahwa yang ceria sama seperti Laila dan mereka berdua juga seusia.. membuat ketiga nya, nyambung untuk membicarakan banyak hal.


"Enak banget ya, kamu bisa kuliah di luar negeri Zahwa? Pasti asyik, punya teman banyak bule?" Tanya Laila, seraya menatap ning Zahwa.


"Yah, ada seneng nya ada susah nya juga sih La. Seneng nya, karena keinginan untuk mengambil jurusan yang kita ingin kan bisa terwujud.. susah nya, cuma bisa pulang setahun dua kali. Nyesek kan??" Balas Zahwa, dengan menekuk wajah nya pura-pura bersedih.


"Teman bule,, ada sih beberapa, tapi aku enggak dekat sama mereka. Lebih asyik nyari temen yang setanah air, karena lebih paham dengan adat dan kebiasaan nya," lanjut ning Zahwa, "dan yang jelas seiman," imbuh nya.


Laila mengangguk-angguk membenarkan ucapan ning Zahwa.


"Tapi kamu bilang, sekarang lagi di deketin sama cowok luar kan dik?" Tanya ning Najwa, memastikan.


Ning Zahwa tersenyum, "cowok luar nya bukan bule mbak, masih asia juga.. bahkan ada turunan nusantara nya juga," balas ning Zahwa, malu-malu.


"Oh,,, udah punya cowok tho? Pantesan betah?" Laila ikut tersenyum bahagia, mendengar kabar baik dari adik almarhumah kakak ipar nya itu.


"Bukan cowok La, dia baru pedekate. Lagian, mana berani aku menjalin hubungan sama laki-laki tanpa sepengetahuan abi dan umi. Bisa di gorok nanti leher ku," balas ning Zahwa asal, seraya mempraktikkan menggorok leher dengan tangan nya.


Ning Najwa tersenyum sambil geleng-geleng kepala, menyaksikan tingkah sang adik.


Sementara Laila mengernyit, "masak sih??"


"Hemmm,, mbak Najwa dan mbak Zahra bukti nya, mereka berdua menikah karena di jodoh kan." Balas ning Zahwa.


"Tapi mbak beruntung dik, mbak dijodohkan dengan laki-laki yang memang mbak idolakan dari dulu," balas ning Najwa seraya tersenyum.


"Iya ya, mbak Najwa beruntung... beda sama mbak Zahra," ucap ning Zahwa.


"Maksud nya?" Tanya Laila, seraya mengernyit.


"Ups, maaf La,, aku enggak ada maksud..." ning Zahwa langsung menutup mulut nya.

__ADS_1


bersambung,,,


__ADS_2